
"Feels like... I see you in my dream."
Nuri pernah menonton sebuah drama romantis tentang pasangan yang berpisah kembali bertemu. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia yang sangat luas. Banyak kemungkinan kecil dan harapan yang menjadi kenyataan.
"Sekarang kafe kita udah viral, berkat lo semua gaes!" Raka sebagai investor terbanyak atau bisa dibilang pemilik.
"Yoi, gaes!" jawab Candra semangat.
Mereka yang dulu hanya iseng membuat kafe dengan bantuan Papi Raka, tidak menyangka akan sukses. Berkat kerja keras dan giatnya promosi.
"Berkat gue juga kali," ada seseorang yang datang dengan wajah kusut karena begadang.
"Lo kalau nggak gue suruh kerja, bisa jadi pengangguran lo!" Raka tidak ingin terlalu marah di pagi hari.
"Han, lo nggak tidur lagi ya?"
"Nggak, gue nonton drama ama anime."
Johan memang belum lama bekerja, tapi dampak visualnya tidak diragukan lagi. Seorang mantan pegawai bank dengan pengikut ratusan ribu. Selebgram namun jarang menerima endorse.
"Han, lo bisa nggak usah kepedean?"
"Gue kan bicara kenyataan." Johan selain pandai membanggakan tampangnya sendiri, dia adalah orang yang realitis.
Chacha tidak bisa berkomentar banyak mengenai suaminya.
"Bisa-bisanya dia jadi ipar gue si?" Candra masih dengan hobi yang sama namun tempat berbeda.
Semua serba kebetulan. Tidak ada yang tahu tentang jodoh. Chacha sudah menyerah tentang perasaannya di masa lalu dengan Mas Dika.
"Apa alasan lo nikah sama Johan, Cha?" Nuri hanya penasaran.
Sambi tersenyum manis, Chacha juga membuatkan minuman kesukaan suaminya. Teh madu hangat. "Nggak ada yang tau, Beb. Gue juga nggak pernah menyangka kalau Johan adalah jodoh gue kan?"
"Bohong, dulu awal Raka ngasi liat foto Johan juga lo udah excited. Apa karena dia mirip bias lo?" Nuri hanya ingat betapa gila seorang Chacha mengoleksi serba-serbi kpop.
Senang rasanya melihat teman baik dalam hidup sudah menikah. Nuri dan Jay dulu pernah berjanji satu hal, tidak akan berpisah. Bahkan hanya tinggal satu langkah menuju jenjang lebih serius. Tapi, sekali lagi, takdir selalu punya caranya sendiri. Berpisah adalah kenyataan.
Perlahan, Nuri semakin sibuk. Memang tujuan hidupnya adalah menyibukan diri. Ilmu yang di dapat dari kelas pelatihan Chef Eric sangat bermanfaat. Meski sering sesak nafas menahan pilu setiap kali ingatan tentang hari-hari dia mulai menyerah di Paris. Jay adalah cahaya bagi Nuri, penolong yang lebih keren dari super hero.
"Apa lo udah siap buat buka hati?" Raka masih dengan gigih mendekati Nuri. "Lo harus buka hati buat orang lain kan?''
Meski pernah menyakitinya di masa lalu, Raka memiliki sebuah alasan dan jujur. Nuri masih ingin mempertahankan posisi Jay, karena ia yakin Jay tidak akan berpaling ke gadis lain.
"Maaf, Ka. Perasaan gue masih utuh buat Jay."
Raka juga memahami. Kadang ia juga ingin menyerah untuk berjuang, tapi Jay belum kembali. Masih ada celah untuk masuk kembali ke hati sang mantan kekasih.
"Oke, Ri. Nggak masalah, intinya gue seneng lo masih jadi temen gue kok." Raka tersenyum puas, ia juga harus mengurus banyak hal. Sibuk.
"Makasih ya, Ka."
__ADS_1
Tidak masalah badai yang menghadang dalam hidupnya. Nuri selalu percaya pasti ada pelangi indah. Tuhan mendewasakan seseorang dengan caranya sendiri.
"Jay, kamu dimana?"
Hanya dengan mengingat namanya, mencium bau parfum yang sama semua akan membaik. Semua hal tentang Jay adalah indah.
"Lo pernah kiss sama Jay?" Chacha pernah bertanya blak-blakan.
