Suamiku Pria Tulen

Suamiku Pria Tulen
BUMIL


__ADS_3

Suamiku Pria Tulen #102


Oleh Sept


Rate 18 +


Desakan dari para dewan direksi, membuat Kevin mau tidak mau harus segera melakukan klarifikasi. Tidak mau menangapi terlalu serius, karena ia memang tidak membuat anak gadis orang hamil, Kevin pun hanya mau melakukan klarifikasi melalui sebuah rekaman vidio.


Hal itu dilakukan dengan sangat terpaksa. Kalau bukan karena harga saham yang semakin anjlok, Kevin memilih abai. Membiarkan gosip yang lama-lama akan hilang dengan sendirinya.


Apa yang terjadi? Setelah vidio penjelasan Kevin beredar. Bukannya membersihkan masalah, akan tetapi stigma buruk kembali muncul. Sanggahan Kevin yang hanya mengatakan bahwa kabar di luar mengenai dirinya tidaklah benar. Tanpa disertai bukti dan kesaksian dari si wanita, mereka semua mengira bahwa Kevin hanya lari dari tanggung jawab.


Grub chat kantor.


Beberapa karyawan memiliki tempat sendiri untuk rumpi di medsos. Mereka ramai-ramai membuat grub dan forum diskusi hanya untuk membahas kehidupan CEO mereka.


***


"Selamat pagi, Pak!" sapa salah satu karyawan Kevin.


Kevin berlalu tanpa menatap mereka. Ia memilih melanjutkan langkah ke depan dengan pasti tanpa menoleh kanan kiri.


"Mentang-mentang kaya, tampan, lalu bisa memainkan wanita begitu saja? Astaga!" gerutu salah satu karyawan Kevin setelah pria itu menjauh.


"Hei! Banyak CCTV, jangan aneh-aneh. Kalau masih sayang pekerjaan," tegur kawannya yang lebih bijak.


"Ya ampun, lalu bagaimana bila saudara perempuan kalian digituin? Habis manis sepah dibuang?"


"Kan pak Kevin bilang nggak!"


"Terus kamu percaya begitu saja?" tanya karyawan julid dengan muka penasaran.


"Nggak!"


Dua orang itu malah berakhir dengan saling tertawa.


"Ehem ehem!"


Keduanya baru berhenti setelah rekan yang lain tiba-tiba lewat dan berdehem.


"Ya ampun, aku sampai kaget. Kirain siapa!"


"Makanya, jangan julid. Kan ... jadi was-was sendiri!" ledek karyawan lain yang sengaja mengerjai keduanya.


Semua malah membuat rumor tentang Kevin, CEO perusahaan mereka jadi bahan gibah dan candaan.


***


Petrova Cooperation.


"Ken, kamu ikut saya ya. Kali ini kita temuin klien yang ada di Malaysia. Cuma dua hari kok. Bisa, kan?"


Kendra menatap Ayu dengan wajah serius.


"Kok mendadak, Bu?"


"Harusnya sama Dira, tapi minggu depan ia mau cuti. Kan ia mau married. Kenapa? Kamu nggak bisa? Lumayan loh bonusnya kalau kita bisa deal. Buat persiapan lahiran anak kamu!" ucap Ayu dengan tulus.


Kendra hanya bisa garuk-garuk kepala, baginya uang bukan masalah. Karena memang ingin serius bekerja, akhirnya ia mengambil kesempatan tersebut.


"Baik, Bu. Kira-kira berangkat kapan?"


"Besok."


"Hah?"

__ADS_1


"Kenapa? Ada acara?"


Kendra tersenyum tipis. Acara apa? Ia tidak punya acara khusus. Tiap hari pulang kerja ia seperti kucing-kucingan dengan Dita.


"Baik, Bu. No problem."


"Nah gitu. Kerja yang rajin, biar istri senang."


Kendra langsung tersenyum kecut.


***


Apartment Kendra.


Malam itu Kendra merapikan pakaiannya sendiri. Ia sendiri yang memasukkan baju dan keperluannya ke dalam koper. Dan pagi harinya, ia menulis sebuah note yang ia tempel di pintu Dita.


[Aku ke KL 2 hari, bila ada yang kamu butuhkan. Katakan pada bibi. Bila ada apa-apa, langsung hubungi mama]


Pagi itu Dita bangun, setelah membaca note dari Kendra. Ia menarik kertas itu, merobeknya dan melemparnya ke arah tempat sampah. Terlihat jelas di matanya, bahwa Dita masih memendam benci yang sangat dalam.


Seharian ini, Dita bisa leluasa keluar masuk kamar dengan nyaman. Ia yang biasanya menonton TV di kamar, kini melihat TV di ruang tamu. Dengan santai pula ia makan camilan sambil menyaksikan acara hiburan yang beraneka ragam. Benar-benar hidup yang menyenangkan.


Hari kedua.


Sama seperti kemarin, Dita merasakan apa itu slogan rumahku, surgaku! Baiti Jannati. Calon ibu tersebut rebahan, makan camilan sambil melihat cartoon. Kebetulan ada Mail yang sedang menawarkan ayam goreng. Sepintas ia jadi ingat Kendra. Buru-buru ia menggeleng keras kepalanya. Ngapai juga inget pria jahat tersebut! Dita langsung bermuka masam.


