Super Rich Bae

Super Rich Bae
Part 11


__ADS_3

"Kamu sudah belajar bikin roti apa saja?" tanya Susan.


"Kemarin baru bikin roti baguette," jawabnya.


Nuri lumayan lelah karena kemarin banyak menggunakan tenaga ketika berlatih mandiri. Ia lemas dan mengantuk di awal pagi.


Setelah membersihkan toko, mereka bersiap untuk menyusun roti yang baru di rak maupun etalase.


Pegawai lain pun sibuk dengan rutinitas mereka. Chef Eric yang selalu tepat waktu menanamkan kedisiplinan yang tinggi bagi para pekerja. Ia tidak pernah terlambat meski satu menit.


Susan membalik tulisan di depan toko. Pertanda toko siap untuk melayani pengunjung yang datang.


"Hmm... " Nuri menarik nafas lalu menghembuskan pelan, ia menikmati udara pagi yang lebih dingin dari biasanya.


"Selamat pagi," ucap pegawai kedai kopi.


"Pagi juga," jawab Nuri.


Kedai kopi di sebelah sangat ramai karena buka 24 jam. Ada beberapa pekerja magang dari Asia, termasuk yang sering menyapa Nuri. Pemuda bernama Saki asal Jepang.


"Apa kamu kuliah juga di sini?"


"Iya, aku sedang melanjutkan S2."


Perbincangan singkat namun sering antara Nuri dan Saki di awal pagi membuatnya sadar, ia sangat merindukan Nanda, kakaknya.


Nuri memutuskan untuk menelepon Bang Nanda meski tahu perbedaan waktu Indonesia dengan Prancis enam jam, tapi ia juga rindu.


"Bang?"


"Eh, Dek. Kamu ngapain telepon jam segini?"


Nuri menyeka air matanya. Ia tahu persis Bang Nanda selalu bangun jam tiga pagi untuk salat. Terkadang juga ia dibangunkan oleh sang kakak untuk salat malam.


"Nggak papa, Bang. Gimana kabar di rumah? Semua sehat kan?" matanya berkaca karena merindukan rumah.


"Alhamdulillah baik, Dek. Semua udah tahu soal yayasan itu. Adek nggak usah merasa bersalah ya." Nanda sebenarnya penasaran dengan hal yang ia dengar dari Raka, tapi ia tidak ingin membuat Nuri bad mood.


"Makasih Bang... " ucap Nuri lirih.


"Kantorku ada kunjungan pusat di Prancis, nanti Abang coba temuin kamu ya mungkin bulan depan."


"Beneran, Bang? Nanti kabarin aja."


"Iya...."


Setelah mendengar kabar sang kakak akan datang. Nuri sangat bahagia, ia terus tersenyum sepanjang hari.


"Kenapa dia?" Andre dan Paul kompak.


"Nggak tahu," ucap Susan bingung.


"Kayaknya habis dapat tunjangan dari Jay deh," imbuh Susan.


Chef Eric yang sekilas melihat pun ikut senang. Mungkin Jay telah memberikan hadiah atau mungkin ciuman.


Nuri melayani pelanggan dengan sangat ramah, ia juga sering gemas jika bertemu balita.


"Kamu udah cocok jadi ibu tuh!" teriak Paul.


"Hahaha!"


Nuri hanya tertawa. Ia sedang menggendong seorang anak balita, anak dari pelanggan yang sedang pergi ke kedai kopi.


"Fotoin aku dong!"


Paul lalu mengambil ponsel baru Nuri dan mengambil foto Nuri bersama anak balita lucu yang imut.


"Nanti tandai aku ya di instagram," ledek Paul.


"Oke!" sahut Nuri cepat.



Jay bangun pukul enam pagi. Ia lalu mandi dan bersiap untuk sarapan sebelum berangkat kerja.

__ADS_1



"Apa masakan hari ini enak?" tanya Koki dapur.



"Enak sekali, terima kasih ya, Arthur."



"Tentu sudah sejak kecil kamu suka masakanku." Koki berusia 62 tahun itu adalah saksi hidup dari masa kecil Jay yang sangat elegan.



Pemuda tampan berambut hitam kecoklatan itu masuk ke ruangan ganti. Ia akan memilih jam tangan dan sepatu yang tepat.



"Ahh, aku lupa."



Ia mengambil scarf untuk pengganti dasi.



Beberapa hadiah mewah yang ia dapatkan dari ibunya berjajar rapi. Ia tidak mungkin menggunakan semua benda dalam waktu yang bersamaan.



"*Dear My Son, enjoy with new collection*."



