
"Bagaimana kabar Nuri?"
"Aku sangat mencemaskannya."
Chacha saat itu berharap ia salah mendengar. Di teras rumah Nuri, ia berdiri dengan membawa buah-buahan segar untuk keluarga keduanya.
"Mbak Lin, kenapa nggak ngomong? Mas juga nggak cerita apapun ke aku?"
"Kamu menghilang puluhan tahun, Siska. Tiba-tiba kamu datang dengan embel-embel mencemaskan anak yang kamu sudah buang. Secara hukum, Nuri adalah anak kami!"
Alur cerita yang tidak pernah ia pikirkan selama ini. Ia mengamati lebih dekat, bukan bertingkah tak beradab. Kebenaran yang sangat mengejutkan semua orang.
"Apa kamu pernah berpikir gimana gila Nuri kalau tahu siapa ayahnya? Kamu sudah siap?"
"Karena itu, aku datang, Mbak. Karena ayah kandungnya sudah meninggal, pengacara memintaku harus membawa Nuri dalam waktu sebulan. Ada sesuatu yang ayahnya berikan."
"Nuri... "
Chacha menahan mulutnya, ia mencoba untuk tidak bersuara tapi ia juga tidak merekam pembicaraan. Sesuatu yang akan meledekan Nuri suatu hari.
"Pernah nggak ayah kandungnya menelepon kami?"
"Nggak, Mas. Aku yang ngeblokir semua jalur komunikasi."
Chacha mengetuk pintu setelah setengah jam tepat menunggu suasana mereda. Kecanggungan, ketegangan dan raut kecewa dari mereka.
"Ya udah, Om, Tante, Chacha pamit ya. Assalamu'alaikum."
"Walaikumsalam..."
Begitu sampai di rumah, ia segera menarik suaminya. Mengunci pintu kamar mereka.
"Ada apa?"
"Han, ada sesuatu yang nggak pernah aku sangka. Sesuatu yang bisa meledekan Nuri suatu hari."
"Apa itu, Beb?"
"Nuri bukan adik kandungnya Bang Nanda."
Johan terkejut, tapi ia sudah memikirkan hal ini sejak lama. "Maaf, Beb. Aku sebenarnya dari dulu nggak pernah percaya kalau Nuri itu orang asli kampung ini loh."
"Maksdunya?"
Sama seperti kasus Raka, Johan juga sudah mencurigai Pak Hendri sejak lama. Kenapa orang asing begitu baik dan suka mengirimkan hadiah-hadiah mahal.
"Nuri itu jelas sekali blasteran, Beb. Aku aja orang awam paham, kamu lihat lagi deh. Coba kamu pikirkan kenapa om dan tante nggak ngasih tahu Nuri? Ada sesuatu yang mereka jaga selama ini."
Chacha menggertakan gigi, ia sedang galau. Sedang berpikir, semua ini pasti hanya halusinasi pendengarannya saja. Tapi ia juga melihat ekspresi wajah ibu kandung Nuri, sampai memohon minta ampun.
"Sebenarnya pas Bang Nanda abis nikah, aku nggak sengaja denger Om Toto keceplosan. Om Toto bilang, kalau Nuri gimana? Bisa cerita nggak kalau dia itu punya orang tua lain?"
Chacha juga menyadari betapa berbeda sahabatnya sejak sekolah.
"Inget pas adiknya Mba Cyntia bilang kalau Nuri itu mirip banget ya sama wanita Korea?"
"Hmm... bener si, rambut dia juga rada coklat. Aku cuma kawatir, dia akan terpukul. Setelah kehilangan Jay, Nuri berjuang keras untuk memikul sebagian beban Jay."
Johan merangkul istrinya. Ia tahu, Raka juga saat itu sangatlah marah, benci dan kecewa. Tapi perlahan waktu akan mengobati.
"Udah udah, sekarang waktunya untuk Joa."
"Nuri, lo harus kuat apapun badai yang akan datang. Gue dan yang lain selalu ada buat lo!"
Nuri tersenyum membaca pesan yang ia terima dari Chacha. Hal kecil yang mempunyai dampak. Dirinya semakin termotivasi untuk berjuang lebih keras lagi meski ia harus melewati banyak pelajaran di kelas. Harus beradaptasi dengan keras.
"Selamat kamu sudah menyelesaikan kelasnya. Kamu sudah berhasil." Athena mengantar Nuri ke rumah baru yang sudah keluarga Clarkson siapkan.
__ADS_1
"Athena, terima kasih banyak. Kamu sangat membantuku."
