
"Bravo!"
Jay mengejutkan semua orang. Ia datang ketika Raka sedang menjelaskan sebuah alasan yang lumayan aneh.
"Jay?" Nuri langsung tersenyum.
"Senyumnya sama kaya pas mau gajian dulu."
Chacha terbangun lalu sadar kalau sudah sore.
Raka tidak lagi penasaran. Akhirnya sudah bisa bertemu dengan Jay. Orang yang sekarang menggantikan posisinya. Tidak terlalu berat, mereka hanya beda tinggi badan.
"Senyum lo serem kalau punya ide licik." Candra yang tidak terlalu pintar bahasa Inggris, hanya senyum-senyum. "Hei?"
"Wah, Jay cakep banget ya kalau diliat langsung." Chacha yang baru pertama kali bertemu dengan Jay.
"Jay, yang itu Chacha, Candra sama Raka."
Jay hanya tersenyum. Dia tidak berjabat tangan. Tapi yang membuatnya sedikit canggung adalah Raka yang terus menatapnya seram. Berasa seperti ditatap seorang pembunuh.
"Halo, aku Candra." Candra lebih ramah daripada Raka.
"Raka."
"Chacha. Hehehe."
"Salam kenal semua. Namaku Jay Jang Clarkson, kalian bisa panggil Jay saja."
Jay terlihat elegan dengan sikapnya, wangi parfum mahal dipadukan dengan pakaian mahal menjelaskan kalau ia berkelas.
"Gile, dia pake semua barang mahal! Nuri, lo emang keren banget sih!" Candra dapat merasakan perbedaan kelas Jay.
"Apaan si. Oh iya, Bang Nanda juga bentar lagi mau datang lo."
Terasa sangat nyaman. Nuri akhirnya membuatkan makanan camilan, menuangkan beberapa minuman soda. Untuk mencairkan suasana. Bagaimanapun, mantan kekasihnya bertemu dengan calon suaminya. Jelas, ada perasaan yang canggung.
"Apa yang kamu buat?" Jay membantu Nuri membawakan nampan minuman.
"Aduh, Jay. Repot-repot nih. " Chacha menghentikan aktivitas stalking sejenak.
"Kok Jay bisa bahasa Indonesia?" Candra lumayan penasaran.
"Aku dulu ikut kelas bahasa Indonesia."
Apa-apaan dia sangat pintar cari muka.
Raka ingin sekali membuat mereka putus tapi tidak dengan cara licik. Ia akan mencari celah hubungan Nuri. Pasti, ada saja hal yang membuat hubungan akan renggang. Bukan ingin menjadi perebut kekasih orang, Raka hanya ingin berusaha maksimal.
"Apa yang kalian lakukan?" Raka memergoki Nuri dan Jay sedang berduaan di dekat bak cuci piring. "Nggak usah pamer kemesraan deh, nggak jamin hubungan awet."
"Raka, lo bisa nggak si nggak usah usil? Sebenarnya tujuan lo apa datang?" Nuri bak pahlawan, ia melindungi Jay dari monster kecil.
"Tujuan gue buat mastiin keadaan lo."
Tidak ingin terjebak pertikaian. Jay membawa Nuri untuk pergi. Mereka duduk di teras samping toko. Terdengar suara pelanggan kedai kopi yang berdatangan.
"Apa itu mantan tunanganmu?" Jay mengelus rambut Nuri.
"Iya. Dia adalah orang yang merusak suasana. Aku pikir dia mau minta maaf, Jay."
"Sayang, dia kelihatan masih suka kamu. Aku yakin, dia ingin membuat kita bertengkar dan tinggal menunggu putus."
Tapi itu tidak akan terjadi. Jay sangat mencintai Nuri, mungkin tidak terlihat jelas. Dunia tidak perlu tahu seberapa hebat perasaannya. Karena rasa cinta murni mampu mengalahkan segala rintangan.
Nuri menangis karena sebal. Hal yang paling menyakitinya di masa lalu juga mengancam kebahagiaan di masa kini.
"Jay... "
"Sad to see you cry."
Nuri juga tidak ingin terlihat lemah. Begini rasanya menangis di depan orang yang tepat. Mereka saling melempar senyum. Tangan mereka juga berpegangan erat.
"Terima kasih, Sayang."
"Untuk?" Jay melirik, ia ingin sekali menggoda kekasihnya.
__ADS_1
"Thank you for coming to my life." Dengan langkah malu, Nuri mencium pipi Jay.
Dari balik jendela, Raka menyaksikan sendiri. Nuri tidak main-main dengan Jay. Mereka terlihat serius.
"Ada waktunya kita ngalah buat menang." Candra menepuk bahu sahabatnya.
Chacha juga tersenyum bahagia. Nuri sudah menemukan cinta sejatinya. Takdir yang indah. Sementara dirinya, masih saja menikmati momen dan hobinya. Tidak peduli lagi, apa Mas Dika akan memberikan kepastian.
