
Nuri agak malu ketika meminta Jay untuk menemaninya syuting podcast.
"Maaf ya, Jay. Ini paling cuma sejaman deh."
"Bener kan? Nanti aku minta wajahku di blur, Bae. Takut banyak yang suka."
Begitu memasuki ruangan podcast. Nuri, Chacha dan Jay disambut oleh kru dengan sangat ramah. Mereka juga memberikan arahan agar tidak grogi di kamera.
"Oke. Kita mulai ya."
Chacha sudah berdiskusi dengan orang tua dan juga saudara kembarnya. Untuk meluruskan tuduhan.
"Hai, senang bertemu dengan kalian. Tiga orang yang menjadi perbincangan di dunia maya. Video kamu trending loh saat ngelabrak mantan suami sahabatmu."
Nuri langsung tersenyum tipis. "Hai... aku pikir itu nggak direkam, sangat disayangkan ada yang merekam dan menyebarkannya lewat tok tok. Ini juga salah satu alasanku datang kemari, untuk meluruskan beberapa hal."
"Yang gue denger nih, lo itu sampai diserbu banyak netijen. Anehnya mereka nyerbu dengan pertanyaan di luar konteks, seperti menggali identitas suami lo. Ini beneran bikin lo berani ngungkapin? Atau dari informan gue kalau suami lo itu adalah konglomerat dan juga keturunan darah biru?"
"Itu juga salah satu alasan datang. Mereka, netijen ini mengerikan banget buat aku dan juga kita sempetin datang di tengah jadwal perjalanan bisnis suamiku, ini juga menganggu dia. Tiba-tiba ratusan ribu orang mengikuti akun instagram miliknya. Untuk informasi pribadi keluarganya sangat privasi, aku sendiri harus menerima kritikan dari keluarga darah biru tersebut. I apologize for my attitude, Grandpa, Grandma."
Host sekaligus pemilik podcast merasa tersentuh dengan etika Nuri, ia membungkuk dan meminta maaf dengan cara elegan seperti menantu kelas atas dari golongan bangsawan.
"Ini membuktikan banget si kalo lo itu di level yang berbeda dengan Maya menurut gue. Dan gue mau bertanya sama Chacha nih, salah satu orang yang paling ditunggu oleh penonton. *How are you, Cha?"
"Not feeling well*. Siapa si orang yang tiba-tiba digugat cerai itu baik-baik aja, Mas? Apalagi serangan netijen fans sebelah makin sadis."
Setengah jam berlalu. Chacha membeberkan fakta terkait prahara rumah tangganya dengan selebgram hits Johan, dimulai dari perubahan sikap Johan yang drastis.
"Aku mau menegaskan sekali lagi, aku nggak nyuruh sahabatku buat ngedamprat dia. Aku juga nggak pernah minta uang bulanan setelah bercerai. Jadi banyak artikel online beredar yang berspekulasi kalau aku itu yang salah, karena belum bisa hamil. It's not me."
"Itu kuasa Tuhan! Gue yakin ini bisa jadi klarifikasi yang paling adil buat semuanya, next gue mau undang Johan dan Maya juga deh. Btw, suami keren yang datang juga trending nih. Hello, nice to meet you dude!"
"Thank you for having us."
"Oke, lo ni beneran mencolok loh. Benar nih gue aja merinding abis baca silsilah keluarga die. Jay Jang Clarkson, benar?"
Jay tersenyum. "Benar, Jay Jang Clarkson."
"Gue yakin beberapa orang berspekulasi kalau pangeran itu nggak ada, tapi sosok lo udah kaya pangeran di hati netijen. Di video, gue juga dapat melihat cara lo melerai, mengajak bicara secara berbeda. Apa kesan lo tentang istilah pelakor, Jay? Apakah di kalangan atas juga mengalami hal serupa?"
Jay tertawa geli, ia sudah mendengar istilah tersebut saat bekerja di hotel. "Karena kita sesama pria dewasa, makanya aku mengajaknya untuk bicara saat Johan sudah mau. Kita nggak bisa memaksa orang lain untuk mengatakan sesuatu yang belum mau ia katakan kan? Sebenarnya istilah perebut seperti itu bukan hanya untuk lelaki saja, tapi juga wanita bisa direbut. Tidak ada diskriminasi kalangan untuk hal tersebut bukan? Hehehe."
