Super Rich Bae

Super Rich Bae
Part 4


__ADS_3

Nuri dilanda bencana.


Ia masih duduk di luar gedung asrama. Jay membawakan minuman yang ia beli tadi.


"Gini ya, untuk biaya pelatihan dan hidup disini setidaknya kamu butuh 300 juta."


"Aku cuma bayar 30 juta.." Ia menangis. Bagaimana ia akan mengahadapi kedua orangtuanya jika tahu ini hanya penipuan.


"Itu si kaya kamu traveling seminggu disini."


Jay memberitahu Nuri bahwa sekolah kuliner yang ia daftar untuk kelas sertifikat baker biayanya di atas 100 juta rupiah.


"GAWAT!!!" ia menangis lebih keras.


"Coba kamu telepon dulu ketua yayasan."


Nuri sudah mencoba beberapa kali sejak menyadari itu penipuan. Nomornya sudah tidak aktif.


Ia benar-benar terpuruk.


"Lebih baik kamu jujur aja ke orang tuamu kalau itu penipuan. Apa kamu mau bertahan disini?"


Nuri yang cantik dilanda depresi mendadak. Apa jadinya kalau ia menyerah dan bilang kalau itu penipuan.


"Kalau kamu mau ikut pelatihan baker, seorang Chef di toko kue terkenal membuka kelas pelatihan gratis tapi syaratnya kamu bekerja dulu disana."


"Apapun aku mau lakukan!"


"Oke aku yang akan bicara dengannya."


Jay mengantar Nuri ke toko kue "Dream". Melihat banyaknya pengunjung dan antrian, Nuri yakin pasti toko kue hits.


"Hei Jay, bisa nggak aku minta tolong?"


"Apa?"


Nuri menarik Jay ke dekat jembatan. Ia ingin mengambil foto candied. "Tolong ya Jay, tolongin aku yang sedang lesu ini."


"Okay." Jay dengan sabar menuruti kemauan Nuri.


Mereka baru pertama di pesawat, tapi kenapa ia merasa nyaman di dekat Nuri.


"Oke Jay makasih." Nuri memasang muka imut dan tersenyum. "Jay kalau bisa fotoin pake hp kamu dong hp aku burik.."


Lagi dan lagi, ia menuruti.


"Nanti kamu kirim lewat whatsapp oke!"


Setelah asyik foto. Nuri kembali melanjutkan antri di toko. Baru pertama kali melihat toko seramai itu.


"Gara-gara Raka gue dulu mampir ke alpamart aja udah happy.."



Jay menitipkan Nuri ke Chef Eric.



Chef Eric memberikan tiket masuk pelatihan di kelasnya secara gratis. Tapi dengan syarat Nuri harus membantu toko. "Kamu bisa membantu membungkus kue ya, kasirnya keteteran."



"Oke Chef." jawabnya penuh ambisi.



Ia juga mendapatkan tempat tinggal di lantai atas toko. "Berkat Jay.." tiba-tiba ia penasaran apa pekerjaan Jay.


__ADS_1


Raka memandangi foto Nuri yang berada di Paris. Ia menyadari pasti berat ketika dulu mereka bersama. "Gue..jadi inget jaman dulu kita pacaran cuma bisa traktir seblak depan alpa paling mewah ya mie ayam bakso Om Gaul."



Ia juga punya alasan kenapa dulu memutuskan Nuri mendadak. Baginya ia yang salah karena gagal membahagiakan gadis secantik dan se glowing Nuri.



"Ri, lo keturunan Korea ya?"



"Nggak lah gue asli Indonesia.."



Raka mulai memikirkan, banyak rekan tim pemasaran yang juga mendekati Nuri.



"Iya Kak Nuri mah glow up banget. Pakai skincare apaan Kak?'' Dini yang penasaran setengah mati kenapa bisa wajah Nuri glowing begitu.



Saat itu, Raka pemalu. Ia hanya seorang pemuda asal desa di Jawa yang nekat merantau setelah lulus kuliah.



"Loh Raka juga putih tuh Din." Nuri yang pintar mencairkan suasana setelah rapat menegangkan.



"Nggak kok Ri, putihan lo.." Raka yang malu-malu tapi sebenarnya mau diajak bercanda itu mulai menaruh hati.



Nuri sering memakai sweater ala ala Korea. Raka memberanikan diri untuk bertanya sesuatu.