"Belum, Cha. Bagi gue dan Jay, pelukan dan saling bertatapan tanpa banyak tanya itu jauh lebih indah." Benar, terkadang cinta yang lebih murni akan terasa indah. Nuri yakin tidak mudah Jay mengendalikan hasratnya di masa lalu. "Apa karena itu dia juga pergi?"
"Gue yakin dia punya alasan sendiri, mungkin belum saatnya Jay bilang."
Chacha harus mengakui, Jay adalah tipe pria langka di bumi. Tidak banyak orang dengan pemikiran yang sama. Cara Jay menghargai kekasihnya. Cerita dari Lusi juga menguatkan, Jay bahkan tidak pernah berani mengajak seorang gadis untuk naik ke ranjangnya. Berbeda dari kisah cinta yang penuh hasrat.
"Karena menurut gue, Jay adalah seseorang yang langka. Dia nggak akan membebani lo. Kan Lusi dulu bilang, keluarga dari ayah Jay itu keluarga kaya yang terkenal di Eropa kan?"
Terlalu rumit. Jay dulu tidak sering membahas keluarga besar dari ayahnya. Yang sering ia bahas adalah keluarga dari ibunya, Celine Jang. Sayangnya, ibu Jay tidak mempunyai sosial media.
Nuri dan Chacha pergi menuju lantai bawah kafe. Pengunjung selalu padat, apalagi antrian di lantai dua yang membuat Nuri terkadang merangkap sebagai kasir dadakan.
"Mbak, mukanya kok kaya artis Korea si?" tanya seorang pelanggan.
"Tapi aku orang Indonesia kok. Hehehe." Sudah biasa menanggapi ledekan para pelanggan yang kemungkinan kpopers. Nuri sangat santai dan sering sekali tersenyum.
Lusi masuk ke kamar Saki. Masih dengan aura malas untuk bangun tidur di awal pagi. Mereka sudah bertunangan bulan lalu.
Saki enggan untuk bangun, justru bergulang kesana kemari. Sengaja. Selalu membuat tunangannya kesal di pagi hari.
"Kamu mau jadi larva?"
"Hmm.... "
Semakin menjengkelkan. Kali ini, ia menutup wajahnya dengan selimut tebal. Cuaca lumayan dingin.
"Terus berulah, membuatku jengkel di pagi hari. Apa kamu nggak lapar?" Lusi membawakan nampan berisi roti susu dan kopi hitam. "Ini kesukaanmu."
__ADS_1
Setelah pulang dan bertunangan. Saki tidak sebebas di masa lalu. "Aku lapar, tapi belum sikat gigi."
"Jadi ini alasan kamu menutup wajah begitu?'' Lusi baru menyadari sisi menggemaskan Saki. "Bangun, sikat gigi dan sarapan."
Masih dengan tingkah yang aneh, Saki melompat dan menuju kamar mandi. Butuh tujuh menit untuk sikat gigi dan mencuci wajahnya. Segar dan wangi.
"Terima kasih sudah mengurusku." Saki mencium kening Lusi.
"Hmm, terima kasih juga telah menangkapku di masa lalu."
Kedekatan mereka terjalin intens usai Nuri kembali. Awalnya hanya teman berbagi cerita yang sering bertengkar karena sikap Lusi yang lumayan menyebalkan.
"Apa Jay belum mengabari kalian?"
"Belum, Eva dan Louis juga bingung mau tanya ke siapa. Orang tua Jay termasuk orang yang sangat sulit untuk ditemui."
Saki sebagai teman Nuri, hanya merasa sedih. Dua orang yang menurutnya sangat cocok bersama. Orang sekitar toko juga menandai mereka sebagai pasangan romantis.
"Aneh, aku yakin pasti Jay sedang melakukan sesuatu. Tidak boleh ada yang menganggu."
Lusi sebagai mantan kekasih Jay sedikit mengerti. Jay adalah tipe pekerja aktif, tidak paham dengan lingkup bisnis keluarga Jay. Yang ia tahu sebatas kedua kakek Jay termasuk orang kaya. Kakek dari ayah Jay adalah orang terkaya nomor tiga di Eropa, sedangkan kakek dari ibunya adalah pengusaha sukses di Korea Selatan termasuk jajaran orang terkaya.
"Ah, semua keluarganya kaya. Tidak ada orang miskin dalam silsalah." Lusi mengeluh sebal.
"Aku juga kaya kan?"
__ADS_1
Benar. Tunangannya juga orang kaya yang menyamar sebagai pelayan kafe.