Super Rich Bae

Super Rich Bae
Part 45


__ADS_3

Jangan lupa berikan like dan vote kalian ya guys, biar semangat upload😍



Hana tidak sanggup menghadap wajah marah sang ayah ketika pulang. Bagus, karena ia memiliki saudara seperti Jay. Kakak kandungnya sedang menikmati masa sibuk mengurus bayi kecil.



"Kak?" Hana mendekati Nuri yang baru keluar dari kamar.



"Apa kamu menungguku?" Nuri rasa banyak hal yang ingin Hana ceritakan. Ada beberapa hal yang tidak bisa ia bagi dengan Jay. "Ayo bicara santai di balkon."



Mereka duduk santai sambil menikmati coklat panas di pagi hari yang dingin.



"Wah, Swiss indah banget ya?" Nuri menghirup udara yang lebih segar dari biasanya. Sangat murni dan menenangkan.



"Hm, indah kok." Hana seperti ingin menangis. Entah kenapa, ia merasa istri kakak sepupunya lebih baik daripada ibunya sendiri dalam memahami Hana.



"Jay sedang mengurus permasalahanmu. Jadi, Hana. Tolong kamu jujur denganku, ada apa sebenarnya? Aku pikir kamu gadis pendiam kok."



"Terima kasih, Kak. Kalau kamu berpikirnya begitu."



Nuri memang tidak memiliki seorang adik kandung, tapi ia pasti akan berusaha dengan baik membantu Hana. "Ceritakan saja, Hana. Termasuk hal yang kamu malu untuk ceritakan."



Hana memeluk Nuri. Malu, tapi ia juga ingin berbagi yang ia rasakan selama ini. Rasanya hidup di asrama, jauh dari keluarga.



"Hana, kamu gadis cantik dan baik. Kakak percaya kok sama kamu."



Hana menyeka air mata yang menetes dengan sapu tangan. Kebiasaan sejak masuk asrama, ia selalu membawa sapu tangan mewah seperti Jay.



"Aku tertekan, Kak. Ayah dan ibu seperti mengasingkanku. Semenjak lulus SMP, mereka mengirimku ke asrama ini. Asrama memang sangat bagus dalam bidang akademik dan non-akademik, tapi aku tidak pintar. Mereka sangat pintar, keturunan bangsawan, anak pejabat dan sudah lumrah anak jenius juga bersekolah di sana. Tapi, aku yang bodoh ini."



Hana sangat malu menceritakan betapa buruk nilai-nilai ujian tengah semester kemarin. Dia sudah berusia 18 tahun, tinggal selangkah lagi menuju pendidikan tertinggi. Teman-temannya berlomba untuk masuk 10 besar kampus elit di dunia.



"Hana Jang, temui aku di ruang konsultasi."



"Baik."



Sudah ketiga kali bagi Hana, dipanggil untuk konsultasi perihal nilai, rencana masa depan. Dia saja tidak tahu ingin menjadi apa di masa depan nanti.



"Apa kamu baik-baik saja?"



"Iya." Hana selalu menjawab dengan ekspresi datar, wajahnya sangat cantik ketika tersenyum padahal.



Beruntungnya Hana memiliki banyak teman yang mendukungnya. Beberapa adalah keturunan Asia dan Afrika. Mereka sangat solid.


__ADS_1


"Apa kamu yang bernama Hana Jang?"



Hana begitu terkejut ketika seseorang datang dari kelas sebelah dan mendekatinya. "Siapa?"



"Cih, jadi kamu yang bernama Hana?" Lelaki yang baru ia temui menatapnya dengan tatapan mengejek.



Setelah pertemuan pertama. Lelaki itu beberapa kali menghadang Hana untuk bicara.



"Ada apa? Aku nggak ada urusan sama kamu. Tolong biarkan aku pergi remidial."



"Kamu mulai jengkel sekarang?"



"Menurutmu? Mereka pikir kamu menyukaiku. Tolong berhenti bersikap begini?" Hana menatapnya dengan lebih sengit.



Lelaki bernama Hans, seseorang yang sangat populer di kalangan gadis sekolah. Dari gosip yang Hana dengar, Hans merupakan anak orang yang sangat kaya di Eropa. Tapi, anehnya dia sering juga ikut remidial. Sudah lima kali Hana bertemu di kelas remidial.



"Jadi apa tujuanmu. Tolong jangan berpikir aku sangat pintar ya dan mau memberimu contekan di ujian ulang."



"Haha! Nggak akan! Kamu pikir kamu sangat menarik apa?" Hans tertawa geli, baru pertama kali ia bertemu dengan gadis sepolos Hana.



Hana tidak menganggap dekat, tapi ada perasaan yang berbeda setiap kali Hans mengagetinya di dekat kelas mereka.




"Tolong hentikan tingkah bocahmu, Hans."



Hans juga mendengar jika banyak gadis yang mengutuk Hana. Entah kenapa setiap bersama Hana, ia seperti lebih bahagia dan ingin terus menjahilinya.



