
Suamiku Pria Tulen Bab 68
Oleh Sept
Rate 18+
"Pak, jalan terus!" seru Irna yang mulai panik dan gelisah.
"Tapi ...!" Pak sopir mau melajukan taksinya, tapi ada yang menahan.
"Udah, Pak. Pepet ke samping. Nanti saya bayar lebih."
Tin tin tin
Pak sopir langsung menekan klaskon, dengan gesit ia menghindar dari pria yang semula menahannya.
"Ikuti mobil itu!"
Seru pria yang sudah duduk di kursi belakang, mobil itu mengehar taksi yang ditumpangi oleh Irna dan anak-anaknya. Sampai di depan hotel, bukanya turun. Irna langsung berubah pikiran.
"Pak, antar ke jalan Kusuma bangsa nomor 88. Kita berhenti di gallery yang bernuansa kuno dengan pagar kayu warna coklat."
"Baik, Nyonya."
Wushhh
Taksi kembali melaju.
"Cepat! Jangan sampai kehilangan jejak!" seru Rama yang sudah gusar.
Setelah puluhan kilo, akhirnya mobil berhenti di sebuah tempat yang dituju.
"Terima kasih, Pak!" Irna buru-buru turun.
"Thomas ... Thomas." Irna berteriak-teriak sambil mengandeng anak-anaknya.
"Eh ... lama tidak bertemu. Anak siapa ini? Tampan sekali?"
Thomas langsung meraih Kendra dari gendongan Irna. Ia menatap anak itu dengan tatapan kagum dan gemas.
"Tolong aku kali ini, kalau ada yang masuk ke sini. Bilang, Ken anak kamu."
"Hah?"
Klek
Belum selesai Irna membujuk Thomas untuk bersandiwara. Rama sudah muncul dan masuk dengan anak buahnya.
Sambutan pertama yang Irna dapat setelah tiga tahun tidak muncul di hadapan Rama adalah sebuah tatapan tajam yang menghujam.
__ADS_1
"Lama tidak bertemu." Irna menelan ludah, mencoba menyapa Rama dengan sebiasa mungkin.
Rama hanya diam, menampakkan wajahnya yang sudah mengeras. Namun, saat ia melihat ke arah anak kecil yang digendong Thomas. Hatinya terasa sakit. Ia memejamkan matanya, dengan tangan yang perlahan mengepal.
Wajah anak kecil itu jelas tidak bisa menipu lagi, meski tidak mirip dengan wajahnya yang sekarang. Wajah Kendra sangatlah mirip dengannya saat ia kecil dulu. Saat di mana ia mulai menerima siksaan demi siksaan dari ayah tirinya.
"Ikut denganku!" Rama merebut paksa Ken dari Thomas. Ia melirik tajam ke arah Irna.
***
Bila kehidupan Rama sudah kacau dan semrawut seperti benang kusut, ada kehidupan lain, yang sudah hidup dengan bahagia.
Setelah kelahiran adik Cua, Arya memutuskan pindah. Mereka membeli rumah tepat di sebelah kediaman Brotoseno.
Kediaman Arya Pramudya.
"Sayang ..."
Arya masuk rumah dan langsung mencari anak-anak serta istrinya. Pulang kerja, bukannya melepas sepatu dan ganti. Tapi langsung mencari orang-orang yang ia sayangi.
"Ke mana mereka?" batin Arya sambil melihat dan membuka pintu kamar anak-anak.
Drett drett drettt
Arya merogoh ponselnya.
"Di rumah mama."
Nur sedang berada di ruang tamu sambil memangku Kalen, anak kedua mereka. Sedangkan Cua, ia sedang asik menemani sang nenek merangkai bunga.
"Ya sudah, aku ke sana."
"Hem."
Beberapa saat kemudian.
Ting tung
"Cua ... itu pasti papa. Buka pintunya, Sayang."
"Iya, Ma."
Cua dengan semangat membuka pintu, dan langsung memeluk papanya begitu pintu terbuka.
"Ish ... anak Papa sudah gede!" Arya memutar tubuh Cua hingga anak itu terkekeh.
"Udah ... udah ... nanti jatuh!" pekik mama yang ngeri melihat Cua diputar seperti itu.
"Kebiasaan Mas Arya itu Ma." Nur mengadu sambil tersenyum.
__ADS_1
"Ish ... kamunya juga suka diputar-putar kaya gitu!" goda Arya dan langsung duduk di sebelah istrinya.
"Mana nih jagoan Papa?" Arya langsung mengigit pipi bakpo Kalen. Membuat anak itu memukuli wajah sang papa.
Tidak cukup di situ, Arya lantas mencium kening Nur dengan hangat.
"Pulang, yuk!" tatap Arya penuh arti. Sepertinya Arya benar-benar sangat normal. Terlihat dari caranya menatap Nur Azizah. Mungkin Cua, Kalen belum cukup untuk meramaikan rumah mereka.
***
Di tempat lain, di dalam sebuah mobil hitam. Ada ketegangan di dalam sana. Kevin duduk di depan bersama sopir pribadi Rama. Sedangkan sang mama, duduk di belakang. Sejak tadi Irna tidak betkutik. Melihat Rama yang nampak marah dengan ekpresi wajah yang tidak biasa itu, Irna memilih diam untuk sesaat. Ia tidak mau menyulut api amarah Rama. Dengan sengaja ia membiarkan pria itu tenang terlebih dahulu.
Akhirnya mobil berhenti tepat di depan sebuah mansion mewah di pinggir kota. Letaknya tersembunyi dan sangat private. Irna melihat sekitar lewat jendela, jangan-jangan Rama mau mengulitinya di sini? Tiba-tiba ia bergidik ngeri.
Rama pasti sangat marah setelah apa yang terjadi. Belum apa-apa Irna merinding duluan.
"Cepat turun!" sentak Rama. Ia kembali merebut Ken. Anehnya, Ken diam saja saat digendong oleh ayah biologisnya.
Kendra malah memainkan dasi sang papa, anak tanpa dosa itu juga menarik-narik dasi tanpa motiv tersebut. Hampir saja Rama tercekik. Namun ia mengabaikannya.
"Tutup semua pintu!" seru Rama pada semua penjaga.
Deg
Makin ngerilah Irna, apalagi di depan sana ada herder si guk-guk galak. Astaga, makin kejam saja Rama, membuat Irna ngeri-ngeri sedap.
"Ikut denganku!" seru Rama dingin sambil melirik ke arah Irna.
Rama menyuruh pengawal menjaga Kevin dan dia sendiri menarik tangan Irna masuk ke dalam sebuah ruangan. Sepertinya itu kamar pribadinya.
Tidak ada warna di dalam sana, hanya warna hitam dan putih yang monoton.
"Katakan! Anak siapa ini? Berani berbohong, akan kupotong lidahmu!"
Rama menatap sinis pada wanita tersebut, kemudian beralih menatap Ken yang asik memainkan bullpen dari sakunya.
"Anakku!" jawab Irna ambigu. Dan hal itu kembali memancing amarah dalam diri Rama.
Rama langsung berjalan menuju perapian yang ada di dalam sana, "Kau lihat ... baranya menyala dan masih sangat panas."
Rama mulai mengancam, dan Irna makin panik dibuatnya.
"Manusia gila!" Irna mendekat dan berusaha merebut Ken dari tangan Rama. Tapi Rama terlalu kuat hingga ia tidak bisa mengambil alih Kendra.
"Aku bisa lebih gila lagi dari ini, katakan sekarang! Ini anak siapa?"
"ANAKMUUU!" teriak Irna kencang. Terlihat sekali kalau ia sangat frustasi. Bersambung.
Hidup dengan pasangan psikopat itu ngeri-ngeri sedap pemirsah.
__ADS_1