
*Percakapan mereka menggunakan Bahasa Inggris*
"Chacha!" Jack dan Arte menghampiri Chacha yang berniat jalan-jalan seorang diri dengan memakai topi.
"Hey?" Chacha menyapa dengan gaya biasa. Dua orang pria asing yang baru ia temui kemarin.
"Kamu mau kemana?" Arte mencoba ramah. Jack juga bilang Chacha itu jago bahasa Inggris. "Boleh kan kita temani?"
"Kita?" Jack melotot dan menyikut bahu Arte. "Aha, iya. Kenapa kamu sering keluar sendiri? Apa tidak takut bertemu dengan mantan suamimu lagi?"
Arte tidak mempermasalahkan status seorang wanita asal bukan istri orang, ia akan mundur teratur tanpa aba-aba. "Apa kalian berpisah sudah lama?"
"Belum lama."
Tiga orang yang itu berjalan menuju dekat pantai. Menjajaki banyak tempat makan, tempat souvenir cantik. Tidak ada kecanggungan sama sekali. Chacha adalah orang yang pandai mencairkan situasi.
"Enak juga ternyata." Arte tersenyum manis, bagi pria sepertinya Chacha sangat menarik perhatian. Jack juga menatapnya dengan tatapan tidak biasa, mungkin tertarik.
"Kalian tadi lagi membahas bisnis kan?"
Jack tertawa renyah. Bisnis yang ia bahas adalah perkara internal di perusahaan Arte. "Hahaha, aku justru seperti disuruh untuk mencari jalan keluar untuk pria yang enggan menikah."
Arte terdiam. Bukan ia malas untuk menjalin sebuah komitmen. Beberapa orang mendekatinya karena koneksi Lou, sahabat baiknya. Ada juga yang terang-terangan ingin menikahinya demi mendapatkan warisan keluarga Arte.
"Kenapa? Setidaknya menikah akan membuatmu merasa ada seseorang sebagai tempat bersandar kan?" Chacha melempar senyuman lagi.
Terpesona.
Seorang wanita muda yang telah mengalami kegagalan rumah tangga mampu melempar senyum setulus itu.
"Apa kamu malaikat?" Arte dengan lancar melesatkan gombalan.
"Bukan lah, dia Chacha." Jack dengan nada biasa menimpali.
"Duh nggak seru!" Arte menginjak sepatu mahal Jack. "Ini alasanmu kenapa diceraikan olehnya!"
"Hahaha... " Chacha tertawa. Semenjak berpisah dengan Johan baru kali ini ia merasa tidak kesepian. Kehadiran teman yang nyata.
"Arte biasanya kan kamu cuek ke gadis-gadis kampus?"
"Aku pikir Chacha berbeda."
"Aku? Apa perbedaannya?"
Seorang wanita yang berbeda. Tidak ingin menjelaskan lebih lanjut. Chacha memiliki aura yang enerjik, senyum manis yang memikat. Yang jelas membuat hati Arte bergetar.
Ada sebuah kafe bernuansa tropis yang baru dibuka. Banyak orang mengambil foto dan merekam video. Orang sekitar kafe memanggilnya spot instagram. Dominan, pengunjung juga kalangan selebgram. Chacha berharap ia tidak melihat Johan maupun Maya. Mood bisa hancur seketika.
"Kamu mau pesan apa?" Arte terus mengawali percakapan dengan Chacha. "Kamu pasti nggak bisa minum tequila? Jadi, gimana kalau teh susu dengan boba?"
Chacha mengangguk.
"Apa yang ingin kamu makan?" Arte melanjutkan lagi bertanya karena Jack lebih aktif dengan ponsel dan macbok.
"Makanan berat, kalau bisa nasi goreng ya? Hehehe..."
Lou pernah bilang. Suatu hari akan ada seorang wanita yang membuatmu bertingkah tidak seperti biasanya. Rasa itu mungkin tertarik pada awalnya, tapi kalau kamu terus-terusan mengajaknya berbincang itu yang dinamakan mencari jalan untuk mendekatinya. Arte, baik aku dan kamu, kita memang membutuhkan seorang yang bisa dijadikan sandaran. Seseorang yang memiliki senyum berbeda saat bersama kita saja.
"Jadi Lou, apa kamu merasakan hal tersebut saat bertemu Kent?"
"Tentu. Aku pikir dulu aku mencintai Jay Jang, tapi perasaan cinta itu berbeda. Saat bersama Kent aku lebih menjadi diriku, saat bersama Jay dulu aku lebih menyembunyikan sifat asliku."
Arte tersenyum lalu memeluk Lou. Mereka adalah dua orang yang mengenal sejak lama, memahami watak masing-masing. Bagi Arte, Lou seperti saudari cantiknya.
