Super Rich Bae

Super Rich Bae
Part 79 (S2)


__ADS_3

Nuri terbangun dalam sebuah ingatan yang menyimpang.


"Mark?'' Nuri menyadari tidak ada sang suami. Seingatnya, ia sedang berkemah dengan Mark. Acara kampus.


Rumah yang tidak asing juga. Ia melihat sosok yang sangat ia rindukan dalam hidup. Jay Jang Clarkson.


"Jay?" Nuri langsung memeluk Jay. "Ini pasti mimpi kan?"


"Kamu tidur lama, Nuri. Sekarang kamu mandi lalu kita makan bareng ya?" Jay masih sama. Nuri benar-benar bingung, ia pasti sedang bermimpi. Jay sudah meninggal dua tahun lalu. Tidak mungkin, ia tiba-tiba muncul.


Sembari berendam, ia terus saja berpikir. Semua hal yang ia alami pasti mimpi. Tidak ada Mark dalam dunianya. Siapa sebenarnya Mark?


Kamar yang masih sama seperti dua tahun lalu. Foto pernikahan yang terpajang di dinding. Nuri terus saja mengecek keadaan.


Hal pertama yang ia lakukan adalah mengecek ponsel, tanggal dan waktu. "Ini benar kan hari ini bukan masa lalu?"


Jay yang menyadari ada sesuatu yang aneh dengan sang istri, ia langsung meminta Nuri untuk sadar. "Apa karena kamu tidur lama jadi mimpi selingkuh dariku, Nuri?"


"Berapa lama aku tidur, Jay?" Nuri memeluk sang suami. "Benarkah ini kamu?"


"Semenjak ibu biologismu datang. Kamu terjatuh dari tangga, tepatnya terpeleset karena banyak pikiran. Ini sudah ratusan hari." Jay mengusap keringat di dahi Nuri.


Yang Nuri ingat adalah momen terakhir bersama Jay yaitu pesta diskon bersama Bibi Amelia. "Jay, kita pernah pergi kan ke pesta diskon bersama Bibi Amelia?"


"Tentu. Kamu seperti kesetanan, dan aku bosan sekali menunggumu."


Hal-hal mulai tidak benar, kenapa ia justru mencari seseorang bernama Mark. Tidak, ia juga tidak mendapati Jack.


"Lalu Jack?"


"Jack, kamu kan belum pernah bertemu dengannya langsung. Dia sudah menjengukmu, Nuri."


Nuri sedang merancang banyak pertanyaan. Seperti benar, seperti juga tidak benar. Jika melihat cara Jay menatap Nuri memanglah benar, sangat nyata.


"Ah, gue sampe nikah lagi sama si Mark. OMG!"


"Jay, kita udah nonton konser BTS belum?"


"Nggak ada konser langsung, adanya konser online kan? Situasi lagi pandemi, Sayang. Apa kamu juga lupa?" Jay benar-benar prihatin, melihat sang istri yang sangat bingung dan melupakan banyak fakta.


"Chacha, udah punya anak belum Jay?"


"Belum, Sayang. Yang udah punya anak itu Bang Nanda."


Tidak benar. Ini seperti sebuah plot twist dalam hidup Nuri yang terulang kembali. Apakah pantas ia menceritakan mimpinya, tentang Nuri yang menjadi janda dan menikah lagi.


"Jay, apa ibu kandungku sering menjengukku?"


"Dia datang beberapa kali, karena beliau juga sudah berkeluarga, kebetulan suaminya sudah repot untuk berpergian. Tapi, ibu angkatmu tetap yang terbaik, dua minggu lalu beliau juga kesini."


Semakin tenggelam dalam kebingungan.


"Bagaimana dengan ayah kandungku?" Nuri ingin memastikan satu hal.


"Apa kamu lupa, itu alasan kamu begitu terkejut. Karena ayah kandungmu adalah Tn. Baren."


Benar. Jika itu hanya sebuah mimpi, Nuri akan membiarkan saja. "Jay, aku lapar."


Jay langsung menggendong sang istri menuju meja makan. Arthur sudah menyiapkan makanan kesukaan Nuri.


"Nasi gorengnya enak, semua makanan ini enak sekali. Terima kasih, Arthur."


"Tentu, Nyonya. Senang melihat Anda kembali pulih dan banyak makan."


"Hahaha!" Jay tertawa.


Seperti dulu, saat ia tertawa adalah salah satu hal yang membuat Nuri bahagia. Tertawanya begitu renyah. Jika kematian Jay hanya mimpi, Nuri akan sangat bersyukur. Tidak ada hal lain yang ia inginkan, selain hidup bersama dengab cinta sejati. Jay yang mencintainya begitu tulus.


Di malam hari, setelah Jay menyelesaikan pekerjaan dari rumah. Ia akan menemani Nuri untuk menonton drama atau acara tv.


"Saat kamu bangun tadi, kamu menyebut Mark. Siapa dia? Apa selingkuhanmu dalam mimpi?"


"Bagaimana ya? Katakan aja apa adanya, atau mending diam dan menikmati momen berdua?"


