Super Rich Bae

Super Rich Bae
Part 67 (S2)


__ADS_3

Mark membuka tirai jendela apartemennya. Ia bangun lebih pagi, sekitar jam lima pagi. Banyak yang ingin ia lakukan di awal pagi.


"Membeli sayuran dan buah-buahan segar di swalayan."


Ponselnya terus berdering, kakek mengirimi pesan suara yang sangat menyentuh.


"Kamu sudah berusia 29 tahun, Mark. Kakek berharap kamu menikmati waktumu, meluangkan sejenak untuk bersenang-senang bukan cuma mengajar dan lembur. Katakan pada Lisa, salam untuknya."


Deg. Saat membahas Lisa, masih ada rasa kecewa yang tersisa. Ia tidak ingin mengatakan langsung bahwa hubungan mereka telah berakhir di akhir tahun.


"Baiklah, kakek juga jaga diri, tidak usah begadang hingga restoran tutup. Percayakan saja kepada Jun."


Mark bersiap untuk ke swalayan yang buka 24 jam. Ia tidak ingin mengendarai mobil, lalu memilih jalan kaki sekalian olahraga di pagi hari. Jaraknya lumayan, ia sudah mengaktifkan jam pintar untuk menghitung langkah kaki.


Sebenarnya, masih ada sisa perasaan untuk Lisa di dalam hati Mark. Mereka berteman sejak sekolah menengah. Mungkin Lisa bosan, atau mungkin ia mendapatkan seseorang yang lebih kaya dari Mark.


"Papa bilang dia masih kurang puas dengan karirmu." Lisa pernah mengutarakan pendapat sang ayah yang kurang menyetujui hubungan mereka.


Saat itu, Mark hanyalah seorang mahasiswa pasca-sarjana yang menerima beasiswa dari yayasan dimana ayah Lisa menjabat sebagai eksekutif direksi.


"Bagaimana kalau saat aku menjadi dosen?"


"Kamu ingin menjadi dosen?" Lisa menanggali dengan wajah kurang bahagia. "Apa kamu berencana menendangku secara perlahan?"


"Kenapa kamu berpikir begitu, Lisa?" Mark menggenggam tangan Lisa. "Percaya padaku, aku tidak akan tertarik dengan muridku atau orang lain."


"Habisnya, kamu... " Lisa memeluk erat kekasihnya. Bagaimanapun keadaan Mark, mereka sudah bersama sejak lama meski menjalani hubungan jarak jauh. "Kamu sangat tampan, kamu nggak tahu aja."


Meski dipenuhi berbagi drama hubungan jarak jauh, mereka selalu bertahan. Tidak ada kata putus dari bibir sang kekasih.


"Mark," Lisa pernah datang ke kampus untuk bertemu Mark.


"Apa kamu sengaja datang?" Mark baru saja selesai kelas, ia segera mengantar Lisa menuju ruang kerjanya. "Kamu mau minum apa?"


"Aku sedang diet, jadi air mineral saja." Lisa mengamati ruangan Mark, sangat berbeda dengan ruangan kantor sang ayah.


"Papa ingin mengajakmu makan malam."


"Baiklah."


Keluarga Lisa sudah melakukan reservasi di hotel termewah di kota. Mark yang awalnya ragu untuk datang, tapi ia juga seorang pria sejati, harus berani menghadap sang ayah dari kekasihnya untuk meminta restu.


"Aku ke toilet dulu."

__ADS_1


"Aku tunggu di meja nomor lima."


Ada yang masih saja membuatnya deg-degan untuk bertemu calon mertua. Apalagi orang tua Lisa sangat elegan dan berkelas. Lagi-lagi, Mark banyak berpikir.


"Maaf, itu kran airnya... " ada seorang pria yang menyadarkan Mark dari lamunannya. "Apa kamu melamun?"


"Ah, terima kasih." Mark segera mematikan kran air, ia lalu membasuh wajahnya sambil melirik ke arah pria yang mengingatkannya. Pria dengan penampilan berkelas, memakai scarf mahal dan juga tampan.


"Aku sedang di toilet, sayang. Nanti aku akan ke kamar setelah bertemu kolega bisnis."


"Baiklah, aku tunggu di kamar ya."


Mark yang mendengar percakapan romantis itu merasa sangat tersentuh. "Apa dia kekasihmu? Kalian terdengar sangat romantis."


"Dia istriku, dia sedang menonton drama di kamar hotel."


"Wah, pantas romantis."


Mark memberanikan diri untuk menyapa orang tua Lisa. Ia memberikan salam, membungkuk dan dengan bangga memperkenalkan diri.


