
"Siapa kamu?" Eric menanyai perempuan bergaun merah marun. "Kenapa kamu melihat adikku dengan tatapan begitu?"
"Maaf, kamu salah sangka.''
Tidak. Eric tidak mudah dibohongi. Wanita dengan gaun merah itu bukan kerabat Susan maupun Andre.
"Apa dia kerabatmu?"
"Bukan, Chef."
Eric sudah hafal wajah wanita dengan tatapan tajam sejak sejam lalu. Dia berbicara dengan seseorang menggunakan bahasa Inggris.
"Siapa sebenarnya kamu?" Eric menahan tangan wanita tersebut. "Kamu bukan kenalan Jay atau kerabat pengantin."
"Lea." Wanita bernama Lea tersebut meninggalkan tempat setelah mengenalkan diri.
Lea bukanlah kerabat. Dia hanya sedang mengikuti Jay. Memang begitu perintah dari atasannya.
"Bos, aku sudah pergi dan akan memantau Jay Jang dari hotel besok."
"Baiklah, lakukan sesuai arahanku."
Hal yang Jay sembunyikan selama ini adalah identitas palsunya di dunia investasi/saham. Banyak sekali orang-orang kelas atas yang mempercayakan Jay untuk melakukan audit, revisi untuk investasi, memulai bisnis dan meninjau banyak hal tentang saham yang merosot. Dia sudah belajar banyak dari pakar bisnis terkenal. Lulus dari sekolah bisnis dan perhotelan terbaik. Nuri tidak mengetahui sama sekali seberapa kuat nama Jay Jang.
Para kolega Jay akan datang ke hotel untuk membuat janji temu. Jay bukanlah seorang Presdir seperti yang orang lain kira.
"Apa dia benar Kakekmu?" Kerabat Kakek Jay juga sering berkunjung. "Aku seperti melihat seseorang yang menarik."
"Terima kasih," Jay akan tersenyum.
Tumpukan dokumen, fail dari email juga selalu menjadi tamu penting yang harus ia baca sehari-hari.
"Ada yang tidak beres dengan saham C&T di Hong Kong!" Jay memiliki seorang tangan kanan yang terpercaya.
"Bicaralah dengan singkat, apa intinya?"
Luke, orang kepercayaan Jay selama lima tahun. Berasal dari kampus yang berbeda, tapi Luke adalah mahasiswa terbaik di kelas manajemen bisnis.
"Sepertinya CitiesBank menarik seluruh investasi karena rumor yang beredar tentang serikat buruh." Luke akan datang ke lapangan menyelidiki banyak hal menggantikan Jay.
"Kamu harus berhati-hati, CitiesBank sangat sulit untuk dibujuk.''
Jay mematikan koneksi earbuds. Nuri pasti tidak mendengar percakapan mereka. Jay belum berani mengungkapkan jati dirinya. Demi kebaikan bersama.
"Apa ada masalah di hotel?" Nuri mengusap jas mahal kekasihnya yang sedikit kotor.
Jay menyentuh hidung Nuri. "Aku cuma capek."
Bidang pekerjaan mereka berbeda. Sejak dulu bekerja di kantor seperti kakaknya bukan cita-cita Nuri. Setiap orang punya impian yang masih bisa diperjuangkan untuk diwujudkan kan? Meski tidak piawai, belajar selalu menghasilkan proses yang hebat yaitu paham.
"Kamu boleh kok istirahat. Kamu juga boleh kok tidur lebih lama. Tubuhmu juga membutuhkannya kan?"
"Benarkah?" Jay tersenyum sengit. Sebenarnya banyak hal yang ia pikirkan, kadang sampai lupa makan. "Aku mau vitamin sedikit."
Jay menarik Nuri ke luar. Udara jauh lebih baik dengan melihat taman bunga. "Indah..."
Nuri memejamkan mata sebentar. Bayangan yang pertama terlintas adalah ibunya. Rindu belum berjumpa. "Kangen ibu..."
Tidak butuh waktu lama. Jay sudah berpindah posisi. Mendekap erat tubuh Nuri tanpa banyak bicara. Orang yang jatuh cinta tidak perlu banyak bicara, terkadang manner jauh lebih baik untuk mengekspresikan.
"Kamu adalah tipeku," ucap Nuri lirih.
"Kenapa? Karena saat pertama bertemu di pesawat atau karena aku kaya?" Jay tertawa riang. Jika mengingat awal mereka bertemu, ia tidak percaya akan menjadi seorang budak cinta.
"Karena kamu selalu punya cara untuk membuat jatuh cinta setiap hari."
Mendengar gombalan manis dari kekasihnya, Jay merasa begitu bahagia. "Mantan kamu sepertinya mau meledak tuh."
Mereka melihat Raka yang tertangkap mengintip momen romantis.
