Super Rich Bae

Super Rich Bae
Part 72 (S2)


__ADS_3

*Pembaca diharap bijak ya😂*


Seperti biasa, Mark bangun lebih pagi dari wanita yang tidur di sampingnya. Setelah mencuci muka, ia putuskan untuk pergi ke ruang kerja yang sudah istrinya siapkan setelah menikah.


"Lebih luas daripada kamarku saat di kampung halaman.''


Melihat banyak buku-bukunya yang sudah migrasi ke rumah baru. Istrinya tidak tertarik untuk membaca apalagi bertanya tentang materi apa yang ia siapkan.


Ponselnya berdering, Vin, sahabat baiknya menelepon.


"Ada apa, Vin?"


"Lisa meneleponku kemarin, dia masih belum percaya kalau kalian menikah jadi aku mengirimnya foto pernikahanmu, Mark."


"Baguslah,"


"Untung kamu nggak main sosmed. Kamu tau nggak apa yang Lisa tulis? Melepaskan berlian. Hahaha." Vin tertawa, ia hanya heran kenapa dulu Mark bisa jatuh cinta dengan Lisa. Semua juga tahu gadis kaya dengan selera sangat tinggi itu sedikit menyebalkan.


Bagi Vin, Mark adalah pria paling polos dalam cinta. Bisa-bisanya menghadap keluarga Lisa yang terkenal kaya raya dan sombong.


"Bagaimana hubungan kalian? Kamu dan istrimu?"


Pertanyaan Vin sedikit menganggu Mark. Hubungan suami-istri seperti apa yang sedang ia harap untuk di dengar. Mereka seperti orang yang hidup satu atap tapi belum terlalu mengenal.


"Terkadang aku merasa dia menciptakan jarak. Mungkin akibat trauma di masa lalu."


"Kamu harus bersabar. Apalagi dia bukan wanita sembarangan, Mark. Aku yakin pasti dia melalui hal-hal berat sendirian sampai trauma."


"Hmm. Aku harus memeriksa email, Vin. Jaga kesehatanmu."


Mark memeriksa sebagian email, ia masih dalam masa cuti pernikahan. Rektor juga sudah mengirim pesan selamat atas pernikahannya.


Ia mengintip ke kamar, Nuri masih tertidur.


"Apa dia tidak pernah libur?" Mark bertanya kepada Arthur.


"Selama dua tahun ini, ini baru libur kerjanya. Nyonya sangat giat bekerja." Arthur tersenyum, ia bisa melihat kalau Mark tulus.


"Aku harap dia sering libur. Saat pertama kami bertemu juga dia lembur di malam tahun baru. Apa bos kalian begitu galak?"


"Bukannya Anda sudah bertemu di acara pernikahan kan? Aku rasa Jack tidak galak, ia malah sering bolos kerja."


"Ah, pria tampan dengan anak kecil itu ya?"


"Ya, Anda benar."


Mark menikmati sarapan seorang diri. Ia meminta Arthur membuatkan sarapan untuk sang istri.


"Aku yang akan bawakan ke atas." Mark naik ke kamar dengan membawa nampan berisi sarapan untuk Nuri.


"Kamu udah bangun?"


Nuri mengangguk, ia baru saja selesai mandi kilatnya di pagi hari. "Apa ini?" ia mencium aroma susu almond dan nasi goreng.

__ADS_1


"Arthur yang membuatkan ini, maaf, aku nggak terlalu pintar masak."


Nuri tersenyum, ia lalu melahap seporsi nasi goreng rendah lemak buatan Arthur.


"Aku juga nggak pintar masak," Nuri berbisik lirih.


Mark melihat ada makanan yang tertinggal di dekat bibir istrinya. Ia mengambil tisu dan mengelapnya. "Ini berantakan, kamu terlalu lahap jadi gini."


"Terima kasih, Mark."


Nuri masih belum terbiasa, ia harus mengenal lebih dalam seperti apa Mark, bagaimana kehidupan yang ia lalui. Bahkan, sahabat Mark saja ia belum pernah bertemu. Hanya seorang mahasiswi yang sering menganggu Mark.


"Sisa cuti tinggal 2 hari lagi, aku harus mengevaluasi beberapa materi." Mark berpamitan, ia harus kembali ke ruang kerja. Jika terlalu lama bersama, ia juga merasa malu. Belum lama cerita sang sahabat tentang Lisa yang menangisinya.


"Apa kamu bahagia?" Pertanyaan yang sering orang tanyakan dalam cara yang berbeda dan Nuri menanggapi dengan senyum santai.


Ia harus memikirkan kewajibannya, bukan hanya untuk menggantikan posisi Jay di JJ, tapi tekanan dari keluarga Clarkson sangatlah menyebalkan.


"Jadi, kamu sudah menikah lagi?"


