
Suamiku Pria Tulen #72
Oleh Sept
Rate 18+
Rama sedang melancarkan aksi modusnya. Bilangnya ia bisa mempertahankan Kevin, tapi sebenarnya ia hanya ingin menjerat Irna agar jatuh dalam gengamannya. Gengsi meminta Irna secara langsung untuk tetap di sisihnya. Akhirnya ia mengambil kesempatan dalam kesempitan.
"Aku bisa mendapat hak penuh Kevin tanpa menikah denganmu!" tolak Irna dingin. Ia tidak mau menikah hanya karena ingin melindungi Kevin.
"Apa harus kurebut Ken, baru kau mau?"
Setelah mengatakan kalimat ancaman, Rama langsung mendapat tatapan yang menghujam dari Irna.
"Tenang saja, dia milikmu!" ucap Rama kemudian. Barulah Irna tidak menatapnya dengan muka galak lagi.
Irna memeluk Ken, seolah tidak akan membiarkan siapa pun mengambil apa yang sudah menjadi miliknya.
Esok harinya.
Rama sudah terlihat rapi, dengan setelan jas warna hitam dan sepatu mengkilap. Tidak lupa, kaca mata hitam yang membuatnya nampak sedikit keren dan macho. Orang yang melihatnya mungkin tidak akan meragukan kejantanan pria itu. Tidak akan percaya bahwa Rama menyukai pria.
Rama mendekati Irna. Kemudian berbicara.
"Malam ini aku tidak pulang, bila butuh sesuatu, katakan pada asistenku."
"Hemm."
Rama berjongkok, ia mengusap pipi Ken sebentar. Lalu meninggalkan mansion mewah miliknya.
***
Sepanjang jalan, wajah Rama nampak serius. Ia sedang memikirkan sesuatu.
"Tuan, kita sudah sampai."
Pak sopir membuka pintu mobil untuk Rama. Pria itu menoleh, menatap gedung di sampingnya. Rama turun dan masuk ke dalam bangunan megah di depannya. Sebuah apartemen mewah di tengah kota. Ia melangkah masuk ke dalam bangunan tersebut, menekan tombol lift dan berhenti tepat di depan sebuah pintu apartemen.
Cukup lama ia berdiri mematung di depan sana. Sembari melirik kanan dan kiri, tangannya melongarkan dasi. Rama sepertinya sedang membaca situasi sebelum beraksi.
Tok Tok Tok
__ADS_1
Ia mengetuk pintu di depannya. Rama sedang menanti pintu itu sampai terbuka.
KLEK
BUGHHH
"Brengsek!" desis pria yang langsung dapat bogem mentah dari Rama. Ia mengusap sudut bibirnya yang berdarah. Tanpa pemberitahuan, Rama langsung memukul dengan keras.
"Ini baru peringatan!" ujar Rama sinis sembari kembali melongarkan dasinya.
Pria yang dipukul Rama pun berdiri tegak, ia menatap Rama dengan kesal.
"Siapa kau ini?" tanya ayah kandung Kevin dengan penuh selidik dan emosi.
"Itu tidak penting, kau hanya harus ingat kata-kataku. Berani mengusik Irna dan putranya, aku pastikan barmu hancur!" ancam Rama lalu berbalik.
Pria itu melotot, mengapa pria asing yang memukulnya menyebut nama Irna dan juga membahas masalah bisnis barnya. Ia jadi ketar-ketir, sepertinya ia menghadapi bukan sembarang orang.
Dari dalam apartment, muncul seorang wanita bohai dengan baju tipis dan kurang bahan.
"Ada apa ini? Siapa yang datang? Astaga! Ada apa dengan bibirmu?" Wanita itu mengusap bibir ayah kandung Kevin tersebut.
"Tidak ada! Ayo masuk!" Pria itu menarik wanita tersebut untuk masuk ke dalam. Sebelum ia masuk, ia sempat berbalik dan menatap punggung tegap Rama yang berjalan menjauh.
Beberapa saat kemudian.
Di apartment yang tadi. Wajah ayah kandung Kevin panik saat mengangkat telpon. Setelah sambungan telpon terputus, ia duduk dengan dengan lemas.
"Ada apa, Honey? Siapa yang telpon?" tanya wanita cantik di sebelahnya. Ia membali wajah si pria dengan lembut.
Masih terguncang dengan kabar barusan, pria itu menepis wanita yang akan menciumnya.
"Hentikan!"
"Ada apa, sih?" Wanita itu malah naik pangkuan pria tersebut. Dan berbisik manja penuh goda.
"Jangan sekarang!" Ia menurunkan tubuh aduhai itu dengan kasar. Barusan ia mendapat kabar barnya kebakaran. Mana bisa ia konsentarsi untuk melakukan yang tidak-tidak.
Ayah kandung Kevin tersebut langsung berpikir, jangan-jangan ada kaitannya dengan pria tadi pagi yang menghajar sekaligus mengancamnya. Dengan cepat ia menghubungi Irna. Namun, Irna malah merijek panggilan darinya. Tidak sabar, ia langsung mengirim pesan teks.
"Apa yang kau katakan pada suamimu? Mengapa harus menghancurkan bisnisku? Katakan padanya, aku tidak akan mengusik kalian. Jadi jangan ikut campur dalam bisnisku!"
__ADS_1
Mansion mewah milik Rama.
Irna sedang tertegun menatap deretan pesan singkat pada ponselnya.
"Suami? Rama?" gumam Irna menerka-nerka.
***
Sesuai pesan Rama, malam ini pria itu tidak pulang. Sudah pukul sebelas malam, Irna belum juga tertidur. Hingga pukul satu, Irna masih belum juga bisa tidur. Iseng ia menghubungi nomor Rama. Ia menulis pesan teks singkat pada pria itu.
"Di mana?"
Drett drett drettt
Irna kaget, pesan baru terbaca, eh Rama malah langsung menelpon dirinya saat itu juga.
"Hallo ..."
"Belum tidur?" tanya Rama di telpon.
"Belum."
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa, lagi di mana?"
"Kenapa ingin tahu sekali aku ada di mana?"
"Ah ... sudahlah. Aku tutup telponnya," ucap Irna kesal.
Rama terkekeh.
"Tunggu 15 menit, aku datang!"
Tut Tut Tut
"Eh ...!"
Irna jadi dag dig dug, menunggu Rama datang sudah seperti nunggu pacar mau ngajak kencan. Tanpa sadar, bibirnya terangkat. Ia tersebut kecil.
20 menit kemudian.
__ADS_1
Tok tok tok
Terdengar suara pintu diketuk dari luar. Irna mengantur napas sebelum menyentuh handle pintu. Kok jadi deg-degan seperti remaja mau ketemu pacar. Dan saat pintu sedikit terbuka, Rama langsung saja menarik tangannya keluar. Bersambung.