Super Rich Bae

Super Rich Bae
Part 2


__ADS_3

Nuri mulai rajin kembali menghafal kosa kata dan percakapan Bahasa Inggris.


"How stupid you are!''


"Where are you from, Oppa?"


"Can I be your wife?"


Chacha datang membawakan pesanan Nuri. "Nih katanya lo butuh yang seger dan manis."


"Oh this is very sweet.."


"Ri gue boleh mukul pala lo nggak?" Chacha menahan mual melihat sang sahabat dengan logat bule.


Nuri melahap es krim Belgia yang ia pesan, "Mantul banget bebs!"


Semua menjadi mantap ketika mereka menonton episode drama terbaru. "Ih sumpah ni cowok sialan!" keluh Chacha.


"Laki-laki berjiwa dakjal!" ia mengeluh juga. Nuri mengepalkan tangan kanannya.


Kurir paket datang kembali.


"Paketan buat siapa Mas?" Chacha membukakan pintu.


"Atas nama Nuri Diswari..ini COD ya totalnya 1 juta.." jawab kurir paket dengan ekspresi ramah murah senyum.


Chacha menyeret Nuri untuk keluar. "Ri lo beli jam branded cowok?"


Nuri menggeleng. Ia membuka keterangan dalam nota paketan. "Thanks for Raka.."


"Biadab!" wajahnya merah karena amarah yang memuncak.


"Gila banget si Raka emang, baru bayar utang ini nambah lagi?" Chacha merangkul Nuri. "Lo mendingan telepon Raka deh!"


"Raka!!!"


"Eih iya Ri, ada paketan jam tangan gue tolong ntar lo kirim ke alamat Eyang gue yah soal duitnya gue ganti bulan depan.."


"Lo ada masalah sama gue Ka? Selalu aja lo bikin gue kesel!"


"Nggak gitu, kalau misal dikirim ke sini nggak jadi free ongkir..hehe"


Ia benar-benar kesal. Dua tahun lalu mereka kenal di salah satu kantor marketing bank swasta. Bekerja dalam satu tim yang sama membuatnya cinta lokasi.


"Gue heran kenapa lo bisa suka sama si Raka si?"


"Dulu gue anggap dia berbeda dari banyak cowok yang deketin gue..Cha."


Benar. Dulu bagi Nuri, Raka Pratama adalah alasan kenapa ia bisa jatuh cinta dan memutuskan untuk ke hubungan serius. Raka yang seorang perantau dari kampung, tinggal di kota bersama saudaranya.


"Tapi apa Raka berjuang buat lo, Ri?"


"Hmm..gue kadang nyesek kalau ingat."


"Gue lebih nyesek lagi pas dulu liat lo jemput dia di depan gang?"


Nuri mengakui kebodohannya, kenapa harus ia yang berjuang lebih. Ia kasihan melihat Raka yang buta arah, daripada merepotkan satu tim lebih baik ia sendiri yang datang untuk membantu Raka.


"Apa ini Ka?" Nuri kaget ketika Raka duluan yang meminta putus. "Eh lo jangan ngacau ya, kita bentar lagi mau tunangan."


"Aku bosan..menjalani hubungan kayak gini."


"Apa ada pelakor di antara kita, Ka?"


"Bukan..gue cuma minder lo cantik putih glowing gini masa mau sama gue yang katrok mana buta arah..gue yang miskin malu.."


"Setiap hari mau kerja gue jemput lo di depan gang, kadang gue bayarin lo makan! Tapi lo bilang kayak gini? Lo pikir gue cewek matre kaya di drakor yang cuma suka sama CEO?!!!"


Nuri menampar Raka. Ia tahu sikapnya kasar, asal bicara, tapi ia benci kebohongan dalam hubungan. Gosip yang ia dengar di kantor mungkin benar.


"Raka sama Dini kok jadi akrab gitu si Ri?" ucap Mas Jaka, Manajer.


"Aku aja baru tahu dari kamu.."


"Awas lagi jaman pelakor Ri, se glowing apapun lo tetep aja yang semok lebih menggoda kan?" ucap lagi Mas Jaka.

__ADS_1


Meskipun cuek dan terlihat swag, Nuri sering membuat orang lain gemas dan tertawa.


"Itu spekulasi si Cha, gue belum menangkap kalau hubungan Raka sama Dini udah maju selangkah."



Chacha menyiapkan ramen pedas untuk Nuri. "Udahlah lo wajib bahagia dengan cara yang berbeda."



Chacha membantu Nuri mengemasi barang, besok ia harus berangkat pelatihan di Eropa. "Gue beliin lo sesuatu." ia memberikan kacamata hitam modis.



