
Nuri ingin sekali memasang foto profil dirinya dengan Jay, tapi teringat banyak pelakor di jaman moderen yang sangat kejam.
"Duhh, nggak kuat." Membayangkan saja, ia sudah sangat kewalahan apalagi jika benar terjadi.
Setelah pertunangannya dengan Raka gagal di tahun lalu, ia belajar banyak hal. Terutama tentang pria. Pria baik tidak akan seenak hati mereka memutuskan hubungan tanpa sebab.
"Kenapa lo nggak ngomong alasannya sekarang aja, Ka?"
"Maaf, gue nggak bisa."
Saat itu, Raka juga terlihat tertekan. Mungkin ia juga mengalami masalah yang besar.
Sudahlah. Mereka sudah berakhir.
Nuri menghentikan lamunan. Ia mulai kembali dengan menghafalkan resep beberapa bolu lokal, Chef Eric meminta satu bolu lokal yang sangat menarik untuk dijadikan kudapan.
"Gue udah apal semua nama mentega." Nuri sedang iseng.
Susan terlihat bahagia akhir-akhir ini karena menjelang pernikahannya dengan Andre.
"Selamat ya, kalian menikah sebentar lagi." Nuri ikut bahagia, bagaimanapun sebagai wanita ia juga menginginkan hal yang sama.
"Kamu juga harus menikah secepatnya dengan Mr. J." Susan menyentil pipi Nuri.
"Iya, tenang." Sebenarnya, usia Nuri bulan depan sudah 26 tahun. Teman masa sekolahnya sudah banyak yang mempunyai anak, bahkan ada yang sudah tiga.
"Jay itu berbeda. Aku baru melihat pria elegan sepertinya."
"Benar, Susan. Aku juga baru bertemu dengan seseorang yang sangat kaya sepertinya. Meski bukan CEO...."
Susan menepuk pundak Nuri. "Apa kamu pikir ini drama yang sering kamu tonton? Tidak semua orang jadi CEO."
Benar juga. Dia berlebihan. Jay sudah sangat keren bekerja dengan gayanya. Apalagi, ketika melihat ia tersenyum dalam rapat. Nuri tidak pernah bisa fokus jika mereka satu kantor.
"Aku harap kamu bisa lulus ujian, Nuri." Susan menyemangati teman kerjanya.
"Terima kasih, Susan." Nuri memeluk Susan.
Memasuki ruang ujian praktik. Seperti manusia normal lainnya, ia pun merasakan gugup. Keringat dingin.
"Aku kasih waktu 40 menit untuk buat sesuatu yang membuatku terkesan." Chef Eric memiliki aura berbeda ketika serius.
Peserta pelatihan ada 20 orang. Nuri merupakan satu-satunya peserta yang masuk jalur khusus. Keterlaluan jika ia mendapatkan nilai jelek. Jay pasti akan malu.
Nuri membuat kue yang mirip dengan semangka. Rasanya tidak seburuk yang Chef Eric pikirkan.Ia justru tertekan. Ini sangat unik. Pelanggan kecil mereka pasti akan senang.
Setelah menyelesaikan ujian, Nuri langsung pergu ke kamarnya. Ia merasa bahagia. Sepertinya, idenya sangat berhasil.
"Lega... " Nuri membaringkan tubuhnya di ranjang yang tidak terlalu besar tapi cukup nyaman. "Tinggal jajan nih."
Tunggu, ada sesuatu yang mengganjal saat ia rebahan. Nuri membuka selimut. Ada sebuah kotak hadiah dari Jay.
__ADS_1
"Selamat sudah selesai ujian." Nuri membaca sambil tersenyum. Dia bisa lebih romantis dari yang Nuri bayangkan.
Begitu membuka hadiah dari Jay. Rasanya ingin pingsan.
"Guc*i," gumamnya.
Nuri mendapatkan jaket mahal yang tidak pernah ia bayangkan.
"Ini yang biasa idol gue pake," Nuri sampai menangis. Ia sangat bersyukur bertemu dengan Jay, pangeran loyal.
Suara mobil Jay terdengar. Nuri langsung membuka jendela dan berdiri di dekat balkon. Ia melihat Jay sedang melambaikan tangan.
"Jay, Sayangku. Terima kasih sudah hadir dalam hidupku ya Sayang."
Jay tersenyum. Jantungnya berdebar. Dia sudah luluh dalam satu kali pandangan. Mungkin terdengar aneh, hubungan mereka belum begitu lama.
Nuri lalu turun. Dia mendatangi Jay.
"Jay," ia berbisik lirih.
"Iya. Apa?"
Sedikit memalukan, Nuri mencium pipi Jay.
"Kamu jadi berani gini?" Jay gemas, ia juga seorang pria normal.
"Jay, apa kita menikah saja?"
