
Hola readers, maaf ya baru update!
Jangan lupa ya buat like, komen dan vote ya. Thanks🤗
Nuri sedang berdiskusi online dengan Chacha mengenai banyak hal. Salah satu hal yang paling mereka tunggu adalah album baru boy group kesayangan mereka.
"Nampol banget, Cha! Gue udah liat teaser pertama tuh berasa kaya gue yang ditembak tau!"
"Lo juga merasakan hal yang sama kaya gue? Gila mau pingsan aestetik. Gue bakalan langsung PO empat album." Chacha juga menikmati rasa yang sama. Kepuasan seorang penggemar yang lumayan fanatik.
Nuri merebahkan diri dengan nyaman di ranjang mewah vintage. Suami tampannya sedang tidur pulas setelah memeriksa banyak laporan bisnis.
"Pokoknya abis albumnya sampe, lo kudu dan harus kirim ke alamat gue oke?"
"Oki doki, Beb!"
Mereka sudah menikah, meski bukan idola mereka. Memiliki suami dengan visual tampan dan pekerjaan mapan adalah impian semua wanita.
"Malah mikirin mau beli album baru bities?" Johan mengagetkan Chacha.
"Hehehe," Chacha mencubit tangan suaminya. "Boleh kan?"
Johan sudah menyadari sejak awal bertemu dengan Chacha, ada beberapa hal yang tidak mudah orang ubah. Setiap orang memiliki privasi, Johan sangat menjunjung tinggi hak asasi sang istri.
"Oke, Beb. Tapi inget juga sisain buat keperluan mudik lebaran ke kampung halamanku."
"Udah kok, aku nyisain dua juta tiap bulan." Chacha menggandeng tangan sang suami menuju kantor kafe.
Banyak yang mengira, mereka hanya pasangan kekasih yang sering mengumbar kemesraan kecil yang membuat orang lain iri, tak lain adalah Raka.
"Nggak usah sok mesra deh lo pada."
"Iri bilang bos!" Johan tampak puas setelah membuat Raka sebal.
__ADS_1
Semenjak melihat teman baik dan juga mantan terbaiknya menikah, Raka menyadari bahwa selama ini ia sangat kesepian. Perasaan campur aduk yang orang dewasa sering bilang mungkin adalah beban tanpa pasangan. Tidak ada tempat untuk menyandarkan bahu ketika menangis atau lelah.
"Gue amati, Nuri semenjak nikah jarang update ya?" Johan mulai lagi meledek.
"Sibuk kali ngurusin rumah tangga." Raka mencoba bijak.
"Nggak kok, dia emang jarang posting di ige maupun whatsapp." Chacha lebih mengenal sahabatnya.
"Kenapa tuh?" Candra dan Johan kompak.
"Adik sepupunya Jay lagi sama mereka. Ada masalah gitu, jadi Nuri jagain adiknya Jay."
"Oh gitu..."
Chacha sudah mendengar kisah Hana dan Hans. Ia juga sudah melihat foto Nuri dengan mereka. Benar-benar pasangan visual. Cerita cinta masa muda yang membuat orang tersenyum membayangkan kegemasan mereka.
"Oh iya, temen lo mau pesen buat acara di kafe tuh." Raka teringat kemarin ada tiga wanita sebaya Nuri datang untuk melakukan reservasi kafe.
"Yang gue inget, yang pesen si atas nama Firda."
"*Anjir, ngapain si dia*?!"
Nuri masih sibuk menatap layar ponsel baru yang Jay berikan. Warnanya ungu, warna kesukaan Nuri.
"Nggak nyangka bakal di orderin sama kamu!" Nuri sangat antusias. Ia membuka ponsel mahal dengan sangat hati-hati.
Jay tersenyum. Baginya, ponsel Nuri tidak terlalu mahal. Hana juga memiliki banyak ponsel mahal yang tidak terpakai.
"Kamu senang?"
"Ya, tentu dong."
"Tolong nanti wallpaper, fotoku saja gimana?" Jay agak malu mengutarakan rasa cemburunya.
Nuri langsung tertawa. "Gemas banget asli," ia lalu mengambil foto selfie mereka.
"Satu kali lagi." Jay mencium bibir Nuri dan sengaja ia foto. "Ini untuk wallpaper ponsel pribadiku."
"Jay!" Nuri menabok paha suaminya.
Mereka berlarian kecil merebutkan ponsel. Terlihat seperti remaja yang sedang meledek karena suka.
