
"Katakan sesuatu yang masuk akal!"
"Apa kamu benar melupakannya? Seorang ayah yang melupakan darah dagingnya?!"
Hah?
Jay hanya bisa menelan ludah dan mencoba memahami apa yang sedang Mark debatkan perkara anak. Anak siapa? Jay merasa tidak pernah memiliki anak di luar nikah.
"Kegilaan macam apa ini?" Jay tersenyum sengit.
"Apa kamu tahu kalau di dalam mimpi istrimu aku adalah suaminya? Itu bukan kamu, Jay Jang Clarkson."
Tidak masuk akal. Jay merasa ini sebuah kegilaan yang logika saja tidak mampu menjabarkan dengan seksama.
"Jaga kata-katamu, Profesor." Jay masih mengatakannya dengan nada rendah meski pergelangan tangannya mengepal. Ia sudah bersiap jika kata-kata Mark melukainya dalam.
"Di dunia ini orang-orang salah menilaimu. Orang dengan bangga menghormati sampah yang bahkan sulit untuk di daur ulang." Mark menatap dengan garang untuk menunjukan ia tidak ketakutan. Jay Jang hanyalah seorang manusia yang tidak perlu dihormati berlebihan. Orang-orang salah paham.
"Apa kamu gila?"
Mark tertawa kejam, ia sebenarnya sudah menahan lama sebuah kebenaran yang bahkan anggota keluarga Jang tidak mengetahuinya. Ia sangat berterima kasih dengan seseorang di masa lalu, yang tak lain adalah mantan pasiennya.
"Kenapa kamu bilang begitu, Prof? Apa ada seseorang yang memberitahumu sebuah kehaluan?"
"Hmm, seseorang yang akan menjadi mimpi buruk untuk hidupmu dan akan menjadi mimpi indah untukku."
Jay melesatkan satu pukulan ke wajah dokter tampan di rumah sakit bergengsi tersebut. "Aku pikir orang berpendidikan memang menyebalkan sekali sejak dulu."
Mark tidak mau diam, ia bangkit dan menampar wajah mulus Jay. Meski akan menyakiti Nuri jika melihat mereka berkelahi karena kebodohan Jay di masa lalu. Tapi niat Mark semata untuk menjaga kestabilan jiwa sang pasien yang diam-diam mulai mencuri hatinya.
Untuk alasan tertentu, Jay tetap melempar sapu tangan mahal dari sakunya. "Gunakan sapu tangan ini untuk menutupi keburukan di wajah dan hatimu."
Jay Jang ditemani sang asisten, Andres. Mereka berlalu dari hadapan Mark. Beberapa perawat yang menyaksikan pertengkaran hanya bergunjing tidak ada yang berani memposting video perkelahian.
"Gila!"
"Dokter Mark berkelahi dengan Jay Jang!"
Mark sudah dipanggil oleh manajemen SDM rumah sakit. Teguran karena melanggar peraturan yaitu berkelahi di area rumah sakit.
"Apa kamu gila? Kamu nggak tahu seberapa berkuasa kakeknya?"
"Aku tahu mereka berkuasa."
"Sadarkan dirimu, Mark. Minumlah beberapa wine. Aku akan memberimu cuti dua hari ini." Direktur memberikan cuti dua hari, selain sebagai jalan tengah juga untuk membuat Mark fokus kembali.
"Terima kasih, Direktur."
Hal yang pertama Mark lakukan adalah menunggu panggilan dari Nuri. Jay pasti akan memberitahukan perkelahian sengit mereka. Seorang profesor kedokteran berkelahi dengan pembisnis keturunan konglomerat.
"Mark?!'' Lisa meneleponnya.
"Ada apa?"
"Apa kamu berkelahi dengan Jay Jang? Apa otakmu udah nggak waras lagi?!! Apa rumah sakit kalian mau melepas donatur terbesar dengan gampang?"
Semua orang membela Jay dan menyuruhnya untuk menjaga kewarasan.
"Untuk apa kamu peduli lagi? Bukannya kamu juga memutuskanku demi pria kaya di Paris itu kan? Apa orang dengan latar belakang sepertiku harus selalu mengalah dan kalah?"
