
"Loh kamu lembur Dik?" Ibu Nuri tidak sengaja berpapasan dengan Dika usai pengajian.
"Iya, Bu. Kerjaan Nanda lumayan banyak yang harus di handle."
Dika membawa mobil putih kesayangannya, Miyako. Nanda mewariskan setumpuk dokumen yang lumayan ribet.
"Kamu jadi lamaran?"
"Lagi bingung, Bu. Masih ngambang."
"Ngawur! Malah ngambang. Harusnya tuh yang tegas, mau lanjut apa serius."
Dika akan merenungkan apa yang ibu Nanda katakan. Setelah Chacha mengungkapkan perasaannya. Dika jadi kepikiran. Seperti halusinasi tapi kenyataan.
"Masa si? Apa menurut Chacha gue mirip Oppa kali ya."
Intan juga sudah menjelaskan alasan ia dekat lagi dengan mantan kekasihnya. Benci. Harusnya kalau sudah mantan, tidak ada drama balikan.
"Dik, beli soto sana." Ayah Dika yang baru pulang kantor lupa kalau pembantu di rumah pulang kampung. "Sama beli jus alpokat deh atau boba yang seger."
"Capek, Yah. Dika juga baru balik, lembur juga. Nggak cuma Ayah aja kali." Beginilah Dika, susah sekali di suruh tapi sering titip sesuatu.
Ibu Dika bekerja di luar negeri sebagai staf duta besar Indonesia di Taiwan. Harapan sang ibu adalah memiliki seorang menantu yang mampu mengurus Dika dengan benar.
"Lah kamu beli apaan tuh?" Ayah Dika mencium bau harum kuah seblak langsung mendekat. "Bagi dong, Ayah laper banget. Kamu jangan kurang ajar, cicilan mobilmu kan Ayah yang lunasi."
Akhirnya, ia membagi dua seblak porsi jumbo. Dika juga membagi lagi es boba yang ia beli di dekat kantor.
"Kamu jadi lamaran nggak si?"
"Ngambang ah, masi ragu Yah."
Sebenarnya, Ayah Dika juga kurang setuju dengan Intan. Tidak suka sejak awal bertemu.
Dika mendapatkan kiriman foto dari Nanda. Bukan iri, Dika sudah pernah juga liburan ke luar negeri walau hanya ke Singapura untuk melihat pameran lukisan.
"Lagi ngapain lo?" Dika menelepon Nanda.
"Gue abis audit dadakan, ada laporan yang salah. Lo jadi nitip apaan?"
"Gue penasaran di Prancis ada krupuk nggak si?" Dika masih rebahan sambil nonton drama. Tiba-tiba kepikiran krupuk dari negara lain.
"Repot, mendingan lo jalan ke warung Pak Sulam ada krupuk asli Ciamis."
"Bener kan dugaan lo. Chacha tuh emang suka gue." Dika masih merasa tidak enak hati, karena tidak peka dengan sahabat Nuri.
"Terus, lo mau gimana? Apa keputusan lo?"
"Ngambang."
Seharian ia sudah mengatakan kata yang sama dengan kalimat berbeda. Dika mulai memikirkan sebuah jalan.
"Ah, mendingan gue ngambang di kolam."
Dika langsung pergi ke kolam renang rumahnya, lumayan untuk melepas penat. Ada juga bebek raksasa hadiah dari Nuri yang setia menjaga kolam.
Jay agak malu saat bertemu dengan kakak Nuri. Bang Nanda ditemani Cyntia juga. Mereka hanya nongkrong di resto hotel.
"Jay, ini Bang Nanda." Nuri juga merasa malu saat melihat bos cantik kakaknya.
"Jay Jang Clarkson. Salam kenal."
"Nanda, ini Bu Cynntia, Bu Direktur." Bang Nanda juga tak lupa mengenalkan Cyntia.
"Halo, senangnya melihat kalian." Cyntia tertawa gemas melihat pasangan muda dengan visual yang memikat. "Aku pikir Jay mirip idol kpop ya?"
Ups. Cyntia melupakan kalau Nanda ada si sebelahnya.
"Ah, masa si Mba?'' Nuri terkekeh, ia juga merasa demikian.
"Beneran loh. Lihat tuh Nanda sampe heran."
"Nggak kok, Bu. Maaf, Jay harus merepotkan kamu nih nganter Nuri."
"Nggak masalah kok, Bang. Lagian kan, Nuri juga tanggung jawabku."
__ADS_1
Pernyataan seperti itu terlihat dewasa. Berbeda dengan seseorang di masa lalu yang sering Nuri jemput di depan gang.
"Jay fasih bahasa Indonesia. Kamu lama kerja di Indo, Jay?" Cyntia rasa, ia pernah melihat Jay di suatu tempat. Tapi lupa tempat apa dan kapan.
"Ritz Hotel Indonesia, aku cuma beberapa bulan aja. Kalau fasih, aku pernah ikut kelas bahasa Indonesia pas dulu."
"Kamu bekerja di hotel mahal? Apa jabatanmu, Jay?" Bang Nanda mulai selidik.
"Manajer," ucap Jay agak malu.
Cyntia benar, ingatannya mulai pulih. Pernah melihat Jay di hotel Ritz Jakarta. Jay sedang duduk dengan elegan memegang ipad.
