Super Rich Bae

Super Rich Bae
Part 56


__ADS_3

"Nyonya Jang!"


Nuri tidak seperti biasanya bangun terlambat. Setelah menjamu kakek Jay sampai larut malam, ia sangat lelah. Untungnya, kakek Jay memutuskan untuk menginap di hotel Wilson.


"Jaga dirimu, Nak."


"Kakek juga. Seringlah meneleponku!"


Setelah membuat Jay dan kakeknya lumayan akur. Mereka bermain catur, minum anggur sampai tengah malam.


Nuri mencuci wajahnya, ia langsung keluar karena mendengar suara Bibi Amelia berteriak lumayan keras.


"Nak!"


"Kenapa?"


Bibi Amelia memeluk Nuri lebih erat dari awal mereka bertemu. "Aku tidak tega untuk membagikan kabar ini dengan gadisku yang sangat cantik... "


"Ambil nafas terlebih dahulu, Bi."


Bibi Amelia tidak pernah menyangka dengan apa yang ia dengar dari sang menantu. "Suamimu... "


"Jay pergi berolahraga pagi hari, Bi."


"Bagaimana bisa aku mengatakan ini, Oh, Tuhan!"


Nuri membawa Bibi Amelia masuk ke dalam rumah, cuaca juga semakin dingin.


"Minumlah, Bi." Nuri membuatkan teh jahe hangat untuknya. "Bicara pelan-pelan."


Belum habis, ia menengguk teh jahe hangat. Kakek Jay datang dengan asisten pribadinya. Penampilan mereka lebih rapi dari kemarin.


"Kakek?"


"Ayo, kita bersiap."


Nuri masih tidak mengerti dengan situasi yang terjadi. Yang ia tahu, perutnya lumayan sakit dan merasa mual. "Ada apa ini?"


"Nyonya belum mendengarnya?" Asisten Kakek Jay bertanya polos.


"Tuan muda mengalami kecelakaan tadi pagi. Polisi belum bisa memastikan itu kecelakaan atau pembunuhan berencana."


"Apa? Jay tadi pagi masih sibuk membersihkan sepeda kesukaannya. Ini pasti salah, Kek!"




*Saat itu, aku berharap yang mereka katakan adalah percakapan yang ada dalam mimpi malamku yang panjang*.



"*Benar, Nak." Setelah Kakek dan Bibi Amelia meyakinkanku bahwa itu adalah benar. Tidak ada yang bisa aku harapkan. Kematian bukanlah drama, semua orang akan menghadapinya*.



*Apa ini semua*?



*Jay kemarin pernah menanyakan hal yang sangat menyedihkan, "Apakah kamu akan menikah lagi jika aku sudah nggak lagi ada*?"



"*Kamu pikir, aku akan menikah lagi*?"



"*Jika nanti ada orang yang lebih baik dalam membuat marah, nikahi saja. Tapi, jangan menikah dengan Raka*."



"*Kamu lagi kenapa si*?"



*Perasaan aneh saat menyadari betapa dalam pertanyaan yang ia ajukan di penghujung malam. Aku bahkan masih bisa mengingat betapa harum nafasnya, saat ia berbisik, "Aku sangat mencintaimu*."



*Polisi bilang, Jay tertabrak ketika menyelamatkan seseorang. Sebuah perbuatan yang mulia*.


__ADS_1


"*Tuan Jang menyelamatkan seseorang, aku pikir. Kondisi wanita yang ia selamatkan juga kritis*."



*Aku sudah berhenti menonton drama misteri, tapi mengalami sesuatu yang lebih dari misteri*.



"*Aku ingin melihat cctv di sekitar*."



"*Baiklah, di sekitar sini sepertinya tidak ada cctv. Tapi kamera dasbor mobil dari pemilik toko kelontong sepertinya berfungsi dengan sangat baik*."



"*Lelaki itu menolong wanita muda yang berteriak minta tolong. Aku tidak yakin kenapa, tapi wanita muda itu sepertinya terlihat kurang sehat, wajahnya sangat pucat*."



"*Jika lelaki itu tidak menolongnya, aku rasa... dia yang akan meninggal*."



*Dari berbagai sumber, aku dapat menyimpulkan satu hal. Jay-ku adalah seseorang yang sangat baik, berhati malaikat*.



*Entah kenapa, wanita dalam cctv tampak tidak asing dalam penglihatan. Aku seperti pernah melihatnya belum lama ini*.



*Aku berharap ini semua hanya mimpi malam yang panjang. Aku masih menolak untuk percaya bahwa ia sudah pergi dari dunia ini*.



"*Bang*?"



