
Jangan lupa berikan vote dan like ya gaes karena berarti banget loh buat akuuuu, tenkiyuuuh so much, sehat selalu ya readers.🤗
"Paketan Mas atas nama Mbak Nuri, Mbak Chacha, Mas Raka, Mas Candra dan juga Mas Johan."
Johan dan Raka yang sedang berbincang mengenai perkembangan bisnis di kafe langsung tersenyum ceria.
"Gue nih," Johan mengambil miliknya dan juga milik istrinya.
"Sampe juga nih jaket gue." Raka juga mengambil paketan miliknya. Promo belanja gratis ongkir dan diskon gila-gilaan membuatnya tidak ragu belanja. "Mantap nggak?"
"Nggak tau, punya gue bukan baju cuma usb sama komik Jepang."
"Lo udah nikah masih aja baca komik ginian? Genre lo masih loli aja Han?"
"Genre gue tuh *slice of life*."
Paket untuk Chacha dan Nuri hampir sama, skincare dan seperangkat pernak-pernik dari Korea. Johan sangat memahami semua orang mempunyai privasi, termasuk sang istri. Dia tidaj berani membuka milik Chacha.
Raka sangat bahagia mendapatkan jaket dan baju baru dari merek terkenal. "Demen banget nih."
"Bagus juga jaket lo, Ka."
"Yoi, lumayan diskon sama gratis ongkir."
Nuri dan Chacha sedang istirahat. Mereka melakukan hal yang membuat Johan takjub.
"Lo kenapa?" Raka sedikit tanggap, untung ruangan kantor kafe dipasang alat peredam suara. Tidak ada yang bisa mendengar suara jeritan Nuri maupun Chacha.
"Gue pikir Chacha bakal berhenti ngefans sama Jungkook bities, tapi fix susah banget." Johan meratapi nasibnya. Wajahnya memang tidak setampan idola sang istri, tapi dia juga menawan di kalangan pegawai bank pada masanya.
"Lo pikir gue dulu nggak setres pas Nuri bandingin gue sama Kim Taehyung?"
"Sekarang gue lebih penasaran. Dia bandingin Jay nggak sama Kim Seokjin?"
"Jelas enggak. Wajahnya mirip, cuma Jay lebih bule dan lebih tinggi." Raka sekali lagi mengakui visual Jay.
Dua sahabat itu menatap sosok Jay yang duduk santai sambil menikmati kopi. Dia yang sedang mengetik jalur ipad sudah sangat keren. Cocok di foto sebagai model kafe.
__ADS_1
"Lo potret aja si Jay, Ka. Fix bakalan pecah banget kafe lo!" Johan menyampaikan ide briliannya.
Raka juga memikirkan hal yang sama. Diam-diam ia menyuruh karyawan kafe untuk mengambil foto Jay secara candid.
"Gilee! Ini emejing banget si!"
"Mantep si daripada bayar mahal selebgram."
Di balik pemandangan indah yang pengunjung kafe sedang nikmati secara gratis. Pose Jay yang sedang mengetik dengan jemari indah. Jay ternyata sedang memantau bursa saham. Hanya untuk memastikan investasi aman terkendali.
"Jay, aku duduk ya." Raka yang seorang lelaki sudah mengakui pilihan Nuri memang sangat berkelas. "Nggak enak si mau ngomongnya, tapi aku merasa berterima kasih."
"Ya silahkan ngomong aja."
"Tadi karyawan kafe ada yang diam-diam motret kamu lalu post instagram. Sudah mencapai like satu juta. Ada juga yang DM tanya, kenapa ada cowok mirip anggota bities tapi bule?"
"Hah?" Jay yang kaget dengan bukti yang Raka bawakan. Tiba-tiba akun instagramnya rame, ratusan ribu orang mengikutinya. Banyak juga pesan masuk. "Viral."
"*Jay, what's going on? Banyak banget orang yang tiba-tiba follow Mommy loh di instagram*."
"*Oh, aku baru sadar juga Mom. Wajahku emang mirip anggota boy group. Thanks for my lovely, Madam Celine Jang*."
"*Terima kasih juga Jay-ku, tumbuh dengan wajah yang sangat tampan tidak seperti Appa*."
