
Lusi tidak tahan lagi. Apa yang membuat Jay sangat menyukai kekasihnya. Dari cerita yang Louis bagikan, seperti keajaiban. Tapi, mana mungkin selera Jay turun?
"Nuri seperti ibu Jay. Cara memperlakukan Jay beda denganmu yang bar-bar." Louis terpaksa menemui Lusi di hari libur.
"Aku juga memperlakukan Jay dengan baik."
"Apa kamu sadar? Jay sudah tidak mencintaimu, Lusi. Cobalah untuk move on."
Tidak semudah itu melupakan seseorang. Lusi memang memiliki tempramen yang buruk. Mudah terbawa emosi.
Lusi datang ke toko roti tempat Nuri bekerja. Yang ia lihat hanya Eric, sepupu Jay dan anak buahnya sedang minum anggur di teras.
"Kamu mencari siapa?"
Tertangkap. Lusi tidak bisa berkutik. Lelaki yang kemarin membela Nuri. Pegawai paruh waktu di kedai kopi.
"Jangan bersikap bodoh." Saki masih sangat kesal, wajah mantan Jay seperti penyanyi kesukaannya tapi sifat mereka jauh berbeda.
"Hei, apa maksudmu? Apa hakmu menceramahiku?" Wajah Lusi tegas dan alisnya naik.
"Kenapa kamu harus mengganggu hubungan temanku? Tinggal cari pacar baru, bukannya gadis cantik cepat mendapatkan ganti?"
Lusi tersenyum. Setelah sekian lama, ada orang yang mengatakan hal seindah itu meski sedikit sarkas.
"Cepat pulang sana!"
"Hei, kamu mau jadi temanku?" Lusi menawarkan sebuah kesepakatan. "Kamu suka kan dengan Nuri?"
"Cih," Saki tersenyum sengit.
Penasaran. Lusi terus mengikuti Saki.
"Ada apa lagi?" Saki mulai merasa risih.
Sembari memalingkan pandangan. Saki melihat mobil Jay yang putar balik karena Lusi.
"Aku juga melihatnya." Lusi tidak bodoh, ia hafal plat mobil Jay.
"Masuklah, aku akan membuatkan kopi panas untukmu."
Biarkan hati membaik. Tidak ada gunanya juga menyusul mereka. Lusi berdiri tegar di tengah cuaca dingin dengan pakaian tipis. Sudah tidak ada lagi yang peduli.
"Kamu mau membeku?" Saki membawakan jaketnya. "Pakai ini."
"Terima kasih, orang baik.''
Keesokan harinya. Lusi datang membawakan makanan kesukaan Jay yang susah payah ia dapatkan. Tapi emosi Lusi memuncak melihat Nuri dengan enak melahap makanan, duduk di kursi makan. Hal yang lebih menyakitinya adalah melihat Jay sangat nyaman dengan kehadiran Nuri.
"Dasar babi gemuk!" Lusi kesal, pikirannya mulai tidak terkendali. "Apa kamu menumpang hidup sekarang?"
"Arthur, take her out!"
Jay sangat marah mendengar ejekan Lusi. Bagaimana bisa wanita berkata sekasar itu. Menyakiti sesama hati wanita. Nuri baru pernah merasakan makanan mahal dan terasa bahagia menjadi saksi kebahagiaan di pagi hari.
Nuri menghentikan makan. Mendengar ucapan Lusi, ia pun menangis. Perkataan yang menyakiti hatinya. Mungkin, orang kaya seperti Lusi sudah biasa merasakan sarapan mewah. Berbeda dengannya, yang terbiasa makan nasi uduk di pinggir jalan seharga lima ribu rupiah.
"Maaf, Nona Lusi. Ayo pergi dari ruang makan." Arthur mengantar Lusi untuk pergi. Sebagai orang tua, mendengar hinaan rasanya juga menyakitkan.
Jay mengambilkan makanan camilan. Dia akan membawakan untuk Nuri yang muram di dekat kolam renang.
"Sayang, ayo makan lagi. Kamu kan suka ngemil." Jay mengusap air mata Nuri.
"Setiap kali aku dihina. Aku memikirkan orang tuaku, Jay. Apa mereka juga akan sedih kalau dengar tadi?"
"Gadis baik." Jay memeluk Nuri. Bukan hanya orang tua Nuri, bahkan kekasihnya pun akan sedih. Meneteskan air mata yang sama.
__ADS_1
Seharusnya ia menjadi kebal. Tidak salah menikmati makanan mahal. Dia juga tidak berniat untuk menghabiskan semua makanan di meja.
"*Gue tau gue kampungan, tapi bisa nggak si orang kaya lo juga belajar buat menjadi manusia*."
"Maaf ya, Lusi akan berhenti kalau dia sudah menemukan target baru."
