Super Rich Bae

Super Rich Bae
Part 46


__ADS_3

"Kamu bahagia sekali ya?"


Jay hanya tersenyum. Setelah menikah, ada rasa yang berbeda. Cara Nuri menatap Jay lebih romantis daripada saat mereka di Paris.


"Aku yakin ini pasti alasan kenapa banyak orang ingin menikah."


"Ayo, masuk. Kamu harus mandi lalu makan kan?" Nuri membawakan tas tangan mahal milik Jay. "Aku yakin Hana nggak akan dikeluarkan."


"Dia hanya menjalani skorsing. Aku cuma kaget, Hana punya pacar."


"Kamu, aku juga pasti dulu pas SMA punya pacar kan?" Nuri meledek Jay.


Jay tidak ingin membahas masa sekolahnya. Dia dulu sangat populer. Mungkin, semua orang mengenalnya dan Louis.


"Apa kamu memberitahu Louis kita sudah menikah?"


"Tentu. Dia kan teman baikku."


"Tututu... orang yang sangat baik." Nuri mengelus pucuk kepala Jay. Bisa hidup bersama dengan Jay adalah sebuah pilihan yang indah. Nuri tidak akan menyesalinya.


"Aku akan mandi dulu. Kamu tunggu ya?"


"Hmm."


Setelah mengantar Jay ke depan pintu kamar mandi. Nuri memutuskan untuk tetap berbaring di ranjang. Sudah beberapa hari, ia tidak menonton drama Korea.


"Gara-gara Chacha spoiler nih, gue jadi kepikiran."


"Duhh, sedihnya... "


Beragam ekspresi Nuri mulai dari geram karena emosi, sedih karena adegan anak-ibu. Dan yang terakhir, ia melihat adegan romantis di dapur.


"Kaya gue dulu sama Jay pas masak nih." Tertawa dan juga malu, ia kembali memikirkan masa awal hubungan mereka yang dipenuhi intrik lucu.


Mendengar kisah cinta manis Hana di masa sekolah, Nuri jadi penasaran seperti apa masa sekolah sang suami.


"Jay Jang?"


"Jay Jang? Bukannya kamu harus mulai panggil suamiku?" Jay melirik, ia memasang wajah sebal tapi imut.


"Aku masih nggak percaya kalau ini beneran. Fakta bahwa kita sudah menikah."


Jay dulu sempat berpikir untuk tidak menikah. Tapi semenjak bertemu dengan Nuri, pandangannya tentang pernikahan berubah. Ada sebuah ikatan yang lebih kuat dari biasanya.


"Kamu keterlaluan, Jay!" Louis marah ketika mendapatkan kabar pernikahan sederhana Jay. "Ah, kamu bahkan nggak mengadakan acara pernikahan. Bagaimana ini?"


"Kelihatannya kamu yang kecewa. Aku akan mengadakan acara resepsi pribadi, ya hanya mengundang beberapa keluarga, kolega dan teman."


Jay terus meyakinkan sahabat baiknya tentang acara resepsi pernikahan bulan depan. Louis memang sedih karena tidak datang di hari bahagia Jay. Tapi itu tidak masalah, teman tetaplah teman. Tidak ada yang berubah. Begitulah cara mereka berteman.


"Aku liat ekspresi Raka kaya depresi. Apa dia masih menghubungimu?" Jay penasaran, dia memang kepikiran soal Raka. Mantan kekasih sang istri yang tertekan.


"Nggak. Raka malah kasi selamat. Ya kalau depresi atau enggak ya aku kurang tau. Kan itu urusan hati Raka."


"Terkadang aku sadar, kamu semakin dewasa ketika menikah."


Pujian yang membuat Nuri agak salah tingkah. Ia menutup wajahnya dengan bantal. Beberapa hari menghabiskan waktu bersama sampai pagi dengan Jay, membuatnya merasakan banyak hal.


"Kamu masih pasang foto kunci layar pakai foto dia?" Jay agak sedih, ia meniup poni rambutnya. Terurai sempurna bak adegan drama.


"Ahh, astaga! Aku masih pake foto Kim Taehyung nih. Maaf, Jay." Nuri merangkul sang suami. "Aku akan ganti langsung fotonya."


"Nggak perlu. Aku nggak akan memaksamu untuk berhenti jadi seorang fan. Cuma, tolong lihat aku saja malam ini." Jay memeluk Nuri.


"Hmm... "


Jay mematikan lampu kamar. Waktunya untuk mereka tidur dan melewati malam romantis hingga subuh.




"Apa yang kamu pikirkan?" Nuri mendekati Hana. Hana tampak melamun. Masalahnya dengan sekolah sudah selesai. "Ada apa?"


