Suamiku Pria Tulen

Suamiku Pria Tulen
Ada Apa


__ADS_3

Suamiku Pria Tulen #76


Oleh Sept


Rate 18+


Bila keluarga baru Rama sedang menikmati indah dan manisnya rumah tangga, lalu apa kabar dengan keluarga Arya Pramudya dan keluarga kecilnya?


***


Hotel Emperor Rose Golden.


Di sebuah jamuan makan malam perusahaan KCF Group. Arya datang bersama istrinya, sedangkan anak-anak, mereka ikut dengan omanya. Rumah mereka kan dekat, jadi Arya dan Nur tidak pernah pusing bila kebetulan ada acara di luar dan kurang pas bila membawa anak-anak.


"Aku sebenarnya kurang suka datang ke acara seperti ini, Mas!" bisik Nur sambil melingkarkan lengannya ke lengan Arya.


Ia melangkah dengan senyum anggun. Balutan dress cantik melekat pada tubuhnya yang ramping. Tidak lupa, sepatu hak tinggi kini sudah biasa ia pakai. Meski merasa tidak nyaman. Demi fashion, Nur terpaksa mengorbankan tumitnya.


"Dulu anak-anak masih kecil, makanya aku jarang membawamu. Kan sekarang mereka sudah besar, lain kali akan lebih sering aku mengajakmu ke acara seperti ini."


Nur menghela napas panjang. Mau protes tapi Arya memang butuh teman kalau ke jamuan seperti ini. Akhirnya ia hanya bisa pasrah.


"Santai saja, nanti juga terbiasa." Arya menepuk punggung tangan Nur. Mengusapnya lembut agar Nur merasa nyaman.


"Tapi aku nggak nyaman. Lihat itu! Astaga, gaunnya menjuntai menyentuh lantai. Tapi mengapa punggungnya bolong. Macam hantu sundell bolong saja. Apa nggak takut masuk angin?" Nur malah berakhir dengan mengibahi para tamu undangan.


"Padahal, aku berencana membelikanmu satu yang seperti itu," celetuk Arya dengan santai.

__ADS_1


Bukkkk


Nur langsung memukul lembut lengan suaminya yang kekar tersebut. Bisa-bisanya Arya memiliki rencana seperti itu. Dikasih gratis pun, Nur tidak mau.


"Bisa-bisa nanti malah kerokan jadinya, Mas!" ujar Nur kemudian.


Arya terkekeh, "Pasti sangat seksiii!"


Kesal, Nur langsung mencubit pinggang suaminya.


"Aduh!" pekik Arya spontan. Bukan sakit tapi geli.


Beberapa pasang mata menatap keduanya, dari tadi dua orang ini tidak sadar jadi pusat perhatian. Suara Nur yang bisik-bisik membuat orang-orang di sekitarnya ikut menguping.


Malu, Nur langsung menarik tangan suaminya. Mereka baru berhenti saat sampai di tempat paling ujung dan sepi.


Langsung saja Nur menghempaskan tangan Arya yang semula ia pegang.


"Mas tidak lihat? Mereka menatap aneh ke kita barusan."


"Astaga! Lalu mengapa kita ke sini? Acaranya ada di sana!" Arya menoleh, melihat para tamu yang memenuhi ruangan.


"Sebentar, aku mau di sini sebentar. Di sana terlalu ramai. Aku jadi pusing."


"Ish ... katakan saja, kamu mau berduaan di tempat sepi."


Mendapat tuduhan seperti itu, Nur mendorong dada bidang suaminya.

__ADS_1


"Ngawur! Ayo ke sana!" ajak Nur dengan muka masam.


"Tunggu!"


Arya menyusul Nur yang sudah berjalan di depannya. Mereka pun menemui rekan bisnis Arya. Makan malam mewah dengan orang-orang berkelas. Nur sampai bosan, mendengar obrolan mereka semua.


"Mas, aku mau ke kamar kecil!" bisik Nur kemudian.


"Sebelah sana!" Arya menunjuk ke mana yang harus Nur tuju.


"Hemm ... aku ke sana dulu."


Nur berjalan seorang diri, menyusuri lorong hotel yang sepi. Padahal di dalam ruangan tadi sudah mirip pasar malam. Tapi, begitu ia keluar sudah mirip kuburan.


"Permisi, Bu ... toilet sebelah mana?"


Nur mencoba bertanya pada petugas kebersihan yang sedang mengepel. Padahal plang Toilet ada di dekat sana. Namun, Nur tidak melihat karena tertutup dedaunan hijau di depannya.


"Sebelah sana, Non!"


"Terima kasih."


Nur pun meneruskan langkah kakinya. Ia berjalan masuk ke salah satu bilik. Saat ia berada di dalam bilik, tanpa sengaja mendengar derap langkah seseorang.


Tidak hanya satu, berikutnya ada langkah orang yang lainnya. Nur mencoba menajamkan telinga. Suasana kamar kecil begitu hening, Nur kok tiba-tiba jadi takut. Merasa ada yang aneh, Nur mau keluar saja untuk memeriksa. KLEK


Ia membuka pintu dengan hati-hati, detik berikutnya kaki Nur langsung terasa lemas. Tangannya menutup pintu kembali dengan gemetar dan pelan, ia membungkam mulutnya sendiri. Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2