
"Sesuka itu kamu dengan dia?"
Nuri sudah mengemasi barang-barang yang ia perlukan untuk pergi. Teman-temannya sudah kembali ke tanah air terlebih dahulu.
"Bagaimana ini?" Dia menanyakan hal yang sama. Nuri juga tidak tahu harus menjawab apa, ia sudah lelah untuk mengungkit semua cerita sedihnya.
Puluhan hari telah berlalu semenjak mendiang sang suami dimakamkan. Di hari ke-49, Nuri pergi untuk menata kembali hidupnya.
"Sabar, Nak." Bibi Amelia masih saja memeluknya. "Jay pasti sangat senang melihat istrinya sangat mencintainya."
Dalam balutan luka, Nuri masih saja enggan untuk memikirkan permintaan maaf dari wanita itu. Wanita yang Jay selamatkan, tapi tidak terlalu menghargai perjuangannnya.
"Kamu dimana?" Lusi menanyakan hal yang sama. Ia dan suaminya, Saki, akan datang untuk menemui Nuri.
"Aku akan menemui kalian besok di Paris."
Beruntung, ia memiliki teman-teman yang sangat pengertian. Sebelum Lusi, Louis dan Eva sudah datang lebih awal.
"Nuri!"
Ada hal baru yang membuatnya bersemangat, saat seseorang memanggilnya dengan riang, membuat hati sangat tenang.
"Iya, aku datang." Nuri bergegas untuk pergi.
Keesokan harinya, Nuri terbang ke Paris. Ia menepati janji untuk bertemu dengan teman baiknya di Paris.
"Hei!" Lusi memeluknya. Mereka pernah terlibat sebuah adu mulut hebat di masa lalu padahal.
"Nuri, kamu sudah makan?" Saki tidak pernah bertanya keadaan, ia dapat menangkap dari pandangan Nuri. Tampak tidak stabil, jelas sekali belum sarapan.
Lusi menceritakan kehamilannya yang sedang memasuki trimester awal. "Aku benar ya, ternyata masa-masa hamil itu bikin nggak enak buat makan."
"Kamu terlihat lebih cantik ketika hamil, Lusi."
"Benarkah?" Lusi memeluknya lagi. "Kamu akan jadi tante juga loh."
Saki merasa tidak enak karena terlalu sibuk, ia terlambat untuk mengunjungi makam Jay. "Maafkan kami, telat sekali ya?"
Tidak ada istilah telat dalam melakukan penghormatan terakhir. Nuri dapat menerima segala alasan, ia hanya ingin mengenang Jay dengan hal-hal baik.
"Kamu wanita yang sangat kuat, Nuri." Lusi harus akui itu, Nuri adalah seseorang yang tegar.
"Aku yakin kamu akan menjadi lebih kuat dari biasanya." Saki ikut menyemangati.
Setelah menemui mereka, Nuri masuk sejenak ke dalam kamar yang Jay pernah tempati di lantai dua toko roti. Ada jejak kenangan yang sangat indah dimana dua orang asing yang iseng menjalin hubungan sampai saling mencintai.
"Jay, bagaimana ini?" Nuri menyenderkan bahunya di tembok. Ia hanya bisa melihat foto Jay yang tersenyum, tanpa bisa mencubit pipinya.
"Aku ingat saat kamu berbaring."
Pernah ada tawa yang begitu pecah dari sudut kamar. Saat mereka saling iseng, tanpa mengutamakan nafsu. Jay adalah pria sejati yang mampu menahan nafsunya. Tidak pernah, ia mencoba untuk melakukan hal-hal senonoh.
"Ingin rasanya duduk di kursi pijat."
Tidak ada lagi seseorang yang tertawa dengannya. Ada kalanya, ia menyemprotkan parfum Jay untuk mengingatnya.
"Sepertinya bau parfum kamu lebih baik daripada melihatmu di foto, Jay."
Beberapa pakaian Jay sering ia kenakan.
"Kamu suka nasi goreng?"
"Aku bisa pesankan untukmu."
Entah kenapa atau mungkin hanya halusinasi. Nuri dapat mendengar suara Jay. Seperti dialog dari masa lalu saat mereka malas memasak.
"Kamu nggak capek nonton drama?"
"Lihat tuh, pemeran pria itu!"
Lama-lama bisa gila. Nuri lalu keluar dari kamar. Ia pergi menuju ruang tengah. Dimana ia mendapatkan sebuah pemandangan yang menakjubkan.
"Nuri?"
"Kamu?"
Jack memakai baju yang sama dengan Jay.
__ADS_1
"Selamat ulang tahun, Jay."
Hari demi hari berlalu. Ada hati yang selalu sama, setia mengucapkan sepatah dua patah kata untuk menyapanya.
"Ini tepat 2 tahun setelah kepergian kamu, Jay. Selamat ulang tahun, Sayangku." Nuri meletakan dua buket bunga dengan warna berbeda.
