Super Rich Bae

Super Rich Bae
Part 43


__ADS_3

Pagi hari. Nuri membuka jendela yang berbeda. Udara yang lebih dingin dari biasanya. Rumah yang juga berbeda.


"Gue nggak menyesali pilihan gue." Nuri tidak pernah menyangka kalau keputusan mendadak kemarin merubah hidupnya.


Beberapa hari yang lalu Jay datang untuk membahas pernikahan dengan keluarga Nuri. Ayah Nuri setuju karena Jay sudah seiman dengan putrinya.


"Ini bukan keputusan yang mudah, tapi aku mencoba dan belajar banyak hal." Jay juga tidak menyesali keputusannya dua tahun lalu.


"Aku berharap kalian selalu begini, tidak usah mencoba jadi yang terbaik cukup jadi diri kalian."


Nasihat yang sangat bijak dari sang Ayah sebelum menikahkan anak perempuannya. Menikah secara agama terlebih dahulu. Setelah urusan keluarga Jay kelar, Nuri dan Jay akan mengesahkan pernikahan secara legal. Banyak sekali dokumen yang harus dipersiapkan.


"Pusing nggak? Ya pusing lah, gue nggak nyangka bakal seribet ini, Cha!" Nuri memeluk sahabatnya.


"Nikah sama orang bule jauh lebih ribet ya enak gue nikah sama bule Jawa. Hahaha." Chacha tertawa geli mengingat resepsi pernikahannya dua bulan lalu.


"Gimana rasanya pas bangun tidur ada pangeran di sebelah lo?"


"Ya mantap lah, Cha!" Nuri memberikan dua jempolnya.


Tiba saatnya untuk Nuri pamit. Berat rasanya meninggalkan rumah apalagi kafe yang semakin ramai.


"Selamat ya Ri, gue ikut seneng." Raka menjabat tangan Nuri. Raut wajahnya masih terlihat sedih karena ditinggal menikah kekasih hati.


"Lo kaya lomba sama abang lo sendiri tau, Ri. Siapa duluan ya kira-kira yang dapat momongan?" Candra ikut meledek.


Nuri juga tidak menyangka, pernikahan dengan Jay hanya beberapa hari usai sang kakak bulan madu. "Ya namanya udah dewasa. Harus jelas dong mau dibawa kemana hubungan kan?"


Momen berpamitan yang penuh haru telah usai. Nuri dan Jay akan pergi memulai kehidupan yang baru.


"Kamu udah bilang ke orang tua kamu kan kalau kita langsung berangkat?"


"Udah kok, keluargaku sudah menunggumu." Jay mengusap pipi halus sang istri.


"Bang Nanda sama Mba Cyn kaget banget, tapi karena mereka lagi di luar kota jadi nggak bisa anter kita."


"Nggak masalah. Mereka juga pengantin baru. Kamu jangan sering menelepon kakakmu di malam hari."


Nuri mengangguk. Ia lanjut membaca beberapa pesan masuk dari teman masa sekolah, kuliah, dan kerja. Banyak yang mengucapkan selamat atas pernikahan mendadak Nuri.


"Maaf ya, aku belum bisa mengadakan acara pernikahan yang layak. Kakekku di Eropa sudah ribut sendiri karena ini." Jay merasa bersalah, tapi ada masalah yang harus ia selesaikan terlebih dahulu.


"Nggak papa kok, Sayang. Kita selesain aja duku masalah sepupu kamu. Kamu udah memberikan hadiah pernikahan yang lebih dari cukup."


Ah, hadiah pernikahan yang Jay berikan memang bukan main. Siapa yang akan menyangka, Jay membeli saham atas Nuri, vila di Bali, dan perhiasan mewah dari Eropa yang bernilai fantastis.


"Ini ada sesuatu." Jay mengeluarkan sebuah kartu ucapan yang sangat elegan.


"Selamat atas pernikahan kalian, Mr. and Mrs. Jang." Nuri membaca dengan teliti kartu ucapan mewah dari rumah mode terkenal. Sudah tidak diragukan lagi betapa kaya sang suami.


"Jadi ingat pas dulu kita ketemu di pesawat, hehehe." Nuri tertawa sendiri mengingat wajah lugu Jay yang menggemaskan.


"Ah, kamu juga imut saat itu." Wajah Jay memerah, ia juga malu. Saat pertama bertemu, mereka hanya orang asing yang kebetulan duduk di bangku pesawat yang sama.




Bukan bulan madu ke pulau pribadi, naik jet pribadi ataupun belanja di Paris. Nuri harus menerima kenyataan bahwa mengurus persyaratan pernikahan lumayan ribet, ditambah lagi dengan masalah sepupu Jay.



"Siapa namanya?" Nuri saja tidak pernah tahu nama sepupu Jay. "Kamu nggak pernah cerita soal dia."



Jay menghela nafas sebentar. Iya, dia memang belum menceritakan perkara Hana. "Hana Jang."



