
Jack melihat Chacha sedang bingung seorang diri.
"What's wrong?"
Chacha terdiam, ia sebenarnya malu untuk berbicara dengan orang asing seperti Jack. Menggunakan jurus jitu alias mengangguk.
"Ada apa?"
"Nggak ada apa-apa kok,"
Obrolan yang agak kaku tersebut ingin segera Chacha akhiri. Apalagi ia mendapatkan kabar kalau Johan dan Maya beserta geng selebgram sedang berlibur di hotel yang sama.
Semenjak podcast viral kemarin, Johan tidak mengatakan sepatah kata untuk mantan istrinya. Hanya saja, ia sangat menyayangkan banyak prahara rumah tangga menjadi konsumsi publik terutama warganet yang budiman.
"Gue denger juga Chacha lagi sama Nuri liburan di hotel ini loh.''
"Ohh... " Johan tidak terlalu menanggapi. Ia hanya mengecek isi tas dan ponselnya.
"Beib, lihat itu." Maya menyeret Johan. Memaksa. Mereka melihat Chacha berbincang dengan orang asing yang terlihat keren dengan balutan kemewahan. Hampir seperti Jay Jang.
"Chacha juga demen bule kaya Nuri sekarang ya? Wow... "
Pria yang juga baru Johan lihat. Mungkin seorang kenalan Jay. Tapi kenapa Chacha terus tersenyum saat bicara dengannya?
Chacha tidak sengaja menginjak kaki Jack. Karena malu, ia justru tertawa. "Hahaha, so sorry Jack."
"Kamu tertawa?" Jack melotot, kakinya lumayan sakit karena terinjak sandal Chacha. "Tapi lebih baik tertawa."
Jack sudah mendengar kisah Chacha. Ya, sebagai orang yang juga pernah gagal dalam berumah tangga, ia tidak bisa memberikan solusi terbaik.
"Tertawa adalah solusi dariku, aku juga gagal mempertahankan istriku di masa lalu. Tapi tidak masalah selama dia bahagia dengan pasangan yang sekarang."
Chacha menghela nafas. Semua orang memiliki kisah mereka sendiri. Tapi ia melihat Jack yang notabene seorang pembisnis bisa menggunakan segenap perasaannya juga. Kadang menjadi logis justru membuat diri kita semakin egois akan banyak hal.
"Aku yakin kamu akan menemukan seseorang yang tepat."
"Aku tidak secantik Nuri, aku tidak yakin itu Jack."
"Kenapa semua orang ingin tampil cantik sesaat agar orang lain terpikat? Akan bagus kalau kamu jadi dirimu."
Menjadi diri sendiri.
"Atau kamu masih menunggu mantan suamimu kembali lagi?"
"Bukan itu... aku sekarang justru ingin melihatnya bahagia, lebih bahagia lagi."
Jack tertawa. Sebenarnya, ia juga ingin menertawakan dirinya. Setelah perceraian ia justru semakin gila bekerja, terkadang sampai pingsan karena kelelahan. Banyak yang mencoba untuk dekat dengannya, tapi seolah dinding pertahanan Jack lebih kuat dari hari ke hari.
Satu hal yang mereka berdua sadari, penderitaan yang sama. Luka karena ditinggalkan oleh pasangan hidup tentu tajam. Biasanya saat bangun tidur, luka itu semakin menganga. Kebiasaan-kebiasaan kecil di masa lalu yang mulai hadir kembali.
__ADS_1
"Rasanya kangen dengan masa lalu." Chacha duduk dengan santai meski arah matanya tertuju kepada pemandangan pantai yang indah.
"Apa yang paling membuatmu merasa kehilangan?"
"Saat dia membangunkanku di waktu subuh."
Jack tidak terlalu memahami urusan tersebut. Tapi yang ia perhatikan dari Jay, selalu menjalankan ibadah di waktu subuh. Bahkan di kantor mereka, Jay menambahkan biaya renovasi untuk tempat ibadah. Membuatnya menjadi semakin nyaman dan elegan.
"Kamu masih menyukai mantan suamimu kan?"
"Tentu. Perasaan itu pasti masih ada. Aku harus membiasakan diriku untuk membunuh perasaan ini kan?"
"Biarkan saja. Kamu hanya perlu suasana baru, dengan orang baru. Aku pikir wanita lebih cepat kan dalam hal ini?"