"Salam hangat untuk kekasihku." Ia mengenakan kaca mata hitam dengan balutan busana hitam. Meski tidak begitu ramai, beberapa orang memang datang untuk menyapa sanak saudara. Bukan hanya Nuri yang menangis ketika memberi salam kepada mendiang suaminya.
"Kamu baik-baik saja, Suamiku?" seorang wanita dengan scarf bergambar tulip juga menangis histeris. "Ini ulang tahun pernikahan kita... tepat 20 tahun."
Setelah melepas kesedihan. Dua wanita dengan latar cerita berbeda, duduk bersebelahan untuk menikmati kopi panas.
"Aku sangat menyukainya," ujar wanita paruh baya di dekat Nuri.
"Aku juga. Aku yang menyukainya lebih dulu." Nuri menepuk gelas kertas bekas kopi panas sambil menyelami ingatan di masa lalu. Ingatan yang begitu indah tentang suaminya.
Mereka bilang, tidak baik untuk terus meratapi kesedihan. Padahal dari semua kesedihan, sisa kenangan yang terekam adalah klimaks dari kesedihan itu sendiri. Jejaknya sangat kuat dalam otak.
"Kamu masih muda, Nak. Kamu harus menikah lagi."
"Hal yang paling menyakitiku adalah ini, Bi. Dia juga menyuruhku untuk menikah lagi jika dia pergi lebih dulu..."
"Apa kamu sangat mencintai suamimu?"
"Sangat."
Memang tidak baik mencintai terlalu berlebihan. Semua perasaan yang ia miliki untuk Jay sangatlah alami, semua berjalan natural. Tidak ada paksaan dalam cinta mereka.
"Aku sering pergi ke Paris untuk mengenang dimana kami bertemu."
Terdengar gila, tapi setiap bulan ia pergi ke Paris untuk mengenang tempat pertama mereka bertemu. Awal cerita cinta mulai hadir dalam hidup.
"Nak, kamu harus tetap kuat dan tegar."
Semenjak kepergian Jay, ia belajar dengan sangat baik menjadi seorang wanita tegar. Kenyataan bahwa, Jay meninggalkan harta warisan dengan nominal yang fantastis sering menimbulkan kabar burung.
"Bisa saja kan, istrinya merencanakan kecelakaan mobil untuk mengambil harta Jay?"
Saat kedatangan pertama Nuri ke dalam rumah kakek Jay, Kakek Clarkson, ia disambut dengan beragam ekspresi.
__ADS_1
"Cih!"
"Nuri, kamu harus kuat." Athena juga dulu melewati hari-hari yang buruk di awal kedatangannya.
"Selamat datang, Nuri." Kakek Clarkson menyambutnya, begitupun dengan dua istrinya.
"Nenek sudah meninggal, dua istri yang sekarang adalah wanita ular." Athena menuliskan lewat pesan singkat.
Nuri langsung paham. Jay benar, ia tidak terlalu suka di rumah besar dengan para ular.
Jamuan makan malam dengan puluhan anggota keluarga membuatnya agak takut, karena beberapa menatap Nuri sengit.
"Karena Jay sudah meninggal, apa kamu cukup handal?"
Nuri menelan ludah, ia juga tidak paham apa yang mereka sebut handal sejak dua tahun lalu.
"Baiklah, Nuri. Kakek yang akan bicara."
"Kamu sudah Jay daftarkan sebagai anggota keluarga dan kami sangat menyambutmu di kediaman Clarkson. Dalam surat wasiat Jay, dia mewariskan semua kekayaannya untukmu."
Nuri menunduk, ia terus menghindari pandangan orang-orang yang mencibirnya.
"Semua kekayaan Jay akan menjadi milikmu. Semua bagian Jay juga akan menjadi hakmu. Kakek ingin memberitahumu satu kewajiban sebagai cucu."
Semakin banyak penjelasan yang beliau katakan, Nuri semakin takut. Pantas saja Jay sangat bekerja keras selama ini.
"Kamu harus menggantikan Jay mengurus bisnisnya. Andres dan Arthur akan membantumu. "
"Ayah, kenapa Ayah tidak sekalian bilang. Nuri berhak untuk menikah lagi?" Bibi Jay, Charlotte ikut berkomentar.
"Itu benar. Tidak ada larangan untuk tidak menikah lagi, kamu sudah menjadi bagian dari keluarga Clarkson."
"Ah, kenapa Ayah tidak menjodohkan saja dengan pemilik J.J. Ini pasti seru!"
"Apa Bibi gila? Jack itu saudara jauh Jay." Danny mulai kesal.
Nuri masih diam. Dalam hatinya, ia sangat kesal. Amarahnya bercampur dalam satu wadah.
"\*Damn it!"
Bersambung\*...
__ADS_1