"Mark Taylor Lee, usia 26 tahun, sekarang menjadi dosen di fakultas ilmu komunikasi dan media Zurich."


"Duduk, Mark.'' Ibu Lisa sangat lembut dan memperlakukan Mark tanpa diskriminasi. "Makanan apa yang kamu sukai, Mark?"


"Makanan Asia, lama tidak makan nasi."


Ayah Lisa terus menatap layar ponsel, lalu saat melihat pria yang tidak sengaja Mark temui di toilet, raut wajahnya berbeda.


"Jay, lama tidak melihatmu." Ia langsung memeluk dan tersenyum dengan pria bernama Jay.


"Oh, Paman sedang makan malam juga di hotel ini?"


"Iya, Jay, aku, istriku dan Lisa." Ia tidak menyebutkan Mark sama sekali.


Jay menghampiri meja mereka, memberikan salam. "Halo, Bibi, Lisa dan teman Lisa."


"Ah, Jay, kamu semakin tampan. Dimana istrimu? Maaf ya, Bibi tidak dapat hadir di resepsi pernikahan kalian."


"Tidak masalah, Bi. Lisa apakah akan menyusulku?''


Lisa hanya tertawa, ekspresinya juga berubah saat bicara dengan Jay. "Kak, duduk dulu. Makan bersama kami. Ini pacarku, Mark."


"Oh, salam kenal. Kami tadi bertemu di toilet." Jay sangat sopan. Seorang pria yang dibalut kemewahan pakaian dan juga etika.

__ADS_1


"Sepertinya aku akan mendengar Lisa menikah sebentar lagi, Paman?"


"Ah, tidak. Ini hanya makan malam biasa."


"Kalau begitu, aku permisi. Ada janji lain dengan CEO City Bank."


Setelah Jay pergi, Mark dihadapkan oleh kenytaan yang menyakitkan.


"Kamu tahu siapa dia, Mark?" Ibu Lisa bertanya.


Mark hanya menggeleng, ia menebak pasti Jay adalah anak konglomerat atau sejenisnya.


"Dia adalah Jay Jang Clarkson, pemilik JJ. Salah satu pembisnis muda yang masuk dalam majalah forbes sebagai pemuda terkaya di Asia dan Eropa."


Mark harus mengakui bahwa karisma Jay memang tiada tanding, apalagi saat ia berbicara dengan sopan.


"Kak Jay dulu pacaran dengan kakak sepupuku, Lusi. Kami sudah kenal sejak lama. Istri Kak Jay juga orang Asia, Indonesia."


Mark beberapa kali menelan ludah ketika ayah kekasihnya membandingkan Jay dengan Mark.


"Di usia yang sangat muda, Jay sudah lulus kuliah dan juga bekerja di hotel mewah di Paris. Tidak seperti seseorang... "


Bukan salah Mark memilih karir sebagai seorang dosen, ia juga berjuang sangat keras di masa-masa muda saat orang lain justru menikmati klub dan bebas berpesta dengan uang orang tua kaya mereka.


Jamuan makan malam mahal telah berakhir. Mark tidak langsung pulang, ia membawa laptop dan memutuskan untuk menginap di kamar termurah hotel untuk mengoreksi tugas mahasiswa.


"Terima kasih," setelah mendapat akses kamar. Ia masih menunggu di lobi untuk membuka email pribadi.


"Maaf, Tuan Mark, Anda ternyata menang undian dari perayaan aplikasi. Anda bisa memesan satu kamar VVIP semalam tanpa biaya. Apa Anda bersedia?"


"Baiklah." Tidak menyangka akan seberuntung kata orang tentang aplikasi baru yang sedang viral.


Mark menenteng ranselnya, ia sudah keluar daru lift dan berjalan menuju kamarnya.


"1098, oke!" Mark begitu bahagia meski telah menerima sedikit hinaan tadi.


"Jay!" seorang wanita keluar dari kamar dan berlari menuju arah seorang pria yang tidak asing. "Jay, saranghae!"


"Kenapa kamu berteriak begitu?" Jay memeluk erat istrinya. "Apa tidak bisa menunggu sebentar?"


"Kamu bilang akan menemaniku nonton episode baru, kamu kan juga penasaran." Wajah istri Jay saat itu tidak terlihat, tapi Mark dapat memastikan pasti wanita yang beruntung dan menggemaskan.


Mark masih berdiri di dekat pintu dan melihat mereka. Jay menggendong istrinya dan mereka tertawa dengan bahagia.

__ADS_1


"*Indah sekali... "


Bersambung*...


__ADS_2