
Bagian terbaik dalam hidupnya sekarang adalah mengenal Nuri. Banyak yang sering penasaran dengan inisial "N".
"Mommy yakin itu pasti untuk Nuri kan?"
"Mommy benar."
Pemuda keturunan Asia berusia 28 tahun lebih itu sangat dekat dengan ibunya. Jay lebih nyaman menceritakan masalah dengan ibunya daripada temannya, Louis.
"Jay, bulan depan Mommy mau jengukin kamu." Sudah hampir delapan bulan mereka tidak bertemu tatap muka. Celine juga merindukan putra semata wayangnya.
"Aku boleh minta tolong nggak. Mommy nggak usah bawain baju, lemariku udah penuh."
"Hahaha. Maaf ya, aku sering gemas melihat koleksi pria. Postur tubuh Daddy tidak sebagus kamu, Nak." Benar, suaminya tidak setinggi Jay, terkadang gen ibu lebih kuat.
"Beli aja koleksi wanita buat Nuri."
Undangan untuk datang ke acara fashion week, Jay belum sempat mengatakan kepada Nuri. Semakin hari, pekerjaan di hotel semakin menumpuk. Belum lagi, jika ada acara besar. Rasanya Jay ingin sekali menganggur tapi punya uang.
"Gimana ya rasanya nganggur sebulan?" Jay mengeluh dengan cermin besar di depan kamar mandi. Ia melepas piyama mahal pemberian Neneknya.
Ada sebuah tato yang tidak orang ketahui di pundak sebelah kanan Jay. Dulu, ia harus ribut dengan Mommy demi mendapat ijin satu tato. Bahkan Mommy Jay sampai memantau sendiri, memastikan setiap prosesnya steril.
Dulu, dia hanya penasaran. Tapi Jay berniat untuk menghapus tatonya sebelum menikah. Janji yang ia buat dengan dirinya sendiri.
"Tuan sudah mau berangkat?" Arthur, kepala koki dan juga yang merawat Jay sejak kecil selalu membantu persiapan Jay sebelum berangkat.
"Ada sesuatu?" Jay dapat membaca ekspresi wajah Arthur.
"Kemarin ada perwakilan dari UniBank datang untuk mengundang Anda."
"Mereka sudah dua kali mengantarkan undangan langsung?" Jay tidak dapat lagi menutupi. Dia tidak berhutang, hanya merupakan klien VVIP. Kakeknya mendaftarkan semua aset Jay, termasuk tabungan Jay kecil yang nominalnya fantastis.
"Anda juga mendapat angpao lagi dari Nenek Hwang."
Jay tersenyum sinis. Nenek Hwang bukanlah keluarganya, tapi rasa sayangnya kepada Jay bukan main. Sekali beliau mengirim angpao, nominalnya cukup untuk hidup Jay selama sepuluh tahun.
"Aku akan mengatur pertemuan dengan Nenek terlebih dulu."
Mana ia tahu, saat membantu Nenek Hwang, dia akan membalas kebaikan Jay. Hal sepele yang mungkin semua orang dapat lakukan, tapi tidak semua orang mau menolongnya.
"Nenek, ayo kita bertemu untuk makan." Jay menelepon Nenek Hwang, yang sudah ia anggap seperti Nenek sendirinya. Nenek kandung Jay sudah meninggal sejak ia kecil. Yang ia punya hanya nenek tiri dengan usia muda.
"Hm, kamu pasti senang kan? Nenek harap kamu membawa pacarmu kali ini." Nenek Hwang, bukanlah orang bisa. Dia adalah salah satu wanita terkaya di Hong Kong.
"Mommy and Daddy, ingin berterima kasih juga untuk hadiah natal."
Bukan hal sepele, Nenek Hwang memberikan sebuah vila mewah di pulau Bali untuk orang tua Jay. Sebuah rasa terima kasih yang sangat mewah.
Jay belum menceritakan soal neneknya kepada Nuri. Ia ingin mengenalkan mereka secara langsung. Meski terlihat galak, Nuri tidak akan terkena mental break hanya karena dibentak.
Bekerja di hotel hanya untuk menutupi sesuatu. Jay adalah seorang yang ahli dalam bidang investasi, bahkan CEO hotel tempatnya bekerja sering meminta saran investasi dari Jay.
"Kamu mau jadi manajer? Gaji bulanan hotel kami tidak sebanding dengan penghasilan bulananmu, Jay."
"Percayalah, aku bisa memberikan saran juga demi kemajuan hotel." Jay tersenyum. Sebenarnya, ia hanya ingin menghindar dari Kakeknya, Tuan Clarkson.
