
Mengenai penipuan yang Nuri alami, Nanda sedang berdiskusi dengan Ayah dan Ibu untuk mendapat solusi terbaik. Ia tidak mungkin membiarkan kebohongan bertahan lama.
"Yah, gimana nih?" Ibu Nuri panik mengetahui kenyataan yang anaknya alami.
"Pantesan aja kok masa murah banget. Terus memang kamu kenal dengan yang bantuin Adek?" Ayah mencoba realistis.
"Aku ada kunjungan ke Prancis juga, Yah. Nanti coba ketemu adek sama mau ketemu yang bantuin juga."
"Pokoknya kamu harus pastikan adek baik-baik aja loh, Nda." Ayah sangat cemas, ia tidak ingin berpikiran buruk kepada Nuri meski putrinya sendiri masih jauh dari kata baik.
Ibu Nuri juga merasa kesepian, biasanya ia akan melihat pemadangan Nuri yang malas bergerak. Putrinya sangat suka menonton drama, membuat kue. Ia tidak menyangka ditipu oleh yayasan.
"Ya udah, Bu. Aku berangkat kerja dulu." Nanda mencium tangan, kebiasaan sejak kecil.
"Hati-hati, nggak usah ngebut kalau bawa mobil."
Nanda mulai memanaskan mobilnya dan membunyikan klakson agar tetangga sebelahnya dengar.
"Tungguin gue!" Dika langsung berlari sambil makan kerupuk.
Perjalanan menuju kantor butuh waktu selama 35 menit. Nanda adalah karyawan teladan, ia tidak pernah terlambat selama empat tahun bekerja di kantor.
"Gue duluan, Nda. Mau ngopi dulu di Starbak!" Dika yang hobi nongkrong dan pecandu kopi memilih pergi lebih dulu.
Seperti biasa, Nanda membawa dua tas. Satu tas jinjing untuk laptop dan dokumen, satu lagi tas mahal untuk keperluan pribadi. Ia lumayan mencintai barang bermerek Paris meskipun ponsel yang ia pakai buatan Korea.
"Pagi, Bu." Nanda bertemu Cyntia di tempat parkir.
"Pagi. Kamu kelihatan fresh banget hari ini?"
"Karena nggak lembur jadi lumayan bisa buat tidur lebih lama semalam." Nanda tersenyum manis.
Cyntia sudah mulai terpesona dengan Nanda diam-diam.
"Kamu nggak pernah ikut nongkrong bareng anak kantor?"
"Nggak kalau mereka ngajak ke tempat yang kurang etis, Bu. Saya lebih baik makan bakso sama Ujang di kedai gaul." Wajah Nanda sangat meyakinkan.
"Kata Intan kamu malah sering beli cilok sama adik?"
"Iya memang sering, bahkan teman adik saya juga ikutan minta jatah traktir tiap bulan." Ia teringat Chacha dan Candra yang juga sering memalaknya uang jajan.
"Nanda, kamu baik banget. Pacar kamu pasti seneng deh." Cyntia menyentil bahu Nanda.
Nanda hanya tersenyum, ia memang sudah dua tahun tidak berpacaran dengan siapapun.
"Cewekmu orang mana nih?" Cyntia masih meledek tapi ia sebenarnya penasaran seperti apa kekasih Nanda.
"Semenjak mantan meninggal dua tahun lalu, Saya belum pacaran lagi."
Cyntia merasa tidak enak untuk meneruskan perbincangan pagi yang akan merusak suasan hati Nanda.
"Ayo, masuk.''
Mereka menuju lift yang sama.
Nuri merasakan hal yang belum pernah ia dapatkan dari seorang kekasih idaman. Jay sangat perhatian dan pengertian.
"Terima kasih, Jay." Ia masih enggan untuk melepas pelukan.
"Iya, tapi peluknya nggak usah kaya gini. Aku susah nih buat bergerak."
"Aku takut kalau ada pelakor... "
"Apa itu? Aku baru dengar."
"Perebut laki orang, jaman sekarang sangat tren."
__ADS_1
Jay tertawa. Ia tidak menyangka ada istilah selucu itu.
"Nuri, kamu percaya kan sama pacarmu sendiri?"
"Iya," jawabnya manja.
Nuri melepaskan pelukan. Ia memasang wajah cemberut tapi sangat imut.
Tiba-tiba, Jay yang memeluknya dari belakang. Ia malu untuk bertatapan dengan Nuri.
"Aku lebih takut karena kamu terlalu imut."
Nuri memegangi erat tangan kekasihnya. Ia merasakan kehangatan yang sangat nyata, bau *cologne* yang sangat wangi. Dia seperti pangeran bagi Nuri.
Jay hanya ingin melepas lelahnya usai bekerja. Banyak tamu VVIP yang sering membuatnya sibuk mendadak.
