Super Rich Bae

Super Rich Bae
Part 71 (S2)


__ADS_3

Nuri tahu, tapi Mark terlalu jujur ketika membicarakan statusnya. Ia masih ingat ketika bercerita tentang melepas masa lajang dengan cinta pertamanya. Dan ia juga tahu siapa wanita yang Mark maksud. Lisa.


"Apa kamu bicaranya sejujur ini, Mark?"


"Tentu, tidak ada yang perlu kita tutupi. Bukannya suatu saat kita hanya ditutupi selimut?" Mark meledek Nuri, wajah istrinya memerah. "Bagiku, kamu jauh lebih terhormat."


Nuri tidak setuju, ia juga sudah pernah berciuman dengan mantan kekasihnya di masa lalu. "Tidak, aku tidak sebaik itu."


Mark berhenti menikmati sarapan, ia mendekat dan semakin dekat dengan Nuri. "Bagaimana wajahku dari dekat?"


"Kamu sangat tampan. Untungnya kamu tidak menjadi idol atau aktor ya? Hehe."


Mark terus menatapnya, ia bermaksud untuk menggoda istrinya. "Saat SMA, banyak orang dari industri hiburan memberi kartu nama mereka. Tapi aku tidak tertarik, aku hanya suka belajar agar mendapat beasiswa."


Nuri memegang wajah Mark sambil memperhatikan wajah suaminya saat ini. "Kamu sudah berjuang saat muda. Aku bangga sekali."


"Benarkah?"


"Tentu," Nuri memeluknya dari depan. Mereka sedang duduk di sofa kamar. "Aku pikir saat melihat wajahmu dari dekat, kamu bukan seperti dosen."


"Mahasiswa ya? Dulu banyak dosen senior yang keliru juga."


Mark menarik selimut di sofa dan memakaikannya untuk Nuri. "Aku ingin kamu selalu hangat."


Tersentuh mendengar ucapan Mark, Nuri juga sangat nyaman berada dalam dekapan. "Aku jadi ngantuk... "


Mark menunjukan nama Nuri di kontak ponselnya. "My Beauty."


"Mark,'' Nuri benar-benar tersentuh dengan tingkah manis Mark yang meski masih sedikit kekanakan.


"Emran bilang padaku, setelah sah kemarin, aku bebas melakukan apapun dengan istriku?"


"Apa maksudnya ini?"


Mark harus bersabar untuk melakukan apa yang dia inginkan, tapi ada beberapa hal yang lebih dulu bisa mereka lakukan.


"Memotret cincin pernikahan kita."


Nuri sudah berfantasi jauh, ternyata Mark hanha menggenggam tangan sambil memotret cincin yang melingkar di jari mereka.


"Oh, hanya ini yang kamu maksud?"


"Ini akan menjadi foto profil akunku. Oh iya, aku tidak memiliki instagram."


Nuri juga sudah menonaktifkan instagram usai kematian Jay.


Mark bukanlah seseorang yang tidak peka, ia jauh lebih mengerti. "Kemari,'' ia menarik sang istri di dekat jendela dan menekan tombol penutup tirai. Tak lama, ia mencium bibir Nuri dengan cara yang sangat berbeda dan lebih hot.


"Apa kamu pikir aku tidak peka?''


Dalam wajah malu-malu, Nuri hanya menunduk. Ia sangat malu melihat wajah tampan suaminya dari dekat.


"Kenapa? Sangat tampan?" Mark terus meledek istrinya. Ia mengangkat tubuh istrinya lalu menggendonnya dari depan. "Kamu lumayan berat ya? Kamu masih malu melihatku?"


Nuri melingkarkan kedua tangannya di leher Mark, ia sangat malu. Meski sudah pernah menikah, ia merasa Mark sangatlah berbeda.


"Cium aku."


Jarak usia mereka hanya satu tahun lebih beberapa bulan, tapi ia seperti menikahi seseorang yang lebih muda lima tahun.


"Ah, aku harus memeriksa laporan tugas." Madk hanya bercanda, ia tahu batasan dalam membina hubungan apalagi mereka belum lama kenal.


"Baiklah," Nuri menutup pintu kamar, ia meninggalkan Mark yang akan mengoreksi beberapa tugas mahasiswa.


Kebetulan, ia juga harus berdiskusi dengan Jack, Andres serta Arthur.


"Apa kamu yakin? Ayolah, kamu harusnya libur dulu kan pengantin baru?" Jack tahu sepertinya Nuri terlalu buru-buru untuk menikah demi ketentuan surat wasiat ayah kandungnya.

__ADS_1


"Dia juga sedang sibuk." Nuri memakai earbuds, ia berbicara dengan santai di ruang tengah. "Aku bisa membicarakan bisnis dengan kalian bukan?"


"Ehem... " Andres menebak seseorang sedang kekurangan kegiatan. "Lebih baik kamu dan dia membina hubungan dulu kan?"


Nuri terdiam, ia tiba-tiba teringat Jay, mendiang suaminya. Bayang-bayang senyuman hangat yang memeluknya di kala sedih.