Athena memeluknya, mereka berpisah setelah menghabiskan makan siang.
"Jaga dirimu, kabari aku jika ada hal buruk. Aku pasti akan datang."
Nuri tersenyum dan melambaikan tangan. Hal terburuk yang ia alami adalah kehilangan Jay. Tidak ada yang lebih buruk lagi. Bahkan saat pertama datang ke kantor JJ Corp, semua mata memandangnya dengan hormat. Meski di toilet, beberapa membicarakan seberapa kompeten istri dari Jay.
"Lihatlah, dia bersembunyi di sayap Jack."
"Apa tidak berlebihan membiarkan seseorang yang tidak memiliki dasar untuk bergabung dengan kita?"
"Aku yakin bos kasihan karena dia janda."
Nuri bukanlah seseorang yang menangis di toilet dan membunyikan keran air untuk alibi.
"Aku rasa semua wanita menyukai warna lipstik baru Chanel." Nuri justru melakukan hal yang menantang, ia menebalkan warna lipstiknya di depan karyawan wanita yang membicarakannya.
"Memang aku tidak sekompeten Jay, tapi proyek Glooming adalah kerja kerasku sebelum masuk kantor. Ah, iya, sayap yang kalian bicarakan tadi, bahunya memang sangat luas. Semua wanita pasti menyukainya, apalagi janda?"
"JJ adalah hidupku, Nuri. Aku berjuang dengan Jack untuk membangun ini." Nuri mengingat jelas di masa lalu, Jay sering mengatakan JJ adalah perjuangannya.
Nuri berjalan dengan lebih berani di usia 30 tahun. Mengenakan sepatu berhak tinggi, *dress* mewah dan tas bermerek yang tak kalah mewahnya.
"Selamat pagi, Bu."
"Selamat pagi, Direktur."
"Selamat pagi, Ny. Jang."
Semua pelajaran yang diberikan oleh keluarga Clarkson sangatlah berguna. Perlahan, Nuri mulai masuk dalam lingkaran sosialita bersama Athena.
"Aku sudah mengirimi hadiah untukmu." Athena juga sering mengirimi desain terbaru dari rumah mode yang menjalin kerja sama.
"Andres, apa jadwalku hari ini?" Nuri menyalakan musik klasik kesukaan Jay begitu sampai di rumah.
__ADS_1
"Ada panggilan video konferensi dengan bos dan juga ulasan dari klien VVIP."
"Jadwal konsultasiku bagamana?"
"Dokter bilang akhir pekan."
Nuri mematikan panggilan, masih ada waktu setengah jam untuk merebahkan tubuhnya sebentar dan berganti pakaian lalu bersiap rapat video.
"Cha, lo nggak usah kawatir. Apa yang lo denger saat itu, gue udah dikasih tau kok."
Setelah mengirimi pesan untuk sahabat baiknya, Nuri meletakan ponselnya. Ia menatap foto Jay yang terpajang indah di dinding. "Jay, aku sekarang lebih sibuk dari kamu."
"Bohong banget kalau aku bilang nggak apa-apa, Jay. Aku sangat marah, kecewa dan hancur... "
Saat wanita yang mengaku sebagai ibu kandung datang dua minggu lalu bersama ibu yang merawatnya, Nuri sudah merasakan kejanggalan.
"Ya Tuhan, wajahnya sangat mirip denganku?"
Setelah menjelaskan panjang lebar, Nuri yang sudah sangat hancur hanya bisa diam dan tersenyum palsu menerima kenyataan bahwa ia ditinggalkan sejak bayi. Menyakitkan.
"Maafin Mami, Nuri."
"Kenapa Anda minta maaf? Bukankah orang buangan sepertiku memang pantas kan?"
Ibu Siska memohon dan berlutut, "Maafin Mami, Nuri. Kutuk Mami seperti yang kamu inginkan."
"Bangun," Nuri justru membantunya berdiri. "Ibu adalah ibuku. Aku nggak memanggil orang lain dengan sebutan sama, maaf."
"Nuri... "
Di acara pemakaman ayah kandung Nuri, ia disambut oleh empat kuasa hukum sang ayah.
"Selamat, Anda adalah putri yang beruntung mewarisi properti termahal di Eropa."
*Persetan.
Bersambung...
__ADS_1
\*Hi gaes, update rutin seminggu sekali ya. Btw, ini end S1, eps 65 udah masuk S2 ya. Jangan lupa berikan like, love and comment kalian ya. Kritik dan saran juga sangat membantuku. Saranghae*.\*