__ADS_1
"Ini dia yang membuatku malas denganmu, Mark! Pikiranmu terlalu kolot untuk latar belakang. Aku memutuskanmu karena aku tahu kamu menyukai istri Jay dan pacarku sekarang dia adalah pria dewasa yang sejak dulu aku impikan. Maaf jika ini menyakitimu, tapi kamu lebih dulu menyakitiku Mark."
Mark mematikan ponselnya dan memutuskan untuk mengunci diri di ruangan belajarnya, tidak ketinggalan ia membawa dua botol wine mahal pemberian direktur RS.
Jay pulang dengan wajah bekas pukulan. Keadaan terburuk selama ia menjalani pernikahan adalah menunjukan wajah bekas perkelahian. Laki-laki di masa lalu pasti pernah berkelahi satu atau dua kali.
"Jay!" mata Nuri seperti mau copot melihat wajah sang suami. "Apa yang terjadi?"
Nuri dibantu Andres merawat luka di wajah Jay. Andres terpaksa pergi membeli salep bekas luka agar tidak membekas di wajah atasannya.
"Kamu kenapa?" Nuri merangkul Jay.
Jay masih enggan bicara, sebenarnya ia juga bingung dengan perkataan Mark. Siapa pasien yang Mark maksud. Seingat Jay ia hanya berpacaran dengan Louisa, Athena, Lusi dan Nuri. Selain mereka, gadis-gadis di masa lalu adalah teman atau kenalan yang mencoba melakukan pendekatan.
"Apa yang Mark katakan? Apa kalian berkelahi gara-gara mimpiku?"
"Andres bilang, Mark juga bisa melakukan hipnoterapi. Jay... katakan sesuatu!"
Sulit sekali mengatakan jika Jay merasa takut kehilangan sang istri jika ada satu kesalahan di masa lalu yang membuat semua hancur dalam sekejap. Kata-kata Mark terdengar halu tapi sangat kejam.
"Bae... " Nuri memegang pipi Jay.
"Apa kamu akan terus mencintaiku jika aku orang yang buruk di masa lalu?"
"Bahkan jika kamu dulu punya anak di luar nikah pun, aku tetap menerimamu Jay.''
Sesuatu tiba-tiba terbesit. Kehadiran adik angkat yang keluarga Mommy katakan anak saudara jauh sedikit mengusiknya. Orang-orang banyak mengatakan mereka mirip.
"Jika itu benar, Nuri? Aku pasti laki-laki pendosa besar?" Jay meneteskan air mata, ia tidak sanggup membuat Nuri terluka.
__ADS_1
Bagi Nuri, masa lalu sudah berlalu. Tidak peduli seburuk apapun kisah Jay di masa lalu. "Saat kita mengucapkan janji pernikahan dulu, kamu harus tahu Jay. Aku menerima semua hal dari masa lalumu, dan aku juga berterimakasih karena kamu menjadikanku istri yang berarti masa depanmu."
Sebagai seorang pria dewasa yang sudah menikah, Jay mulai paham satu alasan kenapa Tuhan mengirimkan Nuri sebagai jodohnya. Karena mereka saling melengkapi.
"Jika itu benar, aku malu... " Jay menangis karena terharu mendengar ucapan sang istri yang mampu menenangkan batinnya yang koyak seketika.
"Seperti saat kamu bilang ada atau nggak seorang anak, kamu akan tetap sama. Tetap sama mencintaiku kan?"
Jay mengangguk manja, ia memeluk erat sang istri yang sedang duduk di pangkuannya. "*Still loving you, Bae*."
"Nggak ada yang boleh membuat Jay-ku sedih lagi." Nuri tersenyum tulus.
Malam itu mereka habiskan dengan menontok film komedi. Mengembalikan mood Jay adalah prioritas Nuri. Untuk Mark, ia akan membuat perhitungan langsung keesokan harinya.
"Kamu senang Jay?"
"Aku suka sekali film *Boss Baby*."
Masih dengan posisi yang aneh, Nuri rebahan manja di paha Jay. Sementara Jay sangat fokus menonton film.
"Setiap kali mood memburuk, aku nonton film ini Bae." Mata Jay memang fokus menonton, tapi tidak tangan kanan Jay, tangannya mencubit pipi sang istri berulang kali.
"Jay Jang!"
Jay tertawa dan itu membuat Nuri lega.
"\*Jay is my husband."
Bersambung\*...
__ADS_1