"Aku pernah ke hotel itu untuk pertemuan. Wah, kamu keren juga masih muda."
Nuri merasa minder. Bang Nanda punya pekerjaan yang bagus, Jay apalagi. Cyntia sangat keren, sebagai direktur muda dan cantik. Ia menatap pilu dirinya, pekerjaannya hanya sebagai karyawan toko roti.
"Nuri juga keren," Jay mengalihkan topik.
"Apa yang kamu lakukan coba, Dek?"
"Aku cuma bantuin bungkus roti aja. Hehehe."
"Wah, nggak papa. Belajar sambil bekerja kan menguntungkan." Cyntia ikut mengomentari.
Nuri mengangguk pelan. Banyak hal baru yang ia pelajari, banyak orang baru yang ia temui. Berkat Jay, ada banyak kesempatan baru yang ia dapatkan.
"Ayah sama Ibu nggak titip jajanan. Hiks."
"Chacha udah bawa kok, Bang. Canda."
Mereka pamit. Jay hanya menebak dari laporan yang Cyntia tadi bawa, pasti sangat sibuk melakukan audit mendadak.
"Titip ya, Jay." Bang Nanda mengantar sampai lobi hotel.
"Oke,'' Jay pamit.
Nuri masih merindukan sang kakak, tapi apa daya. Ada sebuah hal mendesak yang membuat Bang Nanda lembur juga, ia juga tidak akan bisa membantu. Bidang pekerjaan mereka berbeda.
Selama perjalanan pulang. Jay tidak banyak bicara. Nuri pun hanya menguap karena ngantuk, dan terlelap.
Pagi hari.
Saat ia bangun, tidak ada suara ramai dari kedai kopi. Nuri mulai membuka matanya perlahan. Hal pertama yang ia sadari, ranjang tempatnya tidur berbeda. Lebih luas dan sangat nyaman.
"Dimana aku?"
Saat menyadari ini bukan kamarnya. Nuri langsung mengecek pakaian yang ia kenakan semalam.
__ADS_1
"Masih sama," ia mengelus dada.
Tok tok. Seseorang mengetuk pintu dan masuk. Bukan Jay, melainkan seorang pria tua dengan tuksedo biru dongker. Arthur.
"*Mr. Jay want you to breakfast. Please take a bath first and meet him at dining room*."
"*Ah, okay. Thank you*."
Begitu Arthur pergi, Nuri langsung mengunci pintu. Ia bergegas mandi.
"Wow, gila!" Kamar mandi yang luas dan mewah.
*Bath tub* yang mungkin ia pertama lihat secara nyata bukan di drama. Wangi lilin aromaterapi yang berjajar.
*Menyenangkan. Ini pertama kalinya, gue pikir cuma selebritis yang dapat menikmati kemewahan mandi kaya gini. Jay memang punya kelas yang berbeda*.
Setengah jam berlalu. Nuri melihat di sofa kamar, ada setelan baju wanita dari rumah mode terkenal.
"Gila, ini beneran Prad\*?" Ia ingin memastikan lagi, mungkin salah lihat. "Wow, enaknya jadi kekasih sultan!"
Jay naik ke lantai atas. Pintunya terbuka. Ia beridiri di dekat pintu. Mungkin seperti adegan sinetron, ketika melihat Nuri berjoged girang. Ada perasaan bahagia yang baru pernah ia alami.
"*Ini cuma pakaian, kenapa dia senang sekali*?"
Jay tidak bisa membayangkan, jika Nuri bertemu Nenek Hwang. Mungkin ia akan pingsan karena tidak percaya dengan hadiah perkenalan yang sangat mahal. Bukan sesuatu yang banyak orang punya.
"Apa kamu suka?"
Nuri kaget dan juga malu. Dia sedang menari girang berlagak seperti anggota *girl band*.
Setelan rok panjang dengan outer senada. Sangat imut untuk gadis sepertinya.
"Terima kasih, Jay. Aku baru pertama pakai baju semahal ini. Hehehe." Nuri hanya tertawa, bahagia karena sebagian mimpinya terpenuhi.
"Ayo kita makan." Jay menggandeng tangan Nuri. "Aku lapar."
Untuk seseorang yang sangat berharga. Jay belajar bagaimana mencintai dengan cara yang berbeda. Bohong, kalau ia tidak memiliki nafsu sebagai pria dewasa. Tapi, Jay masih bermoral. Ajaran keluarganya sangat berguna di masa tua.
"Dengar Jay, aku baru tidur dengan istriku setelah menikah resmi. Pengendalian diri yang baik pasti juga akan membantumu. Mencintai seseorang bukan berarti melampiaskan semua nafsu birahi kita. Ada batasan dari cinta, hormati juga pasangan kita." Nasihat dari kakak sepupu Jay yang sudah menikah lima tahun lalu.
Begitu melihat menu sarapan yang sangat mewah. Nuri ingin sekali melahap semua makanan, tapi kapasitas lambungnya terbatas.
"Dasar babi gemuk!"
Nuri tersedak begitu mendengar suara Lusi yang mengacaukan nafsu makannya.
"*Arthur, take her out*!"
__ADS_1
*Bersambung*...