Super Rich Bae

Super Rich Bae
Part 38


__ADS_3

Semenjak menikah ia bangun lebih awal. Chacha bangun tepat pukul empat pagi. Setiap kali melihat suaminya, ada perasaan bahagia tersendiri. Kisah cintanya dengan Johan hanya diawali oleh rasa suka biasa yang kemudian tumbuh menjadi cinta yang suci.


"Bangun, Yang." Chacha membangunkan Johan pukul lima pagi. Meski sering bangun telat, Johan yang hobi nobar anime bisa mengusahakan untuk tepat.


"Lah, udah jam lima aja nih." Johan sudah terbiasa bangun pukul lima pagi sejak kecil, kebiasaan baik yang menjadi nilai plus di mata mertuanya kini. "Candra si ngajak nonton Boruto borongan, huam.... "


"Nanti kamu nggak usah ke kafe, kita kondangan ke tempat Bang Nanda."


"Asyiaaap... Bu Bos!" Johan memeluk istrinya. "Tapi mau pake batik sarimbit apa pake baju lilac yang lagi tren?"


"Serah, yang penting jangan pake sarung."


"Hahaha ide brilian, Beb!"


Mereka sering sekali bersenda gurau. Tidak pernah Chacha bayangkan dia akan menikah duluan padahal Nuri selalu terdepan dalam hal percintaan. Jodoh memang tidak ada yang tahu.


Kalau dilihat sekilas, Johan tidak seserius Jay ataupun Raka tapi dia selalu melangkah cepat.


"Sarapan dulu," Ibu Chacha menata kerupuk dan telor di meja makan. "Kamu makannya jangan sedikit Han, Ibu kan nggak pelit beras."


Johan yang baru selesai mandi langsung duduk nyaman di ruang makan. "Oke, Bu. Loh Bapak sama Candra kemana?"


Chacha juga baru sadar dua orang belum kelihatan sejak pagi. Biasanya Bapak mereka ikut pengajian subuh, kali ini tidak ada jejaknya.


"Loh Ibu belum bilang ya sama kalian? Omnya Nuri, Toto katanya kesurupan tadi Candra yang bilang.''


"Om Toto, Bu?" Chacha kaget, ia melotot. Seperti ingin tertawa lepas tapi ia sudah bersuami, harus menjaga akhlak di pagi hari.


Sementara Johan juga ingin tertawa tapi sadar ketika ia tertawa sangat keras, mertuanya pasti akan terganggu. Mereka saling bertatapan dan bicara dalam hati melalui sebuah pandangan mata.


"Hayo, kamu mau ketawa kan Beb?"


"Ya gitu deh Yang, Om Toto laknat abis!"


Setelah selesai sarapan. Johan yang sangat menikmati fenomena alam seperti kesurupan bergegas ke rumah Nuri. Chacha ikut, ia berharap tidak bertemu dengan Mas Dika dan istrinya. Rasanya masih canggung karena masalah dulu.


Sesampainya di rumah Nuri. Johan langsung masuk karena gerbang rumah terbuka, ada beberapa orang termasuk Pak Ustad yang terlihat di ruang tamu.


"Cha, hei!"


Kaget, Chacha mendengar suara Mas Dika dan Mba Intan, istrinya. "Eh, Mas Dika, Mba Intan."


"Duuh, anjir malah ketemu sama cinta pertama dan istrinya."


"Masuk duluan ah," Mas Dika langsung merapat menuju kerumunan di ruang tamu.

__ADS_1


Mba Intan yang dulu sempat memarahi Chacha, membuat suasana tegang di antara mereka tercipta. "Cha, udah lupain aja masa lalu. Gue dulu kelepasan. Toh kita udah menikah kan? Hehe."


"Hehehe, iya Mba Intan."


"Lo makin cantik Cha pas udah nikah. Johan juga ganteng tuh,"


"Iya Mba, alhamdulillah punya suami ganteng meski somplak.''


Mereka tidak paham dengan apa yang terjadi dengan Om Toto. Untungnya Bang Nanda sudah menginap di hotel sejak semalam. Nuri yang terlihat diam karena menganggap Om Toto hanya bersandiwara.


"Kenapa dia, Bro?" Johan baru melihat sosok Om Toto yang sudah viral di lingkungan rumah mertua sejak pulang.


"Katanya tadi pas bangun udah kaya gitu," Candra tidak tahu kenapa orang kerasukan hantu bisa seperti akting. "Gue pikir dia akting loh."


"Untungnya Nanda gak ada di mari." Mas Dika sebenarnya tidak begitu percaya fenomena astral apa yang sedang merasuki Om Toto.


"Astagfirullah... " Ibu Nuri masih dengan wajah terkejut. "Toto, ada-ada aja kamu pake kesurupan setan segala."


