
Suamiku Pria Tulen #87
Oleh Sept
Rate 18 +
Matahari muncul dengan malu-malu, sebagian tertutup awan membuat sinar hangatnya tidak mencapai bumi yang sedang mendung.
"Na ..."
Rama meraba sebelahnya, tidak ada sosok yang semalam menemaninya tidur. Yang dicari ternyata sedang memandikan Kendra. Irna sedang bersenandung sambil bermain air dengan putra yang masih balita tersebut.
Beberapa saat kemudian.
Rama sudah muncul di kamar anak dengan memakai kaos dan celana selutut. Ia berjalan menghampiri Irna dan Ken sambil tersenyum.
"Di sini rupanya."
Irna menoleh, menatap siapa yang datang.
"Sudah bangun?"
Rama mengangguk, kemudian duduk di tepi ranjang. Ia memperhatikan cara Irna merawat putra mereka. Terlihat sekali kalau wanita itu penuh kasih. Beruntung Kendra memiliki sosok ibu seperti Irna.
Rama kemudian membandingkan masa kecilnya sewaktu hidup di luar negri dulu. Sentuhan jari ibu yang hangat sangat jarang ia dapatkan. Yang ada adalah sentuhan ayah tirinya yang tidak bertanggung jawab.
Kembali teringat masa lalu yang kelam, Rama memejamkan mata. Kemudian menghela napas dalam-dalam. Itu hanya masa lalu, yang terpenting keluarga mereka sekarang sudah bahagia. Itu yang utama.
"Mandi dulu, aku siapain sarapan."
Kata-kata Irna membuat Rama terbangun dari lamunannya.
"Hemm!"
__ADS_1
Pria itu mengangguk, kemudian menghampiri Kendra.
"Ken sudah wangi, sekarang gantian Papa!"
Cup
Ia mencium pipi Ken yang empuk. Tidak lupa, mencium ibunya juga. Membuat pipi Irna merona pagi-pagi meski tidak pakai blush on.
***
Hari berganti hari, dan musim pun berubah. Semua berputar sesuai garisnya. Semua manusia pasti mendapat ujiaan dalam hidupnya. Dan ujian tidak pernah melebihi kapasitas manusia itu sendiri.
Keluarga Arya dan Nur memiliki akhir yang bahagia meski memiliki lika-liku dalam hidup mereka, dan juga keluarga Rama dan Irna. Setelah melewati ombak dan badai, mereka pun berhak bahagia. Semua bahagia sesuai porsi mereka. Karena takaran bahagia bagi orang itu kadang tidaklah sama.
Bagi Arya, definisi bahagia adalah memiliki banyak anak dan hidup damai bersama keluarga kecilnya. Hidup bersama Nur dan anak-anak mereka.
Sedangkan bagi Rama, bahagia adalah ketika ada orang yang mencintainya. Ada orang yang benar-benar mau bertahan di sisinya. Kasih sayang tulus bagi Rama adalah sesuatu yang langka dan sangat mahal. Lebih berharga dari pada uang.
Begitulah drama pria-pria belok yang kembali lurus. Semoga bisa dibuang yang buruknya jauh-jauh dan bisa diambil baiknya saja. Terima kasih sudah membaca tulisan Sept, terima kasih komen kalian yang super. Membuat semangat ngetik. Pokoknya terima kasih banyak. Semoga kita dalam kondisi sehat, selamat dan bahagia selalu. Aamiin.
***
Kisah Kevin, Kendra dan Pradita
20 Tahun Kemudian.
Di sebuah gedung pernikahan, ini adalah hari pernikahan putra sambung Rama. Kevin, pria 30 tahun itu akhirnya akan mengakhiri masa lajangnya.
Di hari yang bahagia itu, nampak Irna sudah terlihat anggun dengan balutan kebaya warna ungu. Sedangkan Rama, meski tidak muda lagi wajahnya masih saja kharismatik. Wajah tampannya masih belum pudar. Pria itu kini sedang berbicara pada para tamu, sebagian adalah rekan bisnis Rama. Dan sebagian lagi merupakan partner kerja Kevin.
"Ma ... Ken mana?" Kevin mendekati mamanya. Mencari ke sekeliling, dari tadi Kendra tidak menampakkan batang hidungnya.
"Padahal Mama tadi sudah telpon apartemenya. Ponselnya pun mati. Ke mana anak itu?" Mama juga bingung. Di hari bahagia putra pertamanya, putra kedua malah tidak kelihatan.
__ADS_1
"Bentar, Mama tanyakan Papa."
Irna pun meninggalkan Kevin, ia berjalan menuju Rama yang sedang menjamu para tamu. Ketika sudah berada di dekat sang suami, Irna berbisik.
"Ken hilang!"
Rama memejamkan mata, menghela napas dengan berat. Pria itu lalu mengangguk pada Irna dan merogoh ponselnya.
"Cari dia!" titahnya pada orang yang ia telpon.
***
Ruang ganti pengantin
Pradita yang sering disapa Dita, hari ini hatinya sedang berbunga-bunga. Sudah lama ia memimpikan hari ini. Hari di mana ia akan menikah dengan Kevin.
Dita merupakan manager marketing di perusahaan yang sama dengan Kevin. Sering bertemu dan rapat bareng membuat getaran-getaran itu muncul. Mereka hanya pacaran 3 bulan. Dan akhirnya memutuskan untuk menikah.
Tinggal menunggu sebentar saja, ia akan menjadi istri sah Kevin. Sambil berkaca, bibir Dita terus tersenyum. Tidak sabar menanti saat yang mendebarkan itu.
KLEK
Terdengar suara pintu terbuka. Dita menoleh, ia pikir tukang make up yang datang untuk menyempurnakan riasannya.
"Ken ... Kenapa kau ke mari?" tanya Dita dengan gugup. Ketakutan jelas sekali tergambar dalam raut wajahnya.
Saat Kendra melangkah ke arahnya, Dita mencoba menghindar. Ia mundur sampai tidak ada cela lagi untuk kabur. Karena tubuhnya sudah membentur dinding di belakangnya.
"Jangan, Ken!" Dita menggeleng kepalanya keras. Ia ketakutan, apalagi tercium aroma minuman yang menyengat. Ken pasti sudah mabuk.
"Ken!" sentak Dita yang dilanda kepanikan saat wajah Ken semakin mendekat.
Dita terus memukul Ken tanpa henti, meronta dan mendorong pria itu. Tapi, tubuh Ken yang lebih kuat, tetap bertahan dan berdiri kokoh. Ken yang sedang kalut malah memegang kepala Dita. Ia mencium paksa pengantin sang kakak. Bersambung.
__ADS_1
Lanjut nggak? Takut pada bosen. Hehehe