Jay tidak bersalah. Memang kelas mereka berbeda. Pergaulan mereka juga berbeda. Ibarat langit dan bumi. Ada tantangan yang harus mereka taklukan.
"Aku bisa melewati semua masalah denganmu, Jay. Ayo kita menikah saja."
Jay yang sedang minum jus jeruk tersedak. Pagi ini, seorang gadis melamarnya. Apa benar ini bukan drama?
Memang benar, menikah karena cinta itu lebih indah. Tapi, ia juga harus melakukan persiapan. Tentang banyak hal rahasia dari dirinya.
"Kamu yakin bisa menerima semua hal tentangku?" Jay penasaran.
"Asal itu bukan poligami, aku siap." Nuri malu, tapi ia juga mempunyai batasan.
Hal pertama yang sangat berbeda. Agama. Jay sudah membaca referensi pernikahan dalam agama Nuri. Mereka harus seiman.
"Aku harus menghapus ini dulu kan baru menikah dengan kamu?" Jay menutup mata, ia takut melihat ekspresi kecewa Nuri. Apa yang akan kekasihnya pikirkan setelah melihat tatonya?
Nuri menyentuh bagian tubuh Jay yang bertato. "Apa arti gambar ini?"
"*Mommy* menyukai bunga ini."
Tiba-tiba, Nuri memeluk erat Jay. Ada sebuah tangis yang pecah. Menemukan seseorang yang tepat di saat yang tepat. Seorang pemuda yang mencintai ibunya, menghargai wanita dan pekerja keras. Tidak ada lagi kesempatan kedua untuk Raka.
"Terima kasih, Sayang."
"Aku minta maaf ya, kita harus menemukan waktu yang tepat untuk mengatur pertemuan keluarga." Jay mencium tangan Nuri. "Aku berharap kita akan selalu begini. Jatuh cinta setiap hari dengan orang yang sama."
"Terima kasih Jay,"
Ada sebuah nostalgia di masa SMA. Nuri dan Chacha memang tidak tenar di masa sekolah. Mereka lebih sering nongkrong di kantin. Boro-boro kafetaria, uang jajan mereka minim.
__ADS_1
"Cha, lo capek nggak si miskin?'' Nuri menatap sahabat baiknya.
"Gue juga pengin kaya kali. Lihat tuh si Firda, kapan si dia berhenti pamer?" Chacha tidak pernah benci kalau mereka bukan orang kaya, tapi melihat orang kaya baru agak sensi. "Masa masih SMA, udah bawa mobil ke sekolah."
"Gue berharap... suatu hari, bertemu seseorang yang kaya raya, baik hati, dermawan dan juga tampan." Nuri selalu berdoa hal yang sama. Lelah dengan keterbatasan ekonomi. Apalagi semenjak Om Toto membebani keluarga.
"Aamiin, tapi betewe lo maunya level pangeran ya Ri?" Chacha kagum, setidaknya level sahabatnya tinggi. "Tapi mesti realistis juga si."
Menyadari kekurangan diri. Nuri memang ingin merasakan bagaimana dicintai oleh seorang pangeran. Meskipun itu cuma halusinasi.
"Makanya lo jangan banyak nonton drakor. Jadi levelnya pada tinggi, tapi masih jomblo juga." Candra juga sering meledek.
"Berisik lo!" Chacha menginjak sepatu Candra.
Awal masuk SMA merupakan tahun yang lumayan berat. Menghadapi senior yang galak, tugas sekolah menumpuk dan wajib mengikuti ekstrakulikuler sekolah.
"Gue pulang sama Candra, lo naik angkot sendirian nggak papa kan?" Chacha mulas, ia harus segera pulang.
"Nggak papa kok, Cha. Kalian hati-hati ya!"
Nuri duduk di halte depan sekolah. Beberapa teman kelasnya sudah pulang. Hampir semua siswa di antar jemput mobil. Sisanya naik angkutan umum.
Tet! Firda membunyikan klakson mobil. Bukan sombong, ia hanya gemas dengan Nuri yang duduk sendirian.
"Lo nggak di jemput?" Firda tersenyum. "Mau bareng nggak?"
"*Anjir, ngapain coba lo sok baik padahal niat lo pamer*?"
Nuri yang menolak dengan halus. Begitu melihat mobil Mas Dika lewat, langsung naik.
"Masuk Ri, gue sekalian nih mau pulang." Mas Dika yang saat itu pulang kuliah.
"Makasih, Mas. Gue janji kalau kaya bakal ngasih lo hadiah buat momen ini."
Firda tertawa geli. Tidak menyangka. Selera Nuri lumayan keren.
"*Keren juga selera si Nuri, ngincernya cowok pake mersi*."
__ADS_1
*Bersambung*...