
Semua orang mencarinya. Keberadaan Jay Jang Clarkson yang masih menjadi misteri. Apa kalian juga penasaran dengan kondisi pangeran kita?
Nuri mendapat sebuah pesan. Bukan dari Jay melainkan seorang penipu di masa lalu. Ketua yayasan meminta maaf.
Aku sedang memperbaiki diri. Aku benar-benar minta maaf telah menipumu. Maaf aku belum bisa kembalikan uangnya, tapi kalau nyicil boleh? Tolong balas email ini lalu berikan nomor rekeningmu.
Tertanda,
Bekas Ketua Yayasan (Yang pernah menipumu)
"Cih,"
Enak saja setelah dua tahun berusaha lupa, tiba-tiba muncul sebuah email mengesalkan. Setiap ingatan yang berkaitan dengan Paris, Nuri merasa sebal. Semua akan menjadi kenangan. Kebaikan Jay di masa lalu yang tidak ingin ia lupakan.
Nuri harus melanjutkan hidup. Jay masih tetap hidup meski tidak mencarinya. Bukan masalah, mungkin jalan ceritanya demikian. Keluarga kaya raya punya masalah mereka sendiri. Harta, tahta dan hotel mewah.
"Udahlah, mungkin dia lagi semedi.''
Menjelang acara pernikahan Bang Nanda dengan Mba Cyn, Nuri juga lumayan sibuk. Banyak persiapan meski acara di hotel.
"Ri, kamu lagi ngapain?" Bang Nanda baru datang setelah mendapat ijin cuti dari kantor.
"Bantuin aja," Nuri memang ringan tangan, sampai tidak terasa sudah empat jam ikut membantu kru WO. "Kamu kenapa Bang? Kok kaya mau marah tapi ditahan gitu si?"
Bang Nanda memang sedang dalam mood yang buruk. Bukan karena bertengkar dengan Cyntia ataupun yang berkaitan dengan pernikahan.
"Ada apa?" Nuri memegang tangan Bang Nanda. Mereka keluarga yang saling memahami. "Jangan bilang kalau..."
Memang tidak boleh berburuk sangka, tapi dari ekspresi marah sang kakak. Nuri langsung tanggap. "Om Toto?"
Bang Nanda membawa Nuri menuju lobi. Seorang tamu tak diundang dengan wajah tanpa dosa.
"Om Toto?!"
"Wah, beban keluarga di masa lalu terlihat semakin gemuk. Ayah kami sungguh kasihan ya?" Nuri tidak dapat memendam lagi. Tidak ada Jay, ia bebas mengekspresikan amarah.
Om Toto bukanlah seorang hero, dia datang bukan juga untuk membayar hutang. Kedatangannya justru menambah hutang.
"Om ditipu investasi bodong, Nda!" ekspresi Om Toto sedih tapi Nuri tidak akan masuk perangkap sang paman dengan mudah.
"Om, gadai mobil Ayah kalian."
"Ya!" Bang Nanda yang tidak pernah berteriak, kali ini berteriak keras. "Om! Apa yang ada di otak Om?!"
Kesal. Nuri juga sangat marah. Ayah mereka adalah kakak yang baik, tapi baik dalam hal yang kurang tepat. Om Toto sejak dulu menjadi beban bagi mereka. Menjual tanah, menggadaikan tanah mendiang kakek tanpa ijin. Yang terbaru justru menambah hutang. Hutang di masa lalu saja belum lunas.
"****!"
"A...nu, Om kena tipu. Maaf ya Nda, Ri. Om emang nggak berguna buat kalian. Padahal niat Om itu mau kasih hadiah saham buat keponakan." Masih menunduk karena enggan melihat tatapan marah sang keponakan.
"Kalau udah nggak berguna setidaknya Om jangan nambah beban dong. Aku mau nikah!"
Nuri menepuk-nepu bahu Bang Nanda. Kenapa Om Toto harus muncul di waktu yang kurang tepat dan menghancurkan suasana hati mereka.
"Om, nggak pernah ngasi Nuri uang selama ini tapi Om selalu ngasi beban. Hiks...."
Om Toto terdiam, omongan kedua keponakannya benar. Selama ini ia bekerja menjadi TKI, tidak menyisakan sepeser pun uang jajan. Merasa sangat jahat. "Ya Allah, gue jahat banget jadi seorang paman ya?"
"Om kalau bodoh, mending tanya dulu deh. Penipu sekarang semakin pintar, tapi yang ditipu?"
"*Benar. Gue yang bloon."
