Super Rich Bae

Super Rich Bae
Part 44


__ADS_3

Jangan lupa berikan like dan vote kalian ya guys, lav you~



Usia dua puluh delapan.



Raka sedang tenggelam dengan pikirannya sendiri. Banyak hal di usia dua puluh delapan tahun. Banyak rencana yang belum terlaksana.



"Ah, temen-temen gue udah pada merit. Nuri, Chacha, Johan. Tinggal Candra doang ama gue."



Keputusan Nuri untuk menikah dengan Jay tidak salah. Yang salah adalah Raka di masa lalu. Kenapa orang moderen berpikiran sempit? Cuma karena masalah weton?



"Kesel banget asli." Raka meninju guling di kamarnya. Tidak ada samsak pelepas amarah.



"Ka, Papi masuk ya?" Papi Hendri langsung masuk, ia ingin memastikan anak lelaki semata wayangnya apakah masih trauma.



"Kok kamu masih kesel gini ditinggal mantan menikah?"



"Ya, kesel. Papi nggak tau betapa baik Nuri ke Raka jaman Raka masih miskin. Nuri selalu jemput aku di depan gang, Pi."



Papi Hendri sudah mendengar banyak cerita tentang Nuri, mereka juga pernah mengobrol. "Ka, Papi pikir kamu harus mulai move on. Coba kenalan dengan orang yang baru, pendekatan gitu."



"Banyak yang sering DM tapi males ah, Pi. Mereka naksir karena tau kaya doang, nggak menemani jaman merintis."



Malas berdebat. Papi Hendri tidak ingin melanjutkan percakapan. Raka selalu begitu, sering membandingkan orang baru dengan Nuri. Padahal, Nuri sudah tidak menyimpan rasa untuk Raka.



"Nuri, emang udah nggak suka sama Raka? Maaf ya Om tanya kaya gini." Papi Hendri pernah bertanya dengan Nuri tahun lalu.



"Maaf, Om. Nuri cuma anggap Raka sebagai teman baik, sama kaya Chacha dan Candra. Nuri juga masih menunggu Jay."



"Baiklah, Nuri. Om udah paham."



Untuk beberapa orang berpaling bukan hal yang mudah. Mereka harus kembali membuka diri, mencoba melakukan pendekatan dari hal-hal kecil.



Raka membuat dirinya sibuk di kafe, sering ia memilih pulang hingga tutup kafe.


__ADS_1


"Pak Raka belum pulang?"



Raka yang sedang duduk di dekat dapur lumayan terkejut, ia mengantuk. "Eh, ini jam berapa ya?"



"Jam 12 Pak, saya juga mau langsung ke mes karyawan nih."



Raka baru menyadari kalau gadis muda pekerja keras itu memiliki sisi yang berani. "Kamu kok sering lembur?"



Karyawan kafe yang sedang berbincang dengan Raka bernama Asty, dia adalah adik sepupu juru masak kafe. "Nyibukin diri aja, Pak."



"Anak lain seumuran kamu pasti seneng tuh main sama pacaran."



Asty tertawa. Sebenarnya, ia merantau ke Jakarta karena ingin melupakan kenangan pahit. Patah hati berat yang ia alami.



"Nggak semuanya, Pak. Aku harus menyibukan diri biar lupa sekalian." Asty selalu tersenyum, senyuman palsu yang selalu ia jadikan tameng.



"Oh, patah hati atau gimana nih?"



"Hm, bisa dibilang begitu. Tapi mungkin bukan jodoh aja kali ya?"




"Lo keliatannya kaya mayat hidup, Ka?" Candra merangkul sahabatnya. "Ngopi yuk!"



"Ya, oke."



Mereka memilih tempat di kedai kopi mewah di kawasan Jakarta. Banyak selebritis maupun selebgram yang juga datang menikmati kopi sembari nongkrong dengan kolega.



"Dulu gue sama Johan pas di kampung pengin banget tuh ketemu artis. Sekarang udah di Jakarta sering ketemu artis di kafe juga biasa aja."



"Ya gitulah manusia, Ka. Kalau udah terpenuhi ya udah jadi hal wajar si, kaya udah biasa aja. Apalagi di usia kaya kita."



