
Nuri mendapatkan pesan. Hana dan Hans ingin berkunjung.
"Aku ingin mengucapkan selamat atas pernikahanmu. Dan juga, merayakan ulang tahun Jay."
Oh iya, sebentar lagi. Jay akan berulang tahun yang ke 33 tahun. Kenapa, Nuri mulai lupa dengan hal-hal penting tentang Jay semenjak menikah lagi. Dirinya merasa jahat.
"Mark, adik sepupu Jay akan datang. Bagaimana menurutmu?" Nuri menunduk, semenjak menerima pesan Hana. Banyak pikiran.
"Dia kan juga adikmu." Mark tersenyum, tapi, di dalam hatinya, ada sebuah perasaan asing. Cemburu dengan kedekatan Nuri dengan keluarga Jay.
"Oh iya, terima kasih." Nuri tersenyum semenjak keluar dari toilet. "Maaf ya, Mark. Beberapa hal pasti membuatmu merasa tidak enak, tapi keluarga Jay juga keluargaku. Begitupun keluargamu, Kakek dan Vin."
Mark tidak menjawab, ia hanya tersenyum. Benar juga logika istrinya. Tidak sepantasnya ada perasaan cemburu berlebih dengan sosok yang sudah tidak ada di bumi. Jay tetaplah seseorang yang dihormati oleh Nuri, juga banyak orang dalam dunia bisnis. Kematiannya adalah luka terdalam bagi JJ Co.
Setelah memastikan istrinya tertidur. Mark keluar dari tenda, ia masih melihat banyak mahasiswi yang mengobrol keras. Banyak hal yang dapat mereka obrolkan di alam bebas. Tidak sepertinya, duduk di depan tenda menikmati susu hangat.
"Prof. Mark?" Emran datang, ia penasaran dengan kerabatnya. "Ada apa semalam ini duduk sendirian?"
"Ah, Emran. Nggak ada apa-apa, cuma lagi insomnia."
"Bohong, masa pengantin baru udah nggak semangat. Hahaha."
Mark tertawa kecil, di saat gundah memang paling tepat untuk berbincang. "Aku dengar banyak mahasiswa yang tidak ikut perkemahan."
"Kamu nggak tahu? Mereka tidak menyukaimu, Mark. Kamu terlalu tampan. Lihatlah rasio mahasiswa dengan mahasiswi di kelasmu."
"Ah iya, aku dikutuk."
Perbincangan berakhir ketika Emran harus menemani sang istri yang juga bertugas jaga malam. Mark kembali masuk ke tenda, ia mendapati Nuri tidur lelap dengan selimut elektrik.
"Kamu bisa tidur dengan sangat nyaman ya?'' Mark mengusap wajah sang istri.
Meski hubungannya dengan Lisa sudah berakhir, menghapus kenangan saat bersama tidak semudah membalik telapak tangan kita.
"Mark, do you remember when we were young? You always said will like me until the end."
***
Mark and Lisa.
Membuang kenangan lama dengan kekasih pertama dalam hidupnya memang tidak semudah perkiraannya. Meskipun sudah menikah, ia tetap bisa merasakan apa yang Lisa rasakan.
"Dia hanya tempat kamu berpaling, Mark. Bukan tempatmu pulang."
Perkataan yang menusuk. Mereka sudah putus. Tidak ada harapan lagi untuk bersama. Sebuah alasan yang sangat meyakinkan Mark untuk mengakhiri hubungan adalah keluarga Lisa. Segigih apapun Mark berusaha mengambil hati ayah Lisa, tidak pernah satu pujian keluar dari mulutnya. Yang lebih menyakitkan Mark adalah di masa lalu.
__ADS_1
"Mark, kakekmu datang ke rumah kami membawa banyak makanan kampung. Ayahku sangat marah!" Lisa menelepon Mark, saat itu Mark sedang berjuang menjadi dosen di awal tahun.
"Kakek datang ke rumah kalian?"
"Iya, aku juga kaget."
Yang lebih terkejut adalah Mark, ketika ia datang untuk menjemput sang kakek. Tidak ada Lisa di rumah, tapi ia mengabari banyak hal.
"Kakek," Mark menatap pilu wajah Kakek Taylor.
"Mark, maaf... " suara Kakek agak serak, wajahnya murung. Tidak seperti ekspresi biasanya. "Kakek hanya membawa masakan, buah-buahan yang murah."
Rasanya hati Mark mulai meradang, ia melihat dari samping rumah Lisa. Asisten rumah membuang makanan pemberian kakeknya. Sebuah penghinaan yang tersurat.
"Kakek, jangan lihat ya."
"Apa mereka tidak menyukai kita karena kita tidak terlalu kaya?"
"Aku... " Mark tidak tahu harus menjawab seperti apa. Faktanya sudah terpampang nyata, akurat dan memang demikian. "Kakek, ayo kita makan sesuatu yang enak."
Kakek Taylor langsung tersenyum ceria. Ia akan menikmati waktu kuliner dengan sang cucu. Meski ada ganjalan di hati. Perlakuan orang tua Lisa sudah mengisyaratkan bahwa mereka bukan besan yang tepat.
