
Suamiku Pria Tulen #119
Oleh Sept
Rate 18 +
Bukan area anak-anak, skip ya.
Kamar mandi.
"Ish ... rambutnya aja belom kering. Keramas lagi!" ucap Lea ketika ia mulai membasahi rambutnya.
"Nanti Mas bantu keringin."
Bibir Lea tak mampu menahan tawa, ia pun tersenyum. Geli dan lucu mendengar suaminya bicara. Oh, rupanya Kevin minta dipanggil MAS toh? Oke, mulai sekarang Lea akan memanggil suaminya dengan sebutan demikian.
"Kamu tersenyum? Apa yang lucu?"
Kevin menyolek pipi Lea dengan busa sabun.
"Ih ... perih! Kena mata!" keluh Lea ketika ia akan menepis tangan Kevin, malah busa itu mengenai matanya.
"Diam dulu, tunggu!" Kevin mengambil air.
Setelah beberapa siraman gayung, akhirnya Lea tidak mengeluh lagi. Sepertinya mereka butuh sabun bayi, bila hanya untuk main-main di kamar mandi. Biar tidak pedih di mata.
Puas mandi bersama setelah melakukan kegiatan yang menguras keringat, kini keduanya sudah wangi dan rapi. Sesuai janji, Kevin membuat Lea mengeringkan rambut.
"Sepertinya kita butuh alat ini ... ke mana-mana, pulang dari sini, nanti aku ajak ke suatu tempat."
Kevin tersenyum penuh arti, ia mengeringkan rambut Lea sambil mengamati benda pengering rambut tersebut. Rencananya, ia akan membawa alat itu ke manapun mereka pergi.
"Ke mana?" tanya Lea penasaran.
"Yang pasti ke tempat yang akan membuatmu keramas setiap saat!" canda Kevin. Bibir Lea pun langsung mengerucut.
"Kita butuh bulan madu Lea, nanti akan aku suruh Willi mengantur jadwal yang pas."
"Bulan madu?" Kedua pipi Lea langsung bersemu. Selama ini ia tidak pernah membayangkan hal yang seperti itu.
"Ya, kita harus bulan madu, segera!"
Lea menelan ludah, rasa perih barusan saja belum hilang. Mengapa suaminya begitu mengebu-ngebu sekali? Apa Kevin salah makan obat? Batin Lea bertanya-tanya.
__ADS_1
"Sudah, sudah kering!" seru Kevin sambil meletakkan hair dryer di atas meja rias.
"Makasi," ucap Lea malu-malu meong.
"Hemm! Ayo keluar, mereka pasti menunggu."
Lea pun mengangguk, ia keluar bersama Kevin. Keluar mereka pasti sudah menanti keduanya, karena dari tadi tidak keluar kamar.
***
"Bikkk ... apa itu? Kok diganti, kan tadi sore baru ganti?" Nur mengamati bibi yang membawa keranjang cucian berupa kain sprai.
"Anu ... itu, Nya." Bibi mau bicara tapi malah jadi tergagap tidak jelas.
"Anu apa? Apa ketumpahan sesuatu? Duh Lea ... emang ceroboh sekali anak itu."
"Bukan, Nya ... itu ... anu."
"Apa sih, Bik?" Nur yang biasanya sabar dan kalem jadi gregetan sendiri.
"Darah, Nya," bisik bibik dengan malu-malu. Sepertinya bibi menebak darah apa itu.
"Bibi kenapa malu-malu begitu. Memangnya darah apa? Banyak?"
Nur langsung menutup mulutnya, "Benarkah?"
Matanya berbinar, tapi tidak percaya, Nur lantas mengambil alih keranjang cucian tersebut. Ia buka kain seprai lebar-lebar.
"Ya ampun ... benar, Bik. Ini ..." Nur langsung menaruh cucian itu kembali saat melihat Lea datang ke arah mereka.
"Cepat cuci, Bik," titahnya pada si Bibi.
"Mama ngapain? Wajahnya serius banget?"
"Nggak ... Mama nggak ngapa-ngapain."
Nur memperhatikan cara jalan putrinya, Astaga. Ia selama ini salah menduga. Saat melihat jalan Lea yang aneh dan tidak seperti biasanya, di situ Nur percaya. Putrinya, kemarin-kemarin rupanya masih perawan ting-ting.
"Ayo ke sana, Simi dan Sima tadi menanyakan tantenya."
Nur mengaja Lea berkumpul bersama dengan yang lain.
"Bentar, Lea mau minta obat sama bibi."
__ADS_1
"Obat? Obat apa?" Nur kepo.
"Emm ... itu ... obat peredam nyeri."
Nur langsung mengerti arah tujuan putrinya.
"Mama ada, ayo! Ikut Mama."
Lea pun mengikuti sang mama.
***
"Aunty Lee!" seru si kembar secara bersamaan. Mereka berdua langsung berlari dan berebutan memeluk Lea.
"Aduh!" batin Lea. Itunya masih sakit sedangkan duo bocil terus merangsek.
Dengan senyum yang menghiasi wajahnya, bak pengantin baru. Aura kebahagiaan terpancar di wajah Alea. Dengan penuh kasih, ia bermain bersama Sima dan Simi, anak-anak Cua yang mengemaskan.
Dari jauh Kevin memperhatikan, ia jadi membayangkan. Sepertinya akan menakjubkan bila mereka juga memiliki anak-anak yang lucu seperti mereka.
"Minum kopinya mumpung hangat, Vin!" seru Arya yang melihat Kevin tak berkedip memperhatikan putrinya.
"Ah ... Iya, Pa." Kevin lantas menyesap kopi yang masih mengepulkan asap tersebut.
"Bagaimana, Lea? Apa dia membuatmu kerepotan?"
"Tidak, Pa. Kerepotan kenapa?"
"Hemm ... baguslah. Sebab selama ini yang menganggu pikiran Papa hanya memikirkan nasib Lea kedepannya."
"Papa tenang saja, Lea aman bersama Kevin."
Arya tersenyum lega, ada kepuasan tersendiri ketika menatap mata Kevin. Ia melihat ketulusan di mata menantunya itu. Setidaknya, ia sekarang tidak perlu khawatir lagi.
"Papa titip Alea ya, Vin."
Wajah Kevin berubah aneh, ia merasakan firasat yang tidak enak.
***
Wiu wiu wiu
Sebuah ambulance keluar dari gerbang villa milik keluarga Pramudya. Malam itu, adalah malam yang tidak mungkin Lea dan keluarganya lupakan. Malam yang harusnya dipenuhi gelak tawa dan canda ria, harus berganti dengan derai air mata. Bersambung.
__ADS_1