"Apa yang terjadi dengan Hana sampai kamu terlihat cemas begini?" Nuri menyeka keringat di dahi Jay. "Kamu bisa cerita kan dengan istrimu?"


__ADS_1


Jay tidak tahu harus mulai dari mana. Masalah Hana memang bukan perkara remeh. Dia adalah putri bungsu pamannya.



"Apa yang terjadi?"



"Dengar, ini agak pribadi. Tapi Hana bisa dikeluarkan dari asrama di Swiss." Jay juga tidak percaya Hana melakukan sesuatu yang dapat mencoreng keluarga.



Tidak lama kemudian, Jay mengungkapkan kejadian yang lumayan membuat geram keluarga.



"Jadi, Hana tertangkap di asrama laki-laki tepatnya di kamar salah seorang anak."



Ah, Nuri langsung paham. Baik Jay maupun Paman mereka tidak mengerti jalan pikiran seorang fans fanatik. Jika kabar menyebar, reputasi Paman Jang juga terancam. Kabar anak perusahaan yang akan go public juga bisa tertunda karena skandal Hana Jang.



Jay mengajak Nuri untuk menemui Hana terlebih dahulu.



"Oppa!" Hana langsung memeluk Jay tanpa menyapa Nuri.



"Hana, ini istriku, Nuri. Kami sengaja langsung datang karena ayahmu meneleponku untuk bicara dengan kepala sekolah."



Nuri tidak banyak bicara seperti biasa. Yang ia dapat lihat, Hana adalah gadis cantik yang manja. Sudah sejak tadi ia mengamati, Hana selalu merengek.




Oh. Nuri yang tidak terlalu fasih bahasa Korea hanya mengamati gestur wajah. Hana sepertinya bukan fans fanatik, dia cenderung gadis polos yang manja.



"Hana, kamu nggak beri salam dengan kakak iparmu?" Nuri langsung bertanya tanpa jeda.



Hana menunduk dengan sopan, memberi hormat. "Senang bertemu denganmu, Kak (Unnie)."



Jay merangkul Nuri. Dia tahu sang istri sudah mulai sebal dengan tingkah manja Hana.



"Apa yang sebenarnya terjadi, Hana?"



Hana duduk, tiba-tiba ia malas untuk menginhat kejadian yang menyebabkan namanya dikenal seluruh siswa di sekolah, dibicarakan seluruh penghuni asrama.



"Besok aku akan menceritakannya. Kalian lebih baik istirahat dulu."



"Baiklah."


__ADS_1


Setelah mengantarkan Jay, Hana memilih untuk pergi tidur. Dia sedang menjalani skorsing dari asrama selama dua minggu hingga kasus selesai.



"Maaf lagi," Jay sampai malu untuk mengatakan kata maaf di depan Nuri.



"Nggak masalah, yang penting kita bersama." Nuri memeluk Jay erat. Mereka sudah menikah, bebas untuk berpelukan maupun berciuman.



Jay sepertinya cepat tanggap dengan situasi. Dia mengunci pintu kamar terlebih dahulu.



Hal yang pertama mereka rasakan adalah sebuah rasa ingin memiliki lengkap.



"Jangan salahkan aku," bisik Jay dengan sangat lembut di telinga kanan Nuri.



Nuri melepaskan ikatan rambutnya membuat rambut gelombangnya terurai dengan indah. Tanpa Jay sadari, ia sudah memakai lipstik yang berwarna lebih merah dan menyemprot wangi tubuhnya tanpa cela.



"Apa ini kamu?'' Jay tampak takjub dengan perubahan sosok istrinya di kamar. Naluri lelaki membawanya larut begitu dalam.



"Jay?"



Jay sejenak terdiam dalam sebuah lamunan dewasa tanpa ia sadari Nuri sudah berada di atas tubuhnya. "Nuri."



Untuk seseorang yang menahan sejak lama seperti Jay, malam yang mereka habiskan sangat panjang. Nuri berteriak lumayan keras, untungnya rumah yang ditempati Hana sangat besar. Tidak ada orang yang mendengar jelas.



"Kamu pasti preman?" Nuri masih kesal soal insiden semalam.



"Aku pikir kamu yang lebih preman." Jay mendekap erat tubuh sang istri yang hanya memakai gaun piyama.



Nuri berbalik badan, ia lalu memberi kecupan untuk suaminya. "Selamat pagi, Jay-ku sayang."



"Hmm... kamu benar-benar luar biasa." Jay agak malu untuk mengatakannya, tapi ia juga sangat bahagia. Hebatnya dua orang yang menikah.



Mereka menatap langit pagi yang lebih dingin namun dengan suasana yang romantis.



"Aku mencintaimu, Nuri.'' Jay mencium bibir istrinya dengan sangat lembut.



"*Saranghae, Jay Jang."



Bersambung*...

__ADS_1


__ADS_2