"Ahh ini kaya di drama aja deh." Nuri memeluk Chacha.



"Wajib selfie pake kacamata ini loh!"



Setelah mendapatkan pengarahan dari Yayasan yang memberikan beasiswa pelatihan kepada Nuri, ia semakin mantap untuk menjadi seorang *baker* profesional.



"Salam pemuda kreatif dan ceria!" Sambut Pak Bagus, ketua Yayasan Pemuda Kreatif dan Ceria.



"Salama ceria!'' sahut mereka kompak.



Sebenarnya Nuri agak keberatan dengan salam ceria yang harus disertai unjuk gigi.



Bang Nanda dan Chacha mengantarnya sampai bandara. Usai berpelukan dan pamit, Nuri dan yang lainnya mulai naik ke pesawat. Ia sangat bersemangat. "*Baru pertama kali naik pesawat eh langsung ke Eropa gini*.."




Sesaat kemudian.



"Terima kasih banyak ya Mas udah mau menukar kursi kelas bisnisnya untuk Ibu hamil tadi." pramugari sedang berbincang dengan penumpang di sebelah Nuri.



"Tunggu.." Nuri yang masih samar dan mengantuk mencoba memahami situasi. "Transformasinya kok jadi beda si?"



"Itu Ibu hamil yang tadi kemana Mbak?" tanya Nuri kepada penumpang di belakangnya.



"Wahh tadi mual muntahin jaket mas itu pas mau ke toilet, katanya si tadi hampir pingsan."



Ia berhasil memahami situasi terbaru. Ia melihat lagi, Mas-mas yang duduk di sebelahnya dengan santai memakai sandal slip bermerek.



"Itu sandal seharga hp gue..'' Nuri memandangi lagi, pakaian yang dikenakan juga mirip selebritis.



"Bajunya mirip kaya punya Park Jimin.."


__ADS_1


"*Excuse me*?"



Nuri langsung terdiam, ternyata ia dengar. "Aku cuma bilang dalam hati aja kok..sandal kamu mahal banget, liat tas sama jaket kamu OMMO!" Nuri memegang ujung hoodie. "Kamu selebgram atau pengusaha nih?"



"Cuma pengangguran aja si." jawabnya santai.



"HAHAHA!" Nuri tertawa keras, beberapa orang menatapnya tajam. "Kalau nganggur bikin kaya gue juga mau kali."



Dari apa yang ia kenakan, sikapnya yang elegan membuat Nuri yakin. "*Super rich bae*.."



Pemuda berambut hitam kecoklatan, kulitnya putih, berhidung mancung, matanya sipit berwarna coklat muda. "Wow..kaya Oppa yang ada di dalam hidup gue.." ia membayangkan betapa mirip, tapi jelas berbeda. Jadi Nuri sedang bertengkar dalam diam lewat halusinasi.



"Siapa namamu?" Nuri memberanikan diri untuk menjabat tangan duluan. "Aku yang cantik dan baik ini, Nuri Diswari Arya."



"Panggil aku Jay.." ia tersenyum manis.



Melihat Jay menata ponselnya ke dalam tas bahu kecil. "Wow itu kan handphone baru rilis yang harganya bikin gue nangis, 30 jutaan."



Lalu ia memperhatikan Jay yang mengenakan kaos hitam bertuliskan merek asal Paris. "Ini kok kaya kaosnya pacar Chacha, Jeon Jungkook."



Lagi, ia memperhatikan Jay. Jay menyemprot parfum mahal yang wanginya membuat Nuri sangat nyaman di dekatnya.



"*Dia benar-benar super rich boy*.."



Jay yang sudah risih melihat ulah Nuri. "Kamu mau juga?" ia memberikan parfum mahalnya. "Atau kamu mau sandal kaya yang aku pakai?"



"What???"



Jay mengeluarkan sepasang sandal mahal. "Aku yakin kamu pasti nggak bisa dapetin edisi ini di Indonesia."



Nuri menahan tawa, untuk ia yang masih memakai sandal beli di warung sebelah, parfum isi ulang, dan hp murah ini sangat membuatnya ingin tertawa.



"Hahaha!" ia menepuk pundak Jay. "Sorry daripada sandal, aku lebih memilih uang." ia masih tertawa geli.



"Memangnya kamu butuh berapa?" Jay menatapnya, ia menganggap serius gurauan Nuri.



Nuri post status for whatsapp and instagram.


Caption:

__ADS_1


From Paris with love. See u oppa.🤣


__ADS_2