
Persepsi seseorang.
Hana telah menyelesaikan salah satu konsernya. Tiga resital yang akan dijadwalkan tahun depan juga sudah ia atur dengan baik.
"Selamat, Hana Jang. Konser yang indah." Hana akan menerima banyak bunga, banyak juga pesan. Salah satu pesan dari Nuri, kakak ipar yang masih menyanyanginya.
"Kakak iparmu sangat baik, dia selalu mengirim bunga termahal." Manajer Hana, Susan. "Bukannya dia sudah menikah lagi? Biasanya hubungan akan renggang, tapi dia sangat menghormati keluarga kalian, Hana. Kamu beruntung sekali."
Hana adalah seorang diva, perjuangannya selama beberapa tahun membuahkan hasil. Awalnya ia akan didebutkan dengan girl group. Tapi bakat yang luar biasa dalam menyanyi mempertemukan dia dengan rumah produksi terbaik di Korea, bahkan dunia.
Setiap hari, setidaknya ia harus menjalani lima sesi wawancara dan tiga pemotretan majalah. Belum lagi, jumlah followers instagram mencapai 18 juta orang. Sebuah prestasi memikat untuk penyanyi solo sepertinya.
Dalam sebuah wawancara yang membuatnya sangat terkenal, Hana mengutarakan tentang mimpi, keluarga dan kisah asmaranya dengan Hans. Tidak ada yang ia tutupi.
"Biasanya sebagian selebritis, maupun idol akan menutup semua skandal mereka. Belakangan ini, Hana sangat terkenal karena berani menampar para haters bukan?" MC acara bertanya dengan penuh keyakinan.
"Semua orang punya kisah kelam mereka sendiri. Ada suatu waktu, aku juga bermasalah. Pihak sekolahku di masa lalu, sangat berkelas. Kasus aku dengan Hans, bukan seperti yang orang-orang pikirkan. Dulu, kakakku membereskan semua masalah untukku. Semenjak kepergiannya, aku belajar apa itu dewasa. Menjadi kuat, tegar dan tahan banting di industri ini."
"Kamu juga berteman dengan kalangan atas dan tidak menutupi hubungan. Menurutku, ini sangat langka."
Hana tersenyum lepas, memang benar, agensi pertama yang merekrutnya mengatakan untuk menyembunyikan hubungan asmara.
"Untuk apa ditutupi, aku dan Hans sudah lama bersama. Bahkan, keluarga kami juga saling berkunjung di akhir tahun. Aku tidak sanggup untuk mengikuti aturan yang ketat. Beruntunglah memiliki CEO yang sangat hebat seperti beliau, dia tidak melarangku maupun artis lain dalam agensi untuk berpacaran. Terkadang, justru beliau yang menyarankan pemotretan majalah aku dengan Hans."
Semua penonton bertepuk tangan. Mereka tidak percaya Hana adalah salah satu pelopor bagi selebriti lain untuk lebih berani dalam hal benar. Bahkan majalah laris manis ketika sampul mereka adalah Hana dan Hans.
"Pasangan 23. Mereka menyebut kalian begitu bukan?"
"Oh iya, bahkan saat datang ke talk show di Amerika mereka juga membahas begitu. Yang membuatku heran, kenapa banyak orang harus malu-malu bahkan menutupi hubungan mereka karena takut penggemar kecewa. Penggemarku adalah temanku."
Album kedua Hana, terjual lebih dari satu juta kopi dalam beberapa hari. Selain menambahkan beberapa aksesoris kolaborasi dengan rumah mode. Hana juga ingat perkataan sang kakak, Jay.
"Buatlah penggermamu itu menjadi temanmu, Hana. Ini agar kamu bertahan lama dan tetap menjadi humble."
Setelah menyelesaikan jadwal padat, ia akan mendapat istirahat selama sebulan. Hana akan menggunakan waktu emas untuk pergi menemui keluarganya, mengunjungi makam Jay. Dan ia juga akan menemui kekasihnya, Hans.
"Aku melihat wawancara kamu, Hana. Kamu keren sekali." Nuri memuji betapa keren pertumbuhan Hana menjadi seorang diva yang semakin dewasa.
"Kakak juga, terima kasih. Kakak selalu mengirimi hadiah mahal."
Perannya menggantikan Jay untuk mejaga Hana selalu ia tepati. Sebuah janji.
Dalam perjalanan menemui Hans, Hana iseng membuka sebuah forum penggemar. Banyak sekali artikel baik maupun artikel buruk, aib selebriti dibongkar. Sebenarnya, ia hanya penasaran. Apa Hana mendapatkan kebencian juga di forum.
Hana menemukan banyak artikel dirinya, foto-foto saat konser maupun penampilan langsung.
"Aku pikir, Hana Jang adalah standar baru diva masa kini. Dia cantik, berani dan juga sangat jujur."