__ADS_1
"Jay!" Nuri masih mencoba segala cara untuk merebut ponsel Jay.
"Tangkap aku coba?" Jay masih saja meledek. Perbedaan tinggi mereka saja lumayan jauh. Jelas, Nuri kalah.
Tidak akan patah semangat. Nuri mencoba sebuah trik. Ia berdiri di belakang Jay dan langsung meraihnya.
"Ini namanya minta gendong?" Jay bukanlah orang yang mudan mengalah. "Kamu main licik."
"Hahaha!" Nuri sangat bahagia, ia justru merasa nyaman dengan posisinya. Tangannya semakin erat bertumpu di bahu lebar Jay.
"Kamu tahu aku pake banyak koyo karena lembur kan? Apa kamu nggak terganggu?" Jay merasa tidak enak hati.
"Nggak sama sekali. Semuanya aku suka dari kamu, Jay. Kamu adalah suamiku, pasangan hidup, teman hidup dalam segala kondisi."
Nuri langsung turun. Ia memeluk Jay. Sama seperti dahulu awal mereka berpelukan. Rasanya masih sama. Jay yang menatapnya dengan teduh, penuh kasih. Tidak dapat ia pungkiri, rasa cintanya semakin kuat ketika menikah. Bukan karena berbagi ranjang yang sama, tapi karena mereka sudah menjadi satu.
"Kenapa aku selalu ingin menangis setiap kali kamu memelukku?"
"Karena kamu sudah mencintaiku, Jay."
Jay mencubit kedua pipi istrinya. Mereka naik ke lantai atas. Ada beberapa pekerjaan Jay yang harus Nuri bantu juga.
Di ruangan yang berbeda. Hana sedang bersama Hans. Setelah membaca banyak majalah, bermain kartu, bermain game online. Kini, mereka justru menonton drama romansa bersama.
"Hans, kamu marah nggak? Aku mau cerita."
"Bilang aja."
"Sudah dari setahun lalu, ada banyak agensi hiburan di negaraku mengirimi pesan lewat sosmed. Mereka menawariku untuk debut dan berlatih menjadi idol."
Tidak terlalu paham, tapi Hans juga mengerti trej idol di Asia. Mereka mempunyai banyak fans fanatik, susah untuk berkencan dan waktu liburan terbatas. Pasti akan sangat sulit bertemu satu sama lain. Hans juga paham kenapa banyak agensi mengincar Hana Jang.
"Kamu tahu, Hana Jang dari kelas sebelah kan? Aku pikir kalau dia debut jadi idol, jelas aku jadi fans berat dia."
"Hana itu visual yang bagus untuk era sekarang. Suaranya sangat bagus! Ingat saat dia menari tahun lalu? Indah banget!"
Banyak yang membicarakan Hana di kelas Hans. Awalnya, ia hanya penasaran seperti apa sosok Hana Jang.
"Aku sudah mengantisipasi jika suatu saat ini akan terjadi." Hans menggenggam tangan Hana.
"Apa boleh nanti seorang idola berkencan terang-terangan dengan atlet?"
Hans belum tahu, ayah Hana adalah dewan komisaris dan juga pemegang saham terbanyak dari sebuah agensi besar dan sangat terkenal di Korea.
"Aku akan mencari agensi yang nggak melarang artis untuk berkencan." Hana meyakinkan kekasih tampannya.
"Kamu nggak takut aku berpaling?" Hans juga sangat terkenal, dia merupakan atlet pacuan kuda yang memiliki hobi balapan mobil.
"Takut," Hana semakin erat menggenggam tangan Hans.
"Percaya aku, Hana. Aku juga sangat mempercayai kamu."
Hans yang sering ikut turnamen balapan meski iseng juga mendapat tawaran untuk bergabung dengan klub ternama tapi orang tuanya menentang.
"Kamu adalah atlet pacuan kuda, bukan pembalap."
Ayahnya sangat keras. Tidak ada banding dalam keputusan yang ia ambil. Hans hanya mengikuti aturan mereka.
"Kenapa kamu terlihat murung?" Hana juga mengetahui pasti berat untuk meninggalkan salah satu kesukaan Hans.
"Kamu harus buat keputusan yang tepat, jangan terlalu keras dengan diri kamu, Hans. Nggak semua anak harus menjadi bayangan orang tua."
Hans langsung tersenyum. Ia memeluk Hana. Keputusan terbaik dalam hidupnya adalah jatuh cinta dengan Hana.
"*Thank you, my person, my love."
__ADS_1
Bersambung*...