"Gue belinya online lewat aplikasi."



Nuri mengajarkan belanja online kepada Raka. Karena hal itulah ia merasa sangat bersalah.



"Ini semuanya ada disini?" Raka yang sangat polos saat itu.



Beberapa hari kemudian banyak sekali paket belanja online datang di kantor.


"Paket punya siapa nih!!?" Mas Jaka berteriak.



"Gue Mas." Ia langsung berlari menuruni tangga dengan wajah bahagia.



"Gila lo Ka, gaji lo bisa-bisa abis nih kalau ketagihan gini."



Semua staf kantor juga ikut tertawa melihat Raka yang menjadi pecandu belanja online. Barang-barang apa saja ia beli, mulai dari sandal jepit, kaos polos, seprai, tirai, jaket bermerek, tas dan sepatu.

__ADS_1



"Ka, maaf ini ada paketan payung." Pak Satpam datang dengan sebuah paketan yang bertuliskan *umbrella*.



Nuri menelfon Chacha untuk mengabari bahwa ia baik-baik saja. "Berkat Jay juga si dia nolongin gue Cha.."


"Kalau gue jadi lo, mendingan gue pacarin si Jay daripada mikirin si juragan sapi."


"Udah dulu Cha, gue harus bobok cantik."


"Oki dokiyo beb.."


Nuri sedang menata pakaian dan kamarnya. Beruntunglah ia tidak jadi masuk ke penginapan gelandangan. "Gue kualat ngatain Raka gembel."


Ia mendengar suara Chef Eric. Nuri langsung tancap gas untuk menanyakan sesuatu.


"Chef, Jay itu apa dia sering kesini?"


"Sering kok. Dia sering mampir juga kalau jam makan siang."


"Dimana Jay bekerja Chef?"


"Jay bekerja di hotel Ritz Hotel Paris."


Nuri benar-benar bertemu dengan seseorang yang sangat kaya. Setelah membuka halaman instagram Jay yang Chef Eric bagikan. "Super rich bae."


"Masih kepo dia punya pacar nggak ya." Nuri masih stalking instagram Jay. "Wow daebak!"


Jay memiliki seekor anjing lucu. Nuri tidak menemukan jejak kekasih Jay. "Apa dia pacaran sama anjingnya?"


Ia menutup laptopnya. Sekarang ia merasakan jauh dari orang tua dan kerabat. Ia juga sudah menghubungi salah satu teman di yayasan.


"Mending lo Ri dapat kerjaan lewat orang, ini gue yang dijanjiin kerja pabrik cuma metik buah anggur doang..jadi TKI.."


Ia masih bersyukur karena bertemu Jay. "Penyelamat hidupku."


Diam-diam, Nuri mengunduh foto Jay. "Duhhh duhh.."


Nuri mengingat nasihat Jay, ia juga ingin memberitahu orang tua tetapi ia harus mencari jalan keluar sendiri.


"Bang..sebenarnya aku kena tipu."


"Udah abang duga dek soalnya nelfonin Pak Bagus tiba-tiba nomornya nggak aktif. Terus kamu gimana disitu?" Nanda masih dengan kesibukannya, di hadapan komputer kantor. Ia bekerja lembur.


"Untung ketemu orang baik..dia kasih info pelatihan gratis tapi dapat sertifikat bang..." Nuri tersendu.


"Abang bakal bilang ke Ayah sama Ibu deh..kamu kalau kurang uang bilang aja ya. Uang saku masih aman kan?"


"Masih..makasih bang.."


Nuri banyak pikiran. Ia belum bisa memejamkan mata untuk tidur. Ia mencoba alternatif lain, menonton drama Korea. "Hikss....jinjja..anniyo.."


Meski banyak mengeluarkan air mata, ia tetap tidak mengantuk.


Ia melihat Jay datang. "Jam segini ngapain?" pikirannya mulai aneh-aneh, ia membayangkan hal dewasa.


"Tetep gue nggak mau..Jay.."


"*Apa Jay meminta balas budi ya?"


"ADUH!!!"


"GAWATT*!!!"


Terjebak dalam pikirannya yang mulai ngawur, Nuri akhirnya turun dan menghampiri Jay.


"Jay, apa yang kamu lakukan jam 2 pagi?"

__ADS_1


Jay spontan kaget, ia hampir terpeselet dan bersandar di bahu Nuri. "So..sorry"



__ADS_2