Super Rich Bae

Super Rich Bae
Part 12


__ADS_3

Nuri sudah seminggu mengikuti kelas pelatihan bersama Chef Eric. Banyak materi baru yang dapat ia kuasai lumayan cepat, terkadang harus mengulangi lagi jika gagal membuat roti sesuai arahan di kelas.


"Memang nggak mudah, tapi kalau dipelajari terus pasti bisa kok."


Nuri mengangguk pelan. Ia memiliki seorang rekan kerja yang sangat bijaksana dan baik seperti Susan.


"Aku cuma heran aja, Susan. Kenapa ya ada orang yang seperti mereka bisa melakukan apa saja?" Nuri menunjukan video boyband yang sedang naik daun dan sangat terkenal, BTS.


"Ahh... Bangtan! Aku juga suka mereka." Susan sangat senang, meski ia seorang multi-fandom.


"Jay juga ganteng kok, dia malah kaya anggota boyband." Chef Eric ikut bergabung, ia sudah pulang dari hotel.


"Wow, Chef!" Nuri kaget karena kemunculan mendadak Chef Eric.


"Benar, Chef. Aku setuju. Hehehe..." Susan ikut gemas melihat ekspresi kaget Nuri dengan pipinya yang merona karena membicarakan Jay.


Chef Eric memberikan hadiah untuk semua karyawan. Buku resep untuk baker pemula. Ia sudah menulis empat buku sejauh ini dan semua menjadi best seller berkat promotor handal.


"Chef juga menulis buku?" Nuri sangat fokus melihat gambar roti yang sangat cantik.


"Iya semua dalam bahasa Inggris kok." Chef Eric tersenyum tipis.


"Bukunya best seller berkat pacarmu loh," imbuh Andre.


Pantas. Nuri pernah melihat postingan Jay mempromosikan buku beberapa kali. Ternyata strategi pemasaran keluarga.


"Jay kok lucu gini si?" Nuri masih menjelajahi postingan lama Jay di masa lalu yang menggemaskan.


Sepuluh menit kemudian, Chacha menelepon Nuri.


"Beb, mantan lo bener-bener kaya mendadak!" suaranya lebih keras dari biasa.


"Emang lo pikir ini drama Korea, Cha? Dia tiba-tiba ketemu bokapnya yang kaya raya giru? Hahaha... "


"Seriusan, Ri! Dia bawa BMW ke rumah gue. Lo pikir gue sama Candra nggak kaget?"


Nuri menelan ludah. Masa iya Raka bisa kaya mendadak, kemarin bahhkan mengirim uang lebih untuk bayar hutang.


"Yang lebih amazing, Raka mau nyusulin lo ke Paris!" Chacha semakin histeris.


"Gue sempet berpikir ya Cha, kalau si Raka pakai jalan yang salah."


"Maksud lo apaan, Ri?"


"Kalau lo sahabat gue, lo tahu apa yang gue maksud jalan salah."


Untuk beberapa detik, Chacha memikirkan satu hal. Iya sedang menganalisis lebih dalam lagi.


"Gue juga berpikir sama. Gue harap dia nggak ternak tuyul... " suaranya melemah dan berharap itu tidak benar.


"Makanya gue bakalan transfer balik uang dia, Cha. Takut juga gue dimakan tuyul." Nuri memang sering sekali mendengar cerita hantu tentang pesugihan.




Jay pulang telat karena ada beberapa rapat yang ia hadiri dengan eksekutif hotel. Ia lupa memberitahu Nuri.



"Kenapa?" Louis memperhatikan ekspresi aneh Jay.



"Lupa belum telepon pacar kalau pulang telat," ucapnya dengan wajah polos.



Louis tertawa keras. Ia sudah berteman lama dengan Jay. Baginya, Jay adalah lelaki yang cuek sejak sekolah. Meski banyak gadis Asia maupun Amerika yang mendekatinya, ia tidak menanggapi.



"Hahaha!" Louis masih saja tertawa.



"Apanya yang lucu?"



"Apa dia lebih cantik dari Lusi, mantanmu?"



"Bagiku dia sangat imut." Jay tersenyum, sorot matanya berbinar jika mengingat Nuri.



"Ayo kita *double date* akhir pekan, pacarku sedang liburan di Paris juga."

__ADS_1



Jay hanya mengacungkan jempol kanan, tanda ia setuju. Ia juga ingin mengenalkan Nuri dengan Louis.



Setengah jam kemudian.



Ia sengaja datang untuk bertemu Nuri. Tapi sayang, Nuri sudah tidur.



"*Good night, Sweetie*."



