
Suamiku Pria Tulen Bab 67
Oleh Sept
Rate 18+
Hatinya meletup-letup, Rama berjalan dengan gusar menuju gallery seni milik mantan kekasih Irna. Pemandangan barusan membuat hatinya terbakar tanpa sadar.
Klek
Rama masuk, matanya memindai tempat yang penuh dengan lukisan tersebut. Ia menatap patung manusia yang tertata rapi di sudut ruangan.
"Ke mana dia?" Rama terus melangkah. Ia baru berhenti saat mendengar suara dari balik pintu.
Di dalam ruangan yang penuh dengan cat yang berserak. Kaleng-kaleng bekas cat ada di mana-mana. Terlihat Irna sedang mencoba melepaskan pengait apron milik Thomas yang tersangkut.
"Ish ... makanya hati-hati. Kalau buru-buru kan repot sendiri," gerutu Irna sambil melepas pengait itu.
"Kau ini ... cerewet sekali. Tidak berubah sama sekali."
Meskipun protes, tapi bibir Thomas mengembang. Ia paling suka dengan Irna yang selalu berisik tersebut.
"Sudah!" ucap Irna saat sudah melepaskan pengait yang sempat nyangkut.
"Trims ..."
"Hem," Irna tersenyum tipis.
"Oh ya, bagaimana kabar suamimu?"
Irna langsung menatap tajam. Untuk apa mantan kekasihnya itu bertanya-tanya tentang Rama. Tumben sekali, mereka biasanya tidak pernah membicarakan hal pribadi bila bertemu. Paling cuma bertegur sapa. Putus baik-baik, membuat hubungan mereka paska putus pun berjalan biasa saja.
"Untuk apa kau tanyakan? Apa kau penasaran atau hanya ingin tahu? Jangan katakan kau ingin kembali," goda Irna dengan nada bercanda.
"Astaga! Kau sama sekali tidak berubah."
Keduanya malah terkekeh, tidak menyadari ada yang sudah mencuri dengar di depan pintu. Dan ketika Irna serta Thomas mau keluar, tanpa sengaja tas Irna menyentuh sebuah rak yang di atasnya ada cat setengah pakai dan terbuka tanpa penutup.
"Hati-hati!" seru Thomas sembari menarik lengan Irna.
Klek
Tiba-tiba pintu terbuka, dan dua orang itu terkejut melihat siapa yang ada di depan mereka.
"Ram!" pekik Irna tertahan di kerongkongan.
Rama membuka pintu, matanya langsung memerah begitu melihat Irna yang sepertinya berpelukan dengan pria lain.
Bruakkkk
Ia membanting pintu, pergi dari sana tanpa berkata-kata.
Wushhhh
Mobil Rama melaju kencang membelah jalan.
Tin tin tin
Pria itu mengklakson semua kendaraan di depannya. Rama mengemudi sambil menahan amarah. Seperti angin, mobilnya melaju dengan kecepatan penuh.
Gallery Thomas
"Aku rasa dia salah paham."
Thomas menatap tak enak pada Irna, apalagi wajah Irna yang langsung murung. Padahal Irna itu orangnya super cuek selama ini.
"It's okay. Aku pulang dulu. Dan sepertinya, nanti siang Kevin nggak jadi ke sini. Ada yang harus aku bereskan."
"Heemmm ... baiklah. Hati-hati kalau mengemudi."
__ADS_1
Irna mengangguk dan meninggalkan gallery seni tersebut. Ia buru-buru menghubungi ponsel Rama.
"Sial!"
Nomornya tidak aktive, mungkin Irna sedang diblokir.
Kediaman Rama.
Rama yang sudah dibakar api cemburu, mengeluarkan semua pakaian Irna dari lemari. Dengan kasar ia melempar semua pakaian milik wanita tersebut.
Tidak lama kemudian, Irna datang. Ia terkejut melihat akibat dari kemarahan pria itu. Kemarin ia dilarang angkat kaki, sepertinya hari ini Irna sudah tamat sudah. Rama sepertinya sudah mengusir dirinya secara terang-terangan.
Tanpa bicara, Irna memungut pakaiannya. Mengambil koper dan memasukkan semua pakaiannya ke dalam sana. Rama hanya mengamati sambil menatap tajam.
Ia sedang menunggu pembelaan Irna. Namun, wanita itu bahkan tidak menatap dan memohon pada dirinya.
"Pintar sekali selama ini kau bersandiwara, anak itu pasti anaknya. Cih ... wanita murahan!"
Irna menebalkan telinga, percuma membela diri di saat Rama begitu marah. Ia tahu betul dengan karakter Rama yang temperament tersebut.
"Jangan injakkan kakimu ke rumah ini lagi!"
Irna masih diam, ia malah mengambil koper lain karena koper pertama sudah tidak cukup untuk memasukkan semua baju-bajunya.
Kesal melihat Irna yang malai mengabaikan dirinya. Rama merebut koper kosong itu dengan paksa lalu melemparnya ke arah pintu.
Bruakkk
Irna hanya mendongak, ia menatap tak kalah tajamnya dengan Rama.
"Sudah? Kalau belum ... lanjutkan. Lepaskan semua amarahmu!" Irna mendorong dada Rama kemudian mengambil koper yang tadi dilempar oleh Rama.