__ADS_1
Jay juga sudah mendengar kalau keluarga Mommy di Seoul, sudah memutuskan tentang pembagian harta warisan. Surat wasiat juga sudah dibacakan oleh kuasa hukum keluarga. Celine Jang, mendapatkan hotel sedangkan kakaknya, mendapatkan sesuatu yang lebih besar. Perusahaan furnitur dan perusahaan rekaman.
Celine tidak kesal hanya mendapatkan dua hotel, meski suaminya sering mengatakan kalau perusahaan furnitur mereka adalah yang terbaik di Korea.
"Sayang, udah jangan marah." Celine mencoba menenangkan amarah suaminya. Kakaknya, Jang Suman sering mengatakan candaan yang menyakiti hati adik ipar.
"Kakakmu memang begitu. Dia pasti mendapatkan hati Ayah karena jokes garing."
Jay hanya tertawa, Mommy memang sengaja video call ketika ada saja yang membuat ayahnya marah. Sebenarnya, Jay sering iri dengan Nuri. Nuri bahagia hidup sederhana. Keluarganya juga damai. Tidak pernah ada sengketa warisan.
Chef Eric menyambut kedatangan teman-teman Nuri. Ia membuatkan kue spesial dengan lapis emas.
"Wah, akhirnya gue bisa melihat kue emas." Raka melotot, ia juga tidak lupa mengabadikan dirinya dengan kue emas. "Cekrek!"
"Silahkan dinikmati ya." Susan juga ikut gemas dengan teman Nuri, kebetulan ia akan cuti untuk persiapan pernikahan.
Nuri sudah belajar dari Susan menggunakan mesin kasir, menerima pembayaran baik uang kontan maupun elektrik yang sedang tren.
"Rasanya tuh kaya jadi Lee Min Ho."
Mendengar celoteh Candra, Nuri dan Chacha tertawa kompak.
Raka masih fokus menikmati hidangan elegan. Ia juga baru pernah merasakan. Rasanya memang seperti sultan, bisa makan kue berlapis emas. Lihat, dia akan mengirimkan foto kue emas untuk sahabat terlaknat, Johan.
"Kue emas cek." Raka menulis *caption* yang singkat tanpa emotikon.
Chef Eric ikut tersenyum meski tidak paham apa yang mereka tertawakan. Tapi, ia mengamati Raka. Raka yang sedari tadi terus memandang ke arah Nuri. "*Bisa jadi saingan Jay*."
Setelah melewati beberapa jam menunggu Nuri. Chacha yang bosan akhirnya tertidur. Raka dan Candra sedang heboh dengan menonton acara televisi.
__ADS_1
"Bang Nanda katanya mau mampir, jangan-jangan hoax?" Raka juga mulai bosan, ia tidak mengerti jalan cerita telenovela yang mereka tonton.
"Nanti katanya abis kunjungan. Lo kenapa si yang kepo?"
"Gue pengin liat Bang Nanda pas ketemu pacar baru Nuri, gimana ekspresi galaknya ya?" Raka dulu bahkan tidak diterima, Bang Nanda sangat protektif terhadap Nuri. "Gue yakin bakalan dibentak.''
"Lo daripada mikir gituan ya, mendingan lo cek status Johan deh.'' Candra tidak kuat lagi menahan tawa. "Hahaha! Johan emang nggak ada akhlak."
Raka akhirnya mengecek. Sialan. Johan justru mengirim balasan yang lebih menyebalkan. Padahal niat Raka untuk meledek.
"Hai, gaes! Raka sebenarnya tuh takut banget sama semut."
Bukan hanya tulisan yang menyebalkan, Johan juga mengirimkan foto editan Raka dengan semut raksasa.
"Pantesan lo nggak suka film *Ant-Man*."
Sejak kecil ia memang takut semut. Meski sama-sama makhluk hidup, Raka memang membenci semut lebih dari apapun.
"Mereka tuh udah sering masuk ke minuman, nebeng juga di makanan gue. Yang lebih gue heran lagi, mereka juga berkeliaran di sekitar gue. Selalu dan setiap waktu."
Candra tidak bisa berkata-kata. Entah apa yang salah dengan jalan pikiran Raka. Apakah di masa lalu saat ayah kandungnya menitipkan Raka sudah menyadari betapa tidak bergunanya seorang Raka.
"Ka, gue harap lo jangan makan gula semut.''
Nuri yang juga ikut mendengar sebuah penjelasan yang menggambarkan betapa aneh seorang Raka, terdiam dan kagum.
"\*Bravo!"
__ADS_1
Bersambung\*...