Chacha tertawa. Saat berbicara dengan Jack, kadang ia teringat akan cinta pertamanya di masa lalu, Mas Dika.
"Apa kamu sekarang mengingat cinta masa lalu?"
"Aku tidak ingin mengingatnya lagi. Dia sudah menikah dan bahagia. Apakah kita juga nggak boleh bahagia?" Chacha balik bertanya. Seperti apa pemikiran Jack, orang yang Nuri bilang pembisnis sejati, raja investasi.
"Boleh. Semua orang memiliki hak yang sama untuk bahagia dan sejahtera. Itulah gunanya hak asasi manusia ada."
"*Wow, amazing.''
"Don't say that."
"Am I do that? Hahaha*!"
Ya, dua orang yang awalnya berbincang canggung mulai menikmati obrolan. Tertawa lumayan keras dan membuat orang yang melihatnya berpikir mereka pasangan yang baru menjalin asmara atau sahabat.
"Kenapa kamu nggak kembali lagi bekerja di bidang yang kamu sukai mungkin?"
"Menggambar? Aku dulu bekerja di studio animasi di Bali. Sekarang aku belum percaya diri dan masih mengurus kafe usaha bersama Raka."
Jack melihat tatapan lain, acuh namun tak berguna. "Chacha? Kamu sepertinya melihat ke arah pantai terus?"
Pandangan Chacha tertuju ke dua orang yang tengah tertawa bersama sambil berpegangan tangan. "Mereka terlihat murni. Cara laki-laki itu menatap perempuan yang bersamanya."
"Itu juga caramu saat menatap mereka. Kamu iri?" Jack balik bertanya, ia bisa merasakan cemburu dari balik tatapan Chacha.
Mereka berpisah. Jack harus bersiap menemui kolega bisnis yang sudah menunggu di resto dekat hotel mereka. Sementara Chacha hanya melepaskan penat, toh Nuri juga sedang menikmati bulan madu lagi dengan Jay. Momen yang tidak boleh diganggu.
Langkah demi langkah. Chacha membiarkan semilir angin terus meniup wajahnya. Dress floral lengan panjang dengan topi krem terbukti indah saat ia kenakan.
"Johan?" Kaget, Chacha melihat Johan sudah berdiri di dekatnya. "Ngapain kamu?"
Johan menarik tangannya. "Cha, beri tahu aku. Cowok bule tadi bukan pacar baru kamu kan?"
"Itu bukan urusan kamu, Han. Kita udah nggak ada kewajiban untuk saling melaporkan." Chacha menatapnya sinis.
__ADS_1
"Aku senang melihat kamu masih pake baju ini, topi ini juga." Johan tersenyum tulus. Ia juga merasa bersalah karena gegabah dengan mudah berpaling.
"Aku mau pergi, Han. Permisi."
Johan mendekapnya, ia bercucuran air mata. "Maaf, Cha. Seharusnya aku... "
Semua sudah berlalu bagi Chacha. Tidak ada istilah merajut hubungan kembali dengan sang mantan. "Udah, Han. Jangan gini ya? Aku udah maafin kamu. Tapi maaf aku nggak bisa balikan lagi sama kamu."
"Kenapa?"
"Why?"
Jack datang di waktu yang tepat. "I'm sorry, but can you give me reason why you make her cry? I think you guys were done."
"Jack, he is my ex husband."
"Oh, it"s you."
Jack dengan tenang membawa pergi Chacha. Nuri yang memberitahunya.
"Apa kamu mau putar balik dan memeluknya?"
"Nggak... aku cuma mau bilang terima kasih." Chacha tersenyum meski air mata terus menetes.
Jack memeluknya.
Johan melihatnya.
"Aku nggak pernah merasa sesedih ini."
"It's okay not to be okay,"
Seseorang yang baru ia temui memeluknya. Pelukan hangat yang berbeda dari masa lalu. Pelukan dari seseorang yang memahami luka.
"Ciyee!" Nuri berteriak, ia turun dari motor.
"Jay, Nuri. Kalian kemana aja dari tadi?"
Nuri tertawa sumringah, lalu bergegas pergi dengan Jay. Menikmati berkendara motor harley di dekat pantai.
"*Hug me, Bae!"
"Yups, wushh!!!"
Bersambung*...
*Note*
Jangan lupa ya berikan like, vote agar author cemungud. Thx so much readers, semoga sehat selalu kalian.😘
__ADS_1