Suamiku Pria Tulen

Suamiku Pria Tulen
Berdiri Tanpa Obat


__ADS_3

Suamiku Pria Tulen #59


Oleh Sept


Rate 18+


Malas sekali bagi Rama memberi napas buatan, karena itu artinya ia harus menempelkan mulut mereka. Tapi mau bagaimana lagi, mau dipompa berapa kali pun Irna tidak juga sadar. Dengan terpaksa dan setengah hati, akhirnya Rama mulai memberikan pertolongan pertama yang berikutnya.


Pria itu menatap jijik saat bibir mereka hampir bertemu. Kalau tidak mengingat Irna yang pingsan dari tadi, sudah ia lempar ke luar mahluk yang super berbisik tersebut. Dengan mata tertutup, Rama akhirnya memberikan napas buatan dengan mode asal-asalan.


Saat pertama, ia seperti meniup balon. Dengan ekspresi wajah yang tidak suka. Saat kedua, sama saja. Irna tidak juga bangun. Dan saat ketiga kalinya, Rama hampir terjungkal karena kaget.


Yang diberi napas buatan malah langsung menarik tubuhnya. Ya, Irna cuma pura-pura. Dia kan ratu drama. Tanpa takut, ia mengalungkan lengannya pada leher Rama. Mengikat pria itu dengan kuat.


"Sudah Rama ... Jangan main-main, apa denganku saja tidak cukup?" Iran kembali merancau.


Semakin kesal lah Rama, berkali-kali dikerjain oleh wanita yang sama. Dengan cepat ia melepas ikatan lengan Irna yang melingkar di lehernya. Namun, Irna malah merapatkan dengan sengaja.


"Berapa lama kau kuat main dengannya? Pria brengsek ... apa kau juga pakai obat dengannya?"


Rama mendesis kesal, makin ke sini Irna semakin membuatnya sebal.


"Jaga mulutmu!" Rama menyentak tangan Irna sampai terlepas dari tubuhnya.

__ADS_1


Ketika Rama bangkit, Irna malah menarik kemeja pria itu. Alhasil, Rama terpeleset karena lantai yang basah.


Melihat pria gagah, perkasa namun susah bangun. Irna malah terkekeh.


"Ish!" Emosi Rama sudah sampai ubun-ubun.


"Dasar wanita gila!" umpat Rama dengan geram. Pria itu mau bangkit, tapi Irna malah langsung merambat dan naik ke atas tubuhnya. Membuat baju Rama ikut basah kuyup.


Rama menahan kesal, ia menahan napas dalam-dalam. Hampir saja ia melempar Irna keluar dari kamar hotelnya. Tapi ia tahan, bila Irna merancau tidak karuan di luar sana. Semua orang pasti tahu, siapa dirinya yang sesungguhnya.


"Turun! Sekarang!" ujar Rama dengan tatapan tajam. Ia menatap jengkel pada Irna yang sudah berada tepat di atas tubuhnya.


"Apa kau juga kasar seperti ini padanya?" Irna kemudian terdiam, ia menatap mata Rama dengan tatapan menuntut. Irna masih kesal pada wanita yang sempat ia temui di depan kamar hotel Rama beberapa waktu lalu.


"Cepat menyingkir, aku malas meladenimu."


Rama tersentak, ia sudah menyentuh kedua pundak wanita itu, siap mendorong Irna untuk menjauh dari tubuhnya. Dasar Irna yang selalu bar-bar. Tangannya sudah berkelana membuat Rama hilang konsentrasi.


"Wanita sialan!" maki Rama dalam hati. Hanya hatinya yang memaki, karena ketika Irna meraba dan meremas. Pria itu tidak berkutik. Bahkan, ia diam saja ketika Irna menyesapnya dengan paksa.


Ada sesuatu yang tidak beres, rasa jijik yang semula ia rasakan saat bersentuhan dengan wanita. Kini berubah, menjadi geli dan lama-lama Rama mulai menikmatinya. Apalagi saat tangan Irna melepas pakaiannya. Tumben sekali, Rama seperti gadis penurut. Dan Irna menyukainya.


***

__ADS_1


Beberapa menit kemudian. Rama sudah kelihatan lemas, pria itu dibuat kelelahan karena aksi Irna.


"Baru sebentar sudah loyo. Tapi tidak apa-apa, ini cukup bagus. Karena tidak butuh obat untuk membuatnya bangun," batin Irna.


"Menyingkir dariku," ucap Rama dengan suara serak. Ia merasa kesemutan, karena Irna tidur di atas tubuhnya.


Bukankah bangun, Irna pura-pura tidur.


"Bersihkan tubuhmu, akan kuceburkan lagi jika kau pura-pura tidur."


Seketika Irna bangkit, dengan senyum menggoda ia meninggalkan Rama. Irna mau mandi, menghilangkan lengket di sekujur tubuhnya.


"Ayo mandi!" Irna mengulurkan tangan untuk membantu Rama bangun. Tapi langsung ditepis oleh pria itu.


"Cepat mandi sana!"


Irna tersenyum masam, lalu pergi mandi. Sedangkan Rama. Pria itu memakai handuk, melilitkan ke pinggang. Kemudian berjalan ke arah balkon. Menyalakan korek, dan kembali bergelut dengan kepulan asap. Menyesap benda pipih yang ia apit dengan jari.


Beberapa menit kemudian, tiba-tiba lengan yang terasa dingin memeluknya dari belakang.


"Singkirkan tanganmu, apa mau aku patahkah?"


"Ish ... mandilah, airnya sudah siap." Irna berbalik dengan gusar.

__ADS_1


Rama membuang benda di tangannya ke arah pot kecil di sebelahnya. Ia juga menatap punggung Irna yang berjalan menjauh, dilihatnya wanita tersebut. Ia tersenyum kecut.


"Jangan sampai wanita itu hamil!" batin Rama. Ia jadi khawatir sendiri. Sebab Irna satu-satunya wanita yang berhasil menampung benihnya selama ini. Bersambung.


__ADS_2