"Berani sekali kau!"
Rama mendekat dan menarik lengan Irna dengan paksa. Benci, marah dan cemburu. Membuat pria itu menjadi makin hilang kendali dan bersikap semakin kasar.
Setttt
Dengan kekuatan penuh, Irna menepis tangan Rama. Ia tidak mau ditindas, terserah Rama mau berpikir apa. Kalau ia sudah yakin bahwa anak yang ia kandung bukanlah anaknya, Irna tidak akan memaksa.
"Jangan pernah muncul di hadapanku lagi!"
Rama mengeluarkan dompet, dan membuang berlembar-lembar uang ke muka Irna. Membuat pipi dan mata Irna langsung memerah.
Tanpa menoleh, Irna kembali memasukkan semua pakaiannya. Dan pergi begitu saja dari rumah itu. Meninggalkan kamar yang berantakan dengan uang yang berserakan di lantai.
Rama mengepalkan tangan, kemudian memukul lemari kaca di dekatnya.
Prangggg
Pyarrr
Dari depan pintu, Irna bisa mendengar suara keributan itu. Tapi ia sudah memutuskan, tetap pergi tanpa harus mengiba. Kembali hidup bebas tanpa ikatan seperti sebelumnya. Ia akan mencari pelabuhan hati yang mau disinggi. Bukan hati yang hanya mampu menyakiti.
Hidup hanya sekali, dan Irna hanya ingin bahagia.
Tiga tahun kemudian.
Di sebuah Bandara, Irna sedang berjalan dan berbicara pada Kevin.
"Bagaimana? Kau suka kembali ke kota ini?"
"Sama saja!" jawab Kevin yang kala itu asik main ponsel sambil berjalan.
"Vin ... duduk di sini dulu. Ken sepertinya pup."
Irna memeriksa pampres Kendra, anak laki-laki dengan pipi yang cubby dan mengemaskan.
"Iya." Kevin masih asik menatap ponselnya.
__ADS_1
Irna pun ke kamar kecil, kemudian mengangikan popok Ken.
Di dalam toilet, ada ibu-ibu yang menyapa dan menatap Kendra dengan gemas.
"Ganteng sekali putranya," puji salah satu wanita yang kebetulan baru membasuh muka di samping Irna.
Irna hanya tersenyum tipis, wajah Ken hanya membuatnya teringat dengan pria paling brengsek yang pernah singgah dalam hidupnya.
Setelah selesai membersihkan Ken, Irna menghampiri Kevin yang dilihatnya masih khusuk dengan smartphone miliknya.
"Ayo, sayang. Kita ke cafe dulu ya. Cari makan, Ken sepertinya juga sudah lapar."
Kevin mengangguk tanpa menatap mamanya. Mereka bertiga pun mencari cafe yang pas.
"Ke sana, Ma!" seru Kevin saat melihat menu kesukaanya. Ayam goreng crispy.
Iran mengiyakan saja. Namun, saat sudah dekat dengan cafe, ia langsung berhenti mendadak. Irna menarik tangan Kevin seketika untuk menjauh dari sana. Ada sosok yang harus ia hindari. Tidak mau bertemu dengan orang itu lagi.
Sayang, Ken tiba-tiba merajuk. Anak yang baru berusia dua tahunan itu meronta ingin turun dari gendongan sang Mama.
"Ma ... Ayo ke sana saja!" Kevin yang lebih dewasa pun sama. Anak itu membuat Irna makin panik.
"Di sana saja, lebih nyaman tempatnya." Sambil menarik tangan Kevin, Irna juga membujuk Ken yang terus saja meronta.
"Nona ... mainan anak anda jatuh," seru seorang pria yang ada di belakang Irna.
Tidak mau berbalik, Irna terus saja berjalan.
Kevin langsung melepaskan tangan mamanya, ia berbalik dan mengambil mainan adiknya.
"Terima kasih, Om!" ucap Kevin langsung berlari menghampiri mamanya lagi.
"Ma ... ini mainan Ken. Bisa merengek terus nanti aku pusing dibuatnya!" keluh Kevin sambil menyerahkan mainan itu kepada mamanya.
Irna meraih mainan itu, dan terus berjalan keluar.
"Ma ... katanya mau makan? Kok malah keluar?" Kevin terus saja berbicara. Tapi mamanya sama sekali tidak mengubrisnya.
"Naik taksi itu Kevin, Kita langsung ke hotel."
"Kevin lapar, Ma."
"Vin ... cepat naik!" seru Irna yang terlihat sangat buru-buru.
Di tengah jalan, saat menuju hotel.
"Pak, kok berhenti. Cepat jalan!" seru Irna yang sedang panik.
"Sebentar, Nyonya. Mobil hitam di depan tidak mau minggir."
Jantung Irna mau copot rasanya, ketika pintu mobil di depannya terbuka. Seorang pria berpakain rapi datang menghampiri taksi mereka.
"Turun!"
Ada rindu dan benci bertemu jadi satu. Berambung.
Novel Sept yang lain :
Dea I love you
ISTRI GELAP Presdir
Rahim bayaran
Menikahi Majikan
Kesetiaan Cinta
Bacaaa ya. Hehehe
__ADS_1