Super Rich Bae

Super Rich Bae
Part 81 (S2)


__ADS_3

Seperti ditampar kenyataan. Vin yang tidak dapat bicara sepatah kata.


"Ini Vin, sahabatku. Dia adalah anak pengusaha restoran kaya di Itaewon." Mark mengenalkan Vin dengan sangat baik.


"Oh, Vin. Duduklah." Nuri juga menyambut ramah Vin.


Tidak dengan Hana, ia terus menatap sengit ke arah Vin. Setelah mendapatkan email dari sang manajer, pelaku penyebar rumor aneh tentangnay dapat dipastikan Vin.


"Hana, kamu diam?" Hans menyentil dahi sang kekasih sambil bertanya dengan tatapan biasa. "Kamu ga enak badan?"


"Kenapa kamu melakukan itu?" Hana menatap Vin. "Merengek?"


"Aku... minta maaf, Hana Jang."


Setelah permintaan maaf yang tulus, Vin menghapus postingannya. Saat ini, ia tahu kenapa Hana menjadi salah satu penyanyi terbaik.


"Aku kaget!" Mark merangkul Vin. "Kamu masih seperti jaman SNSD, menulis postingan. Haha!"


Tamu-tamu yang berkunjung sudah pulang ke penginapan mereka. Hanya ada Nuri dan Mark.


"Kamu capek?" Mark bertanya dengan tatapan penuh cinta. "Aku saja, kamu istirahat."


Dari hari ke hari, perkembangan perasaan Nuri semakin kentara. Tapi, banyak yang tidak ia ketahui tentang suaminya.


"Mark tidak mengatakannya? Ada beberapa hal yang membuatnya depresi di masa lalu." Vin yang tidak sengaja keceplosan.


"Benarkah?"


"Kamu harus memperhatikannya, Nuri. Aku yakin dia pasti malu untuk bicara hal-hal menyedihkan."


Nuri tidak bisa menjaganya selama 24 jam. Ia juga harus bekerja, terkadang lembur. Tapi beruntunglah Arthur dan salah seorang asisten rumah tangga ikut membantunya.


"Arthur, jika ada sesuatu yang aneh tentang Mark atau dia terlihat depresi. Hubungi aku."


"Baik, Nyonya. Tapi kenapa Anda tidak bicara sendiri?"


"Aku tidak ada banyak waktu. Semenjak Jack stay di kantor. Hari-hari kami akan melelahkan."


Sarapan pagi yang selalu terlihat elegan adalah ciri khas Arthur. Ia mempersiapkan bunga-bunga wangi seperti perintah Jay di masa lalu.


"Nuri suka sekali bau wangi bunga ini. Nantinya tolong siapkan ini setiap hari."


Tidak luput dari perhatian Arthur, Mark memang beberapa kali tertangkap kamera cctv sering mengunci kamar. Ia juga tidak tahu terlalu banyak tentang suami baru sang majikan. Yang ia rasakan hanya, dua orang yang sangat berbeda meski memiliki tatapan teduh sama.


Jika Jay di masa lalu hanya seorang anak manja, tapi di sisi lain, Jay Jang adalah seorang petarung yang kuat. Dia tidak pernah sekalipun menunjukan kelemahan di hadapan lawan. Bertemu banyak orang yang menyebalkan dalam industri saham dan investasi, Jay tetap tersenyum. Hingga hari kematiannya, ia tetap tersenyum. Senyum yang akan Arthur ingat selama sisa hidupnya.


Pernikahan mendadak Nuri sering menjadi buah bibir.


"Yang benar saja? Wanita itu aku pikir sangat mencintai Jay kami. Tapi begitu melihat pria yang lebih muda dan tampan langsung kepincut." Salah satu Bibi Jay mengeluh.


"Kak, ini bukan soal Nuri yang terlihat jelek di mata kalian. Keluarga Barens bukanlah keluarga sembarangan. Aku sudah mendengar semua dari Estella."


"Tapi aku tidak terima, Jay sangat mencintai Nuri begitu dalam di masa lalu. Bukankah ini pengkhianatan? Lihat seberapa besar perjuangan Jay agar mereka bersama."


Orang-orang mungkin akan melabeli Nuri sebagai wanita tidak tahu malu. Tapi, Arthur justru lebih tenang karena ada seorang yang menjaganya dengan baik setelah Jay.


"Tuan Mark, apa kita bisa bicara?" Arthur menghadang Mark.


"Baiklah, mari."


Mereka pergi ke ruangan kerja Mark.


"Aku tidak bermaksud lancang. Tapi, apa Anda baik-baik saja?"


Mark menelan ludah, ia mungkin telah mencuri sedikit perhatian orang-orang rumah. Mereka mencemaskan keadaan Mark.


"Tidak boleh ada yang ditutupi. Kita kan keluarga bukan?"