"Aku juga menyukainya. Aku pernah melihat penampilan langsung Hana, dia sangat cantik dan berkelas. Apalagi saat mengetahui di adalah kekasih Hans, sungguh serasi."
Hana tersenyum ketika membaca komentar orang-orang tentang dirinya. Tapi ada satu komentar yang menarik perhatiannya.
"Aku bukan penggemar Hana, tapi aku pernah melihat gadis ini ketika muda bersama kakaknya menonton konser IU. Dia sangat manja dan terus merengek, oh iya, kakaknya juga tampan. Apa kakaknya juga aktor?"
Merengek?
__ADS_1
Hana mengambil tangkapan layar, ia menyuruh Susan untuk melacak IP pemilik akun. Siapa orang yang berani bilang merengek.
Setelah sampai di tempat janjian. Hana langsung berlari menemui Hans. "Hans!"
Hans dapat melihat betapa rindunya Hana, setelah enam bulan belum bertemu karena jadwal mereka yang sama-sama padat. "Kamu sampe menangis gini?"
"Aku rasa, pake kacamata juga percuma. Selalu saja ketahuan kamu kalau menangis."
Hans menarik Hana, mereka pergi ke ruangan VVIP restoran. "Tidak ada paparazi disini, Hana."
"Besok kita pergi ke rumahnya."
"Bukannya dia sudah menikah lagi? Apa suami barunya bisa menerima ini, Hana?"
"Kak Nuri bilang bisa, dia tidak menutupi apapun dari suaminya yang sekarang. Dia juga dosen di universitas terbaik."
"Jangan bilang aku juga mengenalnya. Kamu tahu siapa namanya?" Hans yang kebetulan mahasiswa semester akhir. "Kamu tahu kan alasanku kuliah di Swiss, Zurich. Ada sedikit kebebasan untuk atlit."
"Aku akan mengirim pesan dan bertanya."
Mereka tidak lagi membicarakan orang lain. Hans memberikan sebuah kalung mahal yang ia sudah lama pesan untuk Hana. "Bulgari memang yang terbaik kan?"
Hana memeluk erat kekasihnya. Beban berat karena pekerjaannya menghilang begitu cepat. Rasa kesal karena membaca komentar jahat juga sirna.
"Kamu pasti setiap hari menjalani hari-hari berat ya?" Hans mengelus rambut kekasihnya. "Bagaimana kalau pemotretan kita di dekat gunung Alpen?"
"Hmm, apa maksudmu sekolah lama kita?"
"Iya. Apa kamu datang bernostalgia di asrama? Haha."
Hana menginjak kaki Hans. Kejadian konyol di masa lalu mereka sering dijadikan candaan.
Setelah menginap satu hari di hotel mewah yang Hans pesankan. Hana dan Hans pergi untuk menemui Nuri dan juga ingin mengenal suami barunya.
"Kita hanya membawa beberapa bunga dan hadiah." Hans merasa tidak enak, tidak membawa makanan.
__ADS_1
"Tenang saja."
Hana memencet bel. Seseorang menuruni anak tangga dan membukakan pintu.
"*Oh My God*!''
Hans merasa sangat terkejut melihat seseorang yang ia kenal. "Profesor? Anda?"
"Oh, Hans, dan Hana?" Mark menyambut mereka dengan ramah.
Bukan hanya Hans yang mengenal Mark, tapi Hana juga mengenalnya. "Aku benar-benar terkejut, Kak Mark adalah suami kakakku sekarang?"
"Dia juga dosenku, Hana. Prof, ini adalah Hana Jang, pacarku. Anda pasti mengenalnya kan?"
Mark tersenyum kembali. "Tentu, aku mengenalnya. Dia juga dulu adalah muridku"
Ya, Hana pernah mengikuti bimibingan belajar dengan dua temannya. Kebetulan, Mark saat itu menjadi tutor sementara.
"Aku sangat senang kalian datang," Nuri juga turun untuk menyambutnya.
"Bagaimana Hans perkembangan tugas akhir kamu?" Mark bertanya dengan santai.
"Bisakah kita makan saja, Prof. Aku malu bimbingan di depan Hana."
"Dan Hana, kamu menyanyikan lagu yang luar biasa. Aku sering menonton konsermu meski online."
Tunggu, Hana sejenak berpikir. Hanya dua orang yang pernah ia temui saat menonton konser dengan Jay, selain Mark berarti teman Mark. Ia akan menanyakannya lain kali.
Ponsel Mark berdering.
"Kamu sudah sampai, Vin?" Mark mengangkat telepon sambil meninggalkan ruang makan. Vin datang untuk berkunjung.
"Halo semuanya." Vin datang dengan senyum manis beberapa detik sebelum ia menyadari Hana Jang duduk dan menatapnya sengit.
"\*Oh, sh\*\* !"
Bersambung\*...
__ADS_1