"Apa aku cukup tampan?"
"Sure! You are the handsome friend I've ever met."
Nuri dan Jay banyak menghabiskan waktu berdua. Nuri yang masih belum mengatakan tentang pesan Mark.
"Aku harap kamu baik-baik saja."
__ADS_1
Jay lebih bersemangat. Dua tahun lalu ia seperti hidup dalam siksaan. Melihat orang yang paling ia cintai koma dalam jangka waktu lama. Untunglah bertemu dokter yang tepat, Dr. Mark. Jadi ia tidak ingin membahas hal yang tidak penting.
"Kamu mau kemana lagi?" Jay bertanya kepada sang istri dengan sangat lembut.
"Kita udah liat komodo kemarin, sekarang aku mau ke bukit di pulau Padar." Nuri mendapat banyak referensi dari brosur yang hotel berikan.
Jay menggandeng tangan Nuri. Mereka siap untuk berangkat. Sepanjang jalan menuju bukit, meski lelah, jika itu bersama Nuri semua menjadi indah.
"Capek... "
Jay membukakan botol air mineral untuk sang istri. "Minum dulu ini ya."
Nuri sejak dulu malas untuk mendaki karena ia merasa kakinya pendek jadi mudah lelah. Sementara dulu, Bang Nanda juga mudah sekali karena memiliki kaki yang panjang. Jay juga begitu.
"Wow!" Nuri berseru begitu melihat semua dari atas bukit. Rasa lelah sudah terbayar impas.
Jay mengeluarkan kamera Pentax (salah satu kamera DSLR terbaik dengan harga 33 jutaan). Pemandangan yang menakjubkan membuatnya berdebar.
"Jay!" Nuri begitu antusias. Sungguh kuasa Tuhan di atas segalanya. Mampu menciptakan alam hijau yang begitu mempesona.
"1, 2, 3.... oke!"
Nuri berganti gaya sesuai arahan fotografer tampan yang selalu membuatnya tersenyum malu. "Udah pas belum?"
"Oke!" Jay mengacungkan jempol.
Nuri berpose imut dengan memoyongkan bibirnya seidikit dan memberikan *finger heart* untuk sang fotografer.
"*Saranghae*!"
"Mwwaaah!" Jay melayangkan ciuman udara untuknya.
Nuri berlari menuju sang suami dan melihat hasil jepretan tadi. "Ini keren banget!"
"\*It's me, your husband."
"Yes\*!"
__ADS_1
Bukan hanya mereka yang berada di bukit. Ada juga dua orang yang datang dengan tatapan malu-malu meski kentara saling menyukai.
"Kamu mau foto nggak?" tanya lelaki dengan kemeja kotak dengan tatapan malu-malu.
"Hmm... " gadis muda tersebut mengangguk.
"*Excuse me... can you help me, Sir? I want take a picture with my friend*."
Jay dengan senang hati memotret keduanya. Nuri berada di samping Jay sambil gemas sendiri.
"Kalian serasi banget loh!" Nuri sok akrab.
"Masa si Kak? Kami padahal cuma teman aja." Gadis muda tersebut langsung membantah.
"Iya cuma temen kampus, Kak." Lelaki tersebut juga membantah.
"Betewe, kalian kuliah di kampus mana nih?"
"ITB Kak."
Nuri malu sendiri. Dirinya yang bahkan sejak SMA tidak berani untuk memimpikan kehidupan kampus negeri apalagi selevel ITB. Jauh dari jangkauannya.
"Dimana itu?" Jay ikut bertanya.
"Bandung, Jawa Barat. Terima kasih ya Kak sudah memotret kami hehehe." Lelaki berkemeja kotak yang terlihat seperti anak teknik sangat santun. "Kalo Kakak-kakak lulusan kampus dalam negri atau luar nih?"
"Stanford Graduate School of Business." Jay tersenyum dan merangkul sang istri.
"Kalau aku si lokal aja di Jakarta tuh, kampus swasta hehehe."
"Wow!" Kedua orang itu kompak mendengar perpaduan yang sedikit menjomplang tapi keren.
"Bukannya kakak-kakak yang ada di podcast viral yang trending nomer dua sekarang itu loh di yutub?"
Baik Jay maupun Nuri kompak mengangguk. Mereka lalu foto selfie berempat. Lelaki muda tersebut juga mengunggah di instagram pribadinya.
"*Thank you so much y'all*!"
__ADS_1
Jay dan Nuri lalu turun, mereka harus mempersiapkan makan malam. Jay harus memasak karena bosan dengan makanan hotel. Sementara Nuri mulai membuat kue kembali. Tiba-tiba saja inspirasi itu datang.