Super Rich Bae

Super Rich Bae
Part 59


__ADS_3

"Nuri dimana?"


Bang Nanda mengantar Chacha menuju kamar Nuri. Banyak keluarga Jay yang masih singgah. Chacha hanya tersenyum, ia harus segera menemui sahabatnya.


"Nuri?!" Chacha sampai melotot, ia melihat keadaan Nuri yang sangat berantakan.


"Cha... "


Cha?"


Chacha hanya menyadari satu hal. Nuri sangat menderita dalam batinnya mungkin sedang berteriak minta tolong.


"Lo nggak sendirian!" Chacha merangkulnya. "Ada gue."


"Jay... udah nggak ada lagi di dunia yang sama dengan kita, Cha."


Nuri mungkin telah melewati malam yang mengerikan tanpa kehadiran Jay.


"Saat gue bangun, gue takut. Tapi saat gue tidur gue lebih takut lagi, Cha."


"Lo harus makan sesuatu, Ri. Lo harus makan banyak!"


Chacha membawakan mi goreng instan kesukaan Nuri. "Gue bakal buatin lo makanan."


"Gue masih terbayang... wajah Jay saat menggenggam tangan gue. Nafasnya mulai berhenti, Cha."


Chacha yang awalnya berpura-pura kuat, akhirnya menangis juga. Bagaimana bisa seseorang harus menyaksikan kematian pasangan dengan cara menyedihkan?


"Cha, pliss. Gue udah mau nyerah aja ya?"


Mendengar ocehan tak jelas Nuri, Chacha merasa hancur. Nuri dalam keadaan jiwa yang sangat tidak stabil.


"Nuri!"


"Lo adalah alasan Jay bahagia di hari-hari terakhir dalam hidupnya. Lo jangan pernah bilang kayak gini lagi, Ri!"


Tidak ada wanita yang menepati janjinya. Untuk tidak menangis di hari mereka kehilangan seseorang yang sangat berharga.


"Cha, rasanya hidup gue udah nggak berarti apapun."


"*Gue tahu kok, Ri. Seberapa tegar lo mencoba melewati semua ini. Ada kalanya, gue melihat dua sosok dalam dirinya. Kita bersahabat sejak kecil. "


"Cha, tunggu!"


Saat itu, usia kami masih sembilan tahun. Nuri jatuh setelah mengejarku. Mungkin, aku dan Candra terlalu bersemangat lari.


"Gapapa kok." Dan hal yang mengejutkan, lututnya berdarah karena tersungkur ke tanah tapi ia tidak menangis. "Nanti bisa plester kok."


Bohong. Ibunya bahkan bilang di hari berikutnya. Nuri menangis di malam hari karena luka di lututnya.


Saat itu, aku mulai sadar satu hal. Nuri jauh lebih hebat dariku. Ketika kami remaja, kami satu sekolah.


"Kamu tahu nggak siswa kelas tujuh yang putih kaya cewek Korea itu, siapa namanya ya?"

__ADS_1


"Itu temen kamu, Cha? Kok kaya bukan orang Jakarta aja deh."


Banyak yang tidak Nuri sadari. Ia sudah mempesona sejak usia remaja. Bahkan kakak kelas yang sangat populer sampai menemuinya.


"Kamu Nuri?"


Ekspresi Nuri sangat biasa. Ia tidak terlalu terkejut, ia justru masih membahas drama Boys Before Flowers denganku.


"Keren banget, Cha! Gu Jun Pyo pas rambutnya lurus kan?" Ia seolah ingin menghindar dari kakak kelas.


"Nuri, kamu pulang lewat mana nih?"


"Lewat jalan kenangan."


"Hahaha!"


Nuri memang pintar membuat orang tertawa dengan celetuknya. Tapi, melihat ia diam adalah kesedihan untuk kami. Aku dan Candra, telah mengenalnya sejak kecil.


"Ri, lo harus makan ya?" Candra bahkan membelikan bakso kesukaan Nuri. Saat itu, Nuri sangat terpukul karena Jay. Mereka putus mendadak tanpa sebuah alasan yang pasti.


"Ayo, Ri. Gue juga udah bawain es cincau kesukaan lo!"


"Makasih... gaes... " yang dapat ia katakan hanya beberapa kata dengan nada lemas. Mungkin, ia sangat hancur.


"Makan dong!" Candra memaksanya lagi.


Ia sampai kehilangan empat kilogram berat badan. Mungkin, ia adalah tipikal pemikir. Nuri selalu memikirkan hal-hal menjadi lebih rumit dan membuatnya cemas seorang diri.


Tapi, saat pertuangan dengan Raka batal. Ia tidak terlalu depresi. Aku, Candra dan Bang Nanda berusaha keras untuk menguatkan Nuri kami.