Jay menyusun kembali mantel mahal yang berantakan. Ia mengoleksi hampir semua *fashion* bermerek mulai dari merek terkenal di Amerika, Paris, Italia bahkan Asia.



"Halo ini dari Prad\*, apa Anda bersedia untuk datang ke acara kami bulan depan?" seorang perwakilan *brand* mewah menelpon Jay.




"Ada banyak, silahkan bawa pasangan Anda juga untuk menikmati acara VVIP kami."



"Baiklah."



Jay ingin membelikan sesuatu untuk Nuri. Sejak beberapa hari lalu, ia melihat betapa sederhana pakaian yang Nuri kenakan.



"Dia pakai baju murah gini?" Jay prihatin dalam diam.



Ia diam-diam membuka aplikasi belanja online yang hits di Indonesia. Banyak sekali baju yang mirip, tas yang sama dengan milik Nuri.



"Ini benar harganya kok murah gini?"



"Loh ini mirip tas Nuri, banyak banget yang beli duh!"



"Loh ini juga sepatu yang mirip punya Nuri."


__ADS_1


Pemuda tampan nan kaya itu terkejut. Kekasih barunya sangat berbeda dengan mantan kekasihnya dahulu. Nuri yang sederhana dan mantan kekasih Jay yang tergila-gila barang bermerek.



Tiba di hotel tempatnya bekerja.



Jay masih kepikiran dengan betapa sederhana Nuri.



"Kenapa nih?" Louis, teman Jay datang.



"Pacarmu kalau beli tas, sepatu sama baju habis berapa?" tanya Jay.



"Guc\*\*, Prad\*, Di\*r. Menurutmu ada yang murah seperti harga roti nggak?"



*Benar, pakaian yang ia beli seharga roti*.



"Pacarku tidak seboros kamu," lanjut Louis.



Jay menepuk bahu sahabatnya. Ia banyak berpikir akhir-akhir ini, butuh relaksasi dan ingin pergi mengecek ruangan spa untuk VVIP yang sedang renovasi.



Hotel tempat Jay bekerja adalah hotel mewah yang terkenal dengan ruangan *suite* *imperiale* dengan tarif 20.000 dolar atau setara 280 juta rupiah. Bertemu dengan selebriti atau penyanyi dunia adalah hal biasa untuk para pegawai hotel termasuk Jay.



Chacha masih mengamati gerak-gerik Raka sebagai orang kaya baru.


"Wah si Raka sekarang punya hape apel!" Candra sedang membedah isi tas Raka.


"Iya dulu gue beli hape China karena kan murah, sekarang gue bisa beli apel." Raka tidak merasa sombong, ia hanya bercerita sedikit.


"Lo ngapain coba datang ke rumah gue?" Chacha masih dengan tatapan tajam.


"Gue mau nanya alamat Nuri. Gue mau susulin dia, Cha. Kalau lo pada mau ik—"


"Gue bakalan ikut bareng lo, Bro!" ucap Candra dengan cepat dan antusias tinggi.


Chacha yang sebenarnya juga ingin ikut tapi masa iya harus merendahkan dirinya. Raka adalah orang yang pernah menyakiti sahabat baiknya dulu.


"Lo nggak mau?" ledek Candra.


"Kan kalian pasti udah punya pasport, jadi gue ajak. Papi gue juga punya rumah di sana kok."


"Apa? Papi? Raka benar-benar udah halu kebangeten ini mah. Dia pikir ini drama Korea? Tiba-tiba jadi anak CEO? Traktir Nuri juga paling mewah mi ayam pake bakso, gue bener-bener takjub sama halusinasi Raka."


Raka menyadari selain Bang Nanda yang membenci kenyataan Raka masih hidup, Chacha terlihat seperti haters yang siap membunuhnya dengan tatapan super kejam dan insting balas dendam tinggi.


"Udahlah, cewek kan kalau soibnya sakit hati juga ikutan sakit." Candra yang lumayan bijak masih sibuk melihat ikan hias yang cantik dan menawan.


"Lo jangan siaran langsung lagi ya, gue takut dibacok bang Nanda!" Raka memang masih takut dengan kakak sang mantan.


Candra yang diam-diam menyalakan rekaman suara dan mengirimnya ke Bang Nanda.


"Gue nggak bakal bacok lo, Ka. Palingan gue buang lo ke lautan!" Candra sengaja mengeraskan volume hape-nya untuk membuat Raka terintimdasi.


Raka terdiam kaku. Ia tahu Candra memang iseng.


"Kan, dia emang benci gue banget...."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2