Super Rich Bae

Super Rich Bae
Part 100 (S2) : Half


__ADS_3

Begitu membawa Crystal, Jay harus kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Seperti bertukar. Kepergian Nuri dan kedatangan Crystal.


"Dad, aku mau main."


Arthur sudah tahu detail kisah sang majikan. Yang bisa ia lakukan hanya menjaga gadis kecil tersebut dengan menemaninya main di taman.


"Apa yang Nuri katakan?" Jay bertanya kepada Arthur.


"Nyonya pergi saat subuh, dia juga menangis dan memelukku. Tidak ada sepatah kata yang keluar, yang aku lihat hanya tangisan, Tuan."


"Lagi-lagi aku menyakiti orang yang mencintaiku... "


Jay meminta ijin untuk cuti sebulan, ia perlu menata hati dan pikirannya. Langkah apa yang harus ia ambil demi menyelamatkan pernikahan, serta janji antara dirinya dengan mendiang kakak iparnya.


"Beri waktu dia Jay. Mommy juga butuh waktu untuk menemui Nuri, dia pasti syok."


"Daddy sarankan kalian bercerai. Demi kebaikan Nuri, itu juga keinginannya. Dia adalah wanita yang baik."


Beruntungnya Jay memiliki orang tua yang selalu menjaganya dalam situasi terburuk.


"Mungkin Nuri berpikir lain, Jay." Jack juga hadir memberikan dukungan moril untuk sang adik. "Mungkin dia merasa jahat jika hadir di antara kalian. Dia ingin membuatmu menjadi ayah yang bertanggung jawab dulu."


"Benarkah?"


"Tentu. Aku tahu ikatan cinta kalian lebih kuat dari apapun!"


Kepergian Nuri dari hidup Jay adalah bencana terburuk yang tidak pernah Jay bayangkan. Tapi bagaimana lagi? Tidak mudah menerima seseorang yang sudah memiliki anak, apalagi di luar nikah. Orang-orang akan mengecap Jay seorang pria brengsek.


Setiap malam, ia habiskan untuk merenung dan minum wine mahal sampai mabuk. Arthur tidak bisa mencegah, bagaimanapun Jay butuh hiburan untuk menenangkan jiwanya.


"Ini pertama kalinya aku melihat Jay sehancur ini, Paman." Jack berbincang dengan ayah Jay.


"Benar, aku juga baru melihatnya selemah ini. Di masa lalu bahkan dia berani menantang ayahku."


"Aku rasa mereka bisa kembali bersama."


"Semoga saja. Aku menyukai menantuku, dia adalah gadis sederhana yang humoris dan tulus mencintai Jay."


Celine, Mommy Jay justru lebih mementingkan waktu bersama Crystal. "Crystal, temani Daddy tidur ya?"


Crystal patuh, ia langsung berbaring di sebelah Jay. "Daddy... "


Celine duduk di ranjang. Yang bisa ia lakukan memberikan beberapa nasehat untuk sang anak. "Hidup memang penuh kejutan kan? Itulah Jay, kenapa Mommy selalu bilang untuk kontrol minummu. Mommy tidak bisa menyalahkan kamu yang tidak ingat, apalagi menyalahkan Nuri yang meninggalkanmu begini."


Jay yang masih berbaring, menyembunyikan luka hati yang dalam. Kehilangan orang yang mencintainya dua kali. "Aku sangat mencintainya... Nuri... "


Crystal sudah terlelap sambil memeluk boneka panda.


"Mommy tahu Jay. Mommy juga yakin istrimu lebih mencintaimu."


Kenyataannya Nuri meninggalkan Jay. Padahal beberapa hari lalu, ia berjanji akan menerima Jay dengan semua keburukan.


"Bangun Jay."


Jay menuruti sang ibu.


"Lihat betapa menggemaskan Crystal. Sekarang pikirkan bagaimana cara menebus waktu kalian dan buktikan kepada Nuri kamu adalah ayah yang bertanggung jawab."


"Thanks Momm." Jay memeluk sang ibu.


Pikirannya mulai terbuka. Jay akan membiarkan Nuri mengobati luka di hatinya. Jika perpisahan adalah satu-satunya jalan, ia akan terima.


Hari berganti hari semenjak ia pergi. Crystal mulai terbiasa dengan suasana rumah dan sering sekali bertanya sosok Nuri yang ia lihat sekali dalam kehidupan nyata.

__ADS_1


"Dad, kemana Mommy? Apa Mommy lagi liburan keliling dunia?"


Jay menggendong Crystal. "Mommy sedang nonton konser musik di Amerika."


"Kok Mommy nggak ajak kita?"


"Mommy sedang menikmati waktunya." Jay merapikan jepit rambut Crystal.