Jay mengantar Nuri untuk menemui kakaknya. Seharusnya Bang Nanda datang ke toko, tapi ada beberapa masalah internal dari laporan perusahaan pusat yang membuatnya ikut juga melakukan audit.
"Jay, aku mau tanya. Tapi kamu janji, jangan berpikiran aku itu gimana." Nuri penasaran sejak Lusi mendatanginya.
"Tanya aja," Jay masih fokus menyetir.
"Beneran Jay, kamu dapat warisan hotel?"
Jay mengerut. Sebenarnya bukan ia pewaris resmi, hanya ibunya tidak senang repot saja.
"Lusi pasti memberitahu kamu?"
"Iya, dia juga tanya, apa kita udah tidur bareng?" Nuri tidak akan melupakan kejadian memalukan kemarin. Balas dendam dengan cara yang lebih elegan.
Rasanya keluarga Jang benar-benar keluarga kaya raya. Sekali lagi, Nuri cuma bermimpi dan asal bicara. *Suatu hari aku pasti akan bertemu dengannya,"Super Rich Bae*".
"Mamahku yang kaya bukan aku, Nuri." Jay masih merendah.
"Jay, apa nanti keluargamu bisa nerima aku yang sederhana ini?" Nuri belajar dari drama Korea yang ia tonton, keluarga kaya punya tradisi berbeda. "Aku takut di siram air, kalau nggak mau putus."
Jay pernah dengar satu kata saat bekerja di Jakarta. Lebay. Nuri termasuk kategori lebay nggak ya?
"Kakak sepupu, anak Paman Jang juga menikah dengan anak petani sayur. Keluarga nggak ada yang protes. Memang apa salah jika orang tua kita adalah petani?"
Tidak ada yang salah. Nuri juga pernah merasakan hal yang sama. Keuangan mereka juga pernah tergoncang, Ayah harus kerja sampingan menjadi tukang *sound system*. Gara-gara Om Toto, adik Ayah yang hutang dan memakai nama Kakek.
"Awas ya kalau sampe ketemu Om Toto, gue bakal bikin perhitungan."
"Ada masalah?" Jay gemas dengan wajah dendam Nuri. Mengumpat dalam keadaan imut. "Kamu kok ekspresinya gitu?"
"Adik Ayahku juga membawa masalah, dia meninggalkan hutang dan kabur. Katanya si jadi TKI, kalau pulang mau lunasin. Gara-gara dia Bang Nanda sampai kerja ke luar, jadi buruh di pabrik."
__ADS_1
Jay mungkin tidak merasakan hal yang sama dengan Nuri, tapi ia dapat memahami. Berbagi cerita tentang kisah hidup lebih menyenangkan daripada berbagi birahi di atas ranjang.
"Jay, kamu tahu?" Bagian yang menarik adalah pertanyaan ini.
"Dulu saat aku dan Chacha sekolah, ada seorang gadis yang nyebelin banget. Dia sekarang udah menikah dengan duda kaya, anak pemilik perusahaan. Kamu tahu? Dia semakin bergaya, saat kami bertemu, dia akan melihat jijik ke tas kami. Mungkin dia berpikir, ah tas kok murah banget. Apa salahnya si? Aku juga belinya dengan uang halal."
Cerewet. Hal yang selalu Jay pikirkan tentang kekasihnya. Tapi, lebih baik menjadi Nuri yang cerewet daripada pendiam.
"Nggak salah kok, kalian beli juga pake uang kalian. Meski belinya gratis ongkir. Hehehe."
"Hah, ini kok Jay tahu aja si? Double wow!" gumam Nuri.
"Kamu mau nggak balas dendam?"
"Mau!"
Jay mengirimi undangan elektronik, acara *fashion week* dan acara *launching* koleksi terbaru dari Prad\*.
"Hah? Ini beneran nih?" Kaget sampe tidak bisa bernafas dengan baik. "*How you like that*?"
"Kamu pikir ini tipuan?"
"Awas lo Fir, gue bakal bales hinaan lo."
Jay menyentil dahi Nuri, ia berhenti sejenak. Ada sesuatu yang ia sembunyikan di kursi belakang mobil mahalnya.
"Ini yang kamu butuhkan kan?"
Cara memikat Jay sungguh berbeda. Bukan bunga ataupun perhiasan, Jay justru memberikan paket *skin care* serum anti-penuaan. Ingin sekali berterima kasih, tapi Nuri juga malu.
"*Apakah gue sudah setua ini, Tuhan*?"
"Lah ini ada anti-aging buat usia 25 tahun ke atas, katanya serumnya dari emas 24K." Bak seorang promotor, Jay menjelaskan sesuai yang ia dengar.
"\*Hari ini gue udah cukup dengan tiga emas. Emas kue yang gue makan, emas dalam serum dan satu lagi, emas Jay."
Bersambung\*...
__ADS_1