__ADS_1


Untuk pertama kali, tidak kedua kalinya ada orang lain yang mengatakan hal sehangat keluarga. Mark bahkan mulai lupa apa itu arti keluarga. Yang ia tahu, berusaha membuat kakek angkatnya bahagia adalah tugasnya sebagai anggota keluarga.


"Arthur, beberapa hari ini mantan kekasihku bernama Lisa terus mengirim pesan. Dia bahkan menyakiti dirinya sendiri."


"Bukankah mantan kekasihmu harusnya lebih tahu, pria yang sudah menikah pasti akan berubah dengan sendirinya. Jika Anda masih peduli, bisakah aku simpulkan satu hal. Anda masih memiliki sedikit rasa bukan?"


Setuju. Tidak terbantahkan, perasaan yang tersisa hanya simpati terhadap seorang teman.


"Vin sudah menjenguknya. Tidak ada yang aneh, Lisa hanya terus menyesali perbuatannya."


"Kenapa dia baru menyesal sekarang? Karena melihat Anda lebih bahagia dengan pasangan yang sekarang. Bukan dengan dirinya."


Mark tersenyum lega, akhirnya ia dapat mengutarakan isi hatinya dengan orang yang tepat dan lebih dewasa. "Terima kasih, Arthur."




"Sepertinya kamu banyak melamun, Nuri." Jack menegur secara halus.



"Oh, iya. Lagi kepikiran suamiku, Jack. Dia beberapa hari ini kaya banyak beban."



"Bukannnya setelah ujian semester, beban dosen hanya memberikan nilai yang objektif saja."



"Benar juga ya. Hahaha." Nuri jadi tertawa sendiri, ia terlalu banyak curiga. Semenjak pulang dari perkemahan, ia menyadari satu hal. Popularitas Mark bukan main di kalangan mahasiswi maupun dosen.



"Bagaimana dengan putramu, Jack? Apa dia betah tinggal dengan ayah barunya?"




"Dia jarang meneleponku, tapi mata-mataku di rumah itu bilang dia sangat menyukai ayah barunya. Apa ayah lamanya akan dilupakan? Aku sangat *stress* memikirkan ini, Nuri."



Nuri tahu, salah satu kelemahan Jack yang terlihat sempurna adalah sang putra. Perceraian di masa lalu masih menyisakan luka di hati Jack. Orang dalam industri keuangan, hanya mengetahui Jack sebagai bos yang gila kerja dan tak berperasaan.



"Ini hanya saranku, Jack. Cobalah untuk \*move on."



"I did it, Nuri\*."



"Kenangan tentang Jay masih tersisa dalam ingatanku. Tapi semenjak menikah lagi, aku mengerti alasan kenapa kita berhak untuk melanjutkan hidup dengan lebih baik."



Bel telah berbunyi. Para karyawan perlahan mulai pulang, hanya beberapa yang masih lembur demi mendapat upah tambahan. Jack juga memutuskan untuk lembur. Tidak ada alasan untuk pulang lebih awal.



"Aku duluan, Jack. Kamu jangan lupa makan malam ya?" Nuri pamit, ia sudah dijemput oleh suami barunya.


__ADS_1


Melihat Nuri yang perlahan mulai bangkit dari keterpurukan memang menginspirasi untuk Jack. Jatuh cinta lagi sepertinya indah.



Masih di depan pintu masuk kantor, ia menyaksikan banyak karyawan yang pulang bergandengan tangan dengan pasangan mereka.



"Bos, Anda sepertinya kelelahan?" Salah satu pegawai resepsionis bertanya dengan polos.



"Kafe baru di depan kantor kita kok ramai sekali ya?" Jack justru melempar pertanyaan lain.



"Ah, minuman dan makanan mereka sangat unik, Bos. Aku merekomendasikan es boba coklat untuk Anda."



"Benarkah?"



Jack berjalan kaki menuju kafe di depan kantor. Beberapa hari ini banyak karyawan kantor yang sering memesan dan bersantai di kafe tersebut.



"Kafe kelinci." Jack yang baru masuk, mengamati banyak juga pajangan kelinci. Pegawai kafe juga mengenakan bando telinga kelinci.



"Silahkan. Anda ingin pesan apa?" Seorang pelayan datang ke meja Jack. Gadis yang masih berusia sekitar 20 tahunan berambut hitam dengan wajah khas Asia.



"Es boba coklat. Karyawanku bilang ini es yang enak."



"Baiklah, Tuan. Silahkan tunggu. Apa Anda juga ingin memesan keik?"



"Tidak, terima kasih. Bisakah kamu memberikan porsi es boba yang besar dengan coklat yang kuat?"



"Tentu, silahkan tunggu."



"Oh ya, tunggu. Apa kamu dari Asia?"



Gadis tersebut tersenyum tipis dan mengangguk. Pesonanya sangat berbeda. Ia terlihat sangat cantik di antara pegawai wanita yang lain.



"Kamu bisa memanggilku, Rachel."



Dalam beberapa detik, senyuman Rachel membius hati Jack.


__ADS_1


*Bersambung*...


__ADS_2