"Hmm, aku sudah memberitahu kakek." Nuri hanya bertukar cerita dengan Athena.


"Maaf ya, Nuri. Aku sangat sibuk bulan ini karena proyek kolaborasi merek. Tapi, selamat atas pernikahanmu."


"Terima kasih, Athena."


"Apa kamu bahagia sekarang?"


"Kami bahagia." Sering membohongi beberapa orang denhan kata-kata bahagia, padahal ia sendiri sedang galau. Setiap kali melihat Mark di ruang kerja, ia merasa bersalah.


"Apa aku menganggu?" Nuri datang dengan membawakan secangkir kopi hitam.


"Masuk," Mark langsung berdiri dan menyambutnya. "Kamu yang membuat ini?"


"Bukan, ini semua Arthur. Apa yang sedang kamu baca?" Nuri penasaran, Mark memakai dua komputer besar.


"Satu tentang forum akademik, satu lagi tugas mahasiswa. Aku sangat membosankan ya?"


"Aku lebih membosankan lagi malah, hehehe."


Mark ingin membicarakan sesuatu dengan istrinya. "Kamu bilang akan melakukan perjalanan bisnis dua bulan? Apa setelah itu, kamu mau ikut ke perkemahan denganku?"


"Aku akan usahakan ikut." Nuri merasa bersalah karena harus pergi selama dua bulan, selain perjalanan bisnis, ia juga ingin menjenguk keluarga di Indonesia.


"Hati-hati, jaga diri ya." Mark menunduk, sebenarnya ia sangat kesal karena akan ditinggal istri selama dua bulan. Bagaimanapun mereka baru menikah.


"Mark, aku minta maaf ya. Aku harus meninggalkanmu selama dua bulan."


Mark hanya tersenyum, ia berpura-pura seolah tidak masalah sebenarnya sebagai seorang pria dewasa, ia sangat kesepian.


"Mark, apa kamu kesal?"


Nuri menahannya ketika beranjak. "Apa kamu mulai menyesal setelah menikah?"

__ADS_1


Mark menghela nafas, ia juga ingin mengutarakan beberapa pendapat. "Kamu, apa kamu pernah peduli denganku? Aku tahu, aku yang masih kekanakan. Tapi aku adalah suamimu dan kamu istriku, tapi kita justru terlihat canggung. Setelah ciuman terakhir kemarin, aku tahu, tidak ada aku di dalam hidupmu kan?"


Nuri sudah menduga bagaiamana pemikiran Mark tentangnya. Bukan tidak ada, ia hanya sedang menyesuaikan diri.


"Selamat ulang tahun ke-30, Mark. Maaf aku tidak setuju dengan pendapatmu, aku hanya sedang beradaptasi menjadi istrimu. Kamu tahu sendiri kan bebanku berat, aku harap kamu pahami." Nuri memberikan hadiah yang sudah ia persiapkan, setelan mahal dari Albert, rumah mode pria yang sedang naik daun.


"Terima kasih... " Mark terharu, Nuri memberikan kejutan yang tidak terduga.


"Selamat ulang tahun, *my handsome husband."


"Thanks, wife. Can you kiss me more*?"


Meski malu-malu, ia mengecup bibir Mark. Mark yang lebih tinggi darinya harus menunduk.


"*Again,"


"Too shy, I can't*."


Kali ini, Mark yang bergerak maju. Ia menciumi bibir istrinya berulang kali. "Bukankah ini hal wajar untuk orang yang menikah?"


Nuri memeluknya dan menutup mata, ia sangat malu menatap Mark dari dekat.


"Kenapa? Kamu malu untuk mengakui kalau aku tampan?"


"Hmm sepertinya,''


Hubungan yang baik dalam kehidupan rumah tangga dimulai dari komunikasi intens yang terjalin.


"Kamu bilang sederhana, tapi lihat baju yang kamu pakai bukannya ini mahal?" Nuri meledek Mark.


"Terkadang mahasiswa sekarang lebih keren daripada dosen. Jadi aku akan membuat tren, dosen juga harus keren."


Nuri tidur di pangkuan Mark, ia membiarkan Mark melanjutkan aktifitas romantis mereka.


"Aku sangat penasaran, maaf aku tahu ini agak kurang ajar."


Nuri tiba-tiba membuka matanya lebar-lebar dan menatap wajah suaminya. "Apa yang ingin kamu tanyakan?"


"Is F cup?"


Nuri melempar bantal sofa ke wajah Mark.


"Seriously, Honey. Answer me! Hahaha!"


Arthur melihat Nuri yang sedang menghindari Mark yang terus meminta jawaban dari pertanyaan. "Mereka sedang apa si? Turun dari lantai tiga sampai bawah cuma tanya jawab?"


"Answer me or I can do it!"


"No, thanks."


"F or G? I can't believe it, my wife is so sexy."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2