"Kamu sudah dewasa ya?" Bang Nanda tersenyum dan membelai rambut sang adik.


Nuri juga menguatkanku. Saat tersulit dalam hidup, saat mulai bekerja di Bali.


"Lo harus semangat, Cha! Kita kan mau nonton konser BTS bareng di Korea!"


Kami bertukar cerita tentang pekerjaan. Bagaiamana usia 24 tahun sangat melelahkan karena bekerja penuh tekanan.


"Gue mutusin buat keluar."


Kami juga memutuskan hal yang sama. Nuri sudah ingin berhenti dari kantornya, ia mengalami masa sulit semenjak Raka membatalkan pertunangan mereka.


"Mereka bilang cinta lokasi emang nggak bagus ya, Cha?"


"Nggak juga. Gue malah menikmati cinta lokasi. Cuma di kantor gue, nggak ada satupun yang pantas dicintai. Hehe."


Aku ikut bahagia saat melihatnya bertemu Jay Jang Clarkson. Entahlah, seperti sebuah drama terjadi dalam kehidupan sederhana Nuri.


"Lo kelihatan bersinar saat menyebut nama Jay."


"Iya, gue jatuh cinta beneran, Cha."


Nuri juga yang membuatku berpikir bahwa Johan adalah pilihan yang tepat dalam hidup.

__ADS_1


"Johan lebih dewasa dari Raka maupun Mas Dika."


Sebenarnya ada perasaan bersalah karena aku menikah di saat teman terbaik dalam hidupku terpuruk.


"Nggak masalah, Cha. Lo harus bahagia sama Johan! Gue juga ikutan seneng kok." Ia tersenyum meski jelas dari sorot matanya, ia juga ingin menikah dengan seseorang yang ia dambakan.


"Maaf ya, Beb."


Kali ini, aku melihatnya lebih hancur. Bagaimana bisa seseorang menangis dengan raut wajah sesedih itu.


"Bangun, Ri. Lo harus makan ya?"


"Cha, gue nggak sanggup."


Aku mengerti. Ia sangat mencintai suaminya. Kepergiaan mendadak Jay bukan karena urusan bisnis melainkan kematian.


"Jay... bilang... "


Yang bisa dilakukan seorang teman di saat seperti ini hanyalah memeluk dan mendengar ceritanya. "Apa yang Jay bilang?"


"I love you, I always love you."


"Jay emang sebucin itu ya sama lo?"


Nuri mulai tenang. Ia menceritakan sesuatu yang membuatku tertegun. "Jay tersenyum saat itu, Cha. Senyuman paling manis, persis di hari kami pergi ke pesta diskon."


Sebelum keberangkatan menuju Swiss. Firda menemuiku. Ia bilang ingin menyusul.


"Kenapa? Lo kerasukan apa, Fir?"


"Suami Nuri udah membantu perusahaan mertua gue berkembang di Singapura. Suami gue bilang, gue harus mohon ampun." Firdha memang tidak terlalu akur dengan kami, tapi aku baru pernah melihatnya memasang ekspresi yang sangat bersalah.


"Lo bukan cuma mohon ampun, lo harus jadi orang yang berguna juga."


"Gue bener-bener nggak nyangka, Cha. Suami gue juga dua hari lalu masih telfonan sama Jay Jang. Gue denger jelas, Cha. Jay bilang, karena istri kita berteman itu bukan masalah untuk membantu."


Yang pasti Jay memanglah ahli di bidang investasi, tapi Nuri juga ikut andil. Ia tidak mampu melakukan hal jahat meski perlakuan Firdha di masa lalu keterlaluan.


"Sekarang, gue mau nemuin keluarga mertua gue dulu." Nuri yang masih mencoba untuk berdiri meski lemas.


"Nggak usah dipaksain, tadi kata Bang Nanda mertua lo aja sengaja nggak ngetuk pintu biar lo istriahat, Ri."


Aku juga akan menyuruhmu untuk tidur lebih lama lagi, Ri. Mungkin dua hari lalu sangat berat untuk melewatinya. Kehilangan seseorang yang sangat berarti, suami.


Setelah suasana hati membaik. Nuri menunjukkan beberapa dokumen termasuk buku pribadi Jay.


"Untuk istriku tercinta, Nuri Jay Clarkson."


Sebelum meninggal, Jay sudah mengurus perubahan nama Nuri menjadi satu marga dengannya.


"Kamu resmi masuk keluarga besarku, Sayang."


Tangisnya mulai pecah begitu membaca kertas kecil di balik dokumen.

__ADS_1


Bersambung*...


__ADS_2