
Raka sedang menikmati hari libur, ia memutuskan untuk pulang kampung dengan sang ayah kandung.
"Kamu mau nemuin Mbah Sosro lagi ya?" Papi Hendri meledek Raka. "Apa ini bagian dari cara melupakan ditinggal nikah mantan?"
"Dih, Papi apaan si. Aku itu mau mengunjungi saudara bukan untuk ketemu dukun. Gara-gara dia juga si, aku nggga jadi nikah sama Nuri."
Masih kesal. Raka enggan membahasa lagi paranormal berkedok sepupuh tersebut. Ramalannnya selalu meleset.
"Papi kagum loh, selera Nuri bagus juga ya dapat suaminya kaya Jay itu. Dia beneran seorang milyarder, nggak, dia konglomerat."
Dalam perjalanan menuju ke kampung halaman, banyak hal yang mereka bahas. Papi Hendri ingin juga menghibur sang anak. Masih tersisa perasaan kecewa dalam diri Raka yang sedang ia tutupi.
"Kehidupan Nuri sangat sempurna ya Pi? Aku aja lagi berusaha move on nih."
"Harus dong!"
Sepuluh jam perjalanan dengan mobil. Mereka sampai di kampung halaman Raka. Banyak sekali orang di kampung yang kagum dengan Raka.
"Mas Raka sekarang semakin kaya aja deh."
"Pergi ke swalayan aja naiknya mobil import loh keren banget ya sekarang."
Raka hanya tersenyum dan tidak terlalu menanggapi ibu-ibu kompleks yang selalu bergunjing. Dulu, saat Raka belum mempunyai mobil pribadi, ia sering dibedakan. Apalagi saat Raka menganggur habis wisuda.
"Ini semua salah Papi ya Ka?"
"Nggak kok, Pi. Ibu-ibu kompleks aja yang bibirnya usil. Pas jaman nganggur aja dihakimi seolah kriminal."
Setelah bertemu dengan semua keluarga besar, Raka memutuskan untuk mengunci diri di kamar. Ia melihat gitar jaman kuliah. Memainkannya kembali meski nadanya sumbang.
"Nggak usah dipikirin deh." Raka membuka ponselnya kembali. Tidak ada notifikasi. Ia sudah memberitahu Johan jika ingin berlibur.
Ia mulai memikirkan kembali perkataan Chacha, mengenai Asty. Kalau dilihat, memang Asty masuk tipikal idaman Raka.
"Kamu lagi ngapain?" Raka memberanikan diri menelepon Asty di sela istirahatnya.
"Eh, ini lagi mau makan sama Mas Bima. Kalau Mas Raka gimana nih? Udah sampe di kampung?"
Raka sepakat tidak menerima panggilan "Bos" lagi, ia ingin dekat dengan semua karyawan kafe tanpa membedakan status.
"Udah ni, baru sampe. Oh ya, Ty. Kalau udah balik, ada yang ingin aku omongin sama kamu."
"Oke, Mas."
Mungkin sedikit terburu-buru, tapi ia mantap untuk pindah ke lain hati. Mencoba membuka cerita baru dengan orang baru. Sudah terlalu lama terjerat Nuri. Raka harus menatap tegak ke depan.
"Eh, Ka. Gue titip dong!"
"Apaan, Han?"
Johan sedang berpikir, barang apa yang ia inginkan untuk selalu ada di dekatnya. "Tolong dong lo bawain sarung gue yang warna ungu."
"Hah? Itu sarung jaman lo sunatan kan? Masih ada?"
"Itu legendaris, bro!"
Raka tertawa. Ia mengingat kisah Johan di masa lalu yang histeris. Dulu, mereka hanya remaja lelaki biasa yang bersekolah di pusat kota. Johan sangat populer di kalangan anak perempuan. Wajahnya seperti idol Korea.
"Han, apa si tipe cewek idaman kamu?"
"Suka cewek yang bikin jantung berdetak kencang. Memacu adrenalin banget itu aja si. Hehe."
Ada momen dimana Raka ingin sekali menghajar Johan. Ia selalu tebar pesona di sekitar anak perempuan.
"Mau kemana, Sasa?"
"Hai, Ci!"
"Eh, Lulu. Gimana nih kabarnya?"
"Coba kamu sms-in aja, Sis."
Lelah dengan kelakukan Johan. Raka lebih memilih ikut kelas tambahan, ia memilih sepak bola.