"Kalian pacaran ya?" Ketua kelas di kelas Hana sampai penasaran. "Perpaduan yang pas."



"Tampan dan bening?" tanya Hans.



Tidak butuh waktu lama, Hans dan Hana memang sudah menjalin hubungan lebih dari teman.



"Kehidupan sekolahku jadi semakin indah." Hans memeluk Hana, mereka sering menghabiskan waktu di taman.



"Aku juga merasa begitu." Hana memejamkan mata sejenak. Dia sudah tidak peduli lagi dengan omongan orang lain.



Masa indah memiliki kekasih di bangku sekolah sudah Hana rasakan. Hingga suatu hari, keberaniannya tertangkap oleh petugas asrama.



"Apa kamu yakin, aku boleh masuk?" Hana sedikit takut dengan aturan ketat sekolah. Hans menarik tangannya lalu membawa Hana menjuju ke kamarnya.



"Lagian aku cuma mau nunjukin kamu sesuatu. Bukan melakukan hal mesum."

__ADS_1



Hans memang ingin menunjukan sebuah kejutan untuk kekasihnya. Tidak begitu mahal, tapi ia melukis sketsa wajah Hana. Sketsa yang sangat bagus untuk karya anak sekolah.



"Hans!" Hana terbawa suasana, ia memeluk Hans begitu erat. Dan saat itu, Hans yang terkejut justru jatuh ke lantai. "Apa yang kamu lakukan? Kita dalam posisi begini?"



"Hana, kamu sangat cantik." Hans bisa menatap Hana dengan sangat dekat. "Kamu cantik sekali, Hana Jang."



"Hm, kamu juga ganteng banget ternyata. Aku jadi malu." Hana melingkarkan kedua tangannya di leher Hans. Wajah mereka berdua memerah. Tersipu malu. "Bau parfum kamu mirip dengan Kakakku.''



"Hm... kamu juga sangat harum. Aku jadi suka aroma parfum ini." Hans gerogi, ia juga seorang lelaki normal dalam masa menuju dewasa. Anak lelaki lain seusianya bisa melakukan hal yang lebih parah.



"Saranghae... artinya aku cinta kamu, Hans." Hana mencium pipi sebelah kanan Hans.



Hans memejamkan matanya, dia mengecup bibir Hana. Saat itulah, teman sekamar Hans dan penjaga asrama datang. Mungkin, mereka berpikir lebih dengan fantasi yang lebih liar karena rambut Hana yang acak-acakan dan posisi mereka memang seperti orang mesum. Padahal, mereka tidak melakukan hal terlarang seperti yang dituduhkan.



"Apa kalian sudah melakukannya? Wah, ini gila. Aku pikir kamu gadis polos."



"Hana Jang, apa benar kamu tertangkap dengan Hans sedang melakukannya di kamar Hans. Wah, aku nggak berpikir kamu segila ini ya?"



Banyak perkataan, pertanyaan yang lebih menyakitkan yang Hana dapatkan. Ia memilih diam. Ia dan Hans sudah menjelaskan secara detail.



"Aku bersalah karena mengajak Hana ke kamarku. Tapi, Pak, kami tidak melakukan hal seperti yang mereka bilang. Bukankah ini fitnah?" Hans sangat tegas dan bertanggung jawab.



Tapi pihak sekolah sudah menghubungi orang tua mereka. Mendapatkan skorsing untuk beberapa hari. Hana juga sampai melakukan visum. Tidak ada jejak apapun selain kebahagiaan mendapatkan seorang kekasih idaman di masa sekolah.



"Orang tua Hans juga percaya dengan kami Kak. Hans bukanla laki-laki sampah seperti yang mereka bilang." Hana masih memeluk Nuri, rasanya ia lega. Menceritakan masalah yang tidak ia bagi dengan ibu kandungnya sendiri.



"Tapi ayahmu nggak percaya dengan apa yang kamu bilang?"



"Ini berbeda jika beritaku di dengar oleh kolega ayah atau media online di Korea. Ayah menyuruh Kak Jay untuk mengatasi ini karena ia lebih mencintai bisnis daripada anaknya sendiri."



"Lalu hubungan kamu dan Hans?" Nuri justru penasaran hubungan mereka. "Apa yang kalian putuskan?"



"Hans memang nggak dibuli, tapi beberapa orang yang kurang suka dengannya selalu meledeknya, ada yang bilang kami ingin membuat keturunan di usia belum dewasa. Kami nggak akan putus Kak, justru kami ingin menikah nantinya."



"Apa?"



Kaget. Nuri hampir berteriak juga tertawa. Lucu sekali melihat Hana dengan ekspresi cerah ketika menceritakan Hans. Dan ejekan anak-anak elegan juga sangat lucu.



"*Ah, di kampung halaman ayah juga banyak tuh yang menikah dini dan juga mempunyai banyak keturunan. Kayaknya anak bangsawan kurang piknik nih? Hahaha*"



*Bersambung*...

__ADS_1


__ADS_2