"Lo bener, Bro. Gue kayaknya masih terbayang karena belum sepenuhnya ikhlas aja."



"Bukan tentang ikhlas atau belum, lo cuma masih sering mengenang aja kenangan kalian di masa lalu."

__ADS_1



Kehidupan setelah pernikahan tidak banyak yang berubah. Chacha masih tetap menonton drama Korea, menyukai penyanyi idolanya. Bahkan, ia dan Nuri berencana untuk liburan ke Korea. Niatnya untuk menonton konser boy band kesukaan mereka. Namun, Johan menangkap basah rencana mereka.


"Beb, kamu masih mau ke Korea?" Johan agak kesal.


"Yang, Nuri kan udah nikah. Gimana kalau kamu juga ikutan?" Chacha merajuk manja, jarang sekali ia bertingkah sok imut.


"Helo, kita beda fandom. Gawat kalau nanti war."


Johan menghasilkan banyak uang, tapi ia mempunyai tujuan lain. Uang tabungannya untuk berangkat umroh orang tuanya terlebih dahulu. Sebuah bakti dari seorang anak lelaki.


"Apa uang buat umroh bapak sama ibu udah kumpul, Yang?"


"Kurang dikit, Beb. Ini janji aku dulu ke mereka."


Chacha terharu. Menikah dengan Johan adalah pilihan yang tepat. Keputusan yang tak akan ia sesali. Di balik sikap seenak diri, Johan terkadang jauh lebih dewasa darinya.


"Kamu udah nelepon Nuri belom tuh? Tanyain gimana tuh malam pertama mereka?" Johan menahan tawa.


"Aha, kata Nuri si cuma mantap banget. Nggak tau kalau kata Jay." Chacha juga tertawa kecil, sebenarnya Nuri sudah banyak bertanya tentang malam pertama. Rahasia sesama wanita yang sudah menikah.


"Aku yakin si Nuri lebih bahaya daripada Jay. Jay kaya anak manja yang polos aja si. Hahaha."


Benar juga, Chacha sudah mendapat pesan curhatan dari Nuri tentang Jay. Jay lebih polos dari mereka.


"Raka masih kelihatan depresi gitu?"


"Ini salah dia sendiri. Ngapain dulu dia percaya weton sama wejangan Mbah Sosro. Asal kamu tau Beb, Mbah Sosro belum bisa nangkep dedemit."


"Hahaha!"


Lelah mereka bekerja di kafe terbayarkan berkqt canda tawa. Banyak hal yang mereka ceritakan. Johan tidak pernah membahas masa lalu, dia adalah orang realistis yang sangat santai.


"Beb... " Johan memeluk sang istri.


"Iya."


"Masak dong mie goreng kek, aku laper nih."


Chacha beranjak dari ranjang. Tapi, ponselnya berdering. Panggilan video masuk dari sahabatnya, Nuri.


"Woy, istri Jay!"


"Hei, lagi ngapain lo sama Johan?" Nuri tidak percaya mereka memakai piyama pasangan.


"Lagi dimana lo, Ri?"


"Gue di kamar nih. Hahaha!"


"Kok lo nggak sama suami lo?"


Nuri memasang wajah cemberut. "Dia lagi ngurusin adeknya. Ada sedikit masalah di asrama. Ni gue lagi di Swiss, Cha."


"Waw!" Johan tepuk tangan ceria. Kamar mereka begitu elegan dan mewah. "Lo tidur di ranjang kayak gitu? Pega nggak lo?"


"Mau nitip coklat Swiss nggak, Cha? Gue nggak pega, gue pegel Han."


Mereka tertawa. Meskipun sudah memiliki pasangan, persahabatan mereka tetap indah. Tidak ada jarak di antara sahabat.


"Kamu udah liat kan, Beb? Nuri bahagia sama Jay, itu alasanku bilang ke Raka buat mencari pengganti Nuri."


"Katanya si Raka sering ngobrol berduaan sama Asty, sepupunya Chef Bima."


Johan juga tahu. Dia bahkan sudah mendorong Raka untuk maju dalam pendekatan.


"Gimana kalau kita yang maju duluan, Beb?"

__ADS_1


Johan mematikan lampu kamar.


Bersambung...


__ADS_2