***


Kuala Lumpur.


"Sepertinya ini nggak akan selesai hari ini," ucap Ayu yang sedang memeriksa berkas dan file di laptonya.


"Mundur nih, Bu?"


"Sepertinya," jawab Ayu tanpa melihat Kendra. Fokusnya tetap terpusat pada data yang terpapar di depannya.


"Mau telpon-telpon saja! Istrimu pasti khawatir."


Rupanya Ayu memperhatikan Kendra yang sejak tadi tidak fokus. Pria itu bolak-balik melirik ke arah ponselnya.


"Ah ... nggak, Bu!"


"Udah sana! Kamu telpon, kerja yang fokus biar hasilnya maksimal."


Kendra jadi tidak enak, ia pun beranjak. Kemudian memutuskan menghubungi nomor telpon apartmentnya.


"Hallo?"


"Hallo, Bik ini Ken."


"Oh, Tuan. Ada apa, Tuan? Ada yang bisa Bibi bantu?"


"Tidak, Bik. Em ... Dita sedang apa?"


"Lagi nonton TV, Tuan."


"Di kamar?"


"Bukan, Tuan."


Kendra berpikir sejenak. Sedangkan Dita, sejak tadi ia menajamkan telinganya. Dita lagi mencuri dengar alias nguping pembicaraan bibi dan suaminya.


"Ya sudah. Saya mungkin pulang besok atau lusa."


"Oh ... mundur, Tuan?"

__ADS_1


Dita langsung menoleh ke arah bibi.


"Hem, ya sudah. Terus awasi Dita, kalau ada apa-apa hubungi mama saya!"


"Baik ... baik, Tuan!"


Tut Tut Tut


Selesai telpon, Dita yang biasanya cuek malah kepo.


"Siapa, Bik?"


"Tuan muda."


"Ada apa?"


"Pulangnya diundur, Non."


Dita hanya manggut-manggut. Sembari bibirnya membentuk hurup O kecil.


***


Tiga hari kemudian.


Ternyata, karena ada kendala di negri yang terkenal dengan menara kembarnya itu. Alhasil, mereka baru bisa pulang di hari ke lima. Hari itu mereka pulang dengan penerbangan awal.


Kendra nampak lelah, setelah bergadang ngebut mengerjakan laporan semalam. Sedangkan Ayu, ia malah sudah lelap saat mereka di atas pesawat.


Jakarta


Akhirnya, Kendra menginjak lagi tanah air beta. Rasa lelah, kantuk, dan macet yang menghiasi jalanan kota metropolitan, membuat Kendra memilih memejamkan mata saat di dalam taksi menuju apartment tempat tinggalnya.


Pukul 7 pagi, akhirnya Kendra sampai apartment. Ketika masuk, bibi yang membuka pintu.


"Apa dia belum keluar?" tanya Ken penasaran sambil menatap pintu kamar Dita.


Bibi hanya menggeleng. Ken pun memutuskan ke kamarnya.


Buuukkkk


Ia melempar tubuhnya ke tengah ranjang, tidak butuh waktu lama, pria itu langsung tertidur pulas.


Dita yang tidak tahu bahwa suaminya telah kembali, ia bersantai nonton TV di ruang tamu. Sedangkan bibi, ia permisi belanja ke pasar karena bahan kulkas sudah habis. Dan wanita paruh baya itu tidak memberitahu kalau tuan mudanya telah kembali. Entah sengaja atau lupa.


Iseng tidak punya kegiatan, Dita pun menonton acara kesehatan. Sebuah tema parenting dan kebetulan ada class yoga. Agar besok lahirannya lancar, Dita pun menggelar matras. Ia berganti pakaian yang tipis dan nyaman. Toh di rumah tidak ada orang, pikir Dita.


Suara alunan musim yang damai, membuat Kendra malah mengerjap. Pria itu akhirnya terbangun. Karena haus, dan ketle di atas nakasnya kosong. Ken pun turun dari ranjang.


KLEK


Dita yang khusuk melakukan yoga tidak menyadari, sepasang mata memperhatikan dirinya dari belakang. Sebuah tatapan rindu yang tak terbalas.


Tidak ingin menganggu, Kendra hanya berdiri cukup lama di ambang pintu. Sekalian, menikmati pemandangan indah di depannya. Posture Dita dengan perut buncit dan pakaian press body, membuat Dita terlihat lebih aduhai.


Tapi, lama-lama Kendra jadi pusing sendiri. Ia mengusap wajahnya dan langsung berbalik.


KLEK


Dita pun menoleh, sepertinya ada suara pintu tertutup. Namun, karena merasa sepi dan mungkin itu hanya perasaannya. Dita akhirnya melanjutkan acara yoganya.


Di dalam kamar Kendar. Pria itu langsung buru-buru masuk kamar mandi. Menyalakan shower, ia berdiri tepat di bawahannya. Ada gejolak panas yang harus ia redam dengan segera.


Bersambung.


Kata orang, melihat istri hamil itu bawaanya makin ingin. Ibu hamil itu gemoy dan 1000 x lebih menggoda. Wkwkwkw

__ADS_1


Percaya?


__ADS_2