"Nuri?!" Chacha melotot melihat kondisi sang sahabat. Nuri dilarikan ke RS karena dehidrasi, beberapa hari tidak makan maupun minum.



"Lo mau mati Ri?!" Chacha gemas dan ikut kesal.



"Hei, tenang.'' Arte mencoba menengahi. "Lihat keadaan Nuri, dia lumayan kritis."



Nuri tampak tak berdaya. Kehilangan Bang Nanda membuatnya banyak berpikir bagaimana jika ia kehilangan Jay, pasti tak ada lagi semangat hidup tersisa. Mengambang.



"Apa yang akan kamu lakukan? Apa kalian akan bercerai? Atau kamu kabur dari hidupnya?" Arte sangat realistis.



Chacha memeluk Nuri, ia juga tidak bisa mengatakan apapun. Perkara rumah tangga Nuri tampak pelik dengan kehadiran plot twist yang di luar perkiraan semua orang.




Yang bisa Chacha lakukan adalah menenangkan sahabatnya. Jika di masa lalu, Jay dan Nuri pernah berpisah namun disatukan kembali dan menikah. Kali ini berbeda. Tidak seorang pun menyangka jika Jay memiliki anak di luar nikah dengan teman baiknya.



"Aku cuma ingin memberi Jay kesempatan menjadi ayah yang baik untuk Crystal."



"Bijak juga, tapi kamu menderita kan?" Arte menanggapi. Entah kenapa, ia merasa gemas. Meski tidak memiliki adik perempuan, ia merasa mendadak berperan sebagai kakak Nuri. "Nggak usah memaksa untuk terlihat bijak, Nuri. Terkadang meluapkan semua amarahmu itu lebih baik."



Benar.



Hari-hari dimana Nuri tidak lagi bersama Jay terasa hampa. Terkadang ia memandangi cermin, seolah melihat memori indah di masa lalu. Saat bangun tidur, wajah pertama yang ia lihat adalah Jay.



Ketika malam hari, ia akan lebih tersiksa dengan banyak kenangan yang lewat dalam memori indah. Jay selalu membuatnya jatuh cinta dengan berbagai hal.



"Aku menemukanmu." Jay memeluknya dari belakang saat mereka bermain petak umpet. Tampak kekanakan tapi sangat menyenangkan.

__ADS_1



"Jay!" Nuri tidak terima, ia kalah dalam permainan tiga kali. Jay selalu menemukannya. "Kenapa kamu cepat sekali menemukanku?"



"Karena kita memiliki ikatan yang kuat." Jay masih memeluknya erat dari belakang. "Tetaplah seperti ini, Bae. Kamu tau nggak apa hal yang aku benci? Ketika bangun tidur, tidak ada kamu."



Nuri pikir itu rayuan semata. Ternyata Jay mencintainya begitu dalam.



Chacha masih menemani sang sahabat. Arte berkunjung di akhir pekan.



"Apa yang membuat lo begini? Gue inget banget jaman lo putus sama Jay tiba-tiba, lo nggak sekacau ini."



"Cha... gue selalu ingat Jay Jang. Gimana nih?"



Chacha mulai memahami keadaan. Tidak bisa dipungkiri kalau mereka masih saling mencintai. Tapi semua sudah menjadi pilihan hidup Nuri, meninggalkan Jay untuk memperbaiki hubungan anak-ayah secara biologis.



"Sekarang gue tanya, apa istimewa Jay buat lo? Bahkan semua keluarga lo juga masih belum bisa terima keadaan ini."



\*Jika orang bertanya, apa istimenya Jay? Gue akan bilang satu hal. Jay adalah orang pertama yang mengulurkan tangan bantuan.



"Aku akan bantu kamu buat cari apartemen atau penginapan yang layak." Jay di awal pertemuan adalah orang yang baik.



Bukan hanya itu. Saat terburuk dalam menentukan pilihan, dia adalah orang pertama yang memberikan solusi.



"Roti ini kurang berhasil untuk masuk menu utama. Tapi aku hargai usaha kamu, Nuri. Aku akan mentraktirmu nonton!"



"Jay, kenapa si dalam hubungan ini kamu kelihatan nggak suka banget? Coba beri aku sebuah nasehat biar aku percaya kamu peduli!"



"Kamu nggak harus selalu menjadi benar dalam segala hal. Aku lebih suka melihat kamu apa adanya, tidak usah berlebihan.''



Mendengar Jay mengatakan nasehat, tentu hati gue juga bergejolak keras, detak jantung tak beraturan dan dengan beraninya gue mencium Jay. Seorang gadis biasa mencium pria kaya cucu konglomerat.



"Half," ucapnya kala itu. Jay tidak balas mencium, ia justru tersenyum malu.

__ADS_1



Bersambung\*...


__ADS_2