"Tan, sabar yah." Intan dan Chacha kompak menyemangati.


Ayah Nuri tidak menyangka adiknya akan mengalami fenomena seperti ini menjelang pernikahan Nanda. "To, to. Pake kesurupan pas Nanda mau nikah segala kamu."


"Gimana Pak Ustad?" Nuri langsung bertanya.


Om Toto masih berteriak layaknya macan dan terus mengaung. Semua yang melihat merasa seram, tapi Nuri masih merasa ini hanya setingan Om Toto. Dia suka sekali membuat kehebohan.


"Hahhhh, herrr, beerrr!"


Pak Ustad baru menemui fenomena seperti itu. Sepertinya bukan kerasukan makhlus halus. "Maaf, kayaknya ini bukan kerasukan. Mungkin Pak Toto lagi belajar akting ya jadi macan?"


Om Toto yang sudah ketahuan mulai meredakan suaranya. Dia malu ketika banyak orang datang untuk melihat. "Ampun, Tad!"


"Toto!" Ayah Nuri sangat marah, ia menarik adiknya untuk bicara di ruang tengah. "Malu-maluin aja!"


Ibu Nuri dan beberapa orang merasa lega ternyata hanya sandiwara licik adik iparnya. Tanpa mereka duga, kembaran Cyntia ternyata juga ikut menyaksikan.


"Loh, Dewa?" Intan juga mengenal baik kembaran Cyntia. "Udah lama?"


Dewa yang baru pernah menyaksikan fenomena aneh di depannya lumayan bingung. "Belum lama kok."


"Mukanya kaya bingung banget," Johan meledek. "Itu tadi bukan kesurupan setan, Mas. Yang asli kesurupan mah lebih serem lagi."


"Dewa tinggalnya sejak kecil di luar negri, Han. Mana ada demit." Ibu Nuri merasa tidak enak atas kelakuan Om Toto.


Johan memiliki banyak pengalaman unik tentang hantu bersama Raka. Mereka tinggal di kota kecil di tanah Jawa, hal-hal paling menyenangkan bagi masa kecil mereka adalah membahas hantu. Meski merinding mereka tetap menikmati cerita atau berbagi hal mistis.

__ADS_1


"Emang ada setan beneran?" Mas Dewa jadi penasaran. "Aku lihat hantunya pas halowin aja si."


"Ada lah, di dunia ini hantu juga ada dimana-mana."


Nuri menjadi malu, untung Bang Nanda atau calon iparnya tidak melihat awal mula sikap aneh Om Toto.


"Om, kalau Bang Nanda apa Mba Cyn yang liat gimana? Bakalan malu kan?"


"Udah deh, To. Siki wes ngomong wae apa karepmu ?" Ayah Nuri terkadang menggunakan bahasa Jawa di rumah.


"Anu, Mas. Piye iki Mas? Sing tek gadai *jebul mobil beemwe-ne Nanda. Ketuker pas nggolet neng laci tengah."


"Waah, kunyuk banget koe*!"


Nuri mengerti apa yang mereka bicarakan. Tidak bisa membayangkan usai acara pernikahan, Bang Nanda pasti marah besar. Mobil BMW kesayangannya, buah kerja keras.


"Yah, cepetan usir Om Toto!"


"Dek, gimanapun dia kan adik kandung Ayah. Ayah juga marah tapi kita harus berpikir dengan kepala dingin harus bagaimana kan?"


"Tapi Om Toto udah kebangetan!" Nuri berbicara dengan suara tinggi.


Pak Ustad bersama Ayah Chacha sudah pergi. Tinggal beberapa orang yang mendengar suara teriakan Nuri.


"Cha, Nuri ngamuk tuh!" Candra mengintip sedikit suasan tegang di ruang tengah.


Yang lebih mengejutkan justru Mas Dew yang masuk menjadi penengah. Ibu Nuri dan Chacha hanya berusaha meredamkan amarah Nuri.


"Ada apa ini? Kok Nuri dan Om kelihatan marah?" Bak seorang pahlawan, Mas Dewa terlihat keren.


"Om Toto nih Mas, dia gadai mobil Bang Nanda!"


"Om gadai dimana? Biar aku yang ambil aja mobilnya entar."


Semua menjadi tenang semenjak kehadiran Dewa.


Raka yang baru saja tiba bingung dengan situasi yang terjadi. "Kenapa ini?"


"Telat banget lo, Ka. Nggak guna emang."


"Beneran nih, ada apa gaes koh rame?" Raka masih belum memahami situasi.


Ada sosok baru yang berpotensi menghambat pendekatan Raka dengan Nuri. Ya, sosok saudara kembar Cyntia. Belum juga Nuri melupakan Jay Jang.


"*Sial, nambah lagi nih saingan gue!"

__ADS_1


Bersambung*...


__ADS_2