
Double date.
Jay telah menceritakan garis besar ide Louis untuk menikmati kencan ganda. Di kota Paris, banyak sekali tempat romantis yang sering pasangan kunjungi.
"Mau kemana?" Nuri bertanya dengan polos.
Jay masih fokus menyetir mobil sport, tidak terlalu menanggapi pertanyaan Nuri.
"Sungai Seine?" ia bertanya lagi dengan wajah imutnya.
"Kamu mau kita berlayar di sungai atau pergi ke tembok cinta?"
Le Mur des Je T'aime atau tembok cinta. Sebuah tempat yang wajib dikunjungi oleh pasangan. Ada banyak kata cinta tertulis dalam 250 bahasa di dunia. Sangat romantis.
"Aku juga mau kesitu," bisik Nuri.
"Tapi mau juga berlayar Jay."
Jay tidak menanggapi. Ia hanya mengusap halus rambut kekasihnya lalu sesekali menyentuh tangan Nuri diam-diam.
"Tangannya kecil, so cute."
Nuri sedang mengamati sikap Jay selama menjalin asmara dengannya. Meski hubungan mereka masih seumur jagung. Sikap lembutnya yang elegan terhadap wanita berbeda dengan apa yang Nuri pikirkan.
"Jay, apa kamu selalu lembut begini?" Nuri menyenderkan bahunya ke lengan Jay. Ia tidak mengerti kalau seorang lelaki bisa sangat elegan.
"Karena aku menghargai ibuku. Dia bilang, jangan tiduri anak gadis orang sembarangan, jangan menyakiti banyak gadis. Aku hanya melihat, Daddy sangat menghormati Mommy. Asal kamu tahu aja, mereka menikah saat Mommy masih kuliah S2 di Amerika."
Aura yang ia pancarkan sangat berbeda. Nuri semakin menyadari bahwa ibu Jay pasti adalah wanita kaya yang sangat elegan. Dari cara tertawanya sudah jelas.
"Kalau kamu, Jay?" ia masih menikmati posisi enak bersender.
"Aku hanya belajar dari mereka. Mommy bilang ia tidur dengan Daddy setelah mereka menikah. Itu mungkin sulit, tapi jika tulus cinta pasti akan menjaga bukan merusak. Itu yang mereka ajarkan." Ketika lampu merah, ia mengusap bibir Nuri yang memakai lipstick kurang merata.
"Soft boy."
"Kamu suka clubing?"
"Kurang suka. Aku lebih suka bertemu teman atau kolega di restoran atau kafe."
Nuri melambungkan finger heart untuk Jay. Ia takluk dengan sikap dan pemikiran Jay yang berbeda dari kebanyakan lelaki kaya.
"Nuri, apa kamu nggak bosan denganku?'' pertanyaan itu membuat Nuri tertawa kecil.
"Yang bosenan kan kamu," jawab gadis imut pecinta drama Korea itu dengan wajah mengintimidasi.
"Nggak, kali ini beda.'' Jay menghentikan mobilnya di pinggiran jalan dekat kafe.
"Apanya yang beda?"
Mereka saling tatap untuk waktu yang lama. Kali ini, imajinasi Nuri selalu tentang adegan kissing. Dan ia menunggu Jay mengungkapkan perasaannya.
"Aku... kayaknya beneran suka kamu, Nuri."
"Suka kan bukan cinta?" Nuri sengaja meledek lelaki tampan tersebut.
Jay tidak bisa mengelak lagi. Bohong kalau ia tidak ingin mencium kekasih barunnya.
"Je t'aime...."
Nuri sudah mempersiapkan jikalau bibir merah Jay bergerak maju untuk mengecup bibirnya. Ia sudah mulai berfantasi romantis tapi tidak liar. Ia sangat menjunjung tinggi etika.
Salah.
Jay justru mengaitkan kembali sabuk pengaman yang lepas dari badan Nuri.
"Tolong jangan bayangkan seperti drama romantis. Aku itu--"
Belum sempat Jay bicara, Nuri sudah membungkamnya. Bukan dengan sebuah ciuman sugestif melainkan dengan buah pir yang ia bawa tadi.
"Nuri... " Jay mencubit gemas kedua pipi cabi kekasihnya.
"Jay, apa bagimu aku kurang menarik?" Nuri berpura-pura ingin menangis, ia sudah ahli dalam tangisan palsu.
Mendengar keluhan Nuri. Jay menutup kedua mata kekasihnya dengan scarf miliknya. Ia mendekatkan wajah. Sangat dekat. Ia bisa merasakan bau wangi dari leher kekasihnya.
__ADS_1
"Nuri, I"m so sorry do it,"
Jay yang tidak terlalu pandai dalam hal romantis. Ia hanya pernah sesekali melihat adegan romantis dari televisi atau yutub.
Ia menarik badan kekasihnya, sehingga detak jantung yang berdebar sangat kuat dapat Nuri rasakan.
"Jay, kamu--?
"Aku minta maaf," ujarnya lirih.
Tidak butuh waktu lama sebelum kecupan manis di dahinya mendarat.