Setelah mengambil sarung legendaris milik Johan. Raka berjalan-jalan sebentar. Ia sudah lama tidak melihat pemandangan sawah hijau yang begitu asri.
__ADS_1
"Syukurlah." Ia mengambil beberapa foto sawah di sore hari.
Banyak hal berat yang sudah ia lewati. Bohong kalau ia tidak merasakan kecewa di balik binar kebahagiaan sang mantan.
"Kenapa ya? Selalu aja masih terbayang Nuri. Dulu, kami pernah melewati masa indah bersama."
Raka lalu menepuk wajahnya. Ia harus sadar, tidak baik terus mengusik. Nuri tetap menjadi teman baiknya di masa lalu maupun masa kini. Mantan terindah yang pernah Raka miliki.
"Lo, Raka?" seseorang mengenali Raka.
Raka langsung panik, ia sedang mengupat seorang diri. "Eh, iya. Hai, lama ya nggak ketemu Gus?"
"Eh, Ka. Gimana kabar nih? Masih sama cewek cantik yang kaya cewek Korea itu?"
Ah, Agus pernah mengomentari postingan foto Raka dan Nuri di masa lalu. "Apa kalian udah mau menikah nih?"
"Dia udah nikah Gus, sama cowok Korea beneran."
"Hah?!"
Merasa tak enak, Agus akhirnya mengajak Raka untuk duduk dan ngopi di saung dekat kampung Raka.
"Ya, santai aja. Lagian jodoh itu kan Tuhan yang nentuin, Gus."
"Bener banget."
Agus mengambil korek api, ia mulai merokok dengan santai. "Kadang kita harus bertemu orang yang salah dulu baru ketemu deh sama jodoh kita, Ka."
"Vibes lo mirip anak indie banget, Gus!"
"Tapi sumpah, Ka. Aku kayaknya ngikutin lo mantan kamu di ige."
"Gapapa si, dia juga orangnya sangat ramah."
Agus yang jarang sekali berkunjung ke instagram, mana tahu Nuri sudah menikah dengan pria asing. Yang ia tahu, Raka lebih dewasa dari sebelumnya.
"Johan gimana kabar?"
Raka langsung tertawa. Nyatanya, Johan sangatlah terkenal sejak sekolah dasar. "Dia kayaknya lagi menikmati momen jadi suami idaman."
__ADS_1
"Hahaha! Lucu kalau ingat jaman SMP, dia sering nongkrong bareng cewek hits."
Setelah basa-basi yang cukup panjang. Raka memutuskan untuk pamit, Agus pun mengantarnya dengan sepeda motor tua kesayangannya.
Raka langsung mandi.
Setengah jam kemudian. Raka masuk ke ruang tengah, mengulangi kebiasaan seperti dahulu kala, menonton televisi dengan posisi rebahan.
"Ka, ini ponsel kamu bunyi terus!" Ibu membawakan ponsel pintar seharga puluhan juta milik Raka.
Raka langsung mengangkat telepon. Dari kakak sepupunya, Mbak Cyntia.
"Ka, ada berita duka." Mendengar isak tangis dari sang kakak, Raka sepertinya paham. Kenapa hatinya dua hari ini begitu gelisah.
"Kapan, Mbak?"
"Mbak juga baru tau dari suami, gimana ini? Mbak juga ikut sedih banget."
Raka tidak bisa berkata, nafasnya mulai terjebak dalam kekacauan. Pikirannya mulai berantakan. Air matanya ikut menetes tiada henti semenjak Mbak Cyntia memberitahukan kabar duka.
"Kok gue nangis si?" Raka mengelap wajahnya dengan tisu di dekat meja.
Sejam kemudian. Ia juga mendapatkan berita yang sama. Chacha, Johan, Candra, Asty, Bima dan bahkan Mas Dika membagikan cerita yang sama di unggahan terbaru mereka.
"Gue kok jadi nangis terus gini?"
Johan berkali-kali mengirimi pesan.
"Ka, cepat baca deh!"
"Buka WA lo!"
"Woy, Bos!"
"Raka, lo nggak lagi di rumah Mbah Sosro kan?"
Raka tidak bisa membayangkan. Meski mereka tidak terlalu dekat, tapi mereka tidak saling membenci.
"Ka, Papi dapat kabar dari Cyntia nih!"
"\*Nuri... ''
__ADS_1
Bersambung\*...