"Ri, lo udah tau?" Raka dengan wajah kaget menganggu Nuri yang sedang unboxing paket dari Korea.
"Ada apa lagi?" Nuri memang sebal ketika diganggu. "Ganggu!"
"Ri, gue nggak nyangka cowok lo bener-bener viral. Terus tadi gue denger dia telponan sama cewek manggilnya mai lopli madam Celine Jang. Lo nggak papa Ri?"
Hahaha. Nuri hanya tertawa terpingkal. Dia sudah tahu siapa nama kontak dan panggilan my lovely dalam hidup Jay. Bukan dirinya, tapi sang ibu yang sangat cantik.
"Ka, lo kan sama suami gue lagi nonton drama griya tawang tuh. Lo terpukau kan sama istrinya Om Jo? Lah itu bunda Jay kata Nuri mirip banget." Chacha juga awalnya salah sangka dengan sosok Celine Jang di instagram Jay. Mereka seperti seorang kakak-adik.
"Seriusan lo?"
"Hmm. Nuri jago banget emang nemuin serbuk berlian." Chacha harus mengakuinya, meski Nuri bukanlah seseorang yang sangat populer di masa SMA, tapi kakak kelas terpopuler saat itu diam-diam naksir dengannya. "Dari jaman SMA, Nuri emang hype abis."
"Udah, Cha. Gue malu nih."
Wajahnya memerah. Untuk sesaat, ia merasa bersyukur tapi di satu sisi lain, ia cemas. Pasti banyak nanti yang ingin merebut Jay dari pelukannya.
__ADS_1
Jay sudah menemui orang tua Nuri untuk membahas rencana pernikahan mereka. Sesuatu yang sangat serius dalam hidup, menikah dengan orang yang ia cintai.
"Bagaimana, Bos?" Andres menanyakan kesediaan atasannya tentang hal serius. "Pamanmu sangat tertekan."
"Andres, aku memang tidak akrab dengannya tapi aku mencintai keluargaku." Jay menatap langit malam kota Jakarta. Ada yang menganggu pikiran semenjak Paman Jang menghubunginya. Meski sangat tamak dalam warisan, dia tetap keluarga. Tidak ada yang bisa merubah ikatan keluarga.
Baru sebentar bertemu dengan Nuri, tidak ingin rasanya pergi lagi.
"Aku harus pergi lagi." Jay menatap dalam wajah kekasihnya. Sebenarnya ada rasa bersalah setiap kali Nuri melepas kepergiannya dengan senyum indah. "Ah, rasanya mau gila."
"Puk... puk... puk." Nuri memeluk Jay yang masih duduk manis, matanya merah sembab. Ada sisi manja dari seorang pria dewasa. "Sayang, ada sesuatu yang terjadi ya dengan saudara sepupumu?"
Jay mengangguk lembut, tapi kedua tangannya mengepal sementara kekasihnya masih memeluknya bak seorang ibu yang melindungi buah hati.
"Paman Jang bilang ada yang menyakiti sepupuku."
Hebat. Baru kali ini, dia bertemu dengan seorang lelaki dewasa yang sangat peduli dengan keluarga. Terkadang, ada rasa minder melihat betapa hangat seorang Jay memperlakukan keluarganya.
"Sayang, kenapa kamu memperlakukan Pamanmu kaya gitu? Apa kamu tahu saat di Afrika, dia adalah pekerja paling polos dan cekatan."
Nuri tidak bisa banyak bicara di depan Jay. Perbuatan buruknya akibat dendam di masa lalu. Bukan salah Om Toto juga ketika mudah ditipu investasi.
"Aku pernah dengar, Pamanmu sering menceritakan dua keponakannya yang membanggakan. Kakakmu yang kuliah S2 di Australia, dan kamu yang pintar membuat kue. Cerita itu sudah terkenal."
Nuri tidak bisa menahan lagi air matanya. Menangis.
"Come and hug me, Babe.''
"Jay, do you wanna cry too?"
" Okay."
Nuri tersenyum meski air matanya terus menetes. Semua rasa bercampur. Sungguh indah jatuh cinta dengan orang yang tepat di waktu yang tepat.
"*Saranghae, Jay Jang Clarkson*.''
*Bersambung*...
__ADS_1