
Suasana di kantor mendekati awal bulan memang sibuk.
Nanda sedang mempersiapkan dokumen untuk kunjungan kerja di pabrik pusat. Setelah beberapa tahun, ia akhirnya bisa pergi liburan.
"Udah siap belom?" Dika dengan kebiasaan makan kerupuk di sela-sela kerja. "Gue titip beliin elvi dong, Nda!"
"Titip tuh ngasi duit, lo mah cuma kedok. Kalau minta beliin, gue sanggupnya merek lain. Apa mau makarun?"
"Dih makarun mah di toko Wasiat Bapak juga ada kali." Dika yang tidak terlalu berprestasi seperti teman baiknya sering menuntut buah tangan. "Apa yang lagi hits di Paris?"
Nanda sudah lama mengenal Dika. Perbincangan tentang oleh-oleh hanya kedok.
"Lo kenapa?'' Nanda menatapnya serius.
"Mendekati hari lamaran, gue malah ragu." Wajahnya sangat berbeda dari biasanya, Dika begitu tertekan. Bukan memikirkan hal konyol seperti yang Raka sebutkan. Ia hanya kurang percaya dengan Intan.
"Gue nggak paham nih. Apa alasan lo sampe bilang gitu?"
"Gue nggak sengaja liat notif hape dia. Ternyata dia masih kontekan sama mantan pacar jaman SMA." Kejadian itu seminggu lalu, tapi Dika masih terusik. Kepikiran.
"Lo udah pernah tanyain belum?"
"Nggak perlu. Gue baca whatsapp dia." Dika memang teliti, tapi ia lemah dalam menjalin hubungan. Payah.
"Isinya bukan sesuatu yang aneh kan?" Nanda ingin memastikan. "Lo jangan buruk sangka dulu."
"Kayaknya mantannya tuh masih ada rasa deh."
"Eh makin ngawur aja lo." Nanda sebenarnya pernah melihat Intan di jemput oleh lelaki lain saat Nanda sedang pergi ke pertemuan menggantikannya.
"Dugaan gue aja si. Gue bawa mobil hari ini, mau cek persiapan lamaran juga."
Mereka berpisah. Dika tidak bersama Intan. Ia pasti ingin menenangkan pikiran. Tujuannya sangat jelas ke Dewarnet, kafe internet langganan mereka.
Nanda tidak ingin terlalu banyak ikut campur. Ia sudah punya rencana sendiri. Saat bertemu Cyntia di luar kantor, ia akan menanyakan perihal Intan. Mereka sangat dekat meski atasan-bawahan.
"Nda, nungguin aku?" Cyntia datang tepat waktu.
"Iya Bu, eh Mba. Jadi kan?"
Mereka sudah punya janji rahasia sebagai sesama penggemar ikan hias. Sempat tidak percaya kalau Cyntia sering menonton video Candra atau yang lebih ngetop dengan Mas Beta.
"Iya aku sama kembaranku emang suka ikan hias dari kecil." Cyntia bahkan mempunyai akuarium besar di ruangannya.
"Adikku malah nggak suka ikan tuh jadi cuma aku sama Ayah aja si, hehe."
Cyntia menitipkan mobilnya di rumah Nanda. Mereka pergi naik motor ke rumah Candra.
"Ternyata gini ya naik motor." Cyntia merasa angin menyapa wajahnya dengan lembut. Perasaan bahagia menghampiri sekejap.
Nanda yang diam-diam memperhatikan lewat spion motor. "Dia cantik banget, luar biasa ciptaan Tuhan."
Pegal. Nuri sedang merasakan pegal tangan dan kakinya. Ia salah posisi tidur.
"Huamm...."
Saki yang melihat Nuri menguap di pagi hari tidak berhenti tertawa.
"Eh, Saki." Nuri jadi malu, ia tidak menyangka akan bertemu Saki saat bangun tidur.
Penghuni lantai dua toko sekarang bertambah bukan hanya Nuri, tapi Paul dan Margareth di lantai tiga. Meski tidak pandai memasak, Nuri sengaja bangun lebih pagi.
"Apa Margareth betah?" Saki mengenal Margareth, sepupu Paul yang bekerja di kedai kopi sebagai kasir.
"Dia kayaknya sering begadang,"
"Margareth juga sedang mengerjakan tesis." Saki kebetulan satu kampus meski beda jurusan.
Nuri yang sedang belajar menjadi *baker*, ia merasa senang bisa mengenal orang-orang dengan semangat belajar tinggi. Tidak sepertinya yang kurang pintar di akademik. Hanya bahasa Inggris satu-satunya yang ia kuasai.
__ADS_1
"Aku yakin kamu juga hebat kok, Nuri. Bahasa Inggrismu lebih bagus dariku."
"Terima kasih, Saki. Tapi itu memang benar. Hahaha."