"Kali ini kita coba makanan Indonesia, Kek. Ada sate ayam, nasi goreng yang sangat terkenal di kompleks ini."
"Aku ingin sate ayam, dulu saat bekerja sebaga koki hotel, temanku berasal dari Indonesia. Dia sering membelikan sate ayam."
"Kakek, ayo beli lagi sesuatu." Mark mengajak sang kakek ke sebuah pasar barang antik dan loak. Banyak ruko yang menjual pakaian bermerek bekas dengan harga yang masuk akal untuk kantong Mark.
"Kamu pasti sudah gajian ya?" Kakek Taylor tertawa.
Untuk membahagiakan sang kakek yang dengan tulus merawat orang asing yang tidak mempunyai ikatan darah. "Kakek senang kan?"
"Terima kasih, Nak. Kakek akhirnya bisa beli jaket Prada dengan harga murah."
Mark merangkul sang kakek, kemudian mereka menuju ke apartemen Mark. Bukan apartemen mewah seperti yang orang lain punya, ia menyewa dengan harga murah dari senior di masa kuliah.
"Cukup nyaman kan?" Mark bertanya kepada sang kakek.
"Ini lebih dari cukup. Dulu kita bahkan tinggal di ruko, Mark."
Mereka tertawa jika mengingat di masa lalu. Perjuangan bertahan hidup di ruko dua lantai yang sempit dan sering bocor.
Malam harinya, Lisa datang menjemput Mark. Tidak ada permintaan maaf ataupun rasa menyesal karena berbohong.
"Bagaimana kalau kita menginap di vila setelah pergi ke pesta ulang tahun temanku?"
__ADS_1
"Baiklah," Mark hanya mengikuti alur, ia sudah berjanji sejak dua minggu lalu akan menemani Lisa menghadiri acara tersebut. Akan menjadi masalah jika ia memberi sebuah alasan untuk batal.
Acara yang cukup mewah dengan banyak pasangan datang. Mereka juga mengenakan pakaian desainer mahal, tidak seperti Mark yang memakai pakaian standar (celana jeans hitam, hoodie kalem dari Stone Island). Hoodie yang Mark beli dengan kerja keras sebagai asisten dosen.
"Wah, pacar Lisa terlihat kalem kali ini ya?"
"Apaan si," jawab Lisa dengan cepat. Ia baru menyadari penampilan sederhan Mark tidak sebanding dengan tamu pria yang datang ke acara.
Mark tidak banyak bicara hingga selesai acara. Lisa menjadi tidak enak hati dengan teman-temannya. Ia segera menyeret sang pacar keluar.
"Apa kamu sedang protes?!"
"Ayo pergi, aku kurang menyukai acara seperti ini." Mark mendengar beberapa orang mengatakan kalau kekasih Lisa terlihat miskin.
"Serius, Mark. Ada apa denganmu hari ini?" Lisa bertanya lagi setelah mereka sampai di kamar vila.
Mark membuka hoodie, ia hanya mengenakan kaos hitam putih polos. "Aku sudah biasa mendengarnya, orang selalu bilang begitu setiap kamu membawaku, Lisa."
Lisa memeluk Mark, memang banyak teman dari pergaulannya mengatakan demikian. Tapi di mata Lisa, Mark adalah seseorang yang sangat keren. "Aku nggak peduli orang lain, yang aku tahu kamu sangat keren. Kamu pintar, kuat dan sangat tampan."
Setelah luluh dalam pelukan. Mereka melewati malam yang romantis. Bagi Lisa, Mark adalah orang pertama dan harus menjadi yang terakhir.
"Darling." Lisa membuka matanya di pagi hari, ia langsung mengambil kembali pakaiannya. Mark sudah menyiapkan sarapan untuknya.
"Bangunlah, kemari." Mark memeluk Lisa. "Minum air hangat dulu, baik untuk tubuhmu."
Lisa menatapnya dengan penuh cinta. Tidak salah jatuh cinta dengan Mark. Indah.
Ketika Mark turun untuk mengambil air hangat, beberapa orang berbicara tentang kecelakaan di depan toserba.
"*Kasihan sekali pria tampan itu. Dia menyelamatkan gadis gila!"
"Bukankah dia Tuan Clarkson, orang terkaya di lingkungan kita? Dia baru menikah beberapa bulan lalu, astaga*."
Lisa membuka jendela, ia juga melihat banyak polisi datang. "Mark, lihat. Kecelakan di dekat toko. Seseorang meninggal sepertinya."
Mark yang sudah penasaran akhirnya turun dan melihat sendiri, Lisa tidak ikut karena masih ada pemotretan dengan teman-temannya di vila.
"Nggak! Ini nggak mungkin!!!" Seorang wanita datang bercucuran air mata, tampaknya sang istri korban kecelakaan.
Mark tidak bisa melihat jelas seperti apa wajahnya, tapi suaranya sangat keras. Suara tangisan yang menyesakkan dada bagi yang mendengar.
"*No! No! No!"
"You can't leave me, Hubby. Wake up, Hubby!"
__ADS_1
Bersambung*...