
~Plot twist mulai ada~
Masih teringat jelas, saat mereka saling bertatapan dari jarak jauh. Rasanya baru kemarin.
"Ri, lo udah bangun?" Chacha membawakan air hangat di pagi hari. "Minum ini baik buat kesehatan lo."
Nuri menengguk habis segelas air hangat. Pagi yang begitu terik di kota kelahirannya. Sudah dua tahun semenjak kepergiaannya ke Paris.
"Gimana hari ini langsung ke kafe?" Chacha selalu menanyakan hal yang sama setiap pagi.
Nuri mengangguk, ia ingin menghabiskan waktu lebih cepat dari biasanya. Kafe yang sedang viral di kalangan selebgram ibu kota adalah kafe milik Nuri yang kebetulan join dengan Raka dan si kembar. Bisa dibilang, bisnis bersama sahabat.
Banyak yang bertanya tentang perpisahannya dengan Jay Jang Clarkson melalui instagram.
"Lo udah putus ama si bule tajir?"
"Kok bisa si padahal kalian pasangan Prada?"
"Makanya lo kalau punya pacar keren dan ganteng nggak usah deh umbar di sosmed!"
Nuri hanya membaca, tidak ingin menanggapi. Tidak pernah terpikir olehnya juga akan berpisaj dengan Jay usai menghadiri resepsi pernikahan Susan dua tahun lalu. Semua serba mendadak. Memang benar, tidak boleh berekspetasi tinggi terhadap manusia. Jay juga manusia biasa. Tidak luput dari kesalahan.
Berkat ketiga sahabat baiknya, tidak, Raka kan mantan kekasihnya. Nuri bisa bangkit dan menghadapi kenyataan pahit gagal bertunangan lagi dengan Jay. Rasanya tidak mungkin, Jay meninggalkannya. Pasti ada sebuah alasan yang membuat Jay pergi tanpa permisi. Chef Eric juga tidak mengetahui alasan Jay.
"Saat itu dia pergi ke Asia, sampai sekarang Jay belum kembali ke Paris. Aku minta maaf sebagai saudaranya." Chef Eric merasa bersalah.
Nuri merasa sesak setiap kali mengingat kenangan mereka. Hal-hal romantis yang membuatnya dulu mengenang Paris dengan begitu manis.
Mungkin dia tidak ingin bertunangan, lebih baik langsung menikah saja. Dua kali mengalami hal yang menyakitkan. Raka memang berengsek saat meninggalkannya hanya karena sebuah wejangan yang belum tentu benar.
"Dia masih belum aktif di sosmed, Ri?"
"Hmm, belum."
Ratusan kali, Nuri mengecek siapa tahu Jay mengiriminya email atau pesan. Nihil.
"*Apa kamu baik-baik saja, Jay?"
"Apa kamu sudah makan?"
"Jangan sampai telat makan, ingat asam lambungmu*!"
Banyak sekali pertanyaan yang ingin ia ajukan. Semua hanya tersisih dalam ungkapan perih. Rasanya lebih sakit.
"Ri, gue yakin dia baik-baik saja." Raka sering memberikan kalimat baik untuk membuat Nuri kembali tersenyum seperti dulu.
Tiket konser boy band yang dulu Jay berikan bahkan masih tersimpan rapi di laci. Jaket Jay yang sengaja ia bawa dari Paris adalah satu-satunya pelepas rindu.
"Dek, Ibu mau bicara." Ibu Nuri juga ikut sedih, tapi ia selalu berpikir positif.
"Hmm... " Nuri lebih sering berbaring di ranjang.
"Ibu nggak akan memaksa atau menanyakan kapan kamu menikah, Ibu juga nggak akan memaksa kamu buat melupakan Jay. Tapi, kamu harus melanjutkan hidup."
Hanya air mata yang menetes. Nuri tidak banyak bicara sejak pulang dari Paris.
"Ayah juga nggak bisa menyalahkan siapa-siap. Ayah cuma berdoa semoga kamu bertemu dengan pria yang lebih baik."
__ADS_1
Ayah nggak tahu bagaimana Jay memperlakukanku dengan sangat baik? Meski hubungan kami singkat, dia nggak pernah mecoba melakukan sesuatu yang melanggar etika di matanya. Apa Ayah tahu? Di jaman sekarang nggak mudah bertemu dengan lelaki seperti Jay. Cintanya begitu murni.
Hanya berharap jika Jay dalam keadaan yang baik. Nuri tidak pernah membayangkan Jay akan berpaling. Itu hal yang mustahil. Lusi sudah bertunangan dengan Saki bulan lalu.
"Apa Jay belum pernah meneleponmu?" Lusi maupun Saki sering menanyakan hal yang sama.
"Belum."
Semua yang menjadi saksi hubungan mereka juga tidak pernah menyangka. Nuri yang dulu takut kehilangan Jay menjadi belajar. Rasanya berpisah selama dua tahun. Siksaan untuk batinnya.