Saki baru pernah bertemu gadis seperti Nuri. Percaya diri dan tidak malu-malu. Terkadang ia juga bercanda dengan candaan yang aneh.
"Kamu nggak ada rencana buat berkunjung ke Jepang?"
"Aku sebenarnya punya banyak rencana, cuma belum punya banyak uang. Hahaha." Nuri sedang menertawakan dirinya. Ia memang sudah kenyang merencanakan banyak liburan yang gagal.
"Pacarmu sangat kaya, ayolah. Hahaha." Saki tidak bisa membayangkan sekaya apa Jay Jang, kekasih Nuri.
Benar juga, semua orang tahu kalau Jay Jang itu kaya raya. Tapi untuk Nuri, dia lebih penasaran seperti apa orang tua kekasihnya. Ibunya saja sangat cantik dan berkelas. Mereka menikah muda dan lahirlah Jay.
Seperti biasa. Nuri akan bekerja sampai pukul empat sore kemudian mempraktikan kembali apa yang Chef Eric ajarkan. Sudah banyak ilmu yang ia dapatkan.
"Nanti kalau ujianmu dapat A, dapat hadiah *mixer*."
"Oke, Chef."
Ia memang menyukai hadiah. Hadiah adalah pemicu semangat.
Pukul tujuh malam. Toko sudah tutup. Paul dan Margareth pergi untuk makan malam. Sedangkan Nuri masih menunggu Jay.
Nuri sudah menunggu selama sejam. Jay biasanya tepat waktu. Karena sebal, ia langsung menyalakan *smart tv* di ruang tengah. Kesempatan untuk nonton drama Korea kesukaan Nuri. Tidak lupa, ia juga selalu menonton berita Indonesia.
"Ya ampun!" Nuri kaget.
Adegan dalam drama yang begitu tragis saat tokoh utama dibunuh suaminya sendiri tanpa ampun.
"Hiks, Bunda...."
Nuri sedang menikmati alur cerita. Meski tertekan lahir dan batin menonton drama misteri, tetapi ia sangat suka.
Dari luar terdengar seseorang yang menangis. Jay langsung berlari. Ia kenal suara tangisan Nuri.
"Nuri?!" Jay belari, nafasnya tak menentu. "Kamu kenapa?"
"Jay?'' Nuri langsung lari memeluk Jay. "Nanti kalau kita menikah, kamu jangan bunuh aku." Air matanya membasahi jaket mahal Jay.
Jay melirik ke arah tivi. "Oh, shit! Dia sampai menangis gini."
Tidak ingin melihat Nuri sedih, akhirnya Jay juga terpaksa duduk ikut menonton. Sebenarnya, ia tidak suka menonton drama tivi. Mengandung bawang dan memicu emosi.
__ADS_1
"Makasih ya, Jay." Nuri masih sibuk dengan kotak tisu, ia sudah mempersiapkan diri.
Tiba-tiba datang tamu yang sangat Jay benci. Tikus.
"*Damn! Shit*!"
Jay berlari karena takut. Nuri dengan santainya justru mengikuti tikus pergi. Ia sudah bersiap untuk tempur.
"Jay, tikusnya udah mati." Tidak butuh waktu lama, Nuri berhasil memenangkan pertandingan.
Pemuda kaya dan tampan seperti Jay bahkan tidak berdaya di hadapan tikus selokan.
"Aku bakal hormatin kamu lebih dari kemarin." Jay memang pernah berjanji jika bertemu dengan wanita hebat yang mampu membunuh tikus untuknya, ia akan hormat dan menikahi wanita tersebut. "Apa aja yang kamu minta bakal aku lakukan!"
Nuri tertawa. Tunggu, ini bagus untuk membuat seseorang takluk hanya dengan memukul tikus.
"Aku mau minta sesuatu nih." Nuri tersenyum licik.
"Apa?"
Dia meminta sesuatu yang sangat konyol.
Nuri hanya meminta Jay untuk berdiri di dekat kursi pijat sementara dirinya sedang merasakan relaksasi yang sesungguhnya.
"Kamu cuma minta aku buat megangin jus jeruk sama ngipasin wajah kamu?" Jay tidak heran, ia juga ingin duduk di kursi pijat.
"Iya ini yang aku inginkan dari kemarin."
Jay tersenyum. Semenjak bertemu Nuri ada hal unik yang ia alami. Pengalaman yang berbeda dari biasanya.
Nuri sedang menikmati kursi pijat mahal. Seseorang yang berdiri di dekatnya juga sangat berharga.
Ponselnya bergetar. Chacha mengirimi pesan.
\*\*Chacha
Abang lo udah punya gebetan nih mana cantik banget.
Ri, gue bingung.
Apa gue bilang aja ya soal perasaan gue ke Mas Dika\*\*?
Nuri tidak dapat berkata apapun, ia hanya terkejut.
"*What's wrong, Sweetie*?"
__ADS_1
*Bersambung*...