"Duh, malu.'' Nuri menutupi wajahnya dengan kedua tangan. "Turunin aku, Jay."
"Nggak." Jay tidak begitu peduli orang yang melihat mereka. Terserah apa kata orang. Dia juga bayar pajak.
Nuri masih sedikit malu, tapi ia juga merasa senang.
Jay menurunkan Nuri, ia lalu merangkul kekasihnya dan membawanya pergi.
"Kamu mau apa lagi?" Nuri masih malu, wajah mereka memerah.
Tunggu, ini kejadian seperti dalam halusinasi. Jay membawanya pergi ke tempat yang sepi. Apa mungkin, Jay akan menciumnya? Tidak, dia belum siap. Ekspetasinya tidak boleh terlalu tinggi.
"Sayang, kamu mau ngapain si?"
"Lihat dulu deh,'' ucap Jay begitu santai.
Ah, dia selalu punya cara yang unik.
"Jay.'' Nuri tidak akan lagi kecewa bahkan jika Jay membawa kadal, binatang yang ia benci. Tapi, kali ini berbeda.
Jay membawanya ke dekat sebuah rumah makan asli Indonesia yang ramai. Ada acara syukuran. Pemilik rumah makan mengundang penyanyi dangdut yang sedang viral.
"Aku pikir semua orang Indonesia lagi di sini."
__ADS_1
"Tarik sissss!"
"Semongko!
Jay menarik Nuri. Dulu saat bekerja di Indonesia, dia juga suka mendengarkan musik dangdut.
"Jay!" Nuri menjewer telinga Jay.
"Sakit!" keluh Jay.
Sebuah hal kecil yang membuatnya bahagia. Bukan sesuatu yang mewah. Dan ajakan untuk menikah, itu sesuatu yang tidak Nuri rencanakan. Semua wanita pasti ingin hidup bahagia dengan kekasih hatinya. Perasaan dicintai, hidup berdampingan, saling menghormati dan bisa menjadi teman dalam segala situasi.
Percayalah, di dunia yang lebih luas ini banyak sekali kejutan dari Tuhan untuk orang yang bersabar dan memperbaiki diri. Tidak perlu menjadi yang terbaik di mata orang lain, cukup menjadi orang yang lebih baik dari kemarin.
"Jay, ada hal yang ingin aku katakan untukmu. Mungkin terdengar terlambat, tapi aku sangat berterima kasih karena kehadiranmu. Cukup dengan memastikan kamu bernafas, hatiku menjadi damai."
Jay tersipu malu. Untuk pertama kali dalam hidupnya, seorang gadis mengatakan hal yang sangat manis sambil melotot. Lucu dan terlihat menggemaskan.
"I'm loving you."
"Aku juga," balas Nuri.
"Lain kali nonton opera ya?" Jay merangkul Nuri.
Di jalan pulang. Jay memberitahu ada sebuah gedung opera kesukaannya. Di sana ia sering menghabiskan waktu ketika bosan.
"Aku nggak paham apa itu opera," Nuri sebenarnya sadar perbedaan di antara mereka.
Keinginan di masa lalu Nuri adalah mempunyai kekasih kaya raya seperti idolanya. Tapi, semakin lama ada sesuatu yang lebih indah daripada barang mewah. Saling menghargai.
Orang sekarang tidak paham betapa indahnya ketika rasa cinta berpadu dengan rasa saling menghormati privasi masing-masing. Jay tidak pernah berkomentar tentang hobi Nuri. Begitu juga Nuri, ia tidak pernah protes dengan kebiasaan Jay, membeli barang mewah.
"Jay, apa kamu pernah mikir selain membeli yang kamu sukai. Kamu juga harus berbagi dengan mereka yang membutuhkan kan?"
Apa yang Nuri katakan sama persis dengan Mommy Jay.
"Sayang," ucap Jay pelan. Ia sebenarnya malu mengucapkan sesuatu yang romantis tidak dalam bahasa Inggris.
"Hmm?" Nuri meletakan kedua tangannya di pinggang Jay.
"Maaf ya, aku bukan CEO..." wajahnya terlihat murung.
"Ini bukan dalam drama apa novel kok. Hehe."
"Minder kalau nemenin nonton drama, kebanyakan isinya CEO. Apa aku minta bikinin perusahaan aja kali ya daripada dapat warisan hotel?" Jay masih sedikit menyesal karena baru mengetahui kalau Kakeknya di Asia juga tak kalah kaya dari cerita drama.
"Tunggu! Cowok gue dapet warisan hotel! Dia bukan lagi selevel CEO cuy!"
"Blue Hotels di Jeju sama Seoul."
Rasanya Nuri dulu hanya bercanda saja dengan Chacha tentang keinginan-keinginan konyol, buah dari halusinasi.
__ADS_1
Bersambung...