Foto-foto mereka saat bersama masih tersimpan indah dalam laptop Nuri. Ponsel serta jam tangan mahal, setelan prada, parfum pasangan, tas elvi dan perhiasan. Jika di total Jay sudah memberikan hadiah senilai lebih dari 3 milyar. Nilai yang fantastis untuk kebersamaan mereka yang hanya 60 hari.
Nanda sering mampir ke kafe viral bernama Glow. Memantau aktifitas sang adik. Setelah melewati badai yang panjang, Nuri mampu bangkit lagi.
"Beb, kamu mau pesen apa?" Cyntia menuju kasir.
Nanda dan Cyntia sudah bertunangan. Semua terlihat tidak adil kalau tiba-tiba menikah sementara sang adik merasakan pukulan mental yang luar biasa.
"Nuri?" Cyntia mengusap pipi Nuri, ada sedikit debu sisa tepung. "Nih ada tepungnya loh."
Cyntia tidak pernah memaksa untuk segera menikah, ia pengertian. Nuri memang terlihat tegar, tapi dia memiliki mental yang lemah. Apalagi saat tidak banyak bicara. Nanda sampai ketakutan, dia lebih panik dari sang ibu.
"Kamu pernah nggak si tanyain soal Jay ke pemilik toko roti?"
"Pernah. Dia juga kaget, kaya nggak nyangka Jay bakal pergi. Jay tuh bucin banget Nuri. Rata-rata semua bilang hal sama." Nanda sudah pernah bertindak heroik sebagai seorang kakak.
Cyntia lumayan bingung apa alasan Jay mendadak pergi tanpa permisi. Selingkuh juga tidak terdeteksi.
"Beb, coba deh kamu tanyain ke orang tua Jay kalau penasaran."
"Masalahnya aku sendiri nggak tau siapa nama orang tuanya,"
__ADS_1
Solusi dari seorang direktur memang berbeda. Tapi, Nanda memang tidak tahu menahu siapa orang tua Jay. Yang ia tahu sebatas Jay dulu pernah bekerja di hotel termewah di Jakarta.
Nanda dan Dika datang ke hotel tempat Jay bekerja.
"Maaf ya Mbak, mau tanya. Kami kerabatnya Pak Jay Jang Clarkson. Ada info nggak soal dia datang kemari? Udah lama nggak aktif nomor hape dia nih." Dika jago berakting. Petugas lobi pasti ingat dengan sosok yang rupawan. "Yang orangnya tinggi, cakep. Pokoknya kalau sama artis Korea, dia itu kaya member bities, Kim Seokjin."
Nanda sudah tidak kaget mendengar celotehan Dika. Ia hanya berharap sebuah petunjuk. Kejelasan.
"Iya Mas, tau kok. Mr. Jay Jang kan yang ganteng banget tapi rambutnya coklat tua? Dia dulu kan dari Paris datang untuk audit kayanya dua tahun lalu sejak saat itu belum pernah datang lagi. Kata Manajer kami belum lama ini, beliau sudah pindah. Dia itu idola semua karyawan cewek soalnya, hehe."
"Eh makasih ya Mbak buat infonya. Betewe, tahu nggak sosmed dia yang aktif? Insta dia udah nggak aktip nih." Masih dengan akting sangat memukau, padahal Dika belum pernah bertemu Jay.
"Lah emang udah nggak aktif sosmed, Mas. Manajer juga bilang katanya Jay seperti hilang mendadak padahal dulu sempat posting sama pacarnya. Duhh, pacarnya kan orang Indo juga."
Postingan foto Jay dan Nuri masih tetap ada. Jay tidak menghapusnya, inisial "N" juga masih tertera.
Setelah pamit. Nanda dapat menyimpulkan pasti ada alasan tertentu. Jay bukan orang sembarangan.
"Bro, kayaknya pacar Nuri kali ini emang beneran sultan. Gue kepoin ige dia, *followers* dia lebih banyak dari selebgram Indo. Yang lebih ngeri, baju dia bukan kaleng-kaleng." Dika langsung mengikuti akun Jay. Foto terakhir yang Jay unggah adalah foto dengan Nuri dua tahun lalu.
Belum jelas apakah Jay masih hidup atau sudah pergi. Semua tinggal waktu yang menjawab. Nanda tidak ingin membuat teori konspirasi. Sekarang, ia sudah bahagia melihat Nuri kembali tersenyum.
"Lo nggak pulang? Ntar bini lo ngamuk, Dik! Bahaya!"
"Gawat, gue baru inget udah nikah woey!" Dika baru ingat, ia baru menikah bulan lalu. Tekadang ia malah ingin nongkrong sepulang kerja.
"Inget bini lo, dia lebih galak dari singa kalau marah, hihihi."
"*Gawat gue lupa kalau istri titip belanja sabun cuci nih, mampus*!"
__ADS_1
*Bersambung*...