"Duh, asem!" Raka mendungis kesal. Tertangkap oleh dua orang sekaligus.
"Makanya lo dulu nggak boleh nyakitin cewek seenak jidat lo, Ka!"
__ADS_1
Lusi dan Eva bergegas pergi setelah bertemu Louis. Mereka memutuskan untuk nongkrong di kafe dekat toko Eric.
"Kamu sudah melupakan Jay?"
"Belum si, cuma mau coba melupakan." Lusi harus menerima kenyataan. Beberapa kali melihat ekspresi marah Jay jika Nuri sedih. "Rasanya aku harus menyerah kan?"
"Lusi-ku sudah dewasa." Eva juga mulai sadar, Louis yang selalu marah karena malu mempunyai kekasih dengan sikap buruk.
Mereka bisa saling memahami. Persahabatan dua orang yang belum memiliki hati bak peri, tapi selalu mempunyai tujuan hidup yang lebih baik.
"Kamu harusnya berterima kasih kan? Jay meski sudah putus, dia masih menjadi teman kita kan?"
Bahkan di ulang tahun Lusi bulan lalu, Jay mengirimi hadiah sebagai seorang teman. Hadiah tas mahal yang sangat elegan sesuai dengan warna kesukaan Lusi. Merah muda.
"Kamu lagi?" Saki membawakan minuman pesanan Lusi.
Eva mulai mengerti situasi sahabatnya. Dia sedang naksir seseorang.
"Apa kalian mau mengganggu Nuri lagi?" Saki hanya ingin waspada.
"Bukan. Aku mau mengembalikan jaketmu." Lusi memang membawa dua tas, salah satunya adalah *paper bag* untuk jaket Saki. "Terima kasih banyak."
Eva mendadak pergi ada urusan. Lusi seorang diri sedang menikmati secangkir espreso. Tidak ada teman bicara. Ya, dia juga tidak memiliki banyak teman. Benar Jay, sifatnya buruk. Alasan mereka putus adalah sikap Lusi yang berlebihan.
"Aku mau pergi ke toko buku." Saki ijin pamit dengan manajer.
Merasa kasihan, Saki akhirnya mengajak Lusi untuk pergi bersama. Daripada duduk sendirian tanpa ada teman bicara.
"Terima kasih, Saki."
"Hmm," Saki meminjam mobil barista di tempat kerja.
Lusi masih memasang wajah kusut. Kebetulan ia tidak memakai riasan selain lip balm berwarna peach.
"Kamu \*bad mood?"
"You can see?"
__ADS_1
"Your eyes tell\*."
Saki memutar lagu yang mungkin bisa membuat hati wanita membaik. \*Dance monkey - Tones and I.
"Dance for me... dance for me... dance for me\*..."
Saki sangat peka. Tidak seperti Jay yang dulu cuek dan sibuk sendiri. "Kamu pengertian juga ya?"
"Hmm, aku juga memiliki sisi manusiawi."
Benar. Sesama manusia harusnya lebih mengerti. Lusi hanya terkejut mengetahui kalau Jay Jang adalah anak pemilik Blue Hotels di Korea, Celine Jang.
"Apa kamu kaya?" Lusi hanya bertanya, dia memang begitu. Seorang pekerja paruh waktu tapi mengenakan baju bermerek.
"Aku nggak sekaya Jay Jang, mantanmu." Saki sudah menduga gadis seperti Lusi selalu usil. "Kamu pasti kaya kan?"
"Sama. Aku juga nggak sekaya dia!" Kesal. Lusi ingin sekali memukul Saki.
"Kamu mau ikut ke toko buku atau mau kemana?"
"Aku ingin sekali makan sesuatu yang berasal dari Asia, misalnya nasi goreng *sea food*."
"Baiklah."
Saki menuju ke tempat yang Lusi inginkan. Wajahnya yang muram langsung cerah. Makanan memang obat terbaik. Ah, Saki jadi ingat Nuri saat bertengkar dengan Jay. Tempat pelarian yang sama dengan orang berbeda.
"*Sekarang aku malah makan dengan biang kerok yang membuat Nuri sedih kemarin*."
Lusi tampak bahagia hanya dengan jajan malam di pasar kuliner Asia. Lampu yang terang membuat hawa dingin berkurang.
"Kamu member *Black Pink*?" ada orang Asia yang tampaknya memperhatikan Lusi sejak makan.
"Ah, bukan." Lusi agak malu, sudah banyak yang bilang demikian tapi dia bukan personil girl group, hanya seorang pengangguran.
"Mirip banget, apa ini yang dinamakan kembar beda nasib?"
Saki tertawa keras. Ekspresi orang yang bertanya dengan Lusi sangat menjengkelkan padahal hanya bertanya. "Hahaha!"
"*Dople ganger*!"
__ADS_1
*Bersambung*...