Host dan kru tertawa. Beberapa kru wanita bahkan bersorak. "Uhhh!"
"Gue nangkep nih, lo bucin banget istri ya? Hahaha. Dan ini tuh keren banget si, Jay udah masuk majalah forbes ya gaes. Tapi gue melihat juga nih pakaian yang lo pakai bener-bener mencolok full Gucci nggak tuh?"
Nuri tertawa geli. "Dia benar-benar maniak baju baju mahal kok. Waktu liat aku pake tas dibawah dua ratus ribu, Jay hampir menangis prihatin. Apalagi tas yang harga lima puluh ribuan itu!"
"Terus yang lebih parah lagi, Jay juga ngasi barang-barang mahal buat kami juga. Katanya biar menikmati kebahagiaan hidup." Chacha ikut berkomentar.
"Jay Jang, ini tamu pertama yang benar-benar mewah. Sempat gue kepo, saat salah satu desainer pakaian mahal ngetag lo. Ah masa si ini orang biasa ditandain sama desainer luxury brand. Dan menurut gue tetep JJ yang paling nyata. Coba lo, rekrut gue juga!"
__ADS_1
Suara tawa menghiasi ruangan. Chacha memutuskan langkah yang tepat. Tidak ada lagi unek-unek tersisa.
"Awalnya bikin instagram cuma iseng, lama-lama kaget pengikut kok banyak ya? Apply your CV first."
"Apa yang ingin lo ungkapin Cha?"
"Untuk kamu, semoga tetap sehat dan bahagia dengan siapapun kamu sekarang. Aku percaya orang baik selalu bertemu orang baik. Kamu juga orang baik."
Video klarifikasi mereka trending di youtube Indonesia, dengan viewers hampir tiga juta. Sosok Jay dan Nuri yang mencuri perhatian publik.
"Jay, aku pikir kamu tidak menyukai acara bincang-bincang seperti ini?" Jack bertanya di sela waktu pagi mereka.
"Coba kamu lihat, Jack. Berapa kenaikan saham kita? Aku mengambil salah satu efek publisitas."
"Wow!" Jack berteriak.
Rencana perjalanan bisnis berkedok liburan di Labuan Bajo membuat Jack juga sedikit bersemangat. Dulu, ia pernah datang dengan seseorang yang telah menjadi bagian dari masa lalu.
"Iya, aku ingat setelah pergi liburan dia hamil."
"Dan dia sedang mengandung anaknya bersama suami yang sekarang bukan?" Jay meledek.
"Ah, rasanya ingin beli pulau pribadi."
Jay masuk ke dalam kolam renang. Ketika berendam sejenak, ia memikirkan beberapa bisnis yang tertunda dan juga kejanggalan seseorang. Mark yang setiap hari bertanya keadaan Nuri.
"Jay!" Nuri di tepian kolam sedang menunggunya. Momen yang sangat indah, saat sang istri tersenyum lebar setelah menghadapi hari-hari menyakitkan di masa lalu.
__ADS_1
"Kamu mau berenang, Bae?" Jay mencium tangan sang istri.
"Bye! Aku mau makan dulu." Jack yang kesal dengan keromantisan segera pergi.
"*Bae*... "
Nuri tidak terlalu pandai berenang, ia memutuskan untuk menemani Jay di kolam. Mereka tertawa di tengah suasana indah.
"Bagaiamana makanan hotel?"
"Enak, tapi lebih enak masakan Eric."
Jay tersenyum, lalu ia mengangkat tubuh sang istri. "Terus tersenyum. Aku suka sekali kamu hari ini."
"Kalau kemarin?" Nuri melingkarkan kedua tangannya di leher Jay. "Apa saat aku menangis jelek?"
\*Kamu dalam segala keadaan tetaplah cantik, Bae.
"Nothin's gonna change my luv for you, Bae\*."
"*You're my crush as always, Jay Jang*."
Jay memeluk erat, kali ini lebih erat. Ia bahkan ingin sekali menggigit sang istri.
"\*Saranghae, Jay oppa."
__ADS_1
Bersambung\*...