Jay hanya ingin memastikan kalau Nuri sudah terlelap. Ia hanya mengintip sedikit lewat jendeka kecil yang tirainya tidak tertutup. Posisi tidur Nuri yang lucu. Mengenakan setelan piyama panjang gambar kartun dan penutup mata berwarna pink muda.



"Jay, jangan bilang kamu itu serius?" Eric mengamati tingkah berbeda dari sepupunya.



"Hmm...."



"Besok toko tutup. Aku juga akan pergi ke hotel karena ada acara penting. Apa kamu mau menginap di sini?''



Tiba-tiba wajah Jay memerah. Ia merasakan sedikit gerah, padahal cuaca sedang dingin.



"Ayolah, dulu juga kamu sering menginap. Bukannya kamar Nuri itu kan kamarmu dulu?"



Sebuah rahasia kecil yang Jay simpan. Ia merelakan kamarnya untuk Nuri tempati. Padahal itu kamar ternyaman baginya. Kamar pelarian.



Setelah selesai *packing*. Eric bersama Paul pergi ke hotel, ia sengaja membawa Paul sebagai tenaga tambahan karena acara besar butuh banyak pekerja.




Jay membasuh wajahnya lalu menyemprotkan parfum mahal ke sekujur tubuhnya agar wangi. *Mommy* selalu mengajarinya jalan alternatif jika malas mandi.



"Nuri udah tidur nyenyak pasti," gumamnya.



Ia lalu merebahakan tubuhnya ke sofa panjang di ruang tengah sembari menyalakan televisi. Jay mudah tidur jika mendengar suara ramai.



Keesokan harinya.



Nuri bangun pukul lima pagi. Ia bercermin terlebih dahulu untuk mengecek apa serum wajah bekerja dengan optimal semalaman atau tidak.



"Gue makin butuh *anti-aging* nih... " ia masih menguap dengan pose yang sangat buruk.



Lalu beranjak ke kamar mandi untuk mandi pagi lalu melaksanakan ibadah di pagi hari. Bang Nanda selalu mengingatkannya untuk tetap berakhlak dan beragama dimanapun dirinya berada.



Ia melangkah menuju ruang tengah setelah rutunitas pagi kelar.



"Jay?!" matanya terbuka lebar begitu melihat sosok jangkung berkulit putih dan hidung mancung sedang tengkurap di sofa.



Suara kaget Nuri lumayan keras, Jay terbangun dan mengusap rambutnya. Ia harus terlihat keren di awal pagi.

__ADS_1



"Wah, Nuri... " ia masih di ambang antara melek dan merem.



"Ini weekend, tapi kamu harus bangun pagi juga kan?" Nuri mengusap pipi mulus kekasihnya.



"Hmm... " Jay masih dengan suara imut dan wajah yang sangat *baby face* di pagi hari.



"*Gila! Pacar gue pas bangun cakep banget mana kulit dia mulus banget! Daebak*!"



Jay memutar badannya, ia memperhatikan lebih dekat. Semakin dekat. Mata mereka bertemu dalam satu tatapan.



"Nuri, maaf. Aku ke kamar mandi dulu!" Jay merasa malu karena belum mandi, sedikit harga dirinya turun.



Nuri melepaskan usapan tangannya lalu membiarkan Jay untuk mandi.



Ia sampai menonton satu episode penuh drama Korea sambil tengkurap. Jay mandi sangat lama.



"Dia mandi apa luluran si?"



"Capek juga nungguin!"



Nuri kesal. Ia melempar jaket mahal kekasihnya.



"*Catch*!"



Jay menangkap jaket mahalnya sebelum jatuh di lantai yang dingin. Jaket mahal edisi terbatas yang sengaja ia beli lewat aplikasi belanja online bulan lalu.



"Oh, Jay!" Nuri reflek dan terpeleset.



"*Inilah yang dinamakan karma instan*."



Jay menggendong Nuri. Nuri terus menatapnya lekat. Bau wangi kolonye mahal khas Jay, rambut setengah basah dan juga dada bidangnya sangat sempurna seperti sebuah adegan drama romantis.



"Kenapa?" Jay melirik, ia gemas dengan kekasihnya.



"Cuma mau berterima kasih aja kok." Nuri melingkarkan kedua tangannya di leher Jay semakin erat.



Ia sedang membayangkan sebuah adegan romantis sebelum ditampar kenyataan kejam.



"Duduk," Jay menurunkannya di kursi pijat. "Kamu perlu relaksasi juga."



"Ahh benar juga," gumam Nuri dengan wajah merengut.



"\*Lupakan soal adegan romantis dalam drama, kenyataannya lumayan miris."


__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2