Super Rich Bae

Super Rich Bae
Part 58


__ADS_3

"Apa yang sedang kamu tunggu?"


"Apa kamu menungguku?"


"Aku lupa membawakanmu makanan camilan hari ini."


Nuri bangun tidur di awal pagi. Ia hanya tidur selama dua jam. Mendengar banyak keluarga Jay datang dari Seoul, ia bersiap untuk menemui mereka.


Usai menyikat gigi dan memakai piyama, ia berjalan perlahan menuju ruang tengah.


"Nuri?"


Itu orang tua Jay. Ada seorang yang mencuri perhatian Nuri, adik kecil Jay.


"*Nuri, come here!"


"Dad and Mommy*?"


Ada rasa kehilangan yang tidak mampu dijelaskan dari tatapan mereka. Apalagi Mommy, ia sempat pingsan usai mendengar kabar tentang Jay.


"Rasanya, aku tidak menyangka ini, Nuri. Aku tidak bisa lagi bertemu anak lelakiku."


"Maafkan aku, ini... karena aku tidak bisa menjaga Jay dengan baik,"


Nuri membungkuk, ia menangis. Rasanya, ingin mengulang hari. Biar, ia saja yang pergi ke minimarket menggantikan Jay.


"Duduklah, Nak." Kakek dan Nenek Jay yang terlihat elegan, membantu Nuri yang tampak tidak bertenaga dengan wajah yang sangat pucat.


"Kamu sudah makan? Jay pernah bilang padaku, kamu suka nasi goreng? Bibi akan masak untukmu nasi goreng telur." Ibu Hana, Ny. Song, pernah mengikuti kelas masakan Indonesia saat tinggal di Singapura.


"Terima kasih, Bi. Terima kasih untuk semuanya."


Paman Jang tampak berbeda, ia lebih pendiam. Banyak hal yang ia sesali dengan kepergian sang keponakan yang begitu mendadak.


"Ayah Hana sangat terpukul."


Bukan hanya sang paman, Nuri lebih merasakannya. Dua hari ini, tidak ada semangat untuk melanjutkan hidup. Jangankan untuk tidur, ia masih merasa takut.


Semuanya terasa berbeda. Bahkan membuka jendela kamar saja sangat menakutkan untuk Nuri. Biasanya, Jay akan membukanya.


Ia beranjak dari ranjang, membersihkan debu di sekitar jendela kamar. Udara yang semakin dingin bercampur dengan air mata hangat yang terus menetes dengan sebab pasti. Kehilangan.


"Bisakah kamu membuka jendelanya, Jay?"


"Tentu."


Ingatan-ingatan dari beberapa hari yang lalu masih terus menghantui. Ingatan tentang betapa manis hubungan mereka.


"Jay... " Nuri mengambil cardigan kesukaan Jay. "Ini adalah kesukaanmu kan?"


Ia hanya dapat memeluk foto pernikahan mereka sambil mengenakan cardigan kesukaan suaminya. Menyakitkan. Perasaan yang sangat menyiksa dalam 72 jam.


"Kamu tahu? Ada satu hal yang paling menyiksaku. Aku nggak bisa denger lagi detak jantungmu."


"Ini sangat menyiksaku, Jay."


Dari balik pintu kamar, Ibu dan Cyntia juga merasakan sedih yang sama. Ia tidak pernah melihat Nuri sehancur itu.


"Bagaimana bisa, Bu? Aku baru melihat adik yang sangat ceria menjadi sangat rapuh begini?" Cyntia memeluk ibu mertuanya yang tampak tegar namun lebih hancur. Seorang ibu melihat putrinya tersungkur di lantai dengan isak tangis yang sangat menyakitkan hati.


"Ibu juga sedih, Cyn. Dalam hati rasanya tuh sakit banget liat Nuri sampe ngedrop begini."


Karakter ibu mereka bukanlah seseorang yang menangis histeris di depan publik. Ibu adalah sosok yang tenang dan tabah.

__ADS_1


Ibu mertua Nuri yang sedang menggendong Jean juga merasakan sakit yang luar biasa, ditinggal putra semata wayang. Putra kesayangan yang selalu ia banggakan di depan semua orang.


"Jay-ku, tidak pernah melewatkan ulang tahun kami, termasuk ulang tahun pernikahan."


"Benarkah?'' Cyntia menanggapinya. "Dia sangat perhatian sekali."