"Sweetie... " samar, tapi ia dapat mendengar jelas bisikan Jay.
Nuri terlalu berlebihan dalam berfantasi. Ia membuka penutup mata dan langsung menggenggam tangan Jay.
"Jay... " Nuri sedikit malu tapi ia tetap mencium tangan Jay. "*My Jay is so gentle, love you Bae."
"I love you too, Bae*."
Setelah sampai di lokasi pertama untuk kencan ganda. Louis datang bersama kekasihnya, Eva.
"Hei, Jay!" Eva langsung berputar di sekeliling Jay, ia menatap Nuri dengan tatapan sedikit mengejek.
Tidak mungkin lelaki tampan dan kaya seperti Jay memilih gadis yang sangat sederhana. Ia baru pernah melihat perpaduan yang sangat langka. Laki-laki pecinta barang mewah dengan perempuan sederhana.
Ah, tunggu.
Ia membaca lagi merek tas Nuri. "Merek ini baru ya?"
"Oh, tentu. Aku beli dari online shop China. Kenapa?" Nuri sering berhadapan dengan perempuan usil seperti Eva, mereka cenderung adalah gadis pecinta barang bermerek yang sombong.
"Nggak percaya!" Eva membungkam mulut dengan kedua tangannya.
"Duh, Eva. Jangan begitu!" Louis menyentil dahi kekasihnya. Ia sangat malu dengan mulut sadis kekasihnya jika bertemu seseorang yang sederhana.
"Aku suka kesederhanaan... " Nuri ingin mulai membalas ejekan Eva, ia selalu menggunakan jurus yang sama. Memelas.
Eva tidak bisa berkata-kata lagi. Kedua matanya menatap tajam dengan bibir manyun. "*Dasar gadis ular*!"
Dengan *gentle*, Jay mengusap kedua bahu Nuri. Ia juga tidak terlalu suka perkataan Eva.
"Apa kamu nggak merasa dia itu cuma gadis licik yang matre?"
Kali ini keterlaluan.
__ADS_1
Nuri mengepalkan tangan, ia sudah bersiap untuk meninju jikala Eva menguji kesabarannya. Ia diam, tapi ia bukan orang yang lemah. Harga diri adalah segalanya bagi Nuri.
"Berhenti! Louis, kamu ajak Eva ke tembok cinta atau kemana. Aku akan bawa pacarku pergi." Jay ingin menegaskan bahwa ia tidak ingin mendengar hinaan lebih dalam.
Eva sedang membandingkan Nuri dengan sosok Lusi di masa lalu. Mereka sangat akrab dan nyambung. Berasal dari keluarga kaya. Penyuka barang-barang mewah. Sering datang ke acara *fashion week* bersama.
"Jadi kamu nggak mau balikan sama Lusi gara-gara dia?" Eva semakin berani menantang Jay. "Konyol!"
"Eva, diamlah!" Louis sangat kesal. Ia sangat memaklumi persahabatan Eva dan Lusi yang terjalin begitu hangat, tapi tidak untuk mengejek Nuri.
"Aku emang sengaja si ngusulin *double date*. Aku penasaran sama pacar baru Jay. Oh, ini? Gadis yang membuatmu menolak untuk balikan?" Eva hanya ingin menyampaikan kekecewaannya.
Dulu, Jay dan Lusi adalah pasangan paling serasi. Selain berasal dari keluarga kaya dan terhormat. Lusi sangat elegan di mata Eva. Mereka adalah sahabat baik. Ia tidak terima jika sahabatnya menangis untuk sebuah hal yang menurutnya rendah. Oh, tidak. Levelnya berbeda.
"Jadi, Lusi adalah sahabatnya?" Nuri mulai terbawa suasana. Air matanya mulai jatuh ketika melihat ekspresi tak berkutik Jay ketika mendengar nama Lusi.
Jay memang bersalah. Ia adalah lelaki yang brengsek karena membohongi kekasihnya.
Sehari sebelum Nuri mengatakan perasaannya. Lusi terlebih dahulu mengutarakan keinginan untuk kembali bersama.
"Aku tidak tahu kalau kalian orang-orang kaya memperlakukan gadis biasa sepertiku begini... "
Batinnya mengerang. Ia tidak pernah merasa terhina sebelumnya apalagi demi seorang pria.
"\*Aku belum pernah merasakan harga diriku terluka begini."
"Aku yang salah. Aku terlalu mudah jatuh cinta\*."
Nuri menghapus air matanya. Ia memukul-mukul kecil lututnya. Ia sangat kesal. Imajinasinya penuh adegan kekerasan. Tapi ia harus sadar, di dunia nyata orang kaya lebih berkuasa.
"Ini sangat melukai harga diriku," ia berbisik ke telinga Eva dengan tatapan buas.
Nuri melangkah dengan tubuh yang bergetar karena menahan amarah.
"Ini juga menyakitkan," ia lanjut berbisik di telinga Jay.
Jay seperti terjebak dalam goa gelap ketika melihat ekspresi Nuri yang sangat terluka padahal belum genap satu jam saat mereka saling bilang cinta.
__ADS_1
*Bersambung*...