*Bang Nanda datang dengan Mbak Cyn, mereka lebih cepat dari perkiraanku*.



"*Ayah, Ibu?" Aku tidak mampu banyak bicara lagi untuk menyapa mereka. Maaf, bukan tidak menghargai. Dalam posisi terluka, terkadang air mata yang lebih banyak berbicara*.




"*Sayangku... " Ibu dan Mbak Cyn juga tidak berhenti menangis. Ibu pernah berkata, Jay adalah menantu yang sangat berharga. Ia memperlakukan semua orang sama meski berasal dari keluarga yang sangat kaya*.



"*Jay, semoga Tuhan selalu menjagamu." Ayah dan Om Toto juga ikut meneteskan air mata*.



"*Jay, keponakanku... " Om Toto tidak pernah terlihat sesedih itu. "Terima kasih, Jay*."



*Satu persatu keluarga besar Jay datang. Aku tidak terlalu mengenal mereka, hanya ada salah satu wanita yang sangat cantik yang mendekatiku*.



"*Nuri, kamu harus percaya satu hal. Jay sangat mencintaimu." Athena, dia istri Danny, sepupu Jay*.



"*Terima kasih*,"



*Athea memberikan sebuah kotak perhiasan padaku. "Ini untukku*?"



"*Jay memintaku mendesain perhiasan ini untuk istrinya*."



*Arthur dan Eric juga datang. Aku tidak pernah menyangka akan bertemu kembali dengan mereka dalam situasi yang tidak baik. Situasi duka*.

__ADS_1



"*Nuri, kamu harus kuat. Terlalu munafik kalau aku menyuruhmu untuk berhenti menangis. Aku juga kehilangan adik yang sangat berharga." Eric memelukku, aku bisa merasakan air matanya juga jatuh bersamaan*.



*Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Arthur, ia adalah seseorang yang mengenal Jay lebih baik dariku. Ia tidak menangis histeris, hanya beberapa kali mengelap air mata dengan sapu tangan. Elegan*.



*Dan juga telah diputuskan Jay akan dimakamkan di Swiss. Membayangkan memulai malam tanpa kehadirannya adalah petaka. Tidak ada lagi rajukan dari seseorang yang sangat menawan*.



"*Kamu Nuri?" Danny ditemani Athena menemuiku kembali. "Ada sesuatu yang ingin kami bicarakan*."



"*Apa ini tentang Jay*?"



*Athena memegang tanganku, ia tersenyum. "Suamiku meski terlihat begini, ia adalah sepupu kandung Jay*."



*Mereka membahas tentang harta warisan dengan nilai aset yang sangat fantastis*.



"*Ini semua dari Jay untukmu," Danny memberikan kunci brankas rahasia di bank Swiss*.



"*Danny adalah pengacara, ini bidangnya." Athena memperjelas*.



"*Terima kasih banyak*,"



*Aku berniat membaca dokumen terkait warisan besok, tapi ada yang sangat menarik perhatianku*.



"*Jay?" aku mungkin gila, tapi aku mendengar langkah kaki di ruangan kerja Jay. Persis seperti cara Jay berjalan*.



*Dalam ruangan kerja, banyak sekali buku-buku Jay. Sembari menunggu kedatangan Mommy dan keluarga besar Jay dari Korea Selatan. Aku memutuskan untuk membaca salah satu buku yang tergeletak di meja kerja Jay*.



"*Bagaimana menjadi seorang ayah baik?" Judul buku yang sangat menarik, impiannya adalah menjadi seorang ayah*.



*Rasanya, angin yang berhembus kencang membuat suasana semakin menyedihkan. Aku hanya ingin menenangkan diri, tidak ada satupun pesan yang terbaca*.



*Mengingat kembali beberapa hari yang lalu, kami belanja di pesta diskon. Itu adalah kenangan yang sangat berharga bagi kami. Jay yang duduk dengan menyantap makanan swalayan begitu mempesona*.



"*Kamu senang ya kalau kenyang*?"



"*Hmm. Terima kasih, Sayangku." Jay menggenggam tanganku dan memelukku erat. "Aku baru pernah merasakan nikmatnya pesta diskon*."



*Kami saling tertawa, tidak ada kecemasan untuk merasa kehilangan sama sekali. Aku percaya ini semua takdir, tapi aku hanya belum menata diriku dengan benar saja. Butuh waktu untuk menyembuhkan luka, tidak ada cara menghapus kenangan bersama bukan*?



*Salah satu foto yang Jay taruh di meja kerjanya adalah foto yang kami ambil di Paris saat kencan pertama kami*.



"\*Never say good bye."

__ADS_1



Bersambung\*...


__ADS_2