Ibu tidak bisa bicara bahasa Inggris, Cyntia yang mewakilinya berbincang dengan keluarga Jay. Begitupun Nanda, ia sudah dua jam menemani dua kakek Jay di ruang tengah. Banyak yang mereka bicarakan.




"Kamu yakin Beb?" Johan menanyakan kembali kepada Chacha. "Kamu mau ke Swiss?"



Chacha hanya mengangguk, ia sedang bersiap. Tidak ada keraguan sama sekali untuk tidak pergi. Nuri adalah sahabatnya sejak kecil. Mereka tumbuh bersama dalam suka duka dunia dewasa. Menyakitkan sekali, jika melihat sahabat baik kita harus menelan kesedihan seorang diri.



"Beb?" Johan juga merasa sedih mendengar berita Jay, tapi ia memiliki tanggung jawab yang besar di kafe. "Maaf, aku nggak bisa nemenin kamu. Tapi aku ijinin kamu buat menemani Nuri sampai dia tenang."



Chacha mengelap air matanya. "Terima kasih ya. Aku bener-bener beruntung menikah dengan kamu."



Johan memeluk istrinya. Ia tidak dapat mengatakan hal-hal aneh seperti biasanya, suasana hati istrinya sedang tidak baik. "Puk, puk, puk."



Chaca tersenyum tipis, ia tahu Johan berusaha untuk membuatnya bahagia meski dalam suasana hati yang buruk.




"Ih, apaan si, iseng?!"



Chacha tersenyum. Tapi, dalam hatinya, ia memikirkan bagaimana suasana hati Nuri. Ia pasti sangat terpuruk sampai mengabaikan ponselnya sendiri.



"Aku yakin, Nuri pasti akan kembali lagi kayak dulu. Dia itu tipikal cewek yang melampiaskan dulu emosional, terus baru balik logis lagi."



"Semoga saja Nuri lebih tabah lagi dari hari ke hari."



Setelah berpamitan, Chacha pergi ke Swiss ditemani Raka dan Candra. Johan dengan berat hati melepas sang istri.



"Jaga diri ya?'' Johan memeluk lagi Chacha. "Kalau bisa mampir, beliin coklat Swiss ya?"



"Hah?" Raka menendang kaki Johan. "Lo masih sempet mikirin coklat Eropa?"

__ADS_1



"Bener juga si Ka, gue juga belum nyobain coklat Swiss. Kalau Nuri udah baikan, kita kan bisa pergi ke toko oleh-oleh. Kasian si Johan, kan gantiin posisi kita semua di kafe." Candra memang bijaksana. Ia sebenarnya tidak enak melihat Johan akan mengambil alih peran mereka. Pasti sangat sibuk dan keteteran.



"Gapapa gaes, percaya sama gue. Gue aja dulu bisa gantiin kepala Bank. Hahaha!"



"Oke, Han. Gue juga bisa pantau kok!" Raka juga akan terus memantau meski jarak jauh bagaimana perkembangan kafe setiap harinya.



Perjalan dari Jakarta menuju Swiss selama delapan belas jam. Raka yang membayar tiket untuk berangkat, Chacha dan Candra membayar tiket untuk pulang saja.



"Makasih banget ya, Ka." Chacha harus akui kalau sikap Raka memanglah tidak sepelit dahulu. "Gue nggak bisa bayangin gimana ngedrop Nuri gara-gara ini,"



"Sama. Gue juga. Gue yakin kedatangan kita akan menghibur dia sedikit." Raka terus kepikiran, ia sampai membatalkan janji dengan Asty.



"Yang gue yakin Nuri pasti lagi nangis, nggak mau makan apapun." Candra sudah sejak kecil berteman juga dengan Nuri.



Setelah obrolan singkat, mereka terlelap. Melewati delapan belas jam perjalanan udara dengan satu kali translit memang sangat melelahkan.



"Ya namanya juga kelas ekonomi."



Chacha menghubungi Bang Nanda untuk menanyakan lokasi rumah Jay. Setelah mendapatkan lokasi, Chacha langsung memesan taksi dari bandara menuju ke halte bus kota. Jarak rumah Jay dari bandar hampir dua jam.



"Yakin mau naik bus?" Raka bertanya sekali lagi.



"Apa mau nyewa mobil aja nih?"



Berkat ide cemerlang Candra dan juga bantuan dari google, mereka menemukan tempat penyewaan mobil dengan harga yang cukup mahal namun bagi Raka tidak masalah.



"*You need a driver?"



"No, Sir. I can drive, calm*."



*Bersambung*...

__ADS_1


__ADS_2