__ADS_1


"Hmm, hanya sesuatu. Aku terkadang kangen dengan Hans. Tapi sepertinya dia juga sedang introspeksi diri sepertiku.''



"Kamu sudah menelepon Hans?"



"Aku takut. Aku takut kalau akan mengacaukan waktu istirahat Hans."



Terserah. Nuri hanya membiarkan Hana untuk duduk di ruang tengah. Mungkin, di usianya lebih baik untuk merenungkan dulu perbuatan kecil. Tidak usah memaksa menjadi dewasa karena hidup jauh dari orang tua.



"Ngapain ya? Kangen kafe nih." Nuri melihat postingan instagram kafe mereka. Masih ramai lancar seperti biasa. Om Toto juga bekerja di dapur kafe. Setidaknya keahlian memasaknya bisa berguna.



Nuri iseng, ia menelepon sang kakak. Sudah lama tidak saling bergurau atau menyapa. Bang Nanda sudah menjadi seorang suami. Tapi statusnya tetap abadi sebagai kakak kandung Nuri.



"Bang, lagi ngapain nih?"



"Jelas baru pulang kantor nih. Kamu dan Jay sehat kan?"



"Alhamdulillah, Bang. Mba Cyn gimana kabar nih?"



"Syukurlah. Cyntia lagi ke Singapura sama Dewa, nenek mereka sakit. Aku udah jenguk minggu lalu."




Setelah mendengar suara sang kakak, hati Nuri menjadi terasa bahagia. Berbagi kabar selalu menyisakan dua kesimpulan. Kabar bahagia atau kabar sedih. Tidak mudah untuk berpura-pura baik-baik saja ketika menyembunyikan luka.



"Jay?" Nuri baru sadar, Jay belum bangun sejak siang.



"Sayang?"



Jay masih tidur lelap. Dia sangat lelah karena menyelesaikan masalah Hana membuatnya harus bertemu dengan mantan kepala sekolahnya semasa sekolah. Yang lebih melelahkan adalah mengikuti ajakan beliau untuk pacuan kuda.



"Kamu sangat baik, Jay." Nuri mengelus pipi suaminya.



"Terima... kasih... " Jay memegang tangan Nuri. Dia masih mengantuk, tapi melihat sang istri yang menatapnya penuh cinta.



"Ayo, bangun. Kamu belum makan kan?"



"Hmm... belum."



Nuri gemas sekali melihat wajah Jay yang imut ketika bertingkah manja.

__ADS_1



"Aku rasa kamu semakin manja, Jay Jang?"



"Bukan perasaanmu saja, aku juga merasakan hal sama." Jay tersenyum licik, sifat aslinya ketika di rumah sudah ketahuan semenjak menikah.



Jay beranjak sejenak dari ranjang, ia hanya mencuci muka dan menggosok gigi. Tidak lupa, menyemprot parfum kesukaan Nuri.



"Kenapa ya orang sekarang mudah sekali terbawa perasaan?"



Jay belum menanggapi, ia justru mendekap erat sang istri. Mencium pundak istrinya berulang kali.



"Mungkin karena orang sekarang terlalu percaya diri, ah dia menyukaiku, postingan dia untukku. Nyatanya nggak, kadang orang sering menutupi fakta yang mereka sudah ketahui."



"Kalau kata Chacha, orang kan ngetiknya pake jari kenapa kita harus bacanya dengan hati?"



Jay tertawa kecil. Terkadang berdiskusi hal-hal sepele menyenangkan. Nuri tidak pernah bertanya dengan bisnisnya semenjak Jay sudah jujur dalam segala hal.



"Kamu mau pergi ke restoran dekat sini nggak?"



"Makan malam romantis?"



Jay menyentil dahi Nuri. Mungkin karena terlalu banyak nonton drama, Nuri sering mengatakan hal yang membuat Jay geli.



"Aku akan menunjukkan sesuatu sebelum makan malam." Jay sangat antusias, ia menarik Nuri untuk pergi.



Mereka tiba di sebuah gedung yang lumayan besar. Gelanggang es untuk olahraga hoki.



"Memangnya kamu suka main hoki?"



Jay sudah berganti pakaian. Aura yang terpanfar bak atlet tampan. Jay mengenakan seragam tim hoki.



"Aku suka main hoki, skating dan aku juga suka sekali dengan istriku! Aku menunggu kue buatannya!" Jay berteriak. Beberapa orang melihat ke arah Nuri.



"*Aku juga sangat mencintai suamiku, Jay Jang."



Bersambung....



\*Extra\*

__ADS_1


Jangan lupa berikan like and vote ya readers biar semangat update nihh, thx.🤗*


__ADS_2