"Ah, bisa-bisanya hari ini bete gegara penipuan*.''
__ADS_1
Jay Jang Clarkson.
"Jay, kamu dimana?"
"Jay, apa kamu baik-baik saja?"
"Jay, kita nggak putus kan?"
"Aku kangen banget sama kamu."
Jay memang sengaja tidak membalas pesan dari Nuri. Bukan karena ia seorang pengecut, tapi membaca sudah cukup. Tidak akan menambah harapan.
"Arthur, terima kasih." Jay mempercayai Arthur.
"Tentu, Tuan. Bagaimana kondisi Anda?"
"Baik. Aku tutup dulu telepon, tolong rahasiakan panggilan ini."
Jay menutup sambungan telepon kamar. Dia masih berbaring menatap terik matahari. Cuaca yang hangat dan tidak cocok untuk rebahan.
Semua hal di dunia ini tidak dapat ia prediksi. Awalnya berpikir bukan masalah, ternyata menjadi masalah besar. Bidang yang ia geluti memang kejam. Cara bersaing dan bertahan yang terkadang mematikan.
Tok tok tok. Asistennya bernama Andres datang membawakan dokumen yang perlu Jay tinjau sebelum investasi. "Bos, apa kita sudah bisa pulang?"
Jay menatap Andres. Dia juga ingin pulang, memeluk kekasihnya. "Kamu pikir, aku juga nggak ingin pulang apa?"
Andres hanya mendengar rumor kalau atasannya sedang dimabuk asmara tiba-tiba harus menyelesaikan proyek di Afrika Selatan mendadak. Semua karena kesalahan rekan bisnis Jay di masa lalu. Membocorkan rahasia perusahaan klien dan kabur dengan uang suap.
"Dua tahun ini rasanya kita kaya kerja paksa Bos."
"Kalau kamu bilang begitu, kamu kurang profesional. Ada yang namanya tanggung jawab. Ini juga salahku si."
Saling menyalahkan tidak berguna. Jay adalah atasan yang sangat bertanggung jawab. Kesalahan kolega bisnis memang bukan kesalahannya, tapi demi nama baiknya juga.
__ADS_1
"Nenek Hwang sudah baikan kan?"
"Sudah, Bos. Kenapa Anda peduli? Padahal bukan Nenek kandung."
"Dia sudah bekerja keras sejak muda. Dia juga memperlakukanku lebih baik dari Nenek kandungku." Jay ingat di masa lalu, Nenek Hwang yang memperlakukan Jay seperti seorang pangeran kecil, seperti cucu kandung.
"Oh, Bos. Orang itu belum membalas." Andres sebenarnya canggung, tapi ia juga dalam hati menertawakan Jay. "*Bisa juga ya orang setampan dan sekaya dia dicuekin seorang gadis*."
"Jelas nggak akan balas. Lihat saja instagram milikmu seperti akun palsu."
Jay pernah bahkan sering mengirimi pesan kepada Nuri. Awalnya iseng, lama-lama jadi ketagihan. Hanya dengan melihat foto Nuri atau orang yang menandai Nuri, ia merasa bahagia. Mungkin akan banyak kutukan dari sahabat Nuri karena keputusan Jay di masa lalu.
"Apa benar dia?" Andres lumayan cerewet. Sebuah teori konspirasi, Jay Jang yang dijuluki master bahkan mafia Italia saja sangat menghormatinya. Tidak ada yang berani macam-macam dengan Jay, kecuali Nuri.
"Dia penyelamatku." Hanya karena memukul seekor tikus, pesona Nuri terlihat kuat di hati Jay.
"Kenapa Anda tidak menemuinya? Bulan lalu kan kita juga di Bali."
"Hush, aku selalu lupa waktu kalau bersamanya." Dipaksa untuk menonton drama bersama adalah sebuah keindahan.
Andres yang lumayan bosan mendengar kisah cinta atasannya pergi. Ada hal yang lebih penting untuk ia kerjakan. Setumpuk dokumen yang harus diketik dan dikirimkan melalui fax.
"Apa kabar, anakku sayang?"
"Aku masih sibuk. Apa yang kalian lakukan?" Jay saja belum menemui *Mommy*. Yang dapat ia lakukan adalah mengabari jalur suara.
"Aku dan ayahmu sedang bermain dengan \*baby.''
"How are you, my lil sister\*?"
Jay setahun lalu mempunyai seorang adik. Dia sangat kaget, kalian juga kan?
*Bersambung*...
__ADS_1