Nuri tidak ingin membicarakan tentang mimpi aneh yang berlangsung begitu lama seperti kehidupan nyata.


"I love you... "


Jay mematikan lampu kamar, ia sangat merindukan sang istri. Mereka melewati malam panjang yang begitu romantis hingga pagi.


Nuri bangun terlambat. Tidak ada Jay di ranjang. "Kemana dia pagi-pagi gini?"

__ADS_1


Sejam kemudian, Arthur mengetuk pintu kamar Nuri. "Nyonya, Tuan mengalami kecelakaan."


Bahkan jika mimpi, kenapa ia selalu pergi lebih dulu? Bukankah dia pernah berjanji tidak akan meninggalkanku?"




"Jay, No!"



Nuri berteriak ketika bangun tidur, ia tidak menyadari kalau Mark menatapnya dengan tatapan cemburu. "Kamu pasti kepikiran dengan ulang tahun Jay ya sampai kebawa mimpi?"



"Maaf, Mark... "



"Nggak ada yang salah dengan mimpimu. Tenang aja, aku tidak terlalu cemburu."



Bohong. Mark sebenarnya cemburu, sejak Nuri berteriak memanggil nama Jay. Perasaannya tidak karuan.



"Untunglah, ketika aku bangun. Aku memilikimu, Mark." Nuri memeluk Mark, demi mencairkan suasana.



"Kita harus bersiap, ayo. Kamu mandi dulu sana."



"Sebentar... aku ingin memelukmu lagi. Kamu sangat wangi."



"Kamu mandi dulu.''




"Kamu terlihat seperti mahasiswa." Mark harus mengakui kalau sang istri memang awet muda.



"*Ah, gumawo*!" Nuri mencium pipi Mark.



"Kamu harus sarapan dulu." Mark sedang menyiapkan selai dan roti tawar untuk sang istri.



"*Saranghae*... "



"Permisi, Nona Barens apa yang sedang Anda lakukan dari tadi?"



"*Saranghae, saranghae, saranghae*."



Kali ini, Mark justru membalas dengan *finger heart*.



Mereka bertatapan dan tertawa dalam ledekan. Kadang tidak perlu bunga untuk mengutarakab perasaan. Saat mata saling memandang dengan tatapan cinta yang sama. Rasanya lebih indah dari ungkapan kasih sayang apapun.



"Ayolah jangan terus bercanda, Nona Barens." Mark tidak terlalu jenaka.


__ADS_1


"Humormu kayaknya kurang ya?" Nuri rasa pria pintar memang demikian. Setiap orang memiliki satu sisi yang tidak terlalu menyenangkan.



"Saat SMA, hanya aku satu-satunya di angkatan yang tidak tertawa melihat komedian yang mereka bilang sangat lucu."



Sebuah ingatan di masa lalu yang agak menyedihkan. Di acara wisuda sekolah, bintang tamu yang diundang adalah alumnus yang bernama Phill Bigs, seorang komedian terlucu di negaranya.



"Kamu tidak tertawa?" Vin menyikut bahu Mark. Ia masih tidak kuat menahan tawa dengan *jokes* Phill.



Lisa dengan teman-temannya tertawa lumayan keras.



Mark yang tidak terlalu suka dengan dunia komedi, humornya juga sangat kurang. Kakek Taylor benar, harusnya anak kecil tidak terlalu banyak membaca buku dan belajar.



Suasana begitu ramai dengan tertawa para penonton. Phill Bigs menyadari salah satu siswa tidak bisa tertawa dengan benar.



"Terkadang bukan humor kita yang kurang jika tidak bisa melihat kelucuan orang. Mungkin dia mempunyai luka yang dalam bukan?" Phill mengakhiri pertunjukan. Ia juga menerima banyak tepuk tangan meriah penonton.



"Terima kasih, Phill." Salah satu guru datang.



"Oh iya, anak lelaki yang berambut hitam itu. Apa dia tidak bisa tertawa? Apa dia membenci komedi?" Phill merasa sedih melihat seorang remaja yang tidak bebas tertawa.



"Dia murid terbaik di sekolah, Mark. Aku pikir dia tidak humoris, tapi dia sering tersenyum akhir-akhir ini."



Mark menghampiri Phill Bigs di dekat parkiram mobil.



"Anda sangat bagus, maaf aku tidak bisa tertawa seperti teman-teman yang lain. Orang tuaku mengalami kecelakaan mobil setelah menonton acara komedi."



"Bukan masalah, Nak. Di masa depan, kamu pasti akan bisa tertawa dengan bebas seperti mereka. Aku juga yakin, mendiang orang tuamu menyukai acara komedi."



Mark hanya tersenyum sama seperti di masa lalu.



"Nah kan, kamu susah tertawa!" Nuri agak kesal. "Tapi saat malam itu, kamu tertawa kan?"



"*I'm so sorry, Darling*."



Mendengar Mark mengucapkan perkataan setulus itu sambil memeluknya malu-malu. Bagaimana bisa ia tidak jatuh hati lagi setiap harinya dengan orang yang sama?



"\*I can't believe it, Mark."



"Why?"



"Falling in love again with you every single day."

__ADS_1



Bersambung\*...


__ADS_2