"Apa kamu masih teringat Jay?" Jack hanya menebak, pasti berat untuk Nuri di awal menjalan hubungan dengan orang baru.


"Terkadang aku melihat Jay ketika sedang memeluknya."


Awalnya memang berat, tapi semenjak Mark melakukan sesuatu yang agak romantis seperti barusan jantungnya berdetak lebih cepat. Perasaan berdebar yang berbeda.




"Selamat atas pernikahanmu, kami turut berbahagia. Maaf ya, aku dan Lusi tidak bisa hadir. Dia sedang semester awal kehamilan dan sangat memusingkan." Saki menelepon teman baik yang ia kenal di Paris, Nuri.



"Baiklah, aku mengerti. Terima kasih ya, Saki. Sampaikan salam untuk Lusi, jaga kandungannya baik-baik, jangan banyak makan pedas."



"Tentu. Sekali lagi, aku ikut senang, Nuri."



Lusi sedang rebahan di sofa ruang tamu, ia juga ditemani sang adik sepupu, Lisa. Mereka sudah satu tahun tidak bertemu.



"Oh iya, bagaimana hubunganmu dengan dia?" Lusi baru ingat kalau kekasih Lisa juga sangat tampan dan lebih tinggi dari seseorang.



Lisa duduk dengan menyilangkan kaki. Ia hanya mendengar rumor kalau Mark sudah berpaling dan langsung menikah.




"Mark menikah?!" Lusi langsung berteriak.



Hubungan Lisa dan Mark sudah puluhan kali putus dan kembali lagi. "Apa ini yang dinamakan plot twist?"



Lisa menutupi wajah kesalnya dengan bantal sofa, ia tidak berpikir kalau Mark akan secepat kilat untuk berpaling. Rasanya, ada yang tidak benar. Mark sangat mencintainya. Saat itu, Lisa hanya kesal karena sahabat-sahabat kayanya meledek pekerjaan Mark.



"Coba kamu tanyakan ke sahabat Mark di Seoul, apa benar dia sudah menikah? Atau ini cara membuatmu kesal?"



Lisa langsung menelepon Vin, sahabat Mark yang juga teman sekolahnya.



"Benar, aku merasa bersalah tidak bisa datang. Lisa, hubungan yang sering putus-nyambung biasanya tidak berakhir mulus kan?" Vin hanya menyampaikan opini, lalu ia mengirimkan foto pernikahan Mark.



Lisa mengamati dari dekat istri Mark yang familier di matanya. Tidak, ia terus menyangkal dengan pemikirannya sendiri. "Ini nggak mungkin kan?"

__ADS_1



"Nggak!" Lisa berteriak.



Saki dan Lusi langsung mendekatinya.



"Kenapa?" Lusi memeluk sang adik sepupu. "Apa benar Mark sudah menikah?"



Saki mengamati foto pernikahan yang sama dengan yang Lisa perlihatkan. "Ini kan Nuri."



"Apa?"



Lusi hanya terdiam. Ia tidak menyalahkan Nuri karena menikah lagi, tetapi kenapa dengan Mark? Seseorang yang adiknya sangat sukai sejak remaja. Dulu, ia juga berhasil merampas Jay darinya.



"Tolong jangan pernah menyalahkan, Nuri." Saku langsung mengingatkan.



"Lihat, Lisa sampai menangis sesedih itu? Menurutmu perasaannya hanya candaan kah?"



Saki tahu bagaimana sedih Lisa karena ditinggalkan oleh Mark, tapi ia juga paham betapa sakit hati Mark saat makan malam tahun lalu. Orang tua Lisa yang sudah keterlaluan memandang rendah pria muda yang hebat.



"Bukannya lebih baik kamu mengucapkan selamat, Lisa? Apa kamu pernah melihat Mark menangis setelah makan malam tahun lalu?"



Lusi ingat, Saki mengobrol dengan Mark usai makan malam. "Apa dia benar menangis?"



*Iya, dia menangis*.



"Iya, dia menangis dan bilang, bukan salahnya lahir dari orang tua biasa dan diadopsi seorang koki biasa. Apa bukan terlahir dari keluarga seperti kalian itu memalukan?"



Lisa tidak pernah mengira Mark begitu sakit hati dan sedih. "Kenapa dia terus tersenyum dan bilang tidak ada masalah?"



"Karena kalian tidak mengerti perasaan orang yang berjuang. Apa kalian tahu betapa susahnya mendapatkan beasiswa penuh? Betapa giatnya dia belajar hingga menjadi profesor di usia muda, mempertahankan beasiswa itu sulit. Dan syarat menjadi dosen di kampusnya tidaklan mudah. Temanku yang lulusan Oxford bahkan tidak diterima." Saki terbawa emosi, ia sangat memgerti betapa sulitnya mempertahankan beasiswa di negara lain.



"Tidak semudah kalian menggesek kartu silver saat belanja."



"\*Mark, maafkan aku. Aku adalah gadis paling bodoh karena melepaskan begitu saja berlian."

__ADS_1



Bersambung\*...


__ADS_2