
Suamiku Pria Tulen #104
Oleh Sept
Rate 18+
Kendra menyetir dengan pipi yang terasa panas dan masih ada cap merahnya. Dita menampar pria itu cukup keras. Salah sendiri, Ken mencium tanpa ijin. Sudah tahu kalau Dita benci setengah mati padanya, Ken malah main sosor begitu saja. Sampai di apartemen, Dita masuk dengan gusar. Pokoknya ia dendam banget sama pria bernama Kendra tersebut.
Pagi hari, Dita ngambek. Ia tidak mau keluar kalau masih ada Ken di sana. Begitu memastikan Ken sudah berangkat kerja, Dita baru mau keluar. Entah untuk makan atau nonton TV. Mulai sekarang, Dita sudah menabuh genderang perang. Ia berjanji dalam hati, tidak akan melunak pada ayah dari janinnya tersebut.
***
Di tempat lain. Petrova Cooperation.
Kevin sedang mengetuk-ngetuk meja di depannya. Matanya menatap kosong. Namun, otaknya sedang berpikir.
"Bawa dia ke sini."
"Sekarang, Tuan?"
"Aku rasa kau butuh cuti, Will!" ujar Kevin dengan nada menyindir. Kevin merasa sekretarisnya itu mulai lamban. Tidak bisa bergerak dengan cepat. Sudah tidak bisa diandalkan lagi.
"Baik, Tuan. Saya akan segera membawa nona Lea untuk melakukan klarifikasi bersama Tuan."
Jadi, para dewan direksi tetap meminta Kevin membersihkan skandalnya itu. Wajah Petrova Cooperation harus bersih tanpa noda. Skandal sedikit bisa membuat pondasi perusahaan goyah. Mau tidak mau, Kevin harus menyiduk gadis itu dengan segera.
***
"Hallo, ada apa menghubungiku lagi? Apa pria brengsek itu yang menyuruh?" tanya Lea di telpon dengan kasar.
Alea masih marah, gara-gara Kevin yang sepertinya acuh setelah kejadian ciuman malam itu. Lea merasa sangat dirugikan. Apalagi Kevin seolah menganggap itu tidak ada artinya. Pokoknya, harga diri sebagai seorang anak gadis merasa diinjak-injak oleh Kevin. CEO sombong yang sok ganteng itu.
"Non Lea bisa ke sini? Atau saja jemput sekarang?"
"Astaga!!!!" pekik Lea spontan. Ia merinding karena Willi berbicara sangat lembut dan manis. Pasti ada udang di balik karang.
__ADS_1
"Maaf ya ... Mas Willi. Saya tidak tertarik dengan perusahaan itu. Apalagi CEO-nya yang sangat tidak sopan. Setelah mencium gadis ia malah mengusir gadis tersebut. Apa-apaan ini?" Lea malah ngomel-ngomel pada Willi. Padahal pria itu tidak tahu apa-apa.
"Tunggu ... mungkin ada kesalah pahaman di sini." Willi mencoba mencari titik terang.
"Hey Mas Willi! Bagaimana bila adik, atau saudara perempuan Mas dilecehkan. Masih mau membela si pelaku?" tantang Lea dengan mengebu-ngebu.
Willi akhirnya tidak bisa menjawab, ia malah garuk-garuk kepalanya. Karena Lea terus saja nyerocos tanpa jeda.
"Begini ... kirim alamatnya. Saya jemput sekarang ya? Tuan sangat menyesal. Dan Tuan ingin saya menjemput nona Lea."
"Ehem ... ehem ..." Lea berdehem. Hidungnya kembang kempis. Ia seneng banget. Padahal Willi ngibul, pria tersebut bohong bila Kevin sang atasan mau minta maaf. Demi lancarnya pekerjaan, sekretaris Willi melakukan apa saja. Berbohong pun ia trabas.
Lea yang ada di rumah temannya, langsung merapikan diri. Gadis itu keluar rumah, pamit pada sang mama untuk kerja. Padahal, main dan main kerjaannya.
Di situasi darurat seperti ini, mau tampil berbeda dan lebih dewasa. Ia membuka semua lemari baju milik temannya.
"Gue pinjem baju lo dulu. Yang paling rapi dan sopan."
"Lo mau ketemu duta besar?" cibir kawan Alea.
"Ish!" Lea mendesis kesal, kemudian melanjutkan mencari baju yang ia rasa cocok dan pas.
Kawan Lea tak henti-hentinya menertawakan penampilan Lea yang rapi dan sudah mirip eksekutif muda yang berbakat.
"Lo dapat baju model begini dari mana?" sindir Lea dengan nada bercanda.
"Itu punya kakak gue."
"Pantes, orang model kaya elo mana punya baju model begini."
Alea ikut terkekeh, ia menatap pantulan dirinya yang sudah mirip istri duta besar yang akan melakukan kunjungan kenegaraan.
***
Petrova Cooperation
__ADS_1
Lea berjalan dengan percaya diri masuk ke gedung perusahaan tersebut. Ia melangkah berdampingan dengan Willi.
"Pak Kevinnya mana?" bisik Lea.
"Sebentar lagi kita sampai."
"Hemm!"
KLEK
Tanpa disuruh duduk, Lea langsung mengatur posisi. Ia duduk di depan Kevin tanpa disuruh.
"Saya permisi, Tuan." Willi langsung kabur. Tugasnya hanya membawa Lea ke ruang kerja Kevin. Masalah lainnya, ia tidak bisa menghandlenya. Kini hanya ada mereka berdua, dan Kevin langsung masuk ke inti permasalahan.
"Sebentar lagi kamu akan ikut bersama saya untuk melakukan klarifikasi. Nanti katakan pada semua, bahwa apa yang kamu katakan kemarin adalah bohong. Kita tidak pernah menjalin hubungan, berita yang beredar adalah berita palsu."
"Apa? Katanya Pak Kevin mau minta maaf? Apa saat klarifikasi itu juga?"
Lea mengamati wajah Kevin yang menatap aneh padanya. Jujur, Lea merasa sudah dijebak.
"Minta maaf? Kamu yang sudah merugikan saya! Kami rugi besar karena statement darimu!"
"Rugi besar?" Lea mengepalkan tangan.
"Jangan kuatir, ini tidak gratis!" cetus Kevin sembari menatap remeh.
***
Ruang conference pers
"Terima kasih atas kehadiran semuanya, maaf karena sudah menimbulkan keributan beberapa hari terakhir. Saya sebagai CEO Petrova Cooperation, ingin menyampaiakan sebuah klarifikasi. Mengenai berita yang bergulir dan sangat meresahkan."
Kevin menarik napas sebentar, kemudian membetulkan microphone yang ada di depannya. Setelah mengatakan panjang lebar, yang intinya menyanggah semua hal miring tentang dirinya. Kevin kemudian memberikan kesempatan bagi Lea untuk bicara.
"Selamat siang, perkenalkan saya Lea Pramudya. Putri ke tiga dari KCF Group."
__ADS_1
JEBRET JEBRET JEBRET
Semua kamera langsung menyorot sosok putri ketiga dari kerajaan bisnis ternama tersebut. Kevin sampai langsung shock. Bersambung.