"Nuri, kenapa kamu begitu kecil dan imut?"
"Hah?" Nuri menahan tawa mendengar pertanyaan aneh Jay.
"Hei, Mr. J, kamu yang lebih tinggi dariku nggak boleh menghina." Ia mencubit pipi Jay.
"Jay, kamu ada jerawatnya nih satu!" Ia tertawa melihat jerawat merah kekasihnya.
"Kamu tertawa?"
"Aku punya obat oles untuk jerawat dari Korea."
Nuri mengoleskan obat jerawat. Mereka lalu menikmati hobi mereka. Jay bermain game online dan Nuri sedang menonton episode lanjutan dari drama yang ia tonton.
Chef Eric datang. Ia yang melihat sepasang kekasih berbeda hobi di ruang tv.
"Wah, kalian saling memahami ya?'
"Chef, kemarilah." Nuri menepuk sofa di depannya.
"Jay, kamu sepertinya santai banget ya?''
"Aku bisa santai sebentar kalau main game online si. Bagaimana kabarnya?"
__ADS_1
"Ayahmu sepertinya masih belum bisa akur dengan Kakek.''
Nuri meski menonton, ia juga ikut mendengar percakapan mereka. Ia langsung dapat menyimpulkan inti obrolan.
"Jadi kalian itu sepupu?"
Jay hanya mengangguk, sedangkan Chef Eric tertawa.
Raka sudah memiliki tekad yang kuat untuk menyusul Nuri. Ia sangat berterima kasih karena bertemu ayah biologisnya yang super kaya.
Setelah dibelikan mobil BMW, ia ingin membuktikan janjinya kepada seorang teman yang dulu meremehkannya.
"Keluar lo, ******." Raka mengirimi pesan suara kepada Candra.
Candra dan Chacha sudah mengintip dari jendela, suara bising mobil dan warna mobil yang mencolok di mata mereka.
"Hah, Raka?" Candra masih tidak percaya kalau Raka yang datang.
"Nyewa dimana lo?" Chacha menyerangnya dengan sadis.
"Mobil gue dikasih Papi gue. Dulu gue kan pernah bilang kalau suatu saat gue pasti punya BMW." Raka tersenyum sinis.
"Kayaknya dia nyewa deh," Candra masih berbisik kepada Chacha.
Candra merangkul Raka, ia akan memperlakukan tuan muda dengan lebih baik lagi.
Chacha masih saja tidak percaya. Baginya, terlalu dramatis jika tiba-tiba ayahnya Raka adalah seorang pengusaha. Mengingat di masa dulu, Raka sangat pelit. Hadiah untuk ulang tahun Nuri saja ia enggan untuk membeli.
"Lo udah bayar hutang lunas belum ke Nuri?'' Tatapan matanya sangat serius.
"Udah, malah gue kasih lebih sepuluh jutaan, Cha. Lo udah tahu dia ditipu yayasan?"
"Tahu lah, makanya dibantuin sama Jay... "
Candra kurang paham siapa Jay.
"Siapa Jaelani, Sis?" Candra penasaran.
"Pacar Nuri yang baru."
Wajah Raka langsung muram. Ia kurang suka mendengarnya.
"Cemburu lo?" Sindir Chacha.
"Gue emang salah Cha, tapi gue yakin pacar bulenya itu cuma pelarian sementara aja si."
"Menurut gue ya, Bro. Lo juga salah si, kenapa dulu lo pelit banget sama Nuri? Pernah nggak lo memberikan hadiah spesial?"
Raka mencoba mengingat. Ia belum pernah memberikan hadiah apalagi sebuah kemewahan. Yang ia berikan hanya berupa makanan yang banyak mengandung penyedap.
"Iya gue yang salah. Kaum perempuan selalu benar lah." Ia malas ribut dengan Chacha.
"Udah, Bro. Lebih baik lo ikut gue aja." Candra yang sedang naik daun berkat bisnis ikan hias, ia dipanggil Mas Beta olih para pengikutnya di sosial media.
"Oke, kali ini gue mau live bareng temen gue yang cakep kaya aktor Korea nih." Candra menyalakan siaran langsung ditemani Raka.
"Apaan nih?" Raka memasang wajah polos dan malu-malu tapi menikmati siaran langsung.
Kali ini penonton siaran langsung mendekati sepuluh ribu orang, banyak juga yang terpesona dengan Raka.
Ada beberapa komentar yang Raka baca.
@itucupangku : bro beta, gue pikir lo pada mending jadi selebgram aja deh🤣
@mamimujaer : walah bakul ***** ganteng-ganteng yo
@jakasintingg****gg : wow ada Raka😁
@handikawisma : lo berdua bikin boyband aja deh woy
@anandabaktidswr : dibungkus sekalian aja tuh sebelah lo bareng *********
"Bang